Tag Archives: parenting

[Matrikulasi] Nice Homework #6: Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Satu dari sekian banyak hal yang saya tunda-tunda dalam kehidupan saya adalah membuat jadwal harian. Sudah lama saya merasa hidup saya sungguh jauh dari keteraturan, yang pada akhirnya membuat saya keteteran. Waktu rasanya cepat sekali berlalu, tanpa menghasilkan sesuatu yang baru.

Pada saat mengerjakan NHW #2, di mana tugasnya adalah membuat Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan“, saya pun memasukkan “membuat jadwal harian ini” sebagai salah satu indikator. Kemudian pada NHW #4, pada bagian mengoreksi NHW #2, saya kembali berencana untuk membuat jadwal harian ini. Deadline-nya saya undur sampai bulan Maret 2018, yang saya tuliskan sebagai KM 0 dalam milestone menjalankan misi hidup saya.

Betapa bersyukurnya saya, saat NHW #6 ini muncul untuk “memaksa” dan membantu saya mewujudkan jadwal harian itu. Maka berikut inilah NHW #6 yang berisi proses pembuatan jadwal tersebut:

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “Merasa Sibuk”, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

IMG-20180301-WA0001

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb:

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
❤ Aktivitas Paling Penting:
1. Kegiatan yang menstimulasi anak
2. Membaca buku (dan kegiatan belajar lainnya seperti membaca materi dan diskusi IIP juga mengerjakan NHW 😆)
3. Berbagi di blog dan socmed

❤ Aktivitas Paling Tidak Penting:
1. Scroll socmed berlama-lama
2. Online windows shopping berlebihan
3. Buka grup chat yang tidak urgent

Selama ini, kegiatan tidak penting yang disebutkan di atas cukup banyak menyita waktu saya. Kegiatan tersebut mungkin masih bisa dilakukan, hanya saja perlu dibatasi, sehingga memberi lebih banyak waktu untuk kegiatan yang penting. Lebih tepatnya, kegiatan penting perlu mendapat prioritas, jadi setelah terlaksana dan masih ada sisa waktu, baru kegiatan tidak penting ini bisa dilakukan secukupnya. Bukan sebaliknya seperti yang terjadi selama ini 😅

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Aktivitas paling penting saya sesungguhnya sesuai dengan metode pembelajaran yang saya tuliskan di NHW #5, yang mencakup: Membaca, berdiskusi, mengalami (mempraktekkan), juga mengajar (melalui berbagi ilmu secara tulisan). Tentu ilmu yang dipelajari disesuaikan dengan bidang yang ingin dikuasai. Semoga penjadwalan kegiatan penting ini bisa membuatnya prioritas dalam hidup sehari-hari saya dan menambah kualitas diri secara efektif juga konsisten.

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut).
Paragraf tentang kegiatan rutin yang membuat kita merasa sibuk sungguh tepat bagi saya. Kegiatan rutin ini penting, tapi seharusnya tidak “menguasai” hidup. Jadi memang “kandang waktu” tersebut perlu dibuat, agar hidup tidak habis untuk memenuhi rutinitas saja.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Hal yang hampir pasti terjadi saat kita tidak memiliki jadwal yang jelas beserta komitmen untuk menjalankannya adalah dipenuhinya hari kita dengan berbagai kegiatan yang tidak jelas dan belum tentu sesuai dengan peran juga misi hidup kita. Mudah-mudahan dengan menentukan prioritas dan mengandangkan rutinitas, gangguan agenda tidak terencana ini bisa dimininalisir.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
(Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)
Berikut  “Jadwal Harian”  yang saya buat. Langkah selanjutnya adalah mencetak, menempel di tempat terlihat, dan yang paling penting: Menjalankannya dengan konsisten.

Jadwal Harian 040316

Saya lampirkan pula “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” sebagai revisi dari checklist yang saya buat di NHW #2. Ini juga rencananya akan saya cetak dan tempel di temat terlihat untuk saya centang setiap harinya. Tentunya saya sudah memasukkannya juga ke jadwal harian. Sejauh ini saya rasa checklist dan jadwal harian ini sudah mencakup apa-apa yang peru saya penuhi untuk memenuhi misi hidup saya. Sekarang tinggal menguatkan tekad dan komitmen untuk menjalankannya, melakukan evaluasi rutin untuk revisi dan pengembangannya.

