Tag Archives: perubahan

[Pra Bunda Sayang] Adab Menuntut Ilmu x CoC

Melewati Kelas Matrikulasi dan menjadi anggota Ibu Profesional memberikan banyak manfaat bagi saya. Yang jelas, semangat untuk terus belajar dan mengembangkan potensi senantiasa termunculkan kembali.

Karenanya, saat pendaftaran untuk kelas Bunda Sayang, yang merupakan kelas lanjutannya dibuka, saya tidak ingin ketinggalan.

Sebelum masuk ke materi utama, terdapat materi pra Bunda Sayang. Materi pertama mengenai manajemen waktu, di mana peserta membuat jadwal daily activity. Ini tentunya penting, karena kelancaran proses belajar (juga berbagai peran lain dalam kehidupan) tergantung pada perencanaan dan disiplin yang baik dalam mengikuti rencana yang telah dibuat.

Materi kedua mengenai Adab Menuntut Ilmu dan Code of Conduct (CoC) atau kode etis dalam mengikuti perkuliahan. Sebagaimana juga Kelas Matrikulasi diawali dengan materi ini, dalam IIP, adab senantiasa didahulukan dari ilmu, agar ilmu bisa diserap dengan maksimal, penuh berkah, bermanfaat penuh bagi diri dan sekitar tanpa merugikan siapapun.

Materi tentu saja diikuti oleh tugas yang berfungsi mengikat ilmu agar tertanam dalam hati dan ingatan, juga lebih mudah diamalkan.

Jika tugas pertama langsung saya lampirkan di google class, tempat perkuliahan berlangsung selain di grup Whatsapp, maka tugas kedua saya tuliskan di sini.

Tugas terbagi menjadi tiga: Pertanyaan untuk individu; Studi kasus untuk didiskusikan di peer group; pertanyaan saat diskusi di grup Whatsapp. Berikut hasilnya:

1. Pertanyaan untuk individu
a. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?
Saya ingin menambah ilmu dan pemahaman khususnya dalam mengasuh anak-anak saya sesuai dengan fitrah dan tahap perkembangan mereka. Saya juga ingin menjadi diri yang lebih baik sehingga mampu menjalankan berbagai peran yang saya miliki, terutama sebagai ibu dan istri, dengan sebaik-baiknya.

b. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang Anda rencanakan di bidang tersebut?
Saya akan mengelola waktu saya dengan lebih baik, yaitu menyusun jadwal dan dengan tertib mengikutinya. Dengan demikian, saya bisa mengikuti perkuliahan dengan lebih baik, membaca dan merangkum setiap materi, menyimak dan memberi tanggapan atau bertanya jika diperlukan saat berdiskusi, juga mengerjakan tugas dan tantangan yang diberikan dengan sebaik mungkin. Sebagai tambahan, saya juga akan membaca buku atau artikel yang sekiranya menunjang proses pembelajaran.

c. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
1. Mendekatkan diri pada Allah swt. Sang Pemilik Ilmu dengan memperbaiki ibadah, banyak mengingat-Nya dan berdoa agar diberikan pemahaman dan keberkahan dalam ilmu yang diperoleh.
2. Mengutamakan pembacaan materi segera setelah diberikan. Membuat catatan dan pertanyaan jika ada untuk disampaikan saat diskusi.
3. Mengerjakan tugas sebaik dan sesegera mungkin, agar maksimal kualitas dan manfaatnya, juga selesai tepat pada waktunya.
4. Sebisa mungkin terlibat dalam setiap diskusi dalam grup dan memberi tanggapan saat diperlukan baik kepada fasilitator maupun sesama peserta.

2. Resume Studi Kasus dalam Peer Group
Berikut resume hasil diskusi dari Grup 2 yang disusun oleh Mbak Tia Agustriani selaku koordinator grup:
1. Sikap Pembelajar Terhadap Fasilitator
1. Menghormati:
– Datang tepat waktu/ bahkan sebelum materi dimulai.
– Menyimak apa yang disampaikan.
2. Menghargai:
– Mengaplikasikan ilmu.
– Respon yang baik saat pembelajaran.
– Tidak menyela saat fasil menyampaikan materi.
3. Bersikap sopan dan beradab saat fasil melakukan kesalahan (lebih baik wapri).
4. Meminta izin dengan baik saat diperlukan.

