Tag Archives: Level 10

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Keenam

“Cerita tentang selimut.” Begitu pinta Nara pada sesi bercerita.

Saya pun bercerita tentang Didi dan selimutnya yang kotor.

Didi punya selimut kesayangan. Pada suatu saat Didi memakai selimut itu tanpa mau dicuci, hingga selimut menjadi kotor. Didi yang badannya gatal-gatal akhirnya mau mencuci selimut itu dan menggantinya dengan selimut lain.

Dalam cerita itu saya sisipkan bahwa Didi adalah anak yang mandiri, sudah bisa mandi dan makan sendiri. Didi juga suka membantu ibunya. Hanya saja, dia sedang tidak ingin mencuci selimut kesayangannya.

Saya juga mengisahkan bahwa ibu Didi sudah mengingatkan Didi untuk mencuci selimutnya, tapi Didi berkeras untuk tetap terus menggunakannya.

Harapannya sih, Nara dan Kyna mau ikut belajar mandi dan makan sendiri, juga rajin membantu dan mengikuti nasihat ibu (modus 😆).

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Kelima

Nara meminta cerita tentang robot. Saya kemudian mengisahkan tentang tiga buah robot. Robot merah bernama Nayyara, robot hijau bernama Kynatha, dan robot biru bernama Rayadinata.

Ya, saya menggunakan nama Nara dan kedua adiknya sebagai nama ketiga robot itu.

Masing-masing robot memiliki kekuatan yang berbeda. Robot Nayyara bisa mengeluarkan api dan cahaya; Robot Kynatha bisa menggali tanah dan kuat mengangkat benda-benda;Robot Rayadinata mampu mengendalikan air dan angin.

Mereka suka menolong. Dengan kekuatan yang mereka miliki mereka berusaha untuk selalu bermanfaat bagi orang lain.

Nara dan Kyna senang mendengar cerita tentang robot yang mewakili mereka. Semoga mereka turut menjadi manusia yang suka menolong dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Keempat

Dongeng hari ini tentang Nara dan Kyna yang sudah bisa makan sendiri tetapi kadang masih suka minta disuapi. Sekali-sekali itu tidak apa-apa, tapi sebaiknya tidak terlalu sering, karena makan sendiri baik untuk melatih banyak aspek. Keterampilan makan, koordinasi mata-tangan, kemandirian, kekuatan otot tangan, dan sebagainya. “Semakin sering makan sendiri, Nara dan Kyna akan semakin pandai menyuap makanan dengan cepat dan tanpa tumpah.”

Baru selesai bercerita, Nara yang saat itu sedang saya suapkan makannya langsung minta menyuap sendiri. Kyna juga menyuap sendiri walau cuma sekali, selanjutnya dia kembali minta disuapkan.

Semoga seiring dengan cerita-cerita selanjutnya Nara dan Kyna lebih semangat untuk makan sendiri ya.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Ketiga

Cerita hari ini berlanjut pada bagaimana Nara dan Kyna suka waktu makan, dengan semangat memilih sendiri mau makan dengan telur yang dimasak seperti apa di pagi hari.

Nara dan Kyna menyimak sambil mengunyah sarapan mereka. Tapi kemudian Kyna menangis karena bibirnya sakit. Memang sedang ada sariawan di bagian dalam bibirnya.

Kyna selalu menolak dipakaikan obat, katanya nanti tambah sakit. Akhirnya saya bercerita tentang Titi, yang sedang sariawan dan juga takut pakai obat. Tetapi Titi suka makan dan sariawan menghalanginya untuk makan makanan kesukaannya. Dia takut pakai obat, tapi dia ingin sekali bisa menikmati berbagai makanan kesukaannya lagi.

Akhirnya Titi memutuskan untuk memberanikan diri memakai obat. Ternyata tidak sesakit yang dia bayangkan. Malahan sariawannya jadi berkurang sakitnya. Titi mulai bisa makan. Dia pun melanjutkan menggunakan obatnya secara teratur.

Dua hari kemudian saat bangun tidur, sariawan Titi tidak terasa sakit lagi. Saat dilihat ibunya, ternyata sariawannya sudah tidak ada! Alhamdulillah Titi sudah sembuh.

