Tag Archives: long life learning

[Matrikulasi] Nice Homework #7: Tahapan Menuju Bunda Produktif

Keseruan terjadi dalam NHW kali ini, karena peserta mendapat kesempatan melihat potensi kekuatan dan kelemahannya melalui sebuah tools. Kalau sebelumnya kami ditugaskan untuk mengenali diri sendiri, kali ini ada bantuan tools untuk mengkonfirmasi apa yang telah kami temukan itu. Para peserta, termasuk saya, langsung semangat mencoba xD

Tentu seperti tertera di NHW #7, tidak boleh terpaku pada semata-mata hasil tes. Lebih utama untuk terus belajar memahami diri sendiri, karenanya di bagian akhir NHW tetap ada tugas untuk mengonfirmasi kembali hasilnya.

1.Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology)
Berikut hasil ST30 (Strenght Typology) saya, yang diperoleh menggunakan www.temubakat.com. Tools ini diciptakan oleh Abah Rama Royani, yang sering menjadi guru tamu di komunitas Ibu Profesional.

ST 30 - 070318

Berdasarkan panduan terlampir dan cara membaca hasil ST30 yang diajarkan oleh Mbak Rima Melanie Puspita Sarie, yang merupakan salah seorang santri Abah Rama juga founder Rumah Konsultasi Bakat, pada saat menjadi bintang tamu dalam kelas matrikulasi, hasil ST30 saya bisa dijabarkan sebagai berikut:

Panduan Membaca Hasil ST 30

Penjabaran ST30

Menurut Mbak Rima, warna merah pada hasil ST30 artinya yang paling kuat, kuning masih temasuk kuat, putih netral, abu-abu lemah, hitam kelemahan. Bisa dilihat di sini yang diambil adalah yang warna merah saja, yang dianggap terkuat dari semuanya.

2. Setelah mengkonfirmasi ulang bakat kita dengan tools yang ada, kami sarankan jangan percaya 100%. Silakan konfirmasi ulang hasil tersebut sekali lagi dengan mengisi pernyataan aktivitas apa yang anda SUKA dan BISA selama ini.
Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran
Kuadran 1: Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
Kuadran 2: Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA
Kuadran 3: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

Ternyata membutuhkan perenungan yang tidak sebentar juga untuk membuat ini ya. Untuk memudahkan sekaligus mengkonfirmasi hasil tes di atas, saya membuat daftar kegiatan yang berkaitan dengan hasil tes kemudian membandingkannya dengan yang saya alami selama ini. Hasilnya, paling tidak yang terpikir oleh saya sampai saat ini, terlampir di bawah ini.

Diagram Aktivitas 110318

Hasilnya kelihatannya kurang lebih sesuai dengan hasil tes ya. Menurut saya, kuadran ini juga membantu untuk memilah mana kegiatan yang:
– Saya suka dan bisa, yang kemungkinan adalah bakat saya, sehingga di situ fokus utama saya perlu diletakkan.
– Saya suka, tapi tidak bisa, yang mungkin bisa dikerjakan sebagai hobi saja, untuk kesenangan pribadi.
– Saya tidak suka, tapi bisa, yang dikerjakan seperlunya saja.
– Saya tidak suka dan tidak bisa, yang bisa didelegasikan atau diserahkan pada orang lain untuk mengerjakannya.

Click to Share

[Matrikulasi] Materi Sesi #5: Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?

Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :
1. Belajar hal berbeda
2. Cara belajar yang berbeda
3. Semangat Belajar yang berbeda

🍀 Belajar Hal Berbeda
Apa saja yang perlu di pelajari?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

Cara Belajar Berbeda
Jika dulu kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak-anak kita untuk bertanya.
Misalnya:
👍Ibu jari: How
👆Jari telunjuk: Where
✋Jari tengah: What
✋Jari manis: When
✋Jari kelingking: Who
👐Kedua telapak tangan di buka: Why
👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka: Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berpikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berpikirnya.

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dengan aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik.

Apa itu berpikir skeptik?
Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

Semangat Belajar yang Berbeda
Semangat belajar yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah:

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada di tempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekadar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,
Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita.

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan
Strategi Meninggikan Gunung bukan Meratakan Lembah

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobi, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada klub bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 Sebaliknya jangan meratakan lembah
yaitu dengan menutupi kekurangannya.
Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan/ kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orangtua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah:
1. Mengetahui apa yang anak-anak mau/ minati
2. Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3. Mengetahui passion-nya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

Good is not enough anymore we have to be different

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orangtua :
👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu: usia 0-8 tahun.
👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita: usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita: usia 17 tahun ke atas.

Cara mengetahui passion anak adalah :
1. Observation (pengamatan)
2. Engage (terlibat)
3. Watch and listen (lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir anak dengan:
1. Melatih anak untuk belajar bertanya.
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya.
3. Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari.
4. Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan:
Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014
Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009