Tag Archives: menata negeri

[Gemari Madya] Task 2 – Menata Raga

Setelah memulai proses menata jiwa, minggu ini kami masuk ke dalam tema “Menata Raga”.

Physicall wellbeing atau secara bebas saya terjemahkan menjadi kesejahteraan raga, yang merupakan tujuan menata raga ini, terbagi tiga:
– Food & nutrition
– Fitness & excercise
– Relaxation & stress management

Tugasnya tentu bagaimana memulai proses meningkatkan kualitas/kuantitas ketiga hal yersebut untuk mencapai physical wellbeing tadi itu.

1. Identifikasi Kesehatan Diri dan Keluarga.

Secara umum, kondisi kesehatan keluarga saya mungkin masuk dalam kategori “sakit tidak sehata belum tentu.” πŸ˜…

Karena memang, seperti (kalau tidak salah) Hiromi Shinya bilang, “Tidak sakit, bukan berarti sehat.”

Saya menangkapnya, walau tidak ada gejala pemyakit yang menonjol, belum tentu kondisi tubuh kita sepenuhnya sehat. Kalau bukan dalam waktu dekat, bisa jadi dalam jangka panjang akan terasa efek dari pola hidup yang kurang sehat.

Saya merasa hidup di tengah-tengah sih. Saya sudah mulai mengurangi penggunaan minyak, tidak menggunakan penyedap saat memasak, cukup sering makan buah, tapi juga masih suka jajan di luar.

Saya dan suamitidak minum alkohol atau merokok, tapi masih sula minum teh dan kopi (dengan gula dan susu).

Sebelum menikah, saya rutin jogging setiap pagi. Sekarang hampir tidak pernah olahraga. Begitupun suami. Saya suka lupa minum air putih. Kami jarang makan sayur.

Efek paling jelas dari pola hidup kami ini adalah badan yang kurang fit, mudah lelah juga mengantuk.

Setelah ditulis ternyata lebih banyak yang perlu diperbaiki yaa πŸ˜πŸ˜…

2. Micro Habits Menata Raga yang ingin dibentuk selama 21 hari.

a. Food & Nutrition
1. Minum air putih +/- 2 liter/hari
2. Minum jeruk nipis peras dan makan buah setiap pagi.

b. Fitness & Excercise
1. Jalan pagi saat weekend
2. Menari bebas bersama anak-anak

c. Relaxation & Sress Management
1. Shalat tahajud
2. Membuat jurnal syukur

Banyak yang perlu diperbaiki, namun tentu diperlukan proses yang perlu dijalani sesuai kemampuan. Biar tampak kecil, jika dilakukan dengan konsisten insya Allah akan membawa perubahan.

Bismillah.

Click to Share

[Gemari Madya] Task 1 – Menata Jiwa

Setelah perubahan yang terjadi dari Komunitas Konmari Indonesia menjadi Gemar Rapi, kelas-kelas yang diadakan pun turut berubah. Kelas Chukyuu, yang merupakan level kedua dalam kelas intensif Konmari, diganti menjadi kelas Gemari Madya.

Kelas ini baru resmi dibuka mulai minggu lalu dengan materi dan tugas yang dapat dikatakan berbeda dengan kelas chukyuu.

Jika tugas terakhir kelas chukyuu membahas tentang menata diri bersama keluarga, tugas pertama kelas Gemari Madya diawali dengan menata jiwa. Kami pun diminta untuk melakukan tiga langkah declutter jiwa. Berikut langkah yang saya lakukan:

1. Identifikasi Diri – Kehidupan yang diinginkan dalam:
– Jangka Waktu Dekat (1 tahun)
>> Memiliki pengelolaan waktu yang lebih baik, rutinitas yang dipenuhi kebiasaan baik, pikiran positif, dan produktivitas.

– Jangka waktu panjang (10 tahun)
>> Hidup dengan penuh keyakinan, target-target yang tercapai, proses belajar, bergerak, dan berkarya yang terus berjalan, keseimbangan antara aspek material, emosional, dan spiritual, dunia juga akhirat.

