Tag Archives: pengasuhan

Mengenali Temperamen Bawaan

Pernah nggak sih, mengalami anak kita dibandingkan dengan anak lain, atau malah kita sendiri yang mengomentari anak karena dia nggak sesupel temannya, misalnya? Atau anak dianggap terlalu cengeng, manja, sulit diatur, dan sebagainya?

“Anak-anak lain nggak ada tuh yang nempel terus sama Mama kaya kamu.”

“Makanya, anak dibiasain tidur di mana aja, jadi nggak gampang bangun kalau berisik sedikit.”

“Bau tangan tuh, digendong terus sih.”

Ternyata, sifat anak yang berbeda-beda ini bisa jadi merupakan temperamen bawaannya, loh.

Sejak baru lahir saja, biasanya sudah terlihat, ada bayi yang lebih sering menangis, ada bayi yang tangisannya lebih keras, ada yang popoknya basah sedikit sudah gelisah, ada juga yang tetap tidur walau suasana ramai, atau santai-santai saja padahal sudah menebar bau kotoran dari popoknya.

Saya semakin menyadari adanya temperamen bawaan ini sejak punya anak yang usianya berdekatan dengan anak adik, terlebih saat lahir anak kedua yang jaraknya tidak terpaut jauh dari kakaknya.

Anak pertama saya, Nara, waktu bayi bisa tidur sepanjang hari.  Sampai perlu bersusah payah dibangunkan untuk menyusu. Sementara Shayna, sepupunya, justru sangat mudah terbangun, hingga adik saya kerap harus menggendongnya sepanjang hari.

Nara lebih mudah fokus, adiknya Kyna, lebih banyak bergerak. Mereka berdua cenderung aktif dan membongkar mainan seenaknya, sementara Shayna begitu hati-hati melakukan sesuatu, rapi dan teliti saat bermain.

Berdasarkan buku “Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik” oleh Najeela Shihab, ada 9 Kontinum Temperamen Manusia:

1. Aktivitas/ Jumlah tenaga yang dikeluarkan tubuh.
Contoh: Sulit duduk tenang atau cenderung duduk diam.

2. Distraksi/ Seberapa mudah teralihkan oleh stimulus yang tiba-tiba.
Contoh: Sulit fokus atau tidak mudah terganggu oleh suara atau gerakan

3. Intensitas/ Bagaimana seseorang bereaksi atau menunjukkan respon emosi pada keadaan positif atau negatif.
Contoh: Cenderung memendam perasaan atau emosi mudah berubah naik turun.

4. Keteraturan/ Ketepatan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Contoh: Pola makan, tidur, dan rutinitas lain relatif sama atau cenderung berubah.

5. Ambang Sensori/ Batas toleransi seseorang akan stimulus suara, temperatur, tekstur, dan rasa.
Contoh: Mudah tidur di mana saja atau relatif kesulitan dalam situasi tertentu.

6. Pendekatan atau Penolakan/ Reaksi seseorang terhadap situasi baru.
Contoh: Senang bertemu orang baru atau tidak menyukai perkenalan.

7. Adaptif/ Kecepatan seseorang beradaptasi terhadap perubahan atau berhadapan dengan respon negatif.
Contoh: Mudah atau cenderung sulit menerima kegiatan baru.

8. Ketekunan/ Seberapa lama dapat bertahan menghadapi situasi sulit tanpa menyerah.
Contoh: Mudah beralih ke aktivitas lain ketika bertemu hambatan atau bisa tetap fokus menyelesaikan.

9. Suasana Hati/ Bagaimana seseorang menunjukkan kondisi hatinya yang positif dan negatif.
Contoh: Bersikap kaku atau selalu ceria dalam setiap kesempatan.

Pada prinsipnya, temperamen adalah reaksi manusia terhadap sesuatu di luar dirinya, hal itu dibawa oleh masing-masing kita sejak lahir dan tidak dapat diubah.

Tentu tidak adil bukan, menuntut anak berdasarkan sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya, apalagi sampai membandingkannya dengan anak lain yang tentu memiliki temperamen bawaan yang berbeda.

