Tag Archives: membaca sejak dini

[Bunda Sayang] Game Level 5: Tantangan 10 Hari Menstimulasi Anak Suka Membaca – Hari Keenam

Alhamdulillah di hari keenam ini daun saya bertambah satu lagi. Meneruskan buku yang sudah mulai saya baca sebelum tantangan ini dimulai sih. Boleh kan ya, hitungannya menyelesaikan satu buah buku.

Suami saya diam-diam membaca buku dan menuliskan jumlah halaman yang sudah dia baca pada reading track-nya. Masih jauh dari selesai, tapi saya sungguh terharu. Paling tidak dia sudah mulai ikut membaca, mau mencatat sendiri lagi. Alhamdulillah :’)

Daun Nara dan Kyna tetap bertambah, tapi tidak sebanyak hari sebelumnya. Kyna menghabiskan 4 buah buku,sementara Nara hanya 2 buah ditambah 18 halaman Na Willa.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 5: Tantangan 10 Hari Menstimulasi Anak Suka Membaca – Hari Kelima

Setelah menertawakan suami karena jumlah halaman buku yang sudah dia baca adalah 0 halaman, di hari kelima ini saya malah ikutan nggak menambah halaman. Itu saudara-saudara namanya kualat 😆

Nara menghabiskan 40 halaman buku Na Willa jilid dua, selain 3 buah daun tambahan dari buku lainnya. Sementara Kyna menambah 5 buah daun.

Dahan milik Pak Suami masih kosong. Saya akan mendoakan saja deh, supaya semangat membaca tumbuh dalam dirinya, juga semangat saya untuk konsisten membaca setiap hari. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 5: Tantangan 10 Hari Menstimulasi Anak Suka Membaca – Hari Keempat

Alhamdulillah saya dapat daun lagi di hari keempat. Sayangnya, saya lupa menulis laporan jadi kesempatan mempero leh badge Outstanding Performance dengan menyetorkan laporan selama 15 hari berturut-turut pun hilang 😅

Nara dan Kyna seperti biasa dapat banyak daun dalam sehari. Kyna dapat 6 buah daun, sementara Nara 5 buah daun. Daun Nara memang lebih sedikit, tapi salah satu buku yang selesai dia baca (dibacakan) adalah buku yang sama yang memberi saya daun pertama. Sebuah buku cerita sepanjang lebih dari 100 halaman, dengan sedikit ilustrasi. Iya, di usianya yang baru tiga tahun, Nara sudah bisa menyimak chapter book.

19-01-14-17-58-29-515_deco

Saya agak kaget juga sih. Walau memang Nara sudah bisa menyimak saat dibacakan buku yang cukup panjang untuk seusianya saat itu, saat dia berusia 7-8 bulan.

Rasanya senang walau tenggorokan kering dan jadi harus mengulang buku yang baru saya baca.

Semoga menjadi awal minat baca dan kemampuan belajar sepanjang hayat ya, Nara.

Suami saya?

Sejauh ini maaih angka 0 saja yang tertera di reading tracker-nya 😂

[Bunda Sayang] Game Level 5: Tantangan 10 Hari Menstimulasi Anak Suka Membaca – Hari Ketiga

Saya berhasil dapat satu daun! 😆

Butuh tiga hari untuk buku yang sekitar 100 halaman saja. Itupun buku cerita anak-anak.

Sekarang sudah masuk buku yang kedua.

Senang rasanya menyelesaikan sebuah buku setelah sekian lama baca buku setengah-setengah.

Anak-anak tentu sudah banyak daunnya. Kemarin Kyna menambah 5 daun, sementara Nara 7 daun. Hari ini, sejauh ini Kyna sudah menambahkan 6 daun pada dahannya. Nara 3 daun, tapi itu karena dia minta dibacakan buku yang sedang saya baca! Padahal bukinya nyaris tidak ada gambarnya.