2. Penyebab Kekacauan Jiwa – Hal yang menghambat tercapainya kehidupan yang diinginkan:
Bagi saya, saat ini terutama adalah tujuan dan keinginan yang tidak terkelola dengan baik. Sehingga, banyak yang rasanya ingin dilakukan dan dicapai juga diselesaikan, namun semacam bingung hendak mulai dari mana. Begitu banyak informasi baru sekaligus hal yang ingin dipelajari, tapi seperti kehabisan waktu untuk memilah dan memahami satu per satu. Hidup jadi terasa “sibuk” dan melelahkan tanpa hasil yang signifikan sesuai keinginan. Pikiran jadi terasa penuh dan terbebani. Terjebak dalam rutinitas yang kurang produktif.

3. Jenis Clutter – Dari 3 jenis clutter yang diklasifikasikan dalam materi, sepertinya yang saya alami cenderung lebih banyak berputar di clutter calendar. Untuk itu, pola/langkah yang ditawarkan Charles Duhigg bisa saya coba lakukan:
1. Identifikasi rutinitas. Sementara ini beberapa rutinitas utama yang ingin saya ubah adalah terkait jadwal tidur, bangun tidur, dan shalat. Menurut saya, ini adalah rutinitas penentu. Setelah bisa mengubah itu, baru saya bisa berpindah membangun kebiasaan lainnya.

2. Menentukan reward saat berhasil melakukan rutinitas baru tersebut – Saya akan menambahkan poin untuk setiap kali saya berhasil, yang bila dijumlahkan dapat ditukarkan dengan sebuah buku dalam wish list saya.

3. Menemukan tanda apa yang menghambat perubahan di hari itu. Evaluasi akan saya lakukan setiap hari agar bisa diperbaiki pada hari selanjutnya.

4. Susun rencana. Saya akan membuat jadwal yang jelas juga daftar checklist tiga kebiasaan baru yang ingin saya lakukan tersebut. Targetnya adalah dilakukan selama 21 hari berturut-turut dengan pengulangan ke hari pertama jika ada yang terlewat, kemudian dilanjytkan hingga 6 bulan hingga menjadi kebiasaan yang otomatis.

5. Craving atau motivasi tambahan yang saya rasa akan efektif adalah tujuan yang jelas mengapa saya ingin membentuk kebiasaan baru ini. Apa yang bisa saya capai dengan melakukannya dan apa kerugian saya jika tidak melaksanakannya. Jika perlu, saya akan menempelkan alasan kuat ini di dinding kamar agar terlihat setiap hari beserta daftar checklist tersebut.

Selain ketiga langkah di atas, saya menambahkan menulis jurnal sebagai salah satu cara untuk menguraikan kekacauan jiwa. Saya merasa cara ini efektif untuk menuangkan apa-apa saja yang saya rasa dan pikirkan, rencana-rencana dan kesalahan-kesalahan saya, daftar pekerjaan, target, dan kebiasaan yang ingin dibuat. Semua yang tampaknya ruwet bisa terlihat lebih jelas dengan menuliskannya.

Sudah lama saya tidak lagi rutin menulis jurnal. Mungkin ini juga sebabnya kepala saya terasa penuh. Saya akan memasukkan kegiatan menulis jurnal ini sebagai rutinitas yang saya hidupkan kembali.

[Shokyuu Intensive Class] Task 8: Berbenah Komono Part 1

Setelah membereskan kertas, tibalah kami pada kategori yang sedikit lebih rumit: Komono.

Saya sebut lebih rumit karena komono terdiri dari sub-sub kategori yang berbeda-beda, sehingga dalam bayangan saya seperti membereskan lebih dari satu kategori sekaligus.

Komono dalam bahasa kanji secara harfiah berarti “benda kecil / barang”, sementara dalam konmari diartikan sebagai bermacam barang di luar empat kategori lainnya (miscellaneous items).