Satu hal yang bisa kita lakukan mengenai temperamen bawaan ini adalah mengenali dan menerimanya, kemudian mencari cara terbaik untuk membantu anak mengelolanya, sehingga dia bisa hidup dan berkontribusi dalam lingkungannya, sesuai potensi terbaiknya. Misalnya, anak yang sulit beradaptasi dengan orang baru, bisa kita persiapkan dengan lebih baik mengenai kondisi yang akan dia alami, atau datang lebih awal ke tempat yang dituju.

Click to Share

[Matrikulasi] Materi Sesi #7: Rezeki itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”
dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini
sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk
menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini,
dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama
keluarga dan sang buah hati.

Para Ibu di kelas Bunda Produktif memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses
ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rezeki kita, tapi rezeki akan tahu dimana kita
berada. Sang Maha Memberi Rezeki sedang memerintahkannya untuk menuju
diri kita

Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya,
mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah
dijaminnya adalah kekeliruan besar.

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah
bunda yang akan berikhtiar menjemput rezeki, tanpa harus meninggalkan
amanah utamanya yaitu anak dan keluarga

Semua pengalaman para Ibu Profesional di Bunda Produktif ini, adalah bagian
aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah KEMULIAAN hidup.

Karena REZEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan
kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya ”iya”, lanjutkan.
Kalau jawabannya ”tidak”, kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda
cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga,
melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap
karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka,

Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis
dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan
sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi
Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rezeki pada
pekerjaan kita. Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rezeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rezeki itu urusan-Nya.

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,
1. menambah syukur,
2. menegakkan taat
3. berbagi manfaat.

Rezeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan
sekendak-Nya. Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rezeki adalah urusan-Nya.
Rezeki itu datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan
perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rezeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu
menjaga sikap saat menjemputnya.

Ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “Buat Apa?”. Karena
apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan
haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan:
Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014
Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010
Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

[Matrikulasi] Nice Homework #6: Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Satu dari sekian banyak hal yang saya tunda-tunda dalam kehidupan saya adalah membuat jadwal harian. Sudah lama saya merasa hidup saya sungguh jauh dari keteraturan, yang pada akhirnya membuat saya keteteran. Waktu rasanya cepat sekali berlalu, tanpa menghasilkan sesuatu yang baru.

Pada saat mengerjakan NHW #2, di mana tugasnya adalah membuat Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan“, saya pun memasukkan “membuat jadwal harian ini” sebagai salah satu indikator. Kemudian pada NHW #4, pada bagian mengoreksi NHW #2, saya kembali berencana untuk membuat jadwal harian ini. Deadline-nya saya undur sampai bulan Maret 2018, yang saya tuliskan sebagai KM 0 dalam milestone menjalankan misi hidup saya.

Betapa bersyukurnya saya, saat NHW #6 ini muncul untuk “memaksa” dan membantu saya mewujudkan jadwal harian itu. Maka berikut inilah NHW #6 yang berisi proses pembuatan jadwal tersebut:

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “Merasa Sibuk”, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

IMG-20180301-WA0001

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb:

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
❤ Aktivitas Paling Penting:
1. Kegiatan yang menstimulasi anak
2. Membaca buku (dan kegiatan belajar lainnya seperti membaca materi dan diskusi IIP juga mengerjakan NHW 😆)
3. Berbagi di blog dan socmed

❤ Aktivitas Paling Tidak Penting:
1. Scroll socmed berlama-lama
2. Online windows shopping berlebihan
3. Buka grup chat yang tidak urgent

Selama ini, kegiatan tidak penting yang disebutkan di atas cukup banyak menyita waktu saya. Kegiatan tersebut mungkin masih bisa dilakukan, hanya saja perlu dibatasi, sehingga memberi lebih banyak waktu untuk kegiatan yang penting. Lebih tepatnya, kegiatan penting perlu mendapat prioritas, jadi setelah terlaksana dan masih ada sisa waktu, baru kegiatan tidak penting ini bisa dilakukan secukupnya. Bukan sebaliknya seperti yang terjadi selama ini 😅

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Aktivitas paling penting saya sesungguhnya sesuai dengan metode pembelajaran yang saya tuliskan di NHW #5, yang mencakup: Membaca, berdiskusi, mengalami (mempraktekkan), juga mengajar (melalui berbagi ilmu secara tulisan). Tentu ilmu yang dipelajari disesuaikan dengan bidang yang ingin dikuasai. Semoga penjadwalan kegiatan penting ini bisa membuatnya prioritas dalam hidup sehari-hari saya dan menambah kualitas diri secara efektif juga konsisten.