Tentu saja jadi tidak bisa dapat daun karena dibacakannya nyicil kan? Ini juga lebih karena tenggorokan mamanya kering, minta istirahat dulu 😅

Nara mulai minta dibacakan buku ini sejak kemarin. Saya tulis juga di reading tracker sesuai jumlah halaman yang telah dia simak. Nara memang sudah tampak mulai bosan demgan buku-buku yang dia miliki. Dia pernah berkomentar bahwa buku-bukunya pendek-pendek. Dia mau yang lebih panjang.

Ok deh, Kak. Nanti Mama coba carikan buku yang lebih panjang ya.

Ayah Nara sudah memutuskan mau membaca apa, tapi belum juga mulai membaca. Semangat Ayah! Kasihan dahannya masih gundul 😂

[Bunda Sayang] Game Level 5: Tantangan 10 Hari Menstimulasi Anak Suka Membaca – Hari Kedua

Di antara daftar hal yang perlu dilakukan, alhamdulillah dua hal sudah bisa dicentang: Membuat reading tracker dan pohon literasi 😀

Sempat bingung saat hendak membuat
reading tracker ini, karena rasanya kok jadi nggak ada bedanya sama pohon literasi. Setelah direnungkan lagi, reading tracker bisa dibuat untuk melihat buku apa saja yang sudah kita baca per hari. Khusus untuk saya dan suami, saya malah melakukan pencatatan jumlah halaman yang dibaca per harinya. Seru sih. Jadi lebih semangat. Bisa juga memang, dibuat daftar buku yang hendak dibaca, tapi karena saya cenderung memilih buku sesuai mood saat itu, jadi saya lebih suka memilih buku yang mau dibaca saat akan mulai membacanya.

Nara dan Kyna membaca (dibacakan) banyak buku hari ini. Memang sepertinya dahan mereka yang akan jadi paling rimbun sih. Soalnya siapa juga yang bisa mengalahkan minimal 5 buku dalam sehari kan? Kecuali saya juga bacanya buku-buku mereka saja xD

19-01-12-22-27-18-746_deco

Jadi, begituah pohon literasi dan reading tracker keluarga kami. Anak-anak, terutama Nara semangat betul mau nempel daun-daunnya. Jadi makin banyak aja deh buku yang dia minta bacain karena, “Kakak mau nempel daun lagi Ma!” 😅

Pak suami juga katanya sih mau mulai baca buku. Semoga kami (para orang tua) bisa konsisten yaa.. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 5: Tantangan 10 Hari Menstimulasi Anak Suka Membaca – Hari Pertama

Untuk tantangan level 5, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

1. Menjadwalkan family reading time.
2. Membuat reading tracker untuk masing-masing anggota keluarga, berisi daftar buku yang akan dibaca.
3. Membuat pohon literasi untuk masing-masing anggota keluarga, rimbunkan dengan judul buku yang telah dibaca.
4. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang buku yang telah dibaca, gunakan untuk menambah pengetahuan dan merekatkan hubungan dengan anggota keluarga lainnya.

Mengapa orang tua juga harus terlibat dalam kegiatan membaca ini?

Karena, terlepas dari manfaatnya untuk diri sendiri, untuk menghasilkan anak yang suka membaca, teladan orang tua adalah salah satu pengaruh yang kuat. Paling tidak semangat membaca buku, kebiasaan membaca dan berdiskusi, akan membentuk atmosfer pentingnya ilmu juga belajar sepanjang hayat dalam keluarga.

Ini juga sejalan dengan niat saya menggiatkan kembali kebiasaan membaca untuk diri sendiri.

Saya pernah membuat daftar buku yang telah saya baca dalam setahun. Diawali dari tahun 2013, berlanjut ke tahun 2014, dan 2015. Jumlah buku yang saya baca setiap tahunnya semakin menurun. Puncaknya pada tahun 2015 di mana daftarya terhenti pada bulan Mei. Sejak itu, saya berhenti membuat daftar semacam itu.