1. Buat list sub-kategori yang akan teman teman kerjakan pekan ini πŸ“πŸ—‚
Tugas pertama sebelum berbenah komono karenanya adalah membuat daftar sub-kategorinya. Berikut daftar yang saya buat:
a. Perlengkapan mandi
b. Obat-obatan
c. Elektronik
d. Aksesoris
e. Mainan anak

2. Kirimkan foto before dan after saat berbenah komono. Sertakan sedikit narasi untuk foto tersebut yaitu jawaban untuk pertanyaan: apa saja kendala yang teman-teman alami ketika berbenah komono ini? Dan bagaimana cara teman-teman mengatasi kendala tersebut.

Before: The mess in our room πŸ˜…
Before: The mess in our room πŸ˜…
Tumpukan komono sebelum dipilah
Tumpukan komono sebelum dipilah

Karena kami masih menumpang di rumah orangtua, maka komono yang saya benahi adalah milik saya dan keluarga kecil saya saja, yang hampir seluruhnya terletak, atau lebih tepatnya berserakan πŸ˜†, di kamar kami.

Kendala utama seperti biasa adalah waktu. Karena dalam komono ini juga terdapat benda-benda kecil, jadi lebih sulit untuk berbenah di dekat anak-anak, khawatir hilang, melukai atau bahkan tertelan oleh mereka. Minggu ini saya juga kurang disiplin menyisihkan waktu untuk berbenah. Jika sebelumnya saya mengambil waktu saat anak-anak tidur, kali ini saya ikut bablas tertidur 😒

Pada akhirnya, saya baru berhasil membenahi dua sub-kategori dari daftar yang saya buat, yaitu: Elektronik dan peralatan mandi.

After: Peralatan mandi dan elektronik
After: Perlengkapan mandi dan elektronik

Tersimpan dalam lemari ini persediaan perlengkapan mandi seperti sabun, odol, sikat gigi, shampo, dan sebagainya. Karena lemarinya cukup besar, peralatan elektronik juga saya simpan di tempat yang sama.

Ternyata banyak sekali perlengkapan yang sudah mendekati bahkan melewati masa kadaluarsanya πŸ˜….

Tadinya saya malas kalau harus mencari persediaan yang diperlukan, suka lupa juga apa masih ada persediaan, hingga kadang membeli lagi sabun misalnya, padahal masih ada simpanan. Senang juga melihat lemari itu sekarang. Saya tau persis apa yang masih ada, mengambilnya juga mudah sekali, tidak perlu “menggali” dulu dari timbunan yang ada πŸ˜‚

Lanjutan berbenah komono insya Allah akan saya update di post berikutnya ya.

[Shokyuu Intensive Class] Task 2: Hambatan dan Solusi

Minggu ini, peserta kelas Shokyuu mendapat materi ketiga mengenai “Tidy by Category & Expressing Gratitude“. Kami juga mendapat Task 2 yang merupakan penjabaran lanjutan dari Task 1.

Jika diamati, Task 1 dan 2 ini masih berkutat seputar mindset dan visualisasi. Saya pikir, ini karena mindset adalah hal terpenting saat ingin melakukan sesuatu. Perubahan yang besar dan langgeng hanya bisa terjadi jika kita terlebih dahulu mengubah pola pikir kita mengenai hal tersebut. Dalam hal ini, pola pikir yang “benar” mengenai berbenah yang perlu kita jaga. Sementara visualisasi diperlukan untuk menguatkan keyakinan dan semangat kita dalam mencapai tujuan, sekaligus meprogram pikiran bawah sadar kita untuk menujunya.

Berikut Task 2 beserta jawaban saya.

Dalam poin 1 pekan lalu, latar belakang dan mindset telah Anda jelaskan. Maka selanjutnya adalah paparkan upaya apa saja yang Anda usahakan untuk konsisten dalam β€œmenjaga mindset” tersebut.

Mindset saya dalam berbenah, seperti yang telah saya tuliskan pada Task 1, mungkin paling tergambar dalam kalimat berikut:

“Saya percaya membenahi tempat tinggal saya merupakan salah satu kunci untuk membenahi diri dan kehidupan saya.”