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut).
Paragraf tentang kegiatan rutin yang membuat kita merasa sibuk sungguh tepat bagi saya. Kegiatan rutin ini penting, tapi seharusnya tidak “menguasai” hidup. Jadi memang “kandang waktu” tersebut perlu dibuat, agar hidup tidak habis untuk memenuhi rutinitas saja.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Hal yang hampir pasti terjadi saat kita tidak memiliki jadwal yang jelas beserta komitmen untuk menjalankannya adalah dipenuhinya hari kita dengan berbagai kegiatan yang tidak jelas dan belum tentu sesuai dengan peran juga misi hidup kita. Mudah-mudahan dengan menentukan prioritas dan mengandangkan rutinitas, gangguan agenda tidak terencana ini bisa dimininalisir.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
(Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)
Berikut  “Jadwal Harian”  yang saya buat. Langkah selanjutnya adalah mencetak, menempel di tempat terlihat, dan yang paling penting: Menjalankannya dengan konsisten.

Jadwal Harian 040316

Saya lampirkan pula “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” sebagai revisi dari checklist yang saya buat di NHW #2. Ini juga rencananya akan saya cetak dan tempel di temat terlihat untuk saya centang setiap harinya. Tentunya saya sudah memasukkannya juga ke jadwal harian. Sejauh ini saya rasa checklist dan jadwal harian ini sudah mencakup apa-apa yang peru saya penuhi untuk memenuhi misi hidup saya. Sekarang tinggal menguatkan tekad dan komitmen untuk menjalankannya, melakukan evaluasi rutin untuk revisi dan pengembangannya.

Checklist Indikator 040318

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Kalau sempat dan dirasa perlu, saya akan post review dan revisinya (kalau ada) di blog ini satu minggu sejak pelaksanaan jadwal tersebut ya. Kalau tidak, insya Allah kita bahas kembali tiga bulan mendatang. Mohon doanya ya, semua ;D

[Matrikulasi] Nice Homework #5: Desain Pembelajaran

Setelah NHW #3 yang begitu panjang sampai terbagi menjadi 4 post, kemudian NHW #4 yang membuat saya mengevaluasi kembali semua NHW dari yang pertama sampai ketiga untuk selanjutnya menentukan misi hidup, bidang yang ingin dikuasai beserta ilmu-ilmu pendukungnya, juga milestone untuk mencapai misi hidup tersebut, sampailah saya pada NHW #5 yang kembali memeras otak untuk berpikir.

Berdasarkan materi sesi #5 mengenai “Belajar Bagaimana Caranya Belajar”, dalam NHW kali ini saya bertugas membuat sebuah Desain Pembelajaran. Panduannya sendiri tidak banyak seperti NHW-NHW sebelumnya, tujuannya agar peserta secara penuh mempraktekkan “Learning How to Learn” ini. Diawali dengan menumbuhkan rasa ingin tahu mengenai apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran, mencari-cari desain yang dirasa paling cocok dan efektif dengan gaya belajar masing-masing dan seterusnya.

Proses belajar inilah yang menjadi tujuan utama NHW #5 ini.

Banyak sekali informasi yang muncul saat saya mencari tentang desain pembelajaran ini dengan menggunakan mesin pencari. Baik dari definisi, jenis-jenis desain pembelajaran, hingga contoh desain pembelajaran, termasuk dari sesama peserta matrikulasi batch sebelumnya. Tantangannya justru bagaimana memilah dan memilih informasi yang paling sesuai dengan kebutuhan diri sendiri.

Terus terang saya belum pernah membuat desain pembelajaran, mendengarnya pun rasanya baru sekarang. Jadi memang sempat pusing waktu pertama kali melihat kumpulan informasi tentangnya.