Checklist Indikator 040318

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Kalau sempat dan dirasa perlu, saya akan post review dan revisinya (kalau ada) di blog ini satu minggu sejak pelaksanaan jadwal tersebut ya. Kalau tidak, insya Allah kita bahas kembali tiga bulan mendatang. Mohon doanya ya, semua ;D

Click to Share

[Matrikulasi] Nice Homework #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Setelah berdiskusi tentang materi matrikulasi sesi 4, saya dan peserta matrikulasi IIP  mulai mempraktekkan ilmu yang sudah kami dapat satu persatu dalam NHW #4.

Bisa dibilang, NHW #4 ini merupakan evaluasi dari NHW-NHW sebelumnya, yang sesungguhnya sangat diperlukan agar semua tahapannya sejalan dan berkesinambungan sehingga hasilnya pun bisa maksimal juga efektif. Berikut jawaban saya atas beberapa soal NHW #4.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Setelah melalui beberapa sesi matrikulasi dan perenungan demi perenungan, saya malah semakin mantap memilih jurusan ilmu pengasuhan atau parenting, khususnya dalam bidang perkembangan dan pendidikan anak. Saya merasa itulah jurusan yang paling menarik minat saya saat ini, dan percaya bahwa jika jurusan ini bisa saya kuasai maka banyak sekali kebaikan yang bisa saya hasilkan, bukan saja untuk saya dan keluarga saya, tapi juga untuk masyarakat di sekitar saya.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Terus terang, saya belum konsisten melaksanankan checklist harian yang saya buat pada NHW #2 :(

Saya bahkan belum jadi menyetak dan menempel checklist tersebut di tempat terlihat agar bisa diisi setiap hari seperti rencana semula. Ada beberapa jadwal yang menurut saya penting yang juga belum saya buat. NHW #4 ini menjadi pengingat untuk menguatkan kembali komitmen saya dalam melaksanakan checklist tersebut demi perbaikan yang berkelanjutan dan tercapainya tujuan hidup saya.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Membayangkan kembali bagaimana saya selalu bersemangat jika membicarakan masalah pengasuhan anak, melihat potensi yang saya tulis pada NHW #3, juga mengamati kegembiraan yang saya rasakan dalam menggeluti pekerjaan baru saya sebagai Book Advisor, yang juga terkait dengan pendidikan anak, saya ingin menggambarkan tujuan penciptaan saya sebagai berikut:

Misi Hidup: Menumbuhkan kesadaran hingga pemahaman melalui edukasi dan menyebarkan inspirasi melalui praktik baik yang dilakukan.
Bidang: Pengasuhan dan pendidikan anak (khususnya pentingnya anak cinta belajar dan membaca buku).
Peran: Edukator, inspirator.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Untuk menjalankan misi hidup tersebut, saya paling tidak perlu menguasai antara lain:
1. Ilmu tentang pengembangan dan perbaikan diri.
2. Ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak.
3. Ilmu komunikasi, khususnya cara berbicara di depan umum agar apa yang ingin disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh orang lain.
4. Ilmu kepenulisan, agar juga mampu menyebarkan informasi dan berbagi pengalaman melalui tulisan, khususnya blog pribadi.
5. Ilmu bercerita (story telling), karena saya percaya cerita merupakan salah satu media yang baik untuk menyampaikan sesuatu.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup.
KM 0 saya tetapkan pada bulan Maret 2018. Selanjutnya, paling tidak 5 jam dalam sehari akan saya jadwalkan untuk mempelajari, mempraktekkan, dan membagikan ilmu pengasuhan, juga ilmu-ilmu penunjang untuk menjalankan misi hidup saya tersebut.

Jika targetnya adalah 10.000 jam untuk seseorang menjadi ahli dalam suatu bidang. Maka dalam waktu kurang dari 6 tahun, saya akan melihat hasil dari usaha saya itu.

