Tag Archives: parenting

P.A.R.E.N.T: Cara Membesarkan Anak yang Tangguh dan Bahagia

Sesuai rencana, saya akan membahas lebih jauh metode pengasuhan yang diterapkan oleh orang Denmark, yang menurut penulis buku “The Danish Way of Parenting” menjadi salah satu faktor utama yang menjadikan Denmark negara paling bahagia di dunia.

Penulis menyingkat metode tersebut ke dalam kata PARENT, kemudian menjabarkan tiap hurufnya dalam sebuah bab. Di sini, saya mencoba merangkumnya dalam satu tulisan singkat. Semoga cukup memberi gambaran filosofi atau metode pengasuhan macam apa sih yang digunakan di Denmark.

1. P untuk Play
Bermain adalah sesuatu yang secara alami senang dilakukan oleh anak-anak, namun orang tua seringkali melihatnya sebagai sesuatu yang dilakukan sekadar sebagai hiburan, selingan dari kegiatan belajar. Bahkan, dianggap membuang-buang waktu jika dirasa dilakukan terlalu banyak. Padahal, dari bermain itulah anak-anak paling banyak belajar. Bermain mengajarkan ketangguhan, cara mengatasi stres, beradaptasi dan berbagai keterampilan lain yang dibutuhkan anak untuk menjadi manusia yang sukses dan bahagia.

Orang Denmark menyadari hal ini. Mereka lebih berfokus pada keterampilan hidup anak daripada menekan mereka secara akademis. Anak-anak dibiarkan bermain dan tidak memulai sekolah hingga usia 7 tahun, itupun masih banyak waktu bermain bebasnya. Mereka juga menganut filosofi “proximal development” yang intinya memberikan ruang dan waktu untuk anak berkembang, tanpa intervensi berlebihan. Mereka percaya setiap anak perlu menumbuhkan dorongan internal untuk meraih sesuatu daripada mengejar faktor eksternal seperti nilai yang baik, penghargaan, atau pujian orang tua. Ini juga akan menumbuhkan kendali internal yang kuat pada anak, yang berdasarkan riset mengurangi depresi dan kecemasan.

2. A untuk Autentisitas
Film-film Denmark tidak selalu menyajikan akhir yang bahagia. Mereka lebih suka memperlihatkan sebuah kisah sebagaimana kehidupan adanya. Ada tragedi, kesedihan, kegagalan, hal-hal yang menyakitkan. Hal ininjuga berlaku pada dongeng anak-anak, seperti misalnya cerita-cerita yang ditulis oleh Hans Christian Andersen.

Jika dalam versi bahasa Inggrisnya cerita-cerita ini diubah dengan akhir yang bahagia dengan anggapan versi asli kurang tepat untuk anak, orang Denmark percaya bahwa tragedi dan kesedihan juga perlu dibahas bersama anak-anak. Hal ini berguna untuk membantu mengenali dan menerima semua emosi dalam diri, bersyukur, dan menumbuhkan empati pada orang lain. Jujur pada diri sendiri membantu kita memahami apa yang kita inginkan serta menyusun strategi menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Orang Denmark juga tidak terbiasa membanjiri anak dengan pujian. Mereka lebih fokus pada usaha daripada hasil. Apresiasi diberikan pada proses dan usaha yang dilakukan. Hal ini mendorong terbangunnya pola pikir yang berkembang (growth mindset), bahwa kecerdasan dan keberhasilan bisa diusahakan daripada pola pikir permanen (fixed mindset), yaitu kecerdasan adalah sesuatu yang berasal dari sananya dan sudah demikian adanya.

Pola pikir permanen membuat anak cepat puas atau melakukan sesuatu hanya untuk mendapat gelar itu dan mudah menyerah atau takut mencoba lalu gagal dan kehilangan gelarnya.

3. R untuk Reframing
Memaknai ulang setiap situasi adalah pembawaan alami yang dimiliki oleh orang Denmark dan diwariskan pada anak-anak mereka. Orang Denmark selalu bisa menemukan sudut pandang yang positif dari situasi yang bisa jadi kurang baik bahkan menekan.

Mereka menerima bahwa ada hal-hal negatif dalam hidup namun memilih untuk berfokus pada sisi positifnya. Daripada satu aspek kurang baik dari suatu hal, mereka melihat gambaran besarnya, menginterpretasikan hal negatif menjadi lebih positif, berprasangka baik, dan menggunakan bahasa yang lebih positif dalam memaknai sesuatu. Ini termasuk ke dalam memisahkan seseorang dari perilakunya dan menghindari pemberian label.

4. E untuk Empati
Keyakinan orang Denmark bahwa peduli kepada kebahagiaan orang lain selalu penting untuk menciptakan kebahagiaan diri sendiri mendorong mereka untuk berusaha memahami orang lain.