Hingga kemudian saya mengikuti sebuah kelas yang salah satu tugasnya adalah membangun kebiasaan membaca. Saya pun kembali membuat daftar buku yang sudah dibaca selama tahun 2018. Sayangnya, daftar yang dimulai pada bulan April itu ternyata hanya bertahan hingga bulan Agustus dengan total buku yang dibaca sejumlah 9 buku xD

Lalu sekarang sudah masuk tahun baru lagi deh. 2019. Semoga tantangan game level 5 dari Kelas Bunda Sayang ini bisa kembali menjadi pendorong awal bagi tumbuhnya semangat membaca setiap hari yang bertahan sepanjang usia yaa.. Aamiin YRA.

Untuk hari pertama ini, saya belum sempat membuat reading tracker maupun pohon literasi. Tapi, kegiatan membacakan buku sudah dimulai. Kegiatan ini memang sudah menjadi kegiatan rutin di rumah kami sih, cuma waktunya masih belum menentu, tergantung permintaan saja. Melalui tantangan ini, rencananya akan dibuat lebih tertata deh.

Sejauh ini, buku yang sudah dibacakan untuk Nara baru satu: “Seri Halo Balita: Aku Bisa Membuang Sampah Sendiri”, sementara Kyna, selain buku yang sama tersebut, juga dibacakan “Seri Halo Balita: Aku Berani Pergi ke Dokter”.

Saya sendiri sudah menyiapkan buku yang hendak dibaca pertama kali. Sementara untuk suami saya? Nah, ini jadi PR tersendiri nih :)) Kita lihat perkembangannya di hari-hari selanjutnya deh ya.

[Bunda Sayang] Materi 5: Menstimulasi Anak Suka Membaca

Tema materi kali ini sangat dekat di hati saya, karena seperti yang pernah saya bahas di post tentang pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak atau keinginan saya agar anak-anak saya gila baca, saya sungguh percaya betapa besar manfaat membacakan buku sejak dini.

Saya juga sungguh prihatin melihat berbagai data yang menunjukkan rendahnya minat baca dan kemampuan literasi di negara kita. Salah satunya peringkat yang dibuat oleh Universitas Negeri Conneticut Pusat Amerika Serikat (CCSU). Dari 61 negara di dunia yang diteliti, salah satunya berdasarkan hasil tes kemampuan dasar (PISA) serta tes membaca (PIRLS), kemampuan literasi (kemampuan membaca dan memahami bacaan) Indonesia menempati peringkat ke-60. Hanya satu tingkat di atas Botswana :((

Masih banyak anggapan dalam masyarakat kita, bahwa buku hanya digunakan untuk belajar di sekolah. Karenanya, setelah masuk usia sekolah dasar anak baru terpapar oleh buku. Itupun semata buku pelajaran. Orang tua juga banyak yang masih terfokus pada bagaimana agar anak bisa cepat membaca. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana agar anak terbiasa kemudian suka membaca. Kemampuannya membaca, juga memahami bacaan, akan tumbuh seiring dengan seringnya anak menyimak apa yang dibacakan kepadanya.

Ini sejalan dengan tahapan keterampilan berbahasa yang dijelaskan dalam materi level 5 ini, yang perlu dilewati anak agar tidak sekadar bisa mengeja huruf, namun juga memahami apa yang dibaca, mencintai kegiatan membaca, mengambil anfaat yang maksimal darinya, menjadi pembelajar sepanjang hayat juga berkarya dari hasil pembelajarannya.

Saya Mau Anak-Anak Saya Gila Baca!

Sudah cukup lama pengen nulis tentang buku-buku MDS alias Mandira Dian Semesta. Bukan, bukan cuma karena saya jualan buku-bukunya (tapi kalo mau beli atau nanya-nanya tetap boleh hubungi saya ya :D), tapi karena buku-bukunya itu emang keren banget! Semuanya!

Beneran deh. Saya itu awalnya juga tertarik daftar jadi Book Advisor MDS karena naksir sama buku-bukunya. Niatnya paling nggak kan jadi lebih murah kalo mau beli untuk KynaRa kan, kan? Sekalian nambah-nambah tabungan untuk… Ya, beli buku juga sih, hahaha.