Salah satu usaha yang saya lakukan untuk menjaganya adalah dengan secara sungguh-sungguh mengikuti setiap materi dan diskusi, juga mengerjakan tugas dalam Shokyuu Class ini, dengan harapan, ilmu, teman berbagi, serta semangat positif untuk berbenah yang didapatkan dari kelas turut memelihara tekad saya untuk membenahi tempat tinggal sekaligus kehidupan saya.

Pada poin 2 tentang visualisasi β€œideal lifestyle” apakah sudah detail sesuai keinginan dan harapan Anda? jika belum, bisa Anda tambahkan. Jika sudah maka buatlah poin hambatan dalam merealisasikannya sekaligus solusi menurut Anda.

Sejauh ini rasanya poin visualisasi yang telah saya buat sudah cukup mewakili keinginan dan harapan saya. Foto-foto berikut kurang lebih menggambarkan visualisasi saya akan gaya hidup yang ideal seperti yang saya tuliskan pada Task 1.

18-02-26-17-38-14-799_deco

18-02-26-17-38-54-938_deco

18-02-26-17-39-33-106_deco

Sedangkan hambatan dalam merealisasikannya antara lain sebagai berikut:
a. Waktu
❀ Membagi waktu sebagai istri, ibu dua anak batita, juga pekerja tidak selalu mudah. Bahkan saya seringkali keteteran. Jangankan berbenah, baju dicuci dan dijemur dalam hari yang sama saja sudah merupakan prestasi πŸ˜‚

Mau melipat pakaian dengan dua anak berkeliaran? Pasti mereka serta-merta turut “membantu” hingga pakaian yang sudah terlipat kembali berantakan dan malah berhambur ke mana-mana πŸ˜…

❀ Solusi:
Pengelolaan waktu yang lebih baik. Waktu berbenah bisa dijadwalkan saat anak-anak tidur atau sengaja diajak main oleh ayahnya selama beberapa waktu sehingga mamanya bisa beres-beres. Kalau memang tidak bisa sekaligus dalam satu hari, kegiatan berbenah bisa dicicil setiap hari, sesuai jadwal yang telah ditentukan tersebut. Tentunya dengan metode Konmari, yaitu berbenah per kategori, memilah yang ingin disimpan, dan disusun dengan baik, sehingga hasilnya lebih efektif.

Pengelolaan waktu yang lebih baik ini, antara lain dengan membuat jadwal harian dan mengikutinya, juga bisa menjadi solusi untuk hidup yang lebih teratur dan meliputi kegiatan-kegiatan yang saya inginkan seperti yang telah saya sebutkan pada Task 1.

b. Ilmu dan Pemahaman
❀ Kurangnya ilmu mengenai berbenah membuat berbenah yang selama ini saya lakukan tidak tuntas. Kalaupun berhasil membereskan sebagian tempat, tidak lama semua kembali berantakan. Hingga saya malas membereskan kembali, karena rasanya percuma, nantinya akan berantakan lagi (pembenaran atas kemalasan).

❀ Solusi:
Belajar bagaimana berbenah yang lebih efektif. Membaca buku tentang metode Konmari dan sekarang mengikuti kelas Shokyuu ini merupakan upaya saya untuk menambah pemahaman akan metode yang lebih tepat untuk berbenah. Diawali dari menemukan motivasi dan mindset
berbenah serta membuat visualisasi tentang gaya hidup ideal yang diinginkan, saya percaya kali ini saya akan bisa berbenah dengan lebih efektif. Selama saya menjaga tekad dan komitmen untuk itu tentu saja.

Dalam menyusun timeline apakah Anda sudah mengerjakan sebelumnya ataukah mulai dari nol? ceritakan pengalaman Anda.

Saya sudah pernah mencoba cara melipat dan menyimpan ala Konmari untuk baju anak-anak, namun hanya sebatas itu saja. Belum pernah saya melakukan metode Konmari sepenuhnya, dari mulai menyortir dan seterusnya. Jadi, bisa dikatakan saya mulai dari nol. Timeline yang saya susun benar-benar mengikuti jadwal kelas Shokyuu ini. Maka saat ada tugas untuk mulai berbenah, saat itu pulalah saya, insya Allah akan mulai berbenah.