Orang Denmark memiliki kecenderungan untuk menunjukkan kualitas karakter baik orang atau anak lain kepada anak mereka. Daripada menghakimi, mereka akan mencoba menjelaskan alasan di balik perilaku kurang menyenangkan dari orang lain. Sehingga mereka terbiasa melihat kebaikan dalam diri orang lain, percaya bahwa perilaku bukanlah sesuatu yang mendefinisikan seseorang namun sesuatu yang bersifat sementara dan dipengaruhi oleh situasi.

Mereka menerima setiap emosi yang dirasakan orang lain, termasuk anak-anak mereka, berusaha memahami dan menghormatinya.

5. N untuk No Ultimatum
Hubungan antara anak dan orang tua kadang bisa berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan. Orang tua kerap menggunakan ancaman bahkan kemudian kekerasan fisik saat merasa tidak didengar dan diremehkan “kuasa”-nya. Orang Denmark percaya bahwa rasa hormat berlaku dua arah dan karenanya mengasuh anak-anak mereka dengan penuh hormat daripada sekadar menumbuhkan rasa takut.

Orang Denmark percaya setiap anak baik dan menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk memikirkan cara menghindari masalah daripada menghukum anak saat melakukannya. Guru Denmark dilatih untuk melihat kebutuhan spesifik setiap siswa, membuat rencana dan tujuan bersama masing-masingnya, juga membuat kesepakatan bersama seluruh kelas akan peraturan apa yang bisa diterapkan untuk mewujudkan kelas yang baik.

Orang Denmark tidak sekadar melarang tapi menjelaskan alasan dibalik sebuah peraturan, membantu anak menemukan jalan keluar dari suatu masalah atau perilaku yang kurang tepat. Mereka juga lebih santai terhadap penolakan-penolakan kecil anak, tidak menjadikan semuanya sebagai perebutan kekuasaan, memberi kesempatan anak belajar akan konsekuensi dari sebuah pilihan.

6. T untuk Togetherness
Orang Denmark punya budaya “bersantai bersama” teman dan keluarga atau biasa dikenal dengan hygge (baca: huga). Mereka benar-benar menganggap penting hal ini sehingga semua orang bekerja sama untuk menciptakan susana yang nyaman.

Semua saling membantu jadi tidak ada satu atau beberapa orang yang merasa bekerja sendirian, partisipasi dalam permainan atau kegiatan akan dilakukan walau sedang tidak ingin. Masalah pribadi ditinggalkan di belakang, perselisihan dihindari, semua berusaha semaksimal mungkin untuk bersantai dan membawa suasana positif ke dalam waktu bersama ini.

Konsep kebersamaan ini membantu mereka merasa terhubung dengan yang lain, memberikan sebuah arti dan tujuan. Mengesampingkan diri sendiri untuk manfaat keseluruhan, menciptakan suasana menyenangkan yang baik diwariskan kepada anak-anak.

Konsep ini tidak berakhir pada satu atau dua pertemuan saja, tapi meluas dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak Denmark didorong untuk melihat kekuatan dan kelemahan orang lain sebagai celah untuk membantu dan bekerja sama dalam satu tim. Mereka diajarkan untuk rendah hati dan peduli pada kesulitan serta keberhasilan orang lain juga. Ini berlaku dalam setiap aspek, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan pekerjaan, hingga masyarakat pada umumnya. Ikatan sosial dan sistem dukungan di Denmark karenanya sangat kuat.

=====

Seluruh prinsip di atas sudah menyatu dalam budaya Denmark. Tidak heran kalau Denmark terpilih menjadi negara paling bahagia di dunia selama puluhan tahun.

Mungkin diperlukan usaha lebih bagi kita untuk belajar dari prinsip-prinsip tersebut dan menerapkannya dalam hidup kita, namun rasanya patut dicoba untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bahagia, dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

Click to Share

[Book Review] The Danish Way of Parenting

Akhirnya saya mulai membiasakan baca buku lagi mulai Maret lalu, seiring dengan pembentukan kebiasaan berkaitan dengan tugas Kelas Gemari Madya.

Salah satu kebiasaan yang mau dibangun kembali adalah rutin membaca buku minimal 20 halaman per hari. Bukan rencana baru memang. Tapi satu-satunya cara mengubah kegagalan menjadi keberhasilan adalah tidak berhenti mencoba, berusaha lagi dan lagi dengan semangat dan strategi baru. Kali ini cukup terbantu dengan aplikasi Habits dan Read More.

Buku “The Danish Way of Parenting” adalah buku kedua yang selesai dibaca dengan bantuannya.

Isi buku ini sebenarnya membantu dirinya sendiri untuk selesai dibaca dengan cepat sih. Menarik banget soalnya. Paling tidak untuk saya.

Bikin ngangguk-ngangguk setuju selama bacanya dan jadi pengen bagiin semuanya ke semua orang. Faktanya, beberapa bagian saya foto dan bagikan ke keluarga dekat untuk didiskusikan.

19-04-22-15-38-36-742_deco

Penulisnya, awalnya mencari tahu apa sih yang bikin Denmark dinobatkan jadi negara paling bahagia sedunia oleh World Happiness Report-nya PBB, bukan cuma setahun dua tahun tapi selama 40 tahun!

Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa salah satu faktor terbesar yang mempengaruhinya adalah pola pengasuhan.

Agak ngiri sih, sama orang Denmark. Soalnya, seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, pola asuh turun-temurun itu bukan sesuatu yang mudah untuk diubah. Kebanyakan kita di Indonesia berjuang untuk tidak mengulang pola asuh yang kurang efektif yang sudah tertanam selama puluhan tahun kita hidup sebagai anak. Pola asuh yang sudah ada dari zaman orang tua, kakek nenek, bahkan barangkali nenek moyang kita 😅

Nah, orang Denmark juga sama. Mereka punya filosofi dan pola asuh warisan. Bedanya, pola asuh yang mereka wariskan itu adalah yang secara teori parenting baru kita usahakan untuk diterapkan. Pola asuh yang terbukti menghasilkan anak-anak yang tangguh, baik dalam pengelolaan emosi, serta bahagia. Anak-anak yang bahagia ini kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, yang kembali melakukan dan mewariskan pola asuh yang sama ke anak-anak mereka. Begitu seterusnya hingga Denmark pun menjadi negara paling bahagia sedunia selama puluhan tahun.

Penulis membagi buku ini ke dalam 7 bab. Bab pertama meminta kita “Mengenali Apa yang Menjadi Pembawaan Alami Kita”. Mengamati setelan bawaan atau kecenderungan alami kita dalam bereaksi, khususnya sebagai orang tua, membantu kita memutuskan mana yang mau kita ubah dan seperti apa. Sehingga kita tidak hanya mengulang apa yang sudah tertanam, yang kebanyakan berasal dari cara kita dibesarkan.

Pada bab-bab selanjutnya, penulis menjabarkan prinsip pengasuhan ala Denmark yang dibagi menggunakan singkatan PARENT (Play; Authenticity; Reframing; Empathy; No Ultimatum; Togetherness). Tentang ini, saya berencana membahasnya lebih lanjut dalam post terpisah.

Seperti buku-buku tentang pengasuhan lainnya, yang terpenting adalah kesediaan kita membuka hati dan pikiran akan cara-cara yang bisa jadi lebih efektif dalam mengasuh anak-anak kita. Kemudian, secara sadar memanfaatkan jeda sebelum bereaksi agar bisa memilih menggunakan cara-cara tersebut daripada cara kita yang biasa, yang kita tahu tidak efektif namun kembali kita lakukan atas dasar kebiasaan.

Perlu kita ingat, cara kita membesarkan anak, tidak hanya berpengaruh pada perkembangan dan masa depan mereka, namun juga bergenerasi-generasi setelahnya. Tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Betapa penting peran dan tanggung jawab kita karenanya.

Penulis buku ini berhasil menunjukkan hal itu dari sisi positif pengasuhan yang diwariskan selama bertahun-tahun oleh orang-orang paling bahagia di dunia.

Sudut pandang Jessica, sebagai seorang Amerika yang bersuamikan orang Denmark beserta pengalaman-pengalaman pribadinya dan pengalaman Iben sebagai psikoterapis naratif di Denmark, memperkaya buku ini. Ini juga memudahkan saya dalam menangkap dan menyerap apa yang ingin disampaikan dalam buku ini.

Mengenali Temperamen Bawaan

Pernah nggak sih, mengalami anak kita dibandingkan dengan anak lain, atau malah kita sendiri yang mengomentari anak karena dia nggak sesupel temannya, misalnya? Atau anak dianggap terlalu cengeng, manja, sulit diatur, dan sebagainya?

“Anak-anak lain nggak ada tuh yang nempel terus sama Mama kaya kamu.”

“Makanya, anak dibiasain tidur di mana aja, jadi nggak gampang bangun kalau berisik sedikit.”

“Bau tangan tuh, digendong terus sih.”

Ternyata, sifat anak yang berbeda-beda ini bisa jadi merupakan temperamen bawaannya, loh.

Sejak baru lahir saja, biasanya sudah terlihat, ada bayi yang lebih sering menangis, ada bayi yang tangisannya lebih keras, ada yang popoknya basah sedikit sudah gelisah, ada juga yang tetap tidur walau suasana ramai, atau santai-santai saja padahal sudah menebar bau kotoran dari popoknya.

Saya semakin menyadari adanya temperamen bawaan ini sejak punya anak yang usianya berdekatan dengan anak adik, terlebih saat lahir anak kedua yang jaraknya tidak terpaut jauh dari kakaknya.

Anak pertama saya, Nara, waktu bayi bisa tidur sepanjang hari.  Sampai perlu bersusah payah dibangunkan untuk menyusu. Sementara Shayna, sepupunya, justru sangat mudah terbangun, hingga adik saya kerap harus menggendongnya sepanjang hari.

Nara lebih mudah fokus, adiknya Kyna, lebih banyak bergerak. Mereka berdua cenderung aktif dan membongkar mainan seenaknya, sementara Shayna begitu hati-hati melakukan sesuatu, rapi dan teliti saat bermain.