Iya, saya emang gila buku. Saya tahan untuk nggak beli baju, sepatu, kosmetik, atau yang lain-lain. Nggak masalah kalo pakenya yang itu-itu aja. Makan pake telor ceplok juga jadi. Tapi, kalo udah yang namanya buku, kayanya seisi toko kalo bisa pengen dibeli semua xD

Itu penyakit saya sih. Saya bilang penyakit karena saya beli buku lebih banyak daripada yang saya baca. Jatohnya jadi penimbun yaa.. Tapi saya sungguh berniat membaca semuanya loh, serius. Makanya saya buat kebiasaan baru ini kan (tolong jangan tanya dulu gimana perkembangannya).

Kalo dulu saya paling sering beli novel, terutama yang bergenre fantasi, sekarang saya lebih tertarik pada buku tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Selain itu, setelah punya anak, saya tentunya juga tertarik untuk membelikan mereka buku sesuai usianya.

Naah… Buku-buku MDS ini jadi salah satu pilihan saya.

Ta.. Tapi, harganya kan mahal. Iya sih, saya juga dulu mikirnya begitu. Eh, sampai sekarang deh, hahah.

Cuma setelah saya hitung-hitung lagi, untuk buku sebanyak itu, harga segitu rasanya pantas deh. Belum liat kontennya, desainnya, manfaatnya untuk anak-anak. Dibandingkan dengan buku anak-anak lain yang kualitasnya setara, harganya juga nggak jauh beda. Boleh di-survey ke berbagai toko buku yang ada. Apalagi kalo liat harga buku-buku impor. Wuih.

Mahal atau nggaknya suatu barang itu juga sebenarnya tergantung penting atau nggaknya barang tersebut buat kita, nggak sih?

Kalo kita nggak suka buku atau nggak mengerti apa gunanya baca buku, mungkin kita melihat buku hanya sebagai kumpulan tulisan dan gambar yang terbuat dari tumpukan kertas. Kita hanya menghitung bahan bakunya, lalu merasa itu tidak sebanding dengan harga jualnya. Kita melupakan ide dan ilmu yang terkandung di dalamnya. Lebih-lebih sesuatu yang begitu besar dan mendasar yang bisa diperoleh dari membacanya.

Jadi kenapa MDS? Boleh berkunjung ke IG @kynarasbookpond untuk ngintip sebagian buku-bukunya yang cakep-cakep itu. Saya juga insya Allah akan nulis tentang buku-buku itu di sini deh.

Ada satu hal sih, sebenernya, yang membuat saya ingin sekali mendekatkan anak-anak saya pada buku, yaitu besarnya manfaat membaca(kan) buku sejak dini.

Ini bukan hanya tentang ilmu yang didapat dari membaca buku ya. Tapi lebih kepada bagaimana kegiatan membaca dan dibacakan buku merangsang otak manusia, terutama anak-anak kita, untuk berkembang, membentuk sambungan-sambungan yang diperlukan sebagai pondasi berpikirnya kelak.

Pendeknya, anak yang terbiasa dibacakan buku sejak dini, otaknya akan memiliki kemampuan berpikir serta fokus yang lebih baik. Dia kemudian juga akan lebih mudah belajar (termasuk membaca buku), menangkap serta mengolah informasi, dan menghasilkan banyak hal dari kemampuannya itu. Lebih lengkap soal pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak pernah saya post di sini.

Saya juga ingin anak-anak saya bisa menikmati kegiatan membaca. Membaca untuk kesenangan, untuk meluaskan imajinasi dan memenuhi rasa ingin tahu yang sejati. Bukan sekadar memenuhi pengetahuan yang diperlukan karena pelajaran di sekolah. Apalagi hanya semata untuk mendapatkan nilai ujian yang baik.

Jadi, ya, saya tidak akan berhenti mengusahakan buku-buku terbaik untuk anak saya. saya ingin mengajak mereka ke berbagai perpustakaan, dan yang terutama, menghabiskan banyak waktu untuk membaca bersama mereka. Dimulai dari kebiasaan membaca(kan) buku untuk mereka sebelum tidur. Seperti yang dilakukan ibu saya dulu, saat saya masih anak-anak.

