Tag Archives: Melatih Kemandirian

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Keenam

Ini hari kedua saya mengajak Nara menonton video “Sentuhan Boleh, Sentuhan Tidak Boleh” sebagai bagian dari penjelasan mengenai area pribadi dan bagaimana kita harus menjaganya. Saya juga menerangkan bahwa itulah sebabnya saya ingin dia bisa memenuhi kebutuhannya di kamar mandi sendiri.

Saya ingin Nara dan Kyna mengerti bahwa tubuh mereka berharga. Mereka yang paling berhak atas tubuh tersebut. Siapapun perlu minta izin terlebih dahulu untuk bisa menyentuhnya, dan mereka berhak menolak jika merasa tidak nyaman. Mereka pun tidak boleh sembarangan melihat area pribadi orang lain, apalagi menyentuhnya.

Itu juga mengapa saya membiasakan mereka minta izin saat ingin menggunakan barang orang lain dan tidak memaksa mereka meminjamkan atau memberikan barang mereka pada orang lain kalau mereka tidak mau. Harapannya, mereka jadi menghargai kepemilikan, bahwa tiap orang berhak atas benda miliknya. Sehingga mereka tidak memaksa saat meminjam atau meminta sesuatu dari orang lain, juga tidak mudah memberikan miliknya karena perasaan tidak enak atau tekanan dari pihak lain.

Jika pun ingin berbagi, mereka berbagi karena ingin, dengan sukarela dan senang hati. Berbagi sambil menikmati kebahagiaan dari perbuatan itu, bukan karena disuruh orang lain.

Kembali ke keahlian Nara buang air dengan mandiri, hari ini highlight-nya adalah konsekuensi. Saya mencoba menunjukkan pada Nara bahwa setiap pilihan yang dia ambil akan berpengaruh pada hasil yang dia terima setelahnya.

Misalnya saat dia langsung mencuci tangan tanpa menaruh Dory terlebih dahulu setelah buang air, artinya dia harus mencuci tangan kembali setelah menaruh Dorynya. Atau saat dia tidak mau memakai Dory saat buang air, akibatnya dia tidak bisa cebok dengan baik karena dia harus menahan tubuhnya dengan tangan agar tidak jatuh ke dalam WC 😆 Sehingga akhirnya, tanpa saya harus menyuruh, dia mengambil Dory dan kursi lalu kembali menggunakannya agar bisa cebok.

Semoga dengan demikian, Nara menemukan sendiri alasannya melakukan sesuatu, juga bisa dengan sadar mengambil suatu pilihan beserta konsekuensi yang mengikutinya.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kelima

Saat saya sedang bersiap shalat Subuh tadi, Nara terbangun. Dia menangis karena katanya mau BAB dan sudah tidak tahan. Mendengar itu dan mepihat kondisinya yang masih mengantuk, akhirnya saya membantunya membuka celana dan mengangkatnya ke atas WC.

Tapi ternyata, setelahnya Nara tetap melakukan tahap seperti biasa: Cebok (dengan bantuan saya untuk bagian belakang), cuci tangan, dan menutup pintu. Dia bahkan tidak keberatan mengenakan celana sendiri, tanpa menolak atau mengeluh juga tidak menunda-nunda.

Dia juga tidak protes saat saya mengatakan mau shalat dulu bersama kakek neneknya. Bahkan dia ikut shalat berjamaah di samping saya dari awal hingga selesai. Walau tidak pakai mukena sih.

Setelahnya, saya berusaha menahan diri untuk tidak banyak mengingatkan. Saya biarkan saja saat Nara lupa memasukkan kursi atau lua menaruh kembali Dory sebelum mencuci tangannya. Ternyata dia kembali dan mepakukan yang terlupa. Hanya saat lupa mengeluarkan kursi dan menutup pintu saya masih mengingatkan dengan pertanyaan “Ada yang ketinggalan nggak ya?” atau “Temannya lupa dipulangkan nih.” Saat dia tidak bisa menjawab pertanyaan saya.

Bukan cuma Nara yang belajar mandiri, Mama juga belajar melepaskan ya, Kak :’)

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Keempat

Pagi ini saat bilang ingin buang air, saya cukup mengatakan, “Yuk.” pada Nara. Dia kemudian langsung beranjak ke kamar mandi, membuka celana, membuka pintu, menaruh kursi dan Dory di tempatnya, lalu duduk.

Saya sempat mengingatkan untuk mengangkat bajunya juga meletakkan kembali Dory dan kursi kembali ke tempat penyimpanannya. Selebihnya alhamdulillah dia sudah mulai ingat.

Memakai celana kembali pun memakan waktu yang lebih singkat dari sebelumnya. Mudah-mudahan sih untuk seterusnya yaa..

Saya memilih kegiatan buang air di kamar mandi ini sebagai keahlian pertama yang ingin saya latih pada Nara karena ini berkaitan dengan area pribadi atau auratnya. Sehingga, saya ingin membiasakan sedini mungkin agar Nara tidak banyak membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukannya.

