Tag Archives: menata jiwa

[Gemari Madya] Task 1 – Menata Jiwa

Setelah perubahan yang terjadi dari Komunitas Konmari Indonesia menjadi Gemar Rapi, kelas-kelas yang diadakan pun turut berubah. Kelas Chukyuu, yang merupakan level kedua dalam kelas intensif Konmari, diganti menjadi kelas Gemari Madya.

Kelas ini baru resmi dibuka mulai minggu lalu dengan materi dan tugas yang dapat dikatakan berbeda dengan kelas chukyuu.

Jika tugas terakhir kelas chukyuu membahas tentang menata diri bersama keluarga, tugas pertama kelas Gemari Madya diawali dengan menata jiwa. Kami pun diminta untuk melakukan tiga langkah declutter jiwa. Berikut langkah yang saya lakukan:

1. Identifikasi Diri – Kehidupan yang diinginkan dalam:
– Jangka Waktu Dekat (1 tahun)
>> Memiliki pengelolaan waktu yang lebih baik, rutinitas yang dipenuhi kebiasaan baik, pikiran positif, dan produktivitas.

– Jangka waktu panjang (10 tahun)
>> Hidup dengan penuh keyakinan, target-target yang tercapai, proses belajar, bergerak, dan berkarya yang terus berjalan, keseimbangan antara aspek material, emosional, dan spiritual, dunia juga akhirat.

2. Penyebab Kekacauan Jiwa – Hal yang menghambat tercapainya kehidupan yang diinginkan:
Bagi saya, saat ini terutama adalah tujuan dan keinginan yang tidak terkelola dengan baik. Sehingga, banyak yang rasanya ingin dilakukan dan dicapai juga diselesaikan, namun semacam bingung hendak mulai dari mana. Begitu banyak informasi baru sekaligus hal yang ingin dipelajari, tapi seperti kehabisan waktu untuk memilah dan memahami satu per satu. Hidup jadi terasa “sibuk” dan melelahkan tanpa hasil yang signifikan sesuai keinginan. Pikiran jadi terasa penuh dan terbebani. Terjebak dalam rutinitas yang kurang produktif.

3. Jenis Clutter – Dari 3 jenis clutter yang diklasifikasikan dalam materi, sepertinya yang saya alami cenderung lebih banyak berputar di clutter calendar. Untuk itu, pola/langkah yang ditawarkan Charles Duhigg bisa saya coba lakukan:
1. Identifikasi rutinitas. Sementara ini beberapa rutinitas utama yang ingin saya ubah adalah terkait jadwal tidur, bangun tidur, dan shalat. Menurut saya, ini adalah rutinitas penentu. Setelah bisa mengubah itu, baru saya bisa berpindah membangun kebiasaan lainnya.

2. Menentukan reward saat berhasil melakukan rutinitas baru tersebut – Saya akan menambahkan poin untuk setiap kali saya berhasil, yang bila dijumlahkan dapat ditukarkan dengan sebuah buku dalam wish list saya.

3. Menemukan tanda apa yang menghambat perubahan di hari itu. Evaluasi akan saya lakukan setiap hari agar bisa diperbaiki pada hari selanjutnya.

4. Susun rencana. Saya akan membuat jadwal yang jelas juga daftar checklist tiga kebiasaan baru yang ingin saya lakukan tersebut. Targetnya adalah dilakukan selama 21 hari berturut-turut dengan pengulangan ke hari pertama jika ada yang terlewat, kemudian dilanjytkan hingga 6 bulan hingga menjadi kebiasaan yang otomatis.

5. Craving atau motivasi tambahan yang saya rasa akan efektif adalah tujuan yang jelas mengapa saya ingin membentuk kebiasaan baru ini. Apa yang bisa saya capai dengan melakukannya dan apa kerugian saya jika tidak melaksanakannya. Jika perlu, saya akan menempelkan alasan kuat ini di dinding kamar agar terlihat setiap hari beserta daftar checklist tersebut.

Selain ketiga langkah di atas, saya menambahkan menulis jurnal sebagai salah satu cara untuk menguraikan kekacauan jiwa. Saya merasa cara ini efektif untuk menuangkan apa-apa saja yang saya rasa dan pikirkan, rencana-rencana dan kesalahan-kesalahan saya, daftar pekerjaan, target, dan kebiasaan yang ingin dibuat. Semua yang tampaknya ruwet bisa terlihat lebih jelas dengan menuliskannya.

Sudah lama saya tidak lagi rutin menulis jurnal. Mungkin ini juga sebabnya kepala saya terasa penuh. Saya akan memasukkan kegiatan menulis jurnal ini sebagai rutinitas yang saya hidupkan kembali.

Click to Share