Tag Archives: mengelola emosi

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kelimabelas

Hari ini saya belajar untuk lebih banyak menahan diri dalam menyuruh, melarang, dan (terutama) marah.

Saya menyadari bahwa saya masih seringkali memaksa anak-anak saya untuk mengikuti keinginan dan kebutuhan saya tanpa mendengarkan apa yang mereka inginkan atau butuhkan.

Ini juga berdasarkan perenungan saya atas masalah-masalah yang saya hadapi, terutama dengan Nara. Bagaimana dia sulit mendengarkan saya, sengaja melakukan apa yang saya minta tidak dia lakukan, hingga menangis sampai berteriak-teriak di beberapa kesempatan.

Saya merasa perlu memperbaiki hubungan kami. Mengatur kembali agar komunikasi yang terjalin lebih efektif dan produktif. Lebih banyak mendengarkan dan bersabar menghadapi ulahnya. Lebih fleksibel dalam cara dan waktu, memberinya kesempatan lebih banyak untuk melakukan hal sesuai caranya.

Saya percaya hal terpenting yang perlu dibangun dengan anak adalah kedekatan hati. Keharmonisan hubungan. Rekening emosional yang senantiasa berusaha untuk saling dipenuhi dari waktu ke waktu. Hubungan yang penuh cinta, kehangatan dan keterbukaan, namun juga penghargaan dan penghormatan untuk satu sama lain. Jika itu sudah dicapai, niscaya yang lainnya akan lebih mudah diaplikasikan.

Hari ini saya kembali berusaha menuju tujuan itu.

Daripada menyuruh Nara (dan Kyna), kadang dengan tidak sabar, memburu-burunya, bahkan kadang menyelipkan ancaman di dalamnya. Hari ini saya lebih banyak memberinya kesempatan memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan.

Saya hanya membantu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Di mana kita bisa mandi ya?” (saat sudah tiba saatnya mandi sesuai kesepakatan sebelumnya); “Bagaimana perilaku saat di kursi?” “Kursi fungsinya untuk apa ya?” “Di bagian mana kita duduk saat di kursi?” (saat Nara memanjat-manjat atau duduk di senderan kursi); “Kaki bisa dipakai untuk apa ya?” (saat Nara iseng menendang-nendang bantal saat duduk di belakang saya); “Kita ke mana ya, kalau habis mandi?” (saat hendak berpakaian), dan seterusnya.

Lumayan capek sih, hahaha… Apalagi saat Nara tidak langsung melakukan sesuatu sesuai harapan. Sengaja meledek dengan jawaban-jawaban yang disalah-salahkan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pertanyaan saya.

Namun, bahkan pada saat itu, sya berusaha mengikutinya saja. Bereaksi terkejut atau tertawa atas jawaban-jawabannya, walau dalam hati mulai tidak sabar. Tidak memaksa, tidak memarahi, tidak menyuruh. Hanya berusaha menggiringnya mencapai tujuan demi kepentingan bersama.

Walau memakan waktu lebih lama, tapi tidak ada drama saat Nara akhirnya mandi. Sebagai catatan, Nara masuk sendiri ke kamar mandi dengan senang. Bahkan saat saya membilas rambutnya, dia kemudian mengatakan sesuatu yang biasanya dimulai oleh saya, “I love you, Mama Aca”, bukan hanya sekali, tapi berulang-ulang, bergantian dengan balasan saya :’)

Nara mau masuk kamar tanpa berlama-lama berkeliaran di ruang lain. Dia memilih pakaian dan mengenakannya sendiri, tanpa menunda-nunda. Dia juga makan sendiri, mau membereskan mainan, dan lain-lain tanpa banyak drama.

Terasa sekali bedanya. Saat saya mulai lupa dan menyuruhnya dengan kurang ramah, dia kembali terlihat enggan.

Saya semakin yakin bahwa saya harus lebih konsisten melatih kemampuan mengelola emosi dan berkomunikasi dengan baik. Selain untuk membangun hubungan yang berkualitas, juga sebagai contoh bagi anak-anak bagaimana berperilaku dalam setiap hubungan yang mereka miliki, termasuk dengan saya dan ayah mereka.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesembilan

Kadang saya tidak yakin bisa konsisten melakukan komunikasi produktif ini. Tadi saja karena merasa lelah sepulang bekerja, saya jadi tidak sabaran. Maunya anak-anak langsung mengikuti apa yang saya minta, saya jadi cenderung memaksa, ucapan bernada kesal pun beberapa kali terlontar.

Anak-anak kabarnya tidak tidur sejak pagi tadi, tapi entah kenapa tidak langsung tidur saat saya bawa ke kamar. Beberapa kali Kyna menyusu, tapi kemudian keluar kamar lagi. Kyna yang sedang belajar pipis di kamar mandi juga bolak-balik membuka celananya, padahal tudak ada pipis yang keluar saat didudukkan di atas WC 😅

Nara yang masih enggan sikat gigi, menolak tidur karena kalau mau tidur harus sikat gigi dulu. Dia cari-cari alasan untuk menunda. Mau makan dulu, mau menghabiskan makanan yang tadi tidak habis (yang akhirnya tetap tidak dihabiskan), mau lihat Makly dulu, dan sebagainya.

Alhamdulillah Kyna akhirnya berhasil ditidurkan. Tapi Nara masih juga tidak mau sikat gigi, sementara jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Saya pun menggendong Nara ke kamar mandi.

Nara mulai menangis. Saya mencoba menawarkan pilihan, apa dia mau sikat gigi sendiri dulu atau langsung saya yang bantu sikatin. Dia tetap menangis, minta digendong, tidak mau sikat gigi. l

Saya sempat ingin memaksa menyikat giginya saja, biar cepat selesai. Namun saya memutuskan untuk mencoba bersabar lagi. Saya ingatkan Nara betapa beraninya dia kemarin, sikat gigi sendiri. Sikat giginya sudah mulai lancar,lama lagi.

“Ternyata Kakak udah bisa ya, Kak. Lama banget sikat giginya kemarin itu. Sampingnya masih kurang lancar, tapi kalau sering latihan pasti nanti juga bisa.”

Saya mengatakannya dengan penuh semangat disertai senyuman.

Nara mulai berhenti menangis, muncul binar di matanya.

“Coba Kak, Mama mau lihat lagi Kakak sikat gigi kaya kemarin. Lama banget loh itu, lurus lagi. Nggak kesakitan ya, Kakak.”

Nara mulai menyikat giginya dengan raut bangga. Dia kemudian membiarkan saya menyikat bagian yang belum bisa dia tuntaskan.

Setelahnya dia ganti baju dan berbaring di tempat tidur tanpa protes. Mungkin juga karena sudah mengantuk. Tidak lama, Nara pun tertidur lelap. Alhamdulillah.