Akhirnya saya memutuskan untuk membuatnya sesederhana mungkin, agar lebih mudah saya pahami dan laksanakan nantinya.

Setelah membaca beberapa definisi yang tersedia, saya meyimpulkan bahwa desain pembelajaran intinya adalah rancangan sistem yang memfasilitasi proses belajar sehingga dapat mencapai tujuan belajar seseorang, sesuai dengan kebutuhannya. Desain belajar, karenanya, paling tidak terdiri dari:
– Tujuan pembelajaran
– Metode pembelajaran
– Evaluasi hasil pembelajaran

Berdasarkan hal tersebut, berikut desain pembelajaran yang saya buat untuk diri saya sendiri:
a. Tujuan Pembelajaran
Seperti yang telah saya tuliskan di NHW #1, kemudian dimantapkan kembali pada NHW #4, bidang yang ingin saya kuasai adalah pengasuhan dan pendidikan anak. Maka, tujuan pembelajaran saya adalah menguasai bidang tersebut, dalam rangka memenuhi misi hidup saya sebagai inspirator dan edukator.

b. Metode Pembelajaran
Pada NHW #4 saya sudah menuliskan susunan ilmu yang diperlukan untuk dapat menguasai bidang yang saya inginkan beserta tahun keberapa saya akan mempelajarinya (milestone). Maka, metode pembelajaran yang saya terapkan akan mengikuti milestone tersebut. Sementara penjabarannya akan dibuat berdasarkan revisi checklist indikator dari NHW #2, khususnya yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran, yang dimasukkan ke dalam jadwal harian saya.

Metode pembelajarannya sendiri disusun berdasarkan kebutuhan saya, termasuk di dalamnya gaya belajar (kombinasi antara visual dan auditori) dan kondisi saya pada saat belajar (kesehatan, mood, ketertarikan).

Saya juga tertarik dengan diagram “How We Learn” oleh William Glasser dalam gambar berikut.

IMG-20180221-WA0028

Karena itu, metode pembelajaran yang akan saya terapkan merupakan kombinasi dari 4 hal berikut:
1. Membaca buku dan artikel terkait ilmu yang ingin saya pelajari.
Walaupun membaca hanya memenuhi 10% dari pemahaman kita, tapi saya suka membaca dan percaya bahwa selain menjaga otak kita tetap terlatih, banyak sekali ilmu yang bisa didapatkan dari kegiatan tersebut.

2. Berdiskusi mengenai materi yang sedang dipelajari.
Mengikuti berbagai seminar juga kelas seperti IIP ini sangat membantu saya untuk dapat lebih memahami apa yang sedang dipelajari. Diskusi juga dapat dilakukan dengan orang-orang di sekitar saya, seperti suami, orangtua, adik, atau teman yang sudah menguasai atau sedang belajar ilmu yang sama.

3. Mengalami (praktek).
Karena bidang yang ingin saya kuasai adalah pengasuhan dan pendidikan anak, mempraktekkan ilmu yang telah saya pelajari bersama anak-anak saya dapat menjadi salah satu media belajar yang efektif untuk menambah pemahaman serta penguasaan saya dalam bidang tersebut. Jadwal praktek juga bisa dimasukkan untuk ilmu penunjang lainnya.

4. Mengajar.
95% pemahaman didapatkan dari kegiatan ini. Maka sambil mempelajari ilmunya melalui tiga metode sebelumnya, saya akan berbagi ilmu tersebut baik secara langsung maupun melalui tulisan.

c. Evaluasi Hasil Pembelajaran
Evaluasi penting dilakukan untuk melihat efektif tidaknya metode pembelajaran yang telah dilakukan. Untuk itu, saya akan menyusun target bulanan. Kemudian, saya akan melakukan evaluasi, awalnya per bulan, selanjutnya per tiga dan enam bulan.

Desain pembelajaran yang saya buat ini tentunya masih memerlukan penjabaran dan perbaikan seiring dengan pelaksanaannya. Tapi semoga sudah bisa menjadi dasar pendukung proses belajar saya hingga tujuan belajar saya tercapai.

[Matrikulasi] Materi Sesi #5: Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?

Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :
1. Belajar hal berbeda
2. Cara belajar yang berbeda
3. Semangat Belajar yang berbeda

🍀 Belajar Hal Berbeda
Apa saja yang perlu di pelajari?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

Cara Belajar Berbeda
Jika dulu kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak-anak kita untuk bertanya.
Misalnya:
👍Ibu jari: How
👆Jari telunjuk: Where
✋Jari tengah: What
✋Jari manis: When
✋Jari kelingking: Who
👐Kedua telapak tangan di buka: Why
👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka: Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berpikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berpikirnya.

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dengan aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik.

Apa itu berpikir skeptik?
Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

Semangat Belajar yang Berbeda
Semangat belajar yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah:

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada di tempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekadar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,
Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita.

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan
Strategi Meninggikan Gunung bukan Meratakan Lembah

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobi, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada klub bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 Sebaliknya jangan meratakan lembah
yaitu dengan menutupi kekurangannya.
Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan/ kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orangtua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah:
1. Mengetahui apa yang anak-anak mau/ minati
2. Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3. Mengetahui passion-nya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

Good is not enough anymore we have to be different

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orangtua :
👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu: usia 0-8 tahun.
👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita: usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita: usia 17 tahun ke atas.

Cara mengetahui passion anak adalah :
1. Observation (pengamatan)
2. Engage (terlibat)
3. Watch and listen (lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir anak dengan:
1. Melatih anak untuk belajar bertanya.
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya.
3. Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari.
4. Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan:
Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014
Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009

[Matrikulasi] Nice Homework #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Setelah berdiskusi tentang materi matrikulasi sesi 4, saya dan peserta matrikulasi IIP  mulai mempraktekkan ilmu yang sudah kami dapat satu persatu dalam NHW #4.

Bisa dibilang, NHW #4 ini merupakan evaluasi dari NHW-NHW sebelumnya, yang sesungguhnya sangat diperlukan agar semua tahapannya sejalan dan berkesinambungan sehingga hasilnya pun bisa maksimal juga efektif. Berikut jawaban saya atas beberapa soal NHW #4.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Setelah melalui beberapa sesi matrikulasi dan perenungan demi perenungan, saya malah semakin mantap memilih jurusan ilmu pengasuhan atau parenting, khususnya dalam bidang perkembangan dan pendidikan anak. Saya merasa itulah jurusan yang paling menarik minat saya saat ini, dan percaya bahwa jika jurusan ini bisa saya kuasai maka banyak sekali kebaikan yang bisa saya hasilkan, bukan saja untuk saya dan keluarga saya, tapi juga untuk masyarakat di sekitar saya.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Terus terang, saya belum konsisten melaksanankan checklist harian yang saya buat pada NHW #2 :(

Saya bahkan belum jadi menyetak dan menempel checklist tersebut di tempat terlihat agar bisa diisi setiap hari seperti rencana semula. Ada beberapa jadwal yang menurut saya penting yang juga belum saya buat. NHW #4 ini menjadi pengingat untuk menguatkan kembali komitmen saya dalam melaksanakan checklist tersebut demi perbaikan yang berkelanjutan dan tercapainya tujuan hidup saya.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Membayangkan kembali bagaimana saya selalu bersemangat jika membicarakan masalah pengasuhan anak, melihat potensi yang saya tulis pada NHW #3, juga mengamati kegembiraan yang saya rasakan dalam menggeluti pekerjaan baru saya sebagai Book Advisor, yang juga terkait dengan pendidikan anak, saya ingin menggambarkan tujuan penciptaan saya sebagai berikut:

Misi Hidup: Menumbuhkan kesadaran hingga pemahaman melalui edukasi dan menyebarkan inspirasi melalui praktik baik yang dilakukan.
Bidang: Pengasuhan dan pendidikan anak (khususnya pentingnya anak cinta belajar dan membaca buku).
Peran: Edukator, inspirator.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Untuk menjalankan misi hidup tersebut, saya paling tidak perlu menguasai antara lain:
1. Ilmu tentang pengembangan dan perbaikan diri.
2. Ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak.
3. Ilmu komunikasi, khususnya cara berbicara di depan umum agar apa yang ingin disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh orang lain.
4. Ilmu kepenulisan, agar juga mampu menyebarkan informasi dan berbagi pengalaman melalui tulisan, khususnya blog pribadi.
5. Ilmu bercerita (story telling), karena saya percaya cerita merupakan salah satu media yang baik untuk menyampaikan sesuatu.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup.
KM 0 saya tetapkan pada bulan Maret 2018. Selanjutnya, paling tidak 5 jam dalam sehari akan saya jadwalkan untuk mempelajari, mempraktekkan, dan membagikan ilmu pengasuhan, juga ilmu-ilmu penunjang untuk menjalankan misi hidup saya tersebut.

Jika targetnya adalah 10.000 jam untuk seseorang menjadi ahli dalam suatu bidang. Maka dalam waktu kurang dari 6 tahun, saya akan melihat hasil dari usaha saya itu.

Untuk itu, berikut milestone yang saya tetapkan:
KM 0 – KM 1 (tahun 1): Menguasai ilmu seputar pengembangan dan perbaikan diri.
KM 1 – KM 3 (tahun 2-3): Menguasai ilmu seputar pengasuhan dan pendidikan anak.
KM 3 – KM 4 (tahun 4): Menguasai ilmu seputar komunikasi.
KM 4 – KM 6 (tahun 5-6): Menguasai ilmu seputar kepenulisan dan story telling.

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Secara spesifik belum dimasukkan dalam checklist di NHW #2. Insya Allah akan segera direvisi secara bertahap berikut pembuatan jadwal harian sesuai rencana sebelumnya.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.
Hal tersulit sekaligus terpenting dari misi hidup ini adalah melaksanakan rencana yang telah dibuat. NHW #4 yang masih jauh dari sempurna ini, insya Allah akan terus disempurnakan seiring dengan proses pelaksanaannya. Semoga Allah memudahkan, menguatkan, dan meridhai. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Materi Sesi #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“Just DO It”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

“PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH”

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogikan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 4): My Neighbourhood

Pertanyaan terakhir dari NHW #3 adalah tentang lingkungan tempat tinggal. Dengan potensi diri dan keluarga yang dimiliki, tantangan apa yang bisa diselesaikan, pengaruh apa yang bisa diberikan oleh keberadaan saya dan keluarga pada lingkungan di sekitar kami.

Pengasuhan adalah hal yang menjadi ketertarikan saya. Salah satunya mungkin karena saya kerap merasa terganggu jika menyaksikan ada anak yang tidak menghormati orangtuanya, bersikap seenaknya, tidak tahu aturan, hingga mengganggu, merugikan, atau menyakiti orang lain.

Saya jadi ingin belajar, bagaimana sih cara yang efektif mengasuh anak agar tidak menjadi seperti itu. Bagaimana agar paling tidak anak kelak saya tidak seperti itu.

Dalam perjalanannya, saya menemukan bahwa akan lebih efektif jika saling berbagi dengan orangtua lain mengenai ilmu pengasuhan ini. Sehingga kami bisa saling belajar dan mendukung dalam proses pengasuhan anak-anak kami.

Kemudian saya bertemu dengan komunitas yang percaya bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, kita hanya perlu terus belajar mencintai dengan lebih baik. Juga bahwa pengasuhan adalah urusan bersama. Apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita akan berpengaruh pada lingkungan tempat mereka tinggal saat ini hingga nanti saat mereka dewasa. Sehingga, selain belajar untuk diri dan anak sendiri, penting bagi kita untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan sebanyak mungkin orangtua dan pengasuh agar semakin banyak anggota tim untuk bekerja sama membesarkan generasi yang lebih baik.

Seperti pepatah yang juga pernah dikutip oleh IIP ini, “It takes a village to raise a child.”

Diawali dengan diri sendiri yang terus belajar mencintai dengan lebih baik, semoga kesalahan dan praktek baik yang saya lakukan bersama keluarga bisa menjadi contoh serta pembelajaran bagi orang lain di sekitar kami.