Tapi semoga, daripada berhenti di gila buku, anak-anak saya kelak bisa jadi gila baca juga. Aamiin YRA.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Memangnya Penting?

Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk mengisi Sabtu Inspirasi di WAG Sahabat Bunda. Komunitas yang terbagi ke dalam grup Whatsapp per wilayah ini memang memiliki program, di mana tiap hari Sabtu pesertanya bergantian berbagi bermacam hal sesuai ilmu dan pengalaman masing-masing.

Karena saya memperkenalkan diri sebagai seorang Book Advisor dan sempat sedikit mengobrol soal ini di grup, jadilah saya. “ditodong” untuk berbagi tentang minat baca pada anak.

Berbekal sedikit pengetahuan dan buku yang saya miliki, saya pun menyusun artikel singkat yang diminta untuk dibagikan kepada para peserta sebagai bahan diskusi saat itu.

Berikut saya sertakan artikelnya, mana tahu bermanfaat.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak
Oleh: Aca Tadesa

1. Minat Baca VS Kualitas Sumber Daya Manusia
Dalam masyarakat kita, buku mungkin tidak termasuk benda yang populer. Ini dapat dilihat dari rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, hanya 8, 32% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas yang suka membaca berbagai sumber bacaan, seperti surat kabar, buku atau majalah. Sementara 91,68% sisanya lebih suka menonton televisi.

Data dari UNESCO pada tahun yang sama.mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, pada 1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki minat membaca.

Padahal, budaya baca adalah salah satu penentu utama tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, yang berkorelasi langsung demgan kemajuan bangsa tersebut. Bahkan, tingkat korupsi suatu negara ternyata bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.

Terbukti, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2013 Indonesia berada di peringkat ke 108 sari 187 negara di dunia, di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sedangkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada tahun 2014 menempati peringkat 107 dari 175 negara di dunia (dikeluarkan oleh lembaga Transparency International).

Kesimpulannya, minat baca rendah = kualitas SDM/ IPM rendah = tingkat korupsi tinggi. Sebaliknya, minat baca tinggi = terbentuk budaya baca = bangsa maju.

2. Buku VS Televisi atau Gawai
Di atas sudah disebutkan betapa minat baca yang tinggi menentukan kualitas SDM juga kemajuan suatu bangsa. Tapi bagaimana bisa sih?

Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan beberapa manfaat membaca, antara lain: Membantu mengembangkan pemikiran, menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan, memori, dan pemahaman, menambah pembendaharaan kata serta pola kalimat sekaligus meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami kata dan kalimat tersebut secara tersurat maupun tersirat.

Apakah televisi dan gawai memiliki manfaat yang sama? Ternyata tidak.

Terlepas dari berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari media elektronik tersebut, seperti tambahan informasi, edukasi, juga hiburan, stimulasi perkembangan otak yang didapatkan tidak semaksimal membaca bukubuku. Bahkan, jika dilakukan berlebihan bisa mengganggu fokus anak, memperpendek rentang konsentrasi, menghambat perkembangan kemampuan berbahasa, menimbulkan masalah dan kesulitan belajar, menurunkan minat baca, hingga menimbulkan kecanduan yang memperburuk semua efek yang telah disebutkan.

Media elektronik tersebut memiliki efek negatif yang lebih besar jika digunakan oleh balita. Hasil penelitian Seattle’s Children’s Hospital atas kebiasaan menonton 2.500 anak menyimpulkan bahwa untuk setiap empat jam menonton televisi per hari yang dilakukan oleh anak berusia sebelum tiga tahun, resiko terkena ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) di usia tujuh tahun meningkat 10%.

Otak anak di bawah usia dua tahun belum mampu mengolah informasi yang ditampilkan oleh layar dengan sempurna, sehingga dapat mengganggu perkembangan sel-sel otaknya. Belum lagi pengaruh cahayanya yang dapat merusak mata.

3. Kenapa penting membacakan buku pada anak sejak dini?
Ok, membaca buku memiliki banyak manfaat dan minat baca yang tinggi meningkatkan kualitas diri dan pendidikan seseorang hingga mempengaruhi kemajuan bangsa, tapi apakah harus membacakan buku sejak anak masih bayi? Bukankah dia bahkan belum mengerti?