Untuk itu, berikut milestone yang saya tetapkan:
KM 0 – KM 1 (tahun 1): Menguasai ilmu seputar pengembangan dan perbaikan diri.
KM 1 – KM 3 (tahun 2-3): Menguasai ilmu seputar pengasuhan dan pendidikan anak.
KM 3 – KM 4 (tahun 4): Menguasai ilmu seputar komunikasi.
KM 4 – KM 6 (tahun 5-6): Menguasai ilmu seputar kepenulisan dan story telling.

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Secara spesifik belum dimasukkan dalam checklist di NHW #2. Insya Allah akan segera direvisi secara bertahap berikut pembuatan jadwal harian sesuai rencana sebelumnya.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.
Hal tersulit sekaligus terpenting dari misi hidup ini adalah melaksanakan rencana yang telah dibuat. NHW #4 yang masih jauh dari sempurna ini, insya Allah akan terus disempurnakan seiring dengan proses pelaksanaannya. Semoga Allah memudahkan, menguatkan, dan meridhai. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Materi Sesi #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“Just DO It”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

“PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH”

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogikan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 4): My Neighbourhood

Pertanyaan terakhir dari NHW #3 adalah tentang lingkungan tempat tinggal. Dengan potensi diri dan keluarga yang dimiliki, tantangan apa yang bisa diselesaikan, pengaruh apa yang bisa diberikan oleh keberadaan saya dan keluarga pada lingkungan di sekitar kami.

Pengasuhan adalah hal yang menjadi ketertarikan saya. Salah satunya mungkin karena saya kerap merasa terganggu jika menyaksikan ada anak yang tidak menghormati orangtuanya, bersikap seenaknya, tidak tahu aturan, hingga mengganggu, merugikan, atau menyakiti orang lain.

Saya jadi ingin belajar, bagaimana sih cara yang efektif mengasuh anak agar tidak menjadi seperti itu. Bagaimana agar paling tidak anak kelak saya tidak seperti itu.

Dalam perjalanannya, saya menemukan bahwa akan lebih efektif jika saling berbagi dengan orangtua lain mengenai ilmu pengasuhan ini. Sehingga kami bisa saling belajar dan mendukung dalam proses pengasuhan anak-anak kami.

Kemudian saya bertemu dengan komunitas yang percaya bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, kita hanya perlu terus belajar mencintai dengan lebih baik. Juga bahwa pengasuhan adalah urusan bersama. Apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita akan berpengaruh pada lingkungan tempat mereka tinggal saat ini hingga nanti saat mereka dewasa. Sehingga, selain belajar untuk diri dan anak sendiri, penting bagi kita untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan sebanyak mungkin orangtua dan pengasuh agar semakin banyak anggota tim untuk bekerja sama membesarkan generasi yang lebih baik.

Seperti pepatah yang juga pernah dikutip oleh IIP ini, “It takes a village to raise a child.”

Diawali dengan diri sendiri yang terus belajar mencintai dengan lebih baik, semoga kesalahan dan praktek baik yang saya lakukan bersama keluarga bisa menjadi contoh serta pembelajaran bagi orang lain di sekitar kami.

Mudah-mudahan juga, semakin banyak orangtua dan pengasuh yang memahami cara mengasuh dan mendidik anak dengan lebih efektif, semakin meningkat anak-anak yang tumbuh sesuai tahap perkembangannya, termaksimalkan potensinya, bahagia hidupnya, peduli dan bermanfaat untuk sekitarnya, yang kemudian menjadi orangtua yang lebih baik lagi dalam mencintai, terus demikian hingga menghasilkan masyarakat yang harmonis serta dunia yang lebih nyaman dan aman untuk ditinggali.

Insya Allah.

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 1): Dear Husband

Materi matrikulasi sesi #3 ini adalah tentang “Membangun Peradaban dari Rumah”. Kami belajar merenung untuk memahami, apa “misi spesifik” diri sendiri, kemudian juga berusaha melihat potensi suami, anak-anak, serta lingkungan, untuk kemudian memahami “peran spesifik keluarga”. Sehingga hidup lebih jelas hendak dibawa ke mana dengan peran yang kita pahami tersebut.

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam proses menemukan pemahaman itu. NHW kali ini pun diberikan untuk mendorong terjadinya proses ini.