Ini sejalan dengan usaha saya untuk mengajarkannya tentang aurat, bahwa ada bagian-bagian tubuhnya yang tidak boleh dilihat apalagi disentuh oleh sembarang orang. Begitu pula dia tidak boleh sembarangan melihat apalagi menyentuh aurat orang lain. Proses untuk ini masih panjang sih, saya juga masih belajar.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Ketiga

Nara sudah bisa pakai baju sendiri. Melepas celana juga sudah. Melepas baju yang masih kesulitan. Tapi belakangan ini, dia semakin sering menolak untuk pakai baju sendiri. Kalau dibiarkan, dia tahan berlama-lama tanpa pakaian.

Biasanya, saya akhirnya menawarkan untuk memakaikan salah satu pakaiannya. Sisanya tetap dia pakai sendiri. Seringnya berhasil, walau tidak jarang membutuhkan waktu yang cukup lama untuknya bergerak mengenakan bajunya.

Sama halnya dengan saat ingin buang air. Nara kerap menolak membuka celana sendiri. Alasannya tidak bisa. Padahal saya tahu betul dia bisa. Lalu dia berpindah mengatakan sulit, kemudian baru mengakui kalau dia tidak mau membukanya sendiri karena malas. “Maunya dibukain Mama aja!”  Ujarnya.

Saya berpikir, salah satu penyebabnya mungkin karena dia iri melihat adiknya yang kadang masih dipakaikan baju (kadang, karena adiknya sudah masuk fase mau melakukan semuanya sendiri). Terlebih karena Nara baru disapih. Penolakannya itu bisa jadi lebih karena meminta perhatian saya, bukan karena tidak bisa. PR saya adalah meyakinkan Nara bahwa rasa sayang dan perhatian saya tetap ada untuknya, dengan perkataan dan dengan perbuatan di saat-saat lain, sambil menahan diri untuk tidak mudah membantu juga menjaga reaksi agar tidak penuh emosi.

Di hari ketiga ini, Nara sudah lebih mau langsung melepas celana saat akan buang air. Walau di tengah jalan masih mengeluh susah, setelah saya yakinkan bahwa dia bisa, Nara mau menyelesaikannya.

Kembali mengenakan celana setelah buang air malah lebih susah. Nara masih suka berlama-lama berkeliaran tanpa celana 😥

Semoga seiring berlalunya hari, tahapan ini bisa Nara lakukan dengan lebih mudah ya.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kedua

Pada hari kedua ini, Nara masih perlu diingatkan tahapan yang bisa dia lakukan saat ingin buang air.

Tapi, jika sebelumnya saya selalu menyuruhnya membuka celana saat dia bilang ingin buang air, sekarang saya mengubahnya jadi bentuk pertanyaan, “Bagaimana kalau ingin buang air?”

Kadang dia ingat semua tahapannya, kadang masih perlu saya bantu. Sebisa mungkin saya hanya memberi petunjuk-petunjuk seperti, “Ada yang ketinggalan nggak?” Saat Nara lupa meletakkan kursi kembali ke tempatnya atau belum menutup pintu.

Nara juga masih belum terbiasa mengangkat bajunya sebelum duduk di atas Dory, jadi masih saya ingatkan.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Pertama

Setelah materi, terbitlah tantangan. Seperti game level 1, pada game level 2 ini pun kami ditantang untuk melatih kemandirian anak dan melaporkannya selama minimal sepuluh hari.

Selama periode tantangan, yaitu tanggal 4-20 Oktober 2018, kami dipersilakan menentukan 1-4 kemandirian yang ingin dilatih pada anak.

Sebelum menginjak usia tiga tahun, alhamdulillah Nara sudah lulus toilet training. Saya lupa kapan persisnya dia berhenti menggunakan pospak di siang hari, tapi dia baru melepas pospak di malam hari beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ketiga. Alasan utama adalah ketidaksiapan ibunya, hahaha… Syukurlah tidak perlu waktu terlalu lama untuknya tidur malam tanpa mengompol maupun pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil di tengah malam.

Untuk melengkapi kemampuannya buang air di kamar mandi, saya memutuskan untuk mulai lebih melepasnya melakukan kegiatannya itu.

Selama ini, setiap ingin BAK atau BAB, dia akan memberitahu saya, lalu saya membantunya melepas celana, mengangkatnya ke WC setelah menaruh toilet seat miliknya, kemudian menyebokinya dan memakaikan kembali celananya.

Nara sudah mulai lebih sering cebok sendiri setelah BAK, dia juga sudah bisa melepas dan menggunakan celana sendiri. Tapi, kadang dia suka minta dipakaikan atau saya yang tidak sabar sehingga membantunya.

Untuk tantangan hari pertama ini, saya berusaha mengurangi campur tangan saya dan membantunya untuk dapat melakukan hal yang biasanya saya bantu, sendiri.