Berdasarkan buku “Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik” oleh Najeela Shihab, ada 9 Kontinum Temperamen Manusia:

1. Aktivitas/ Jumlah tenaga yang dikeluarkan tubuh.
Contoh: Sulit duduk tenang atau cenderung duduk diam.

2. Distraksi/ Seberapa mudah teralihkan oleh stimulus yang tiba-tiba.
Contoh: Sulit fokus atau tidak mudah terganggu oleh suara atau gerakan

3. Intensitas/ Bagaimana seseorang bereaksi atau menunjukkan respon emosi pada keadaan positif atau negatif.
Contoh: Cenderung memendam perasaan atau emosi mudah berubah naik turun.

4. Keteraturan/ Ketepatan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Contoh: Pola makan, tidur, dan rutinitas lain relatif sama atau cenderung berubah.

5. Ambang Sensori/ Batas toleransi seseorang akan stimulus suara, temperatur, tekstur, dan rasa.
Contoh: Mudah tidur di mana saja atau relatif kesulitan dalam situasi tertentu.

6. Pendekatan atau Penolakan/ Reaksi seseorang terhadap situasi baru.
Contoh: Senang bertemu orang baru atau tidak menyukai perkenalan.

7. Adaptif/ Kecepatan seseorang beradaptasi terhadap perubahan atau berhadapan dengan respon negatif.
Contoh: Mudah atau cenderung sulit menerima kegiatan baru.

8. Ketekunan/ Seberapa lama dapat bertahan menghadapi situasi sulit tanpa menyerah.
Contoh: Mudah beralih ke aktivitas lain ketika bertemu hambatan atau bisa tetap fokus menyelesaikan.

9. Suasana Hati/ Bagaimana seseorang menunjukkan kondisi hatinya yang positif dan negatif.
Contoh: Bersikap kaku atau selalu ceria dalam setiap kesempatan.

Pada prinsipnya, temperamen adalah reaksi manusia terhadap sesuatu di luar dirinya, hal itu dibawa oleh masing-masing kita sejak lahir dan tidak dapat diubah.

Tentu tidak adil bukan, menuntut anak berdasarkan sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya, apalagi sampai membandingkannya dengan anak lain yang tentu memiliki temperamen bawaan yang berbeda.

Satu hal yang bisa kita lakukan mengenai temperamen bawaan ini adalah mengenali dan menerimanya, kemudian mencari cara terbaik untuk membantu anak mengelolanya, sehingga dia bisa hidup dan berkontribusi dalam lingkungannya, sesuai potensi terbaiknya. Misalnya, anak yang sulit beradaptasi dengan orang baru, bisa kita persiapkan dengan lebih baik mengenai kondisi yang akan dia alami, atau datang lebih awal ke tempat yang dituju.

[Matrikulasi] Nice Homework #6: Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Satu dari sekian banyak hal yang saya tunda-tunda dalam kehidupan saya adalah membuat jadwal harian. Sudah lama saya merasa hidup saya sungguh jauh dari keteraturan, yang pada akhirnya membuat saya keteteran. Waktu rasanya cepat sekali berlalu, tanpa menghasilkan sesuatu yang baru.

Pada saat mengerjakan NHW #2, di mana tugasnya adalah membuat Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan“, saya pun memasukkan “membuat jadwal harian ini” sebagai salah satu indikator. Kemudian pada NHW #4, pada bagian mengoreksi NHW #2, saya kembali berencana untuk membuat jadwal harian ini. Deadline-nya saya undur sampai bulan Maret 2018, yang saya tuliskan sebagai KM 0 dalam milestone menjalankan misi hidup saya.

Betapa bersyukurnya saya, saat NHW #6 ini muncul untuk “memaksa” dan membantu saya mewujudkan jadwal harian itu. Maka berikut inilah NHW #6 yang berisi proses pembuatan jadwal tersebut:

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “Merasa Sibuk”, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

IMG-20180301-WA0001

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb:

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
❤ Aktivitas Paling Penting:
1. Kegiatan yang menstimulasi anak
2. Membaca buku (dan kegiatan belajar lainnya seperti membaca materi dan diskusi IIP juga mengerjakan NHW 😆)
3. Berbagi di blog dan socmed

❤ Aktivitas Paling Tidak Penting:
1. Scroll socmed berlama-lama
2. Online windows shopping berlebihan
3. Buka grup chat yang tidak urgent

Selama ini, kegiatan tidak penting yang disebutkan di atas cukup banyak menyita waktu saya. Kegiatan tersebut mungkin masih bisa dilakukan, hanya saja perlu dibatasi, sehingga memberi lebih banyak waktu untuk kegiatan yang penting. Lebih tepatnya, kegiatan penting perlu mendapat prioritas, jadi setelah terlaksana dan masih ada sisa waktu, baru kegiatan tidak penting ini bisa dilakukan secukupnya. Bukan sebaliknya seperti yang terjadi selama ini 😅

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Aktivitas paling penting saya sesungguhnya sesuai dengan metode pembelajaran yang saya tuliskan di NHW #5, yang mencakup: Membaca, berdiskusi, mengalami (mempraktekkan), juga mengajar (melalui berbagi ilmu secara tulisan). Tentu ilmu yang dipelajari disesuaikan dengan bidang yang ingin dikuasai. Semoga penjadwalan kegiatan penting ini bisa membuatnya prioritas dalam hidup sehari-hari saya dan menambah kualitas diri secara efektif juga konsisten.

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut).
Paragraf tentang kegiatan rutin yang membuat kita merasa sibuk sungguh tepat bagi saya. Kegiatan rutin ini penting, tapi seharusnya tidak “menguasai” hidup. Jadi memang “kandang waktu” tersebut perlu dibuat, agar hidup tidak habis untuk memenuhi rutinitas saja.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Hal yang hampir pasti terjadi saat kita tidak memiliki jadwal yang jelas beserta komitmen untuk menjalankannya adalah dipenuhinya hari kita dengan berbagai kegiatan yang tidak jelas dan belum tentu sesuai dengan peran juga misi hidup kita. Mudah-mudahan dengan menentukan prioritas dan mengandangkan rutinitas, gangguan agenda tidak terencana ini bisa dimininalisir.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
(Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)
Berikut  “Jadwal Harian”  yang saya buat. Langkah selanjutnya adalah mencetak, menempel di tempat terlihat, dan yang paling penting: Menjalankannya dengan konsisten.

Jadwal Harian 040316

Saya lampirkan pula “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” sebagai revisi dari checklist yang saya buat di NHW #2. Ini juga rencananya akan saya cetak dan tempel di temat terlihat untuk saya centang setiap harinya. Tentunya saya sudah memasukkannya juga ke jadwal harian. Sejauh ini saya rasa checklist dan jadwal harian ini sudah mencakup apa-apa yang peru saya penuhi untuk memenuhi misi hidup saya. Sekarang tinggal menguatkan tekad dan komitmen untuk menjalankannya, melakukan evaluasi rutin untuk revisi dan pengembangannya.

Checklist Indikator 040318

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Kalau sempat dan dirasa perlu, saya akan post review dan revisinya (kalau ada) di blog ini satu minggu sejak pelaksanaan jadwal tersebut ya. Kalau tidak, insya Allah kita bahas kembali tiga bulan mendatang. Mohon doanya ya, semua ;D

[Matrikulasi] Nice Homework #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Setelah berdiskusi tentang materi matrikulasi sesi 4, saya dan peserta matrikulasi IIP  mulai mempraktekkan ilmu yang sudah kami dapat satu persatu dalam NHW #4.

Bisa dibilang, NHW #4 ini merupakan evaluasi dari NHW-NHW sebelumnya, yang sesungguhnya sangat diperlukan agar semua tahapannya sejalan dan berkesinambungan sehingga hasilnya pun bisa maksimal juga efektif. Berikut jawaban saya atas beberapa soal NHW #4.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Setelah melalui beberapa sesi matrikulasi dan perenungan demi perenungan, saya malah semakin mantap memilih jurusan ilmu pengasuhan atau parenting, khususnya dalam bidang perkembangan dan pendidikan anak. Saya merasa itulah jurusan yang paling menarik minat saya saat ini, dan percaya bahwa jika jurusan ini bisa saya kuasai maka banyak sekali kebaikan yang bisa saya hasilkan, bukan saja untuk saya dan keluarga saya, tapi juga untuk masyarakat di sekitar saya.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Terus terang, saya belum konsisten melaksanankan checklist harian yang saya buat pada NHW #2 :(

Saya bahkan belum jadi menyetak dan menempel checklist tersebut di tempat terlihat agar bisa diisi setiap hari seperti rencana semula. Ada beberapa jadwal yang menurut saya penting yang juga belum saya buat. NHW #4 ini menjadi pengingat untuk menguatkan kembali komitmen saya dalam melaksanakan checklist tersebut demi perbaikan yang berkelanjutan dan tercapainya tujuan hidup saya.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Membayangkan kembali bagaimana saya selalu bersemangat jika membicarakan masalah pengasuhan anak, melihat potensi yang saya tulis pada NHW #3, juga mengamati kegembiraan yang saya rasakan dalam menggeluti pekerjaan baru saya sebagai Book Advisor, yang juga terkait dengan pendidikan anak, saya ingin menggambarkan tujuan penciptaan saya sebagai berikut:

Misi Hidup: Menumbuhkan kesadaran hingga pemahaman melalui edukasi dan menyebarkan inspirasi melalui praktik baik yang dilakukan.
Bidang: Pengasuhan dan pendidikan anak (khususnya pentingnya anak cinta belajar dan membaca buku).
Peran: Edukator, inspirator.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Untuk menjalankan misi hidup tersebut, saya paling tidak perlu menguasai antara lain:
1. Ilmu tentang pengembangan dan perbaikan diri.
2. Ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak.
3. Ilmu komunikasi, khususnya cara berbicara di depan umum agar apa yang ingin disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh orang lain.
4. Ilmu kepenulisan, agar juga mampu menyebarkan informasi dan berbagi pengalaman melalui tulisan, khususnya blog pribadi.
5. Ilmu bercerita (story telling), karena saya percaya cerita merupakan salah satu media yang baik untuk menyampaikan sesuatu.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup.
KM 0 saya tetapkan pada bulan Maret 2018. Selanjutnya, paling tidak 5 jam dalam sehari akan saya jadwalkan untuk mempelajari, mempraktekkan, dan membagikan ilmu pengasuhan, juga ilmu-ilmu penunjang untuk menjalankan misi hidup saya tersebut.

Jika targetnya adalah 10.000 jam untuk seseorang menjadi ahli dalam suatu bidang. Maka dalam waktu kurang dari 6 tahun, saya akan melihat hasil dari usaha saya itu.

Untuk itu, berikut milestone yang saya tetapkan:
KM 0 – KM 1 (tahun 1): Menguasai ilmu seputar pengembangan dan perbaikan diri.
KM 1 – KM 3 (tahun 2-3): Menguasai ilmu seputar pengasuhan dan pendidikan anak.
KM 3 – KM 4 (tahun 4): Menguasai ilmu seputar komunikasi.
KM 4 – KM 6 (tahun 5-6): Menguasai ilmu seputar kepenulisan dan story telling.

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Secara spesifik belum dimasukkan dalam checklist di NHW #2. Insya Allah akan segera direvisi secara bertahap berikut pembuatan jadwal harian sesuai rencana sebelumnya.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.
Hal tersulit sekaligus terpenting dari misi hidup ini adalah melaksanakan rencana yang telah dibuat. NHW #4 yang masih jauh dari sempurna ini, insya Allah akan terus disempurnakan seiring dengan proses pelaksanaannya. Semoga Allah memudahkan, menguatkan, dan meridhai. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Materi Sesi #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“Just DO It”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

“PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH”

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogikan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 4): My Neighbourhood

Pertanyaan terakhir dari NHW #3 adalah tentang lingkungan tempat tinggal. Dengan potensi diri dan keluarga yang dimiliki, tantangan apa yang bisa diselesaikan, pengaruh apa yang bisa diberikan oleh keberadaan saya dan keluarga pada lingkungan di sekitar kami.

Pengasuhan adalah hal yang menjadi ketertarikan saya. Salah satunya mungkin karena saya kerap merasa terganggu jika menyaksikan ada anak yang tidak menghormati orangtuanya, bersikap seenaknya, tidak tahu aturan, hingga mengganggu, merugikan, atau menyakiti orang lain.

Saya jadi ingin belajar, bagaimana sih cara yang efektif mengasuh anak agar tidak menjadi seperti itu. Bagaimana agar paling tidak anak kelak saya tidak seperti itu.

Dalam perjalanannya, saya menemukan bahwa akan lebih efektif jika saling berbagi dengan orangtua lain mengenai ilmu pengasuhan ini. Sehingga kami bisa saling belajar dan mendukung dalam proses pengasuhan anak-anak kami.

Kemudian saya bertemu dengan komunitas yang percaya bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, kita hanya perlu terus belajar mencintai dengan lebih baik. Juga bahwa pengasuhan adalah urusan bersama. Apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita akan berpengaruh pada lingkungan tempat mereka tinggal saat ini hingga nanti saat mereka dewasa. Sehingga, selain belajar untuk diri dan anak sendiri, penting bagi kita untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan sebanyak mungkin orangtua dan pengasuh agar semakin banyak anggota tim untuk bekerja sama membesarkan generasi yang lebih baik.

Seperti pepatah yang juga pernah dikutip oleh IIP ini, “It takes a village to raise a child.”

Diawali dengan diri sendiri yang terus belajar mencintai dengan lebih baik, semoga kesalahan dan praktek baik yang saya lakukan bersama keluarga bisa menjadi contoh serta pembelajaran bagi orang lain di sekitar kami.

Mudah-mudahan juga, semakin banyak orangtua dan pengasuh yang memahami cara mengasuh dan mendidik anak dengan lebih efektif, semakin meningkat anak-anak yang tumbuh sesuai tahap perkembangannya, termaksimalkan potensinya, bahagia hidupnya, peduli dan bermanfaat untuk sekitarnya, yang kemudian menjadi orangtua yang lebih baik lagi dalam mencintai, terus demikian hingga menghasilkan masyarakat yang harmonis serta dunia yang lebih nyaman dan aman untuk ditinggali.

Insya Allah.

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 1): Dear Husband

Materi matrikulasi sesi #3 ini adalah tentang “Membangun Peradaban dari Rumah”. Kami belajar merenung untuk memahami, apa “misi spesifik” diri sendiri, kemudian juga berusaha melihat potensi suami, anak-anak, serta lingkungan, untuk kemudian memahami “peran spesifik keluarga”. Sehingga hidup lebih jelas hendak dibawa ke mana dengan peran yang kita pahami tersebut.

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam proses menemukan pemahaman itu. NHW kali ini pun diberikan untuk mendorong terjadinya proses ini.

Kelompok pertanyaan dibagi menjadi tiga kondisi kehidupan yang sedang dijalani: Pra nikah, nikah, dan orangtua tunggal (single parent). Karena saya masuk ke dalam kondisi kedua (nikah), ada 4 bagian yang harus saya kerjakan. Post ini berisi bagian yang pertama.

“Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.”

Berikut surat yang akhirnya saya tulis untuk suami saya:

Dear Husband,

Bagi Mama, Ayah adalah hadiah kejutan dari Allah swt. untuk Mama. Sungguh tidak terbayangkan saat pertama kali kita dipertemukan, bahwa di tahun yang sama kita kemudian menjadi suami istri.

Kejutan yang diikuti oleh dua kejutan lainnya, dua putri kita yang manis, Nayyara dan Kynatha.

Perubahan dari kehidupan lajang jadi istri dan ibu dua batita bukan hal yang mudah. Mama seakan dibangunkan dari tempat tidur yang nyaman dan aman. Kehidupan yang Mama kenal selama puluhan tahun mendadak harus berubah.

Dulu, mau ikut kegiatan apa aja tinggal cus. Mau ngeborong di pameran buku atau ikut event lari, jalan-jalan atau sekadar nonton serial tv kesukaan, bisa Mama lakukan tanpa pikir panjang.

Sekarang, mau ngopi cantik di rumah aja harus nunggu anak-anak tidur siang barengan dulu, itupun dilema sama beresin kerjaan rumah (seringnya sih kopi yang menang 😂). Beli buku juga mikir-mikir, karena uangnya mungkin lebih baik ditabung atau beli kebutuhan lain. Sekalinya beli juga lebih sering buku parenting atau malah buku anak-anak. Mau ikut kegiatan di luar? Harus liat dulu, suaminya ngizinin nggak, bentrok sama acara lain nggak, masuk prioritas nggak biayanya, anaknya bisa diajak atau ada yang bisa dititipin nggak, ASIP-nya cukup nggak. Hehehe…

Mama bersyukur, adalah Ayah pasangan Mama dalam menghadapi semua perubahan itu.

NHW 3-1

Ayah yang menghibur Mama saat sedang sedih, mendengarkan kisah dan keluh kesah Mama. Rasanya senang, juga tenang kalau udah cerita ke Ayah.

Ayah juga mau ngertiin kemampuan Mama mengurus rumah yang masih jauh dari sempurna. Mulai dari sarapan yang seadanya bahkan nggak selalu tersedia, cucian yang menumpuk atau baju kerja yang belum disetrika.

Dalam hal kebersihan, Ayah malah lebih baik dari Mama. Ayah biasa membersihkan kamar kita, menyapu dan mengepel lantainya, menyedot debunya, mengganti seprainya, memastikan anak-anak kita nggak digigit semut atau tungau. Berburu dengan raket nyamuk sebelum tidur pun suka Ayah lakukan demi nyenyaknya tidur anak-anak kita (dan kita semua).

Kamar mandi mungkin paling senang sama Ayah, karena Ayah rajin menyikat lantai juga menguras baknya, setelah membersihkan saringan kerannya. Air kamar mandi paling bening setelah Ayah bersihkan. Munyang aja sampai kagum dan bilang (kurang lebih), “untunglah Aca tu dapet Wen.” Dan setelah liat air di kamar mandi Atok, tante-tante jadi tertarik beli saringan yang sama 😂

Soal mengasuh anak? Ayah pun nggak ketinggalan. Gantiin popok, mandiin, gantiin baju, nyuapin makan, ajak main, ngobrol, dan jalan-jalan, semua Ayah lakukan. Kaya yang Ayah pernah bilang, cuma satu yang Ayah nggak bisa lakuin: Menyusui :)) Kalo soal itu, Mama yang menang ya 😁

Ayah pun rela menghabiskan hari libur untuk mencari penghasilan tambahan.

Iya, Mama emang beruntung. Dapet suami yang seperti Ayah.

Sebelum nikah, Mama pernah bilang, kalau nanti punya suami, mau yang dengerin cerita Mama sampai berjam-jam, bisa diajak diskusi, bercanda, dan seru-seruan bareng. Alhamdulillah doanya terjawab dalam bentuk Ayah.

Ayah juga sabar menunggu sampai anak-anak tidur untuk membicarakan masalah di antara kita, agar nggak sampai bertengkar di depan anak juga nggak menyesal belakangan karena melampiaskan emosi saat sedang memuncak. Ayah menunda, tapi tetap berusaha menyelesaikannya, supaya nggak berlarut-larut dan menjadi duri dalam hubungan kita.

Mama banyak belajar dari Ayah.

Untuk lebih peduli sama orang-orang di sekitar kita, terutama orangtua dan keluarga.

Untuk melapangkan dada dalam menerima dan memaafkan perlakuan orang lain yang kurang menyenangkan sampai menzalimi kita.

Untuk menyebut nama seseorang saat berbicara dengannya, walau cuma dalam interaksi yang singkat, dengan supir taksi online misalnya.

Kalau Mama menggebu-gebu, Ayah lebih tenang dalam menyikapi sesuatu. Kalau Mama seringkali ribet dan banyak pertimbangan, Ayah lebih praktis.

Makasih ya, Ayah, udah jadi diri Ayah yang sekarang. Suami yang terbaik untuk Mama dan Ayah terbaik untuk anak-anak kita.

Dear Ayah yang senyumnya paling manis dan ketawanya bikin Mama ikut seneng, sementara muramnya bikin Mama ikut termenung…

Seperti Mama yang nggak sempurna, Ayah tentunya juga nggak sempurna. Tapi semoga kita bisa lebih banyak berfokus pada kebaikan masing-masing, sambil terus belajar menjadi diri kita yang lebih baik lagi. Demi diri kita dan satu sama lain, juga untuk anak-anak kita. Karena Allah tentu saja, sebagai bagian dari ibadah kita kepada-Nya. Aamiin YRA.

Mama sayang Ayah.

Ttd,

Istrinya Wendy Himawan Purba

Responnya?

Senyuman manis dan sebuah kecupan.

Itu aja saya udah senang sih, karena paling tidak dia tahu bagaimana saya bersyukur dan berterima kasih atas kehadirannya sebagai suami saya.

[Matrikulasi] Materi Sesi #3 – Membangun Peradaban dari Rumah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA, AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

MIIP #3 - 090218

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

It Takes a Village to Raise a Child

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #2: Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Untuk NHW pekan ini, setelah menerima materi sesi #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga, saya dan teman-teman peserta kelas matrikulasi lainnya belajar membuat “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang mencakup tiga peran berikut:
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Indikator yang kami buat berpegang pada lima kunci yang disingkat menjadi SMART:
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (Berikan batas waktu)

Serunya, kami diminta untuk berdiskusi dengan keluarga (anak dan suami) dalam menyusun indikator khususnya yang berkaitan langsung dengan mereka, yaitu sebagai istri dan ibu. Pendapat mereka tentang istri atau ibu yang seperti apa yang membuat mereka bahagia bisa dijadikan referensi dalam membuat checklist. Bagi yang belum berkeluarga, belum memiliki anak atau anaknya masih terlalu kecil untuk diajak berdiskusi, boleh dibayangkan saja kriteria ideal yang ingin dipenuhi saat menjalankan peran-peran tersebut.

Tentunya ingat juga kemampuan kita, perhatikan lagi lima kunci di atas, terutama bagian achievable dan realistic. Jadi, walaupun rasanya banyak sekali yang ingin kita ubah, fokus pada beberapa prioritas terlebih dahulu, yang kita yakin bisa menjalankannya.

Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga 030218

Berikut “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang saya buat setelah berdiskusi dengan suami dan saya bayangkan untuk diri dan anak saya:

a. Sebagai individu
– Shalat wajib tepat waktu. | Maksimal 30 menit setelah adzan.
– Minum 2 liter air putih. | Setiap hari.
– Makan 1 porsi sayur minimal sekali dalam sehari. | Setiap hari
– Membaca buku minimal 30 halaman. | Setiap hari
– Membuat jadwal harian agar waktu bisa terkelola dengan baik. | Dibuat dalam minggu ini

b. Sebagai istri
– Menyediakan sarapan minimal 4x dalam seminggu (3 hari weekend, 1 hari weekdays).
– Memastikan pakaian siap pakai tersedia sehabis mandi. | Setiap hari
– Mendoakan suami agar berkah rezekinya, terlindungi dari berbagai keburukan, terjaga keimanan dan ibadahnya. | Minimal setiap habis shalat wajib

c. Sebagai ibu
– Membuat jadwal harian anak-anak agar teratur waktu makan, mandi, tidur, dan kegiatan lainnya. | Dibuat dalam minggu ini
– Membiasakan Nara dan Kyna makan di meja makan selama waktu makan (maksimal 30 menit). | Setiap hari
– Memberi kesempatan Nara dan Kyna belajar makan sendiri. | Minimal setiap makan siang
– Mendoakan Nara dan Kyna agar menjadi anak sholehah dan memberikan ridha sebagai ibu. | Minimal setiap habis shalat wajib

Walau terlihat sedikit, list ini sesungguhnya memuat perubahan yang cukup banyak bagi saya.

Sebetulnya, kalau mengikuti keinginan, masih banyak lagi yang ingin saya masukan ke dalam list, tapi sementara ini saja dulu yang saya prioritaskan.

Semoga yang terlihat sedikit ini bisa terpenuhi dengan baik dan menjadi awal perubahan tanpa henti menuju kebaikan ya. Aamiin YRA.

Bismillah.