Kelompok pertanyaan dibagi menjadi tiga kondisi kehidupan yang sedang dijalani: Pra nikah, nikah, dan orangtua tunggal (single parent). Karena saya masuk ke dalam kondisi kedua (nikah), ada 4 bagian yang harus saya kerjakan. Post ini berisi bagian yang pertama.

“Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.”

Berikut surat yang akhirnya saya tulis untuk suami saya:

Dear Husband,

Bagi Mama, Ayah adalah hadiah kejutan dari Allah swt. untuk Mama. Sungguh tidak terbayangkan saat pertama kali kita dipertemukan, bahwa di tahun yang sama kita kemudian menjadi suami istri.

Kejutan yang diikuti oleh dua kejutan lainnya, dua putri kita yang manis, Nayyara dan Kynatha.

Perubahan dari kehidupan lajang jadi istri dan ibu dua batita bukan hal yang mudah. Mama seakan dibangunkan dari tempat tidur yang nyaman dan aman. Kehidupan yang Mama kenal selama puluhan tahun mendadak harus berubah.

Dulu, mau ikut kegiatan apa aja tinggal cus. Mau ngeborong di pameran buku atau ikut event lari, jalan-jalan atau sekadar nonton serial tv kesukaan, bisa Mama lakukan tanpa pikir panjang.

Sekarang, mau ngopi cantik di rumah aja harus nunggu anak-anak tidur siang barengan dulu, itupun dilema sama beresin kerjaan rumah (seringnya sih kopi yang menang 😂). Beli buku juga mikir-mikir, karena uangnya mungkin lebih baik ditabung atau beli kebutuhan lain. Sekalinya beli juga lebih sering buku parenting atau malah buku anak-anak. Mau ikut kegiatan di luar? Harus liat dulu, suaminya ngizinin nggak, bentrok sama acara lain nggak, masuk prioritas nggak biayanya, anaknya bisa diajak atau ada yang bisa dititipin nggak, ASIP-nya cukup nggak. Hehehe…

Mama bersyukur, adalah Ayah pasangan Mama dalam menghadapi semua perubahan itu.

NHW 3-1

Ayah yang menghibur Mama saat sedang sedih, mendengarkan kisah dan keluh kesah Mama. Rasanya senang, juga tenang kalau udah cerita ke Ayah.

Ayah juga mau ngertiin kemampuan Mama mengurus rumah yang masih jauh dari sempurna. Mulai dari sarapan yang seadanya bahkan nggak selalu tersedia, cucian yang menumpuk atau baju kerja yang belum disetrika.

Dalam hal kebersihan, Ayah malah lebih baik dari Mama. Ayah biasa membersihkan kamar kita, menyapu dan mengepel lantainya, menyedot debunya, mengganti seprainya, memastikan anak-anak kita nggak digigit semut atau tungau. Berburu dengan raket nyamuk sebelum tidur pun suka Ayah lakukan demi nyenyaknya tidur anak-anak kita (dan kita semua).

Kamar mandi mungkin paling senang sama Ayah, karena Ayah rajin menyikat lantai juga menguras baknya, setelah membersihkan saringan kerannya. Air kamar mandi paling bening setelah Ayah bersihkan. Munyang aja sampai kagum dan bilang (kurang lebih), “untunglah Aca tu dapet Wen.” Dan setelah liat air di kamar mandi Atok, tante-tante jadi tertarik beli saringan yang sama 😂

Soal mengasuh anak? Ayah pun nggak ketinggalan. Gantiin popok, mandiin, gantiin baju, nyuapin makan, ajak main, ngobrol, dan jalan-jalan, semua Ayah lakukan. Kaya yang Ayah pernah bilang, cuma satu yang Ayah nggak bisa lakuin: Menyusui :)) Kalo soal itu, Mama yang menang ya 😁

Ayah pun rela menghabiskan hari libur untuk mencari penghasilan tambahan.

Iya, Mama emang beruntung. Dapet suami yang seperti Ayah.

Sebelum nikah, Mama pernah bilang, kalau nanti punya suami, mau yang dengerin cerita Mama sampai berjam-jam, bisa diajak diskusi, bercanda, dan seru-seruan bareng. Alhamdulillah doanya terjawab dalam bentuk Ayah.