Diawali dengan mengajaknya bicara bahwa dia akan belajar hal baru hari itu, kemudian menjelaskan tahapan apa yang bisa dia lakukan kalau ingin buang air.

Saya lalu mengajaknya memraktekkan tahapan itu. Tahap yang kami susun: Ke depan kamar mandi, buka celana, buka pintu kamar mandi, taruh kursi ke depan WC, taruh Dory (sebutan untuk toilet seat-nya yang bergambar Finding Dory) di atas WC, naik ke atas WC, buang air, cebok, taruh Dory kembali di tempatnya, cuci tangan, kembalikan kursi ke tempatnya, tutup pintu kamar mandi.

18-10-04-22-27-56-730_deco
Peralatan Penunjang Kemandiran Nara xD

Prakteknya meliputi pelatihan membuka pintu kamar mandi yang selama ini belum bisa dia lakukan. Sisanya dia kurang pebih sudah bisa, hanya perlu dibiasakan saja.

Untuk menyalakan dan mematikan lampu, juga menyiram WC, masih perlu bantuan saya, karena tangannya belum sampai ke saklar lampu walau menggunakan kursi dan belum kuat menekan tombol flush yang memang agak keras.

PR-nya adalah membuat dia mau melepas celana tanpa bantuan dan menggunakannya kembali segera setelah selesai buang air 😅

Targetnya adalah mengubah kebiasaan buang airnya dari “Kakak mau pipis.” Lalu menunggu Mama mengantarnya ke kamar mandi, menyuruhnya membuka celana atau membantunya membuka celana dan seterusnya, menjadi “Kakak mau pipis, tolong nyalain lampunya.” Lalu langsung buka celana dan seterusnya sesuai tahapan tadi.

Untuk hari pertama sih, saya masih membimbingnya melakukan tahapan tadi dan mengajaknya mengulangi urutannya saat sedang santai.

Semoga lama-lama dia terbiasa ya, dan kami bisa menjalani prosesnya dengan senang.

[Bunda Sayang] Materi 2: Kemandirian Anak

Setelah membentuk kebiasaan untuk berkomunikasi secara produktif dalam game level 1 yang lalu. Minggu ini Kelas Bunda Sayang masuk pada materi kedua: Kemandirian Anak.

Ini topik yang bagi saya pribadi sangat penting, karena saya merasa kurang mandiri dan hal itu menyulitkan saya setelah dewasa. Karenanya, kemandirian merupakan kualitas yang menjadi prioritas saya dalam membesarkan anak-anak. Materi dan tantangan yang diberikan di Kelas Bunda Sayang ini tentu akan membantu saya untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Dalam materi kedua ini, dijabarkan betapa pentingnya melatih kemandirian anak. Di antaranya adalah meningkatkan kepercayaan dirinya, juga kemampuan untuk merdeka, tidak banyak tegantung dengan orang lain. Anak yang mandiri juga lebih potensial untuk membantu orang lain, karena sudah terlepas dari kesulitan memenuhi kebutuhan dirinya.

Kemandirian juga ternyata bisa diajarkan sedini mungkin. Paling tidak saat anak sudah melewati usia bayi, yaitu 0-12 bulan. Jadi, jika anak kita sudah di atas usia satu tahun, alangkah baiknya kita berhenti memperlakukannya sebagai bayi dan mulai memberinya kesempatan untuk belajar melakukan banyak hal sendiri. Wah, padahal tidak jarang kita jumpai anak yang sudah masuk sekolah masih disuapi atau dipakaikan baju oleh orangtua maupun pengasuhnya ya… Saya pun terkadang masih suka membantu anak saya melakukan berbagai hal yang dia sebenarnya sudah bisa atau paling tidak sudah mau mencoba melakukan sendiri. Apalagi anak saya yang kedua, yang sekarang sudah menginjak usia 19 bulan.

Tentunya diperlukan proses yang tidak sebentar dalam melatih kemandirian ini. Maka kesabaran dan konsistensi orangtua menjadi kunci. Kesabaran dalam menahan diri untuk tidak terlalu cepat mengintervensi atau menawarkan bantuan. Ketahanan untuk tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi pada hasilnya, dan konsisten pada aturan atau kesepakatan yang telah dibuat.

PR melatih kemandirian ini berlanjut terus hingga usia sekolah anak. Namun jika sudah dimulai sejak usia satu tahun, tentu lebih mudah bagi anak, karena sudah terbentuk kebiasaan menjadi pembelajar mandiri. Keahlian dan tanggung jawab anak juga akan terasah, sehingga lebih mudah baginya untuk menjalani kehidupan sehari-hari tanpa banyak bantuan atau suruhan. Anak jadi bisa membantu dirinya sendiri juga orang lain, bahkan jika kita tidak ada.

Saya semakin bertekad untuk melatih kemandirian ini pada anak-anak saya. Kita tidak pernah tahu sampai kapan dan sejauh apa kita bisa mendampingi mereka. Insya Allah kemandirian yang mereka miliki akan membantu mereka menjalani kehidupan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki dengan maksimal.