Mudah-mudahan juga, semakin banyak orangtua dan pengasuh yang memahami cara mengasuh dan mendidik anak dengan lebih efektif, semakin meningkat anak-anak yang tumbuh sesuai tahap perkembangannya, termaksimalkan potensinya, bahagia hidupnya, peduli dan bermanfaat untuk sekitarnya, yang kemudian menjadi orangtua yang lebih baik lagi dalam mencintai, terus demikian hingga menghasilkan masyarakat yang harmonis serta dunia yang lebih nyaman dan aman untuk ditinggali.

Insya Allah.

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 2): My Precious Daughters

Kalau bagian pertama NHW kali ini melihat kebaikan suami, bagian kedua giliran melihat potensi kekuatan anak.

Alhamdulillah, sampai saat ini saya dan suami dikaruniai dua orang putri yang (bagi saya) luar biasa. Masya Allah. Tabarakallah.

Putri pertama kami Nayyara/ Nara usianya 29 bulan. Satu hal yang paling menonjol darinya adalah kemampuan verbalnya. Nara termasuk cepat bicara untuk usianya. Sejak dia masih di bawah 6 bulan, dia sudah punya kata saat ingin menyusu. Walau bukan kata yang umum kita kenal, tapi dia selalu konsisten menggunakan kata itu. Bahkan kadang saat terbangun dari tidur, dia tidak menangis, hanya menyebut kata buatannya itu.

Bisa jadi bukan hanya Nara yang seperti itu. Tapi karena adik dan sepupu-sepupunya tidak demikian, jadi saya pikir itu cukup istimewa.

Saat sebagian anak seusianya belum jelas berkata-kata, Nara sudah lancar menyanyikan beberapa lagu. Bicaranya juga sudah kalimat lengkap layaknya orang dewasa, hanya masih cadel di huruf ‘r’ dan ‘s’.

Fokus Nara menurut pandangan saya juga cukup baik untuk anak seusianya. Rentang konsentrasinya cukup panjang. Sejak mungkin sekitar usia 8 bulan, dia sudah dapat menyimak dengan baik buku yang dibacakan dari awal sampai akhir, sudah punya buku favorit dan hafal ceritanya, sampai saat Atoknya, ayah saya, terlewat satu halaman, dia menangis karena ceritanya tidak sesuai yang seharusnya 😂

Nara suka bermain peran. Dia paling suka berperan sebagai ibu dari boneka-bonekanya. Dengan telaten dia menggendong, memandikan, mengajak jalan-jalan, memberi makan sampai menyusui mereka. Setelah punya adik, dia pun ingin ikut “mengasuh” adiknya itu.

Nara adalah anak yang teguh pendiriannya. Dia tahu apa yang dia mau, dengan cara yang dia mau. Tidak mudah mengubah pilihannya.

NHW 3-2

Putri kedua kami, Kynatha/ Kyna, bulan ini insya Allah mencapai usia 12 bulan atau genap satu tahun.

Secara motorik, Kyna lebih kuat. Dari usia beberapa hari dia sudah bisa membalikkan badan dan mengangkat kepala. Sekarang, dia paling suka memanjat apa saja. Tangga rumah, stroler, sofa, kardus, semua dia panjat. Jalannya lebih tegap daripada Nara waktu seusianya, walau masih perlu digandeng.

Kyna cenderung lebih banyak bergerak. Dia tertarik pada buku, tapi lebih untuk di bolak balik, ditarik, dan dimakan :)) Untuk buku yang bukan board book, kemungkinan besar akan robek di tangannya. Saat dibacakan buku, di sebagian besar waktu dia akan melakukan kegiatan lain.

Mungkin masih banyak potensi kekuatan kedua anak saya yang belum terlihat atau belum saya sadari. Berbagai stimulus dan aktivitas untuk merangsang perkembangan juga menemukan minat dan bakat mereka perlu terus saya berikan.

Semoga Allah swt. memberikan saya kesabaran juga kemudahan dalam membantu mereka memaksimalkan potensi, sesuai minat dan bakat mereka, sehingga mereka bisa menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, bermanfaat bagi diri dan sekitar, juga bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Materi Sesi #3 – Membangun Peradaban dari Rumah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA, AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

MIIP #3 - 090218

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

It Takes a Village to Raise a Child

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016