2.Saat berdiskusi, fasil menyampaikan jawaban yang kurang tepat, apa yang kita lakukan?
1. Husnudzon ke fasil.
2. Koreksi kesalahan dengan penuh kesopanan via japri.

3. Jadwal diskusi sudah ditetapkan, materi sudah diposting di
GClassroom, kemudian review diskusi pun sudah tersedia, apa yang perlu dilakukan sebagai mahasiswi yang beradab baik
?
1. Pribadi:
– Membaca materi dan mencernanya dengan baik.
– Mencatat jadwal diskusi.
– Menyiapkan bahan utk diskusi (jika ada yang ingin ditanyakan).
– Izin jika berhalangan diskusi.
– Menyimak dan berperan aktif saat hadir dalam diskusi.
– Mengamalkan materi yang sudah didapat.

2. Bersama:
Berbagi hasil resume materi kepada teman yang berhalangan.

4. Di setiap level, akan ada tantangan 10 hari, di mana mahasiswi
perlu menuliskan pengalamannya dalam melakukan tantangan yang diberikan. Tentunya mahasiswi ingin bisa tepat waktu dalam menyetorkan tugasnya. Mana yang lebih bermartabat, membuat
setoran asal-asalan agar tepat waktu, atau berusaha mengatur waktu dengan baik agar bisa membuat setoran berkualitas dan bisa tepat waktu?

Tepat waktu dan berkualitas, dengan alasan:
1. Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab.
2. Melatih manajemen waktu.
3. Mencontohkan yang baik untuk anak dan itu akan terasa lebih semangat.
4. Sebagai komitmen kita dalam mengamalkan materi/ilmu.

5. Materi yang disampaikan dirasa sangat bermanfaat, mana yang lebih bermartabat? Menulis ulang materi di medsos/blog, atau menuliskan pengalaman dan hikmah saat mendapat materi, kemudian membuat review dari sudut pandang sendiri?
Yang lebih bermanfaat adalah menuliskan pengalaman dan hikmah dari materi yang didapat yang selanjutnya membuat review berdasarkan sudut pandang pribadi.
Hal ini juga penting, karena:
– Menghindari plagiat.
– Melatih bakat kepenulisan kita.
– Lebih terasa ilmunya.
– Sebagai perbaikan diri/reminder.

Sedangkan menulis materi ulang, menurut kami cukup sebagai catatan pribadi saja (sesuai CoC tidak disebarluaskan).

6. Mendapatkan tawaran untuk mengisi materi yang berkaitan dengan Bunda Sayang, apa yang akan Anda lakukan?
Diterima jika sudah mendapat izin dari suami dan anak-anak, dan tentu minta pendapat ke fasil/ tim IP terkait materi yang disampaikan. Jika sudah fix dr pihak terkait, baru pelajari/ persiapkan dengan matang agar penyampaian materi lancar.

7. Kegiatan domestik dan ranah publik dirasa semakin padat, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan. Cuti atau mengundurkan diri, dibolehkan. Bagaimanakah etika saat ingin mengajukan cuti atau mengundurkan diri?
– Komunikasikan (salah satunya meminta izin) dengan tim iP terkait dengan etika yang baik.
– Jika diizinkan lakukan prosedur selanjutnya dengan baik.
– Berpamitan dengan teman-teman sekelas.

8. Kuota bunda sayang terbatas, banyak IPers yang ingin mengikuti perkuliahan namun tidak mendapat kuota, sementara itu ada peserta yang sudah daftar mundur di tengah jalan. Bagaimana pendapat teman-teman mengenai konsekuensi yang sebaiknya diberlakukan?
Selalu diawali berhusnudzon atas keluarnya peserta dari kelas. Konsekuensinya tergantung alasan mundurnya karena apa. Kalau memang sesuatu yang mendadak, tidak diduga sebelumnya, misalnya dapat musibah atau kondisi yang berubah, konsekuensinya hanya harus remidi. Tapi kalau itu sesuatu yang memang sudah berjalan, tapi ternyata setelah dijalani tidak bisa mengatur waktu, mungkin boleh juga dibanned satu periode misalnya. Jadibbaru boleh ikut lagi dua batch setelahnya. Konsekuensi ini perlu dinyatakan pada saat pendaftaran.