Ayah juga sabar menunggu sampai anak-anak tidur untuk membicarakan masalah di antara kita, agar nggak sampai bertengkar di depan anak juga nggak menyesal belakangan karena melampiaskan emosi saat sedang memuncak. Ayah menunda, tapi tetap berusaha menyelesaikannya, supaya nggak berlarut-larut dan menjadi duri dalam hubungan kita.

Mama banyak belajar dari Ayah.

Untuk lebih peduli sama orang-orang di sekitar kita, terutama orangtua dan keluarga.

Untuk melapangkan dada dalam menerima dan memaafkan perlakuan orang lain yang kurang menyenangkan sampai menzalimi kita.

Untuk menyebut nama seseorang saat berbicara dengannya, walau cuma dalam interaksi yang singkat, dengan supir taksi online misalnya.

Kalau Mama menggebu-gebu, Ayah lebih tenang dalam menyikapi sesuatu. Kalau Mama seringkali ribet dan banyak pertimbangan, Ayah lebih praktis.

Makasih ya, Ayah, udah jadi diri Ayah yang sekarang. Suami yang terbaik untuk Mama dan Ayah terbaik untuk anak-anak kita.

Dear Ayah yang senyumnya paling manis dan ketawanya bikin Mama ikut seneng, sementara muramnya bikin Mama ikut termenung…

Seperti Mama yang nggak sempurna, Ayah tentunya juga nggak sempurna. Tapi semoga kita bisa lebih banyak berfokus pada kebaikan masing-masing, sambil terus belajar menjadi diri kita yang lebih baik lagi. Demi diri kita dan satu sama lain, juga untuk anak-anak kita. Karena Allah tentu saja, sebagai bagian dari ibadah kita kepada-Nya. Aamiin YRA.

Mama sayang Ayah.

Ttd,

Istrinya Wendy Himawan Purba

Responnya?

Senyuman manis dan sebuah kecupan.

Itu aja saya udah senang sih, karena paling tidak dia tahu bagaimana saya bersyukur dan berterima kasih atas kehadirannya sebagai suami saya.

[Matrikulasi] Materi Sesi #3 – Membangun Peradaban dari Rumah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA, AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

MIIP #3 - 090218

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

It Takes a Village to Raise a Child

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #2: Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Untuk NHW pekan ini, setelah menerima materi sesi #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga, saya dan teman-teman peserta kelas matrikulasi lainnya belajar membuat “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang mencakup tiga peran berikut:
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Indikator yang kami buat berpegang pada lima kunci yang disingkat menjadi SMART:
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (Berikan batas waktu)

Serunya, kami diminta untuk berdiskusi dengan keluarga (anak dan suami) dalam menyusun indikator khususnya yang berkaitan langsung dengan mereka, yaitu sebagai istri dan ibu. Pendapat mereka tentang istri atau ibu yang seperti apa yang membuat mereka bahagia bisa dijadikan referensi dalam membuat checklist. Bagi yang belum berkeluarga, belum memiliki anak atau anaknya masih terlalu kecil untuk diajak berdiskusi, boleh dibayangkan saja kriteria ideal yang ingin dipenuhi saat menjalankan peran-peran tersebut.

Tentunya ingat juga kemampuan kita, perhatikan lagi lima kunci di atas, terutama bagian achievable dan realistic. Jadi, walaupun rasanya banyak sekali yang ingin kita ubah, fokus pada beberapa prioritas terlebih dahulu, yang kita yakin bisa menjalankannya.

Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga 030218

Berikut “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang saya buat setelah berdiskusi dengan suami dan saya bayangkan untuk diri dan anak saya:

a. Sebagai individu
– Shalat wajib tepat waktu. | Maksimal 30 menit setelah adzan.
– Minum 2 liter air putih. | Setiap hari.
– Makan 1 porsi sayur minimal sekali dalam sehari. | Setiap hari
– Membaca buku minimal 30 halaman. | Setiap hari
– Membuat jadwal harian agar waktu bisa terkelola dengan baik. | Dibuat dalam minggu ini