Membacakan buku pada anak bahkan penting dilakukan sejak anak berada dalam kandungan, untuk menstimulasi indera pendengaran dan otaknya. Seperti halnya mengajak bicara, memperdengarkan musik klasik atau muratal, membacakan buku sangat baik untuk dilakukan.

Pada masa keemasan (golden age) anak, yaitu dari usia 0-5 tahun, otaknya berkembang pesat, hingga mampu menyerap informasi dan merespon stimulasi dua kali lebih cepat dari usia setelahnya. Maka membacakan buku, bahkan saat anak tampak seperti tidak memperhatikan, bisa menambah banyak kosakata baru yang tidak ditemui dalam percakapan sehari-hari, mengajarkan arti kata, melatih daya imajinasi, mengasah rentang konsentrasi, merangsang persambungan antar sel otak, mencegah speech delay, meningkatkan kemampuan berpikir, memahami kalimat, intonasi, memancing pertanyaan, meluaskan pengetahuan, dan sebagainya.

Tentunya, membacakan buku sejak dini juga merupakan salah satu cara mengenalkan anak pada buku yang diharapkan menjadi benih cintanya pada buku, membaca dan belajar.

4. Bagaimana memilih buku yang sesuai untuk anak?
Usia anak dapat menjadi pertimbangan dalam memilihkan buku yang tepat untuknya:
a. 0-2 tahun
>> Board book, buku kain atau buku busa sehingga aman untuknya dan tidak gampang rusak oleh anak yang masih dalam tahap “memakan”, menarik, dan melempar.
>> Berwarna cerah atau kontras untuk merangsang indera penglihatannya.
>> Tulisan sedikit, bahkan hanya satu atau dua kata saja.

b. 2-4 tahun
>> Board book, buku aktivitas, buku main, busy book.
>> Berisi kalimat sederhana yang berima.

c. 4-6 tahun
>> Picture book, pop-up book, layer book, buku aktivitas.
>> Kalimat lebih panjang, kisah bermakna.

d. 7-12 tahun
>> Novel pendek, kumpulan dongeng, ensiklopedi
>> Sudah bisa membaca mandiri dengan pendampingan.

Selain usia, kemampuan berbahasa, kebutuhan dan ketertarikan anak juga perlu diperhatikan.

5. Bagaimana jika anak tidak tertarik?
Anak tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya. Awali dengan membuatnya terbiasa akan buku. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk menarik minat anak:

    a. Konsisten membacakan buku sejak dini.

>> Walau terkesan diabaikan, terus bacakan dengan pantang menyerah 😆 Jadikan membacakan buku sebagai bagian dari rutinitas anak. Selain menjadi terbiasa, manfaat dibacakan buku juga didapatkan olehnya. Bonding dengan orangtua juga bisa didapatkan dengan membacakan buku. Anak bisa mendapatkan kenangan indah dan kesan manis tentang buku dari kegiatan ini.

    b. Meletakkan buku di tempat yang terjangkau penglihatan dan tangannya.

>> Letakkan buku di berbagai tempat di sekitar anak, sehingga ia tidak menjadi benda yang asing dan jauh melainkan dekat dengan kesehariannya.

    c. Jadikan buku sebagai benda yang terkesan seru dan menyenangkan.

>> Tidak harus selalu tersusun rapi, buku juga bisa disusun membentuk jembatan atau terowongan, ditata bersama mainan, sehingga anak mengesankannya sebagai benda yang menyenangkan.

    d. Berikan contoh

>> Anak meniru orangtuanya. Baca buku di sekitarnya, biarkan ia mengamati dan mengikuti.

Children are made readers on the laps of their parents. —Emilie Buchwald

Books open your mind, broaden your mind, and strengthen you as nothing else can. -William Feather

Sumber bacaan:
Trelease, Jim. 2017. The Read-Aloud Handbook
Mandira Dian Semesta. Panduan Book Advisor.
al-Qarni, Dr. Aidh bin Abdullah. La Tahzan.