3. Hasil diskusi di WAG
Resume hasil diakusi di WAG berikut masih disusun oleh Mbak Tia:
1. Terkait studi kasus, untuk yang permintaan menjadi narsum:
Alhamdulillah ada pihak yang meminta kita jadi narsum di suatu acara, dan ternyata materi Bunda Sayang sangat cocok disampaikan. Boleh nggak ya? Harus izin dulu atau tidak?

Yup harus izin. Namun untuk materi-materi kelas mulai matrikulasi, bunsay, buncek, bunprod dan bunshal semuanya hanya untuk internal mahasiswi kelas tersebut. Jadi tidak boleh disebar bebas keluar 😊

Kenapa bisa begitu?
Karena:
✅ Penyusunan kurikulum tidak mudah.
✅ Jika disebarkan sepotong-sepotong khawatir ada salah tangkap dalam penerimaannya.
✅ Setiap materi harus ada pendampingan.
✅ Nggak jelas sumber ilmunya karena sudah tersebar luas tanpa tanggung jawab.
✅ Isinya bisa diubah-ubah atau malah dijadikan hak klaim.
✅ Bisa dianggap ilmu yg menyesatkan jika dipotong-potong dalam menyebarkannya.
✅ Berkaitan erat dengan adab menuntut ilmu sebagai bentuk menghargai.

Dan ini terkait dgn pertanyaan no. 5: akan lebih bermartabat jika kita menuliskan pengalaman dan hikmah saat mendapat materi baru, kemudian membuat review dari sudut pandang kita sendiri

Kalau dari IIP sendiri, kalau tiba-tuba ada yang cuti atau mengundurkan diri di tengah jalan, apakah ada konsekuensi tertentu?
Jika ada kejadian seperti ini tentu pengajuan pengunduran diri atau cutinya tdk langsung diapprove. Akan dilakukan pendekatan personal dan dibantu menyelesaikan kendala yang dihadapi si mahasiswi tersebut. Juga akan dilakukan upaya agar mahasiswi tersebut tetap bisa belajar bersama. Dan ini butuh support dan kerjasama dari kita semua yang ada di kelas. Saling membantu, saling peduli, saling support sehingga belajar di kelas ini tidak terasa berat tapi sebaliknya, akan terasa ringan, menyenangkan, ngangeni dan sebagainya.

Semoga apa yang tertulis di sini mampu saya amalkan dengan sebaik mungkin ya, dan menjadi bekal awal kelancaran proses belajar di kelas selanjutnya. Mohon doanya. 🙏

Click to Share

[Matrikulasi] Nice Homework #9: Ibu sebagai Agen Perubahan

NHW terakhir. Sedih juga ya, rasanya. Setelah terbiasa mengikuti materi matrikulasi tiap minggu, banyak merenung sambil dikejar deadline untuk mengerjakan NHW-nya, menyimak review NHW, mengikuti diskusi, perkenalan, dan obrolan-obrolan hangatnya. Pasti akan kangen semua itu.

Duh, jadi mellow deh 😢😅

Bersyukur banget bisa ikutan Kelas Matrikulasi IIP ini. Bersyukur masuk grup MIIP Batch #5 Tangsel 3 yang penuh semangat dan aura positif.

Kembali ke NHW #9. Sesuai dengan materi sesi #9, setelah kita menemukan passion dan misi spesifik hidup, NHW terakhir ini merumuskan misi tersebut ke dalam kontribusi kita di masyarakat. Karena setelah mengubah diri dan keluarga kita, masyarakat adalah ladang kita untuk bisa bermanfaat seluas-luasnya.

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai:

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.

Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini (terlampir).

Selamat menjadi agen perubahan.
Karena,
Everyone is a Changemaker
(Setiap orang adalah agen perubahan)

Sampai jumpa di perkuliahan Ibu Profesional selanjutnya untuk bisa lebih memahami secara detil matrikulasi IIP ini.

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Berdasarkan NHW #8, berikut bagan yang saya buat:

Social Venture 260318

Dengan ini, selesai sudah rangkaian NHW dalam Kelas Matrikulasi yang saya ikuti.

Insya Allah bisa menjadi awal dalam proses menuju diri yang lebih memahami misi hidupnya, mengenali dan mengelola potensi dirinya, terus belajar dan berkontribusi bagi keluarga juga masyarakat di sekitarnya. Menjadi agen perubahan. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Materi Sesi #9: Ibu sebagai Agen Perubahan

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impact-nya.

Darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi

“MISI SPESIFIK HIDUP KITA”

Kita harus paham JALAN HIDUP kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai CARA MENUJU SUKSES.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGEMAKER FAMILY.

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.

Karena sejatinya amalan-amalan yang dicintai adalah amalan yang langgeng (terus menerus) walaupun sedikit.

Kalau di Jepang mereka mengenal pola kaizen (Kai = perubahan, Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat/ komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.

START FROM THE EMPHATY

Inilah kuncinya.

Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga.

Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION , hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes , maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya.

Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.

Salam

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan:
Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012
Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty, 2010
Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari, 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #6: Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Satu dari sekian banyak hal yang saya tunda-tunda dalam kehidupan saya adalah membuat jadwal harian. Sudah lama saya merasa hidup saya sungguh jauh dari keteraturan, yang pada akhirnya membuat saya keteteran. Waktu rasanya cepat sekali berlalu, tanpa menghasilkan sesuatu yang baru.

Pada saat mengerjakan NHW #2, di mana tugasnya adalah membuat Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan“, saya pun memasukkan “membuat jadwal harian ini” sebagai salah satu indikator. Kemudian pada NHW #4, pada bagian mengoreksi NHW #2, saya kembali berencana untuk membuat jadwal harian ini. Deadline-nya saya undur sampai bulan Maret 2018, yang saya tuliskan sebagai KM 0 dalam milestone menjalankan misi hidup saya.

Betapa bersyukurnya saya, saat NHW #6 ini muncul untuk “memaksa” dan membantu saya mewujudkan jadwal harian itu. Maka berikut inilah NHW #6 yang berisi proses pembuatan jadwal tersebut:

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “Merasa Sibuk”, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

IMG-20180301-WA0001

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb:

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
❤ Aktivitas Paling Penting:
1. Kegiatan yang menstimulasi anak
2. Membaca buku (dan kegiatan belajar lainnya seperti membaca materi dan diskusi IIP juga mengerjakan NHW 😆)
3. Berbagi di blog dan socmed

❤ Aktivitas Paling Tidak Penting:
1. Scroll socmed berlama-lama
2. Online windows shopping berlebihan
3. Buka grup chat yang tidak urgent

Selama ini, kegiatan tidak penting yang disebutkan di atas cukup banyak menyita waktu saya. Kegiatan tersebut mungkin masih bisa dilakukan, hanya saja perlu dibatasi, sehingga memberi lebih banyak waktu untuk kegiatan yang penting. Lebih tepatnya, kegiatan penting perlu mendapat prioritas, jadi setelah terlaksana dan masih ada sisa waktu, baru kegiatan tidak penting ini bisa dilakukan secukupnya. Bukan sebaliknya seperti yang terjadi selama ini 😅

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Aktivitas paling penting saya sesungguhnya sesuai dengan metode pembelajaran yang saya tuliskan di NHW #5, yang mencakup: Membaca, berdiskusi, mengalami (mempraktekkan), juga mengajar (melalui berbagi ilmu secara tulisan). Tentu ilmu yang dipelajari disesuaikan dengan bidang yang ingin dikuasai. Semoga penjadwalan kegiatan penting ini bisa membuatnya prioritas dalam hidup sehari-hari saya dan menambah kualitas diri secara efektif juga konsisten.

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut).
Paragraf tentang kegiatan rutin yang membuat kita merasa sibuk sungguh tepat bagi saya. Kegiatan rutin ini penting, tapi seharusnya tidak “menguasai” hidup. Jadi memang “kandang waktu” tersebut perlu dibuat, agar hidup tidak habis untuk memenuhi rutinitas saja.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Hal yang hampir pasti terjadi saat kita tidak memiliki jadwal yang jelas beserta komitmen untuk menjalankannya adalah dipenuhinya hari kita dengan berbagai kegiatan yang tidak jelas dan belum tentu sesuai dengan peran juga misi hidup kita. Mudah-mudahan dengan menentukan prioritas dan mengandangkan rutinitas, gangguan agenda tidak terencana ini bisa dimininalisir.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
(Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)
Berikut  “Jadwal Harian”  yang saya buat. Langkah selanjutnya adalah mencetak, menempel di tempat terlihat, dan yang paling penting: Menjalankannya dengan konsisten.