Kyna tersenyum dan tertawa saat mendengarkan ceritanya. Dia masih takut dipakaikan obat, tapi mau mengikuti saya saat mengambil obatnya. Obat pun berhasil dipakaikan, walau diiringi tangisan. Setelahnya Kyna bisa menghabiskan sarapannya. Alhamdulillah.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Kedua

Satu hal yang sedang menjadi perhatian saya saat ini adalah ketertiban makan Nara dan Kyna.

Mulai dari jadwal makan, waktu yang dihabiskan setiap kali makan, kemandirian, tempat makan, sampai makanan dihabiskan tanpa bersisa.

Ini PR jangka panjang yang kuncinya di saya sebenarnya. Saya yang bisa membuat jadwal kemudian menyusun kegiatan mereka sedemikian rupa agar jadwalnya terpenuhi. Saya yang perlu konsisten menerapkan kesepakatan berapa lama waktu makan dan di mana kami makan beserta konsekuensinya. Saya yang perlu mencari cara agar acara makan bisa jadi menyenangkan dan anak-anak bersedia makan sendiri juga menghabiskan makanannya dengan senang hati.

Saya akan mencoba dongeng sebagai salah satu caranya.

Hari ini saya memulainya dengan kisah tentang Nara dan Kyna yang belajar makan dengan tertib. Iya, mereka paling suka cerita yang tokohnya diri mereka sendiri.

Saya bercerita versi ideal saya akan kebiasaan makan Nara dan Kyna. Mereka menyimak dengan senang, sesekali tertawa mendengar tingkah mereka sendiri dalam cerita saya. Tujuan utama saya kali ini adalah menanamkan dalam pikiran mereka betapa menyenangkannya kegiatan makan dan betapa enaknya makan dengan tertib beserta segudang manfaatnya.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Pertama

Bercerita sesungguhnya adalah salah satu kegiatan favorit Nara dan Kyna. Selain membacakan buku, mereka suka meminta saya untuk bercerita.

Biasanya, saya menanyakan kepada mereka mau cerita apa, terutama kalau saya sedang tidak punya ide. Mereka akan menyebutkan nama binatang atau kisah yang diinginkan, tugas saya untuk menyusun ceritanya.

Kadang saya yang menentukan ceritanya dari awal. Saya juga suka memanfaatkan kegiatan ini untuk menyisipkan pesan-pesan terkait kebiasaan baik atau hal baik yang ingin saya tumbuhkan dari mereka.

Seperti kali ini. Kyna suka duduk di atas meja. Saya selalu mengingatkannya setiap kali. Kadang dia mau mendengar, kadang tetap tidak mau turun dari meja.

Saya pun bercerita tentang Riri, anak perempuan yang suka duduk sembarangan. Riri duduk di atas meja, lemari, tengah jalan. Selain mengganggu, tidak sopan, juga tidak aman. Riri dalam cerita merasakan akibat dari duduknya yang di sembarang tempat itu. Dia pun akhirnya berusaha untuk duduk pada tempatnya.

Seringnya tidak cukup satu kali cerita, perlu beberapa kali pengulangan baru suatu pesan bisa melekat dalam hati dan pikiran mereka.

Paling tidak, setiap cerita menjadi bagian dari kenangan mereka. Semoga memperkuat ikatan dan menceriakan hari-hari kami.

[Bunda Sayang] Materi 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng

Seperti level sebelumnya, materi level 10 ini kembali diberikan dalam bentuk diskusi interaktif via WAG.

Kali ini temanya adalah mendongeng. Diawali dengan video yang membangkitkan imajinasi dan mendorong peserta untuk mengalirkan rasa, Mbak Susi Firdausa, selaku fasilitator kelas langsung lanjut ke pertanyaan yang mendasari materi kali ini: “Mengapa Harus Mendongeng?”

Jawaban dari peserta menunjukkan manfaat mendongeng:
– Menguatkan bonding
– Mengajar anak dengan menyenangkan
– Menyampaikan pesan tanpa menggurui
– Mengasah imajinasi
– Melatih kemampuan menyimak
– Meningkatkan kreativitas
– Membangun karakter anak
– Menambah perbendaharaan kