Tag Archives: stimulasi

Mengenali Temperamen Bawaan

Pernah nggak sih, mengalami anak kita dibandingkan dengan anak lain, atau malah kita sendiri yang mengomentari anak karena dia nggak sesupel temannya, misalnya? Atau anak dianggap terlalu cengeng, manja, sulit diatur, dan sebagainya?

“Anak-anak lain nggak ada tuh yang nempel terus sama Mama kaya kamu.”

“Makanya, anak dibiasain tidur di mana aja, jadi nggak gampang bangun kalau berisik sedikit.”

“Bau tangan tuh, digendong terus sih.”

Ternyata, sifat anak yang berbeda-beda ini bisa jadi merupakan temperamen bawaannya, loh.

Sejak baru lahir saja, biasanya sudah terlihat, ada bayi yang lebih sering menangis, ada bayi yang tangisannya lebih keras, ada yang popoknya basah sedikit sudah gelisah, ada juga yang tetap tidur walau suasana ramai, atau santai-santai saja padahal sudah menebar bau kotoran dari popoknya.

Saya semakin menyadari adanya temperamen bawaan ini sejak punya anak yang usianya berdekatan dengan anak adik, terlebih saat lahir anak kedua yang jaraknya tidak terpaut jauh dari kakaknya.

Anak pertama saya, Nara, waktu bayi bisa tidur sepanjang hari.  Sampai perlu bersusah payah dibangunkan untuk menyusu. Sementara Shayna, sepupunya, justru sangat mudah terbangun, hingga adik saya kerap harus menggendongnya sepanjang hari.

Nara lebih mudah fokus, adiknya Kyna, lebih banyak bergerak. Mereka berdua cenderung aktif dan membongkar mainan seenaknya, sementara Shayna begitu hati-hati melakukan sesuatu, rapi dan teliti saat bermain.

Berdasarkan buku “Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik” oleh Najeela Shihab, ada 9 Kontinum Temperamen Manusia:

1. Aktivitas/ Jumlah tenaga yang dikeluarkan tubuh.
Contoh: Sulit duduk tenang atau cenderung duduk diam.

2. Distraksi/ Seberapa mudah teralihkan oleh stimulus yang tiba-tiba.
Contoh: Sulit fokus atau tidak mudah terganggu oleh suara atau gerakan

3. Intensitas/ Bagaimana seseorang bereaksi atau menunjukkan respon emosi pada keadaan positif atau negatif.
Contoh: Cenderung memendam perasaan atau emosi mudah berubah naik turun.

4. Keteraturan/ Ketepatan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Contoh: Pola makan, tidur, dan rutinitas lain relatif sama atau cenderung berubah.

5. Ambang Sensori/ Batas toleransi seseorang akan stimulus suara, temperatur, tekstur, dan rasa.
Contoh: Mudah tidur di mana saja atau relatif kesulitan dalam situasi tertentu.

6. Pendekatan atau Penolakan/ Reaksi seseorang terhadap situasi baru.
Contoh: Senang bertemu orang baru atau tidak menyukai perkenalan.

7. Adaptif/ Kecepatan seseorang beradaptasi terhadap perubahan atau berhadapan dengan respon negatif.
Contoh: Mudah atau cenderung sulit menerima kegiatan baru.

8. Ketekunan/ Seberapa lama dapat bertahan menghadapi situasi sulit tanpa menyerah.
Contoh: Mudah beralih ke aktivitas lain ketika bertemu hambatan atau bisa tetap fokus menyelesaikan.

9. Suasana Hati/ Bagaimana seseorang menunjukkan kondisi hatinya yang positif dan negatif.
Contoh: Bersikap kaku atau selalu ceria dalam setiap kesempatan.

Pada prinsipnya, temperamen adalah reaksi manusia terhadap sesuatu di luar dirinya, hal itu dibawa oleh masing-masing kita sejak lahir dan tidak dapat diubah.

Tentu tidak adil bukan, menuntut anak berdasarkan sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya, apalagi sampai membandingkannya dengan anak lain yang tentu memiliki temperamen bawaan yang berbeda.

Satu hal yang bisa kita lakukan mengenai temperamen bawaan ini adalah mengenali dan menerimanya, kemudian mencari cara terbaik untuk membantu anak mengelolanya, sehingga dia bisa hidup dan berkontribusi dalam lingkungannya, sesuai potensi terbaiknya. Misalnya, anak yang sulit beradaptasi dengan orang baru, bisa kita persiapkan dengan lebih baik mengenai kondisi yang akan dia alami, atau datang lebih awal ke tempat yang dituju.

Click to Share

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 2): My Precious Daughters

Kalau bagian pertama NHW kali ini melihat kebaikan suami, bagian kedua giliran melihat potensi kekuatan anak.

Alhamdulillah, sampai saat ini saya dan suami dikaruniai dua orang putri yang (bagi saya) luar biasa. Masya Allah. Tabarakallah.

Putri pertama kami Nayyara/ Nara usianya 29 bulan. Satu hal yang paling menonjol darinya adalah kemampuan verbalnya. Nara termasuk cepat bicara untuk usianya. Sejak dia masih di bawah 6 bulan, dia sudah punya kata saat ingin menyusu. Walau bukan kata yang umum kita kenal, tapi dia selalu konsisten menggunakan kata itu. Bahkan kadang saat terbangun dari tidur, dia tidak menangis, hanya menyebut kata buatannya itu.

Bisa jadi bukan hanya Nara yang seperti itu. Tapi karena adik dan sepupu-sepupunya tidak demikian, jadi saya pikir itu cukup istimewa.

Saat sebagian anak seusianya belum jelas berkata-kata, Nara sudah lancar menyanyikan beberapa lagu. Bicaranya juga sudah kalimat lengkap layaknya orang dewasa, hanya masih cadel di huruf ‘r’ dan ‘s’.

Fokus Nara menurut pandangan saya juga cukup baik untuk anak seusianya. Rentang konsentrasinya cukup panjang. Sejak mungkin sekitar usia 8 bulan, dia sudah dapat menyimak dengan baik buku yang dibacakan dari awal sampai akhir, sudah punya buku favorit dan hafal ceritanya, sampai saat Atoknya, ayah saya, terlewat satu halaman, dia menangis karena ceritanya tidak sesuai yang seharusnya 😂

Nara suka bermain peran. Dia paling suka berperan sebagai ibu dari boneka-bonekanya. Dengan telaten dia menggendong, memandikan, mengajak jalan-jalan, memberi makan sampai menyusui mereka. Setelah punya adik, dia pun ingin ikut “mengasuh” adiknya itu.

Nara adalah anak yang teguh pendiriannya. Dia tahu apa yang dia mau, dengan cara yang dia mau. Tidak mudah mengubah pilihannya.

NHW 3-2

Putri kedua kami, Kynatha/ Kyna, bulan ini insya Allah mencapai usia 12 bulan atau genap satu tahun.

Secara motorik, Kyna lebih kuat. Dari usia beberapa hari dia sudah bisa membalikkan badan dan mengangkat kepala. Sekarang, dia paling suka memanjat apa saja. Tangga rumah, stroler, sofa, kardus, semua dia panjat. Jalannya lebih tegap daripada Nara waktu seusianya, walau masih perlu digandeng.

Kyna cenderung lebih banyak bergerak. Dia tertarik pada buku, tapi lebih untuk di bolak balik, ditarik, dan dimakan :)) Untuk buku yang bukan board book, kemungkinan besar akan robek di tangannya. Saat dibacakan buku, di sebagian besar waktu dia akan melakukan kegiatan lain.

Mungkin masih banyak potensi kekuatan kedua anak saya yang belum terlihat atau belum saya sadari. Berbagai stimulus dan aktivitas untuk merangsang perkembangan juga menemukan minat dan bakat mereka perlu terus saya berikan.

Semoga Allah swt. memberikan saya kesabaran juga kemudahan dalam membantu mereka memaksimalkan potensi, sesuai minat dan bakat mereka, sehingga mereka bisa menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, bermanfaat bagi diri dan sekitar, juga bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin YRA.