Jadwal Harian 040316

Saya lampirkan pula “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” sebagai revisi dari checklist yang saya buat di NHW #2. Ini juga rencananya akan saya cetak dan tempel di temat terlihat untuk saya centang setiap harinya. Tentunya saya sudah memasukkannya juga ke jadwal harian. Sejauh ini saya rasa checklist dan jadwal harian ini sudah mencakup apa-apa yang peru saya penuhi untuk memenuhi misi hidup saya. Sekarang tinggal menguatkan tekad dan komitmen untuk menjalankannya, melakukan evaluasi rutin untuk revisi dan pengembangannya.

Checklist Indikator 040318

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Kalau sempat dan dirasa perlu, saya akan post review dan revisinya (kalau ada) di blog ini satu minggu sejak pelaksanaan jadwal tersebut ya. Kalau tidak, insya Allah kita bahas kembali tiga bulan mendatang. Mohon doanya ya, semua ;D

[Matrikulasi] Nice Homework #2: Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Untuk NHW pekan ini, setelah menerima materi sesi #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga, saya dan teman-teman peserta kelas matrikulasi lainnya belajar membuat “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang mencakup tiga peran berikut:
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Indikator yang kami buat berpegang pada lima kunci yang disingkat menjadi SMART:
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (Berikan batas waktu)

Serunya, kami diminta untuk berdiskusi dengan keluarga (anak dan suami) dalam menyusun indikator khususnya yang berkaitan langsung dengan mereka, yaitu sebagai istri dan ibu. Pendapat mereka tentang istri atau ibu yang seperti apa yang membuat mereka bahagia bisa dijadikan referensi dalam membuat checklist. Bagi yang belum berkeluarga, belum memiliki anak atau anaknya masih terlalu kecil untuk diajak berdiskusi, boleh dibayangkan saja kriteria ideal yang ingin dipenuhi saat menjalankan peran-peran tersebut.

Tentunya ingat juga kemampuan kita, perhatikan lagi lima kunci di atas, terutama bagian achievable dan realistic. Jadi, walaupun rasanya banyak sekali yang ingin kita ubah, fokus pada beberapa prioritas terlebih dahulu, yang kita yakin bisa menjalankannya.

Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga 030218

Berikut “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang saya buat setelah berdiskusi dengan suami dan saya bayangkan untuk diri dan anak saya:

a. Sebagai individu
– Shalat wajib tepat waktu. | Maksimal 30 menit setelah adzan.
– Minum 2 liter air putih. | Setiap hari.
– Makan 1 porsi sayur minimal sekali dalam sehari. | Setiap hari
– Membaca buku minimal 30 halaman. | Setiap hari
– Membuat jadwal harian agar waktu bisa terkelola dengan baik. | Dibuat dalam minggu ini

b. Sebagai istri
– Menyediakan sarapan minimal 4x dalam seminggu (3 hari weekend, 1 hari weekdays).
– Memastikan pakaian siap pakai tersedia sehabis mandi. | Setiap hari
– Mendoakan suami agar berkah rezekinya, terlindungi dari berbagai keburukan, terjaga keimanan dan ibadahnya. | Minimal setiap habis shalat wajib

c. Sebagai ibu
– Membuat jadwal harian anak-anak agar teratur waktu makan, mandi, tidur, dan kegiatan lainnya. | Dibuat dalam minggu ini
– Membiasakan Nara dan Kyna makan di meja makan selama waktu makan (maksimal 30 menit). | Setiap hari
– Memberi kesempatan Nara dan Kyna belajar makan sendiri. | Minimal setiap makan siang
– Mendoakan Nara dan Kyna agar menjadi anak sholehah dan memberikan ridha sebagai ibu. | Minimal setiap habis shalat wajib

Walau terlihat sedikit, list ini sesungguhnya memuat perubahan yang cukup banyak bagi saya.

Sebetulnya, kalau mengikuti keinginan, masih banyak lagi yang ingin saya masukan ke dalam list, tapi sementara ini saja dulu yang saya prioritaskan.

Semoga yang terlihat sedikit ini bisa terpenuhi dengan baik dan menjadi awal perubahan tanpa henti menuju kebaikan ya. Aamiin YRA.

Bismillah.