b. Sebagai istri
– Menyediakan sarapan minimal 4x dalam seminggu (3 hari weekend, 1 hari weekdays).
– Memastikan pakaian siap pakai tersedia sehabis mandi. | Setiap hari
– Mendoakan suami agar berkah rezekinya, terlindungi dari berbagai keburukan, terjaga keimanan dan ibadahnya. | Minimal setiap habis shalat wajib

c. Sebagai ibu
– Membuat jadwal harian anak-anak agar teratur waktu makan, mandi, tidur, dan kegiatan lainnya. | Dibuat dalam minggu ini
– Membiasakan Nara dan Kyna makan di meja makan selama waktu makan (maksimal 30 menit). | Setiap hari
– Memberi kesempatan Nara dan Kyna belajar makan sendiri. | Minimal setiap makan siang
– Mendoakan Nara dan Kyna agar menjadi anak sholehah dan memberikan ridha sebagai ibu. | Minimal setiap habis shalat wajib

Walau terlihat sedikit, list ini sesungguhnya memuat perubahan yang cukup banyak bagi saya.

Sebetulnya, kalau mengikuti keinginan, masih banyak lagi yang ingin saya masukan ke dalam list, tapi sementara ini saja dulu yang saya prioritaskan.

Semoga yang terlihat sedikit ini bisa terpenuhi dengan baik dan menjadi awal perubahan tanpa henti menuju kebaikan ya. Aamiin YRA.

Bismillah.

[Matrikulasi] Materi Sesi #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #5?
Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;
1. perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1. bersangkutan dengan profesi;
2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?
Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?
“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :
BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

[Matrikulasi] Nice Homework #1: Adab Menuntut Ilmu

Setelah setiap sesi materi di kelas matrikulasi Ibu Profesional, diberikan tugas yang disebut Nice Homework (NHW), fungsinya untuk menguatkan ilmu yang telah didapat.

Berikut NHW dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU”, beserta jawaban saya tentunya 😀

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Saya selalu tertarik dengan hal yang berkaitan dengan pendidikan, psikologi, pengembangan diri, dan pengasuhan. Semakin ke sini, fokusnya jadi lebih ke anak-anak. Terlebih saat sudah punya anak, rasanya ingin banyak belajar segala sesuatu yang berhubungan dengan parenting dan pendidikan anak. Jadi, kalau diminta memilih satu jurusan ilmu yang akan ditekuni dalam universitas kehidupan ini, saya akan memilih ilmu parenting, khususnya memerhatikan perkembangan dan pendidikan anak.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
Alasan terkuat saya memilih ilmu tersebut adalah untuk menjadi orangtua yang lebih baik dalam mengasuh dan mendidik anak-anak saya, kemudian juga agar bisa berbagi ilmu tersebut untuk orangtua dan masyarakat di sekitar saya. Sehingga tercipta generasi yang lebih bahagia, termaksimalkan potensinya, baik sebagai anak, orangtua, maupun masyarakat.

Adab Menuntut Ilmu 2701183. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Sejauh ini, saya berusaha melibatkan diri dalam komunitas yang bergerak di bidang pengasuhan dan pendidikan keluarga. Bergabung di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional ini juga merupakan salah satu usaha saya untuk menambah ilmu tersebut. Saya juga membaca buku-buku tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Berbagi ilmu dan pengalaman melalui blog, media sosial, serta kelas pengasuhan, sambil berusaha menerapkan ilmu yang saya peroleh, menjadi langkah berikutnya dalam strategi saya.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Perubahan sikap yang akan saya perbaiki dalam menuntut ilmu tersebut:
1. Pada diri sendiri:
Meluruskan niat dan memperbaiki ibadah, menjadwalkan waktu belajar dan mengikutinya, lebih rajin membuat catatan dan membaginya di blog atau media sosial, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.
2. Terhadap guru (penyampai sebuah ilmu):
Menyimak dengan baik setiap ilmu yang diberikan, memberikan tanggapan yang baik jika diperlukan, membagi ilmunya dengan izin dan menyertakan sumbernya.
3. Terhadap sumber ilmu:
Mengatur ulang buku-buku dan file yang dimiliki sehingga lebih mudah ditemukan dan lebih menyenangkan untuk dipelajari.

[Matrikulasi] Materi Sesi #1: Adab Menuntut Ilmu

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang
paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan.

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya.

ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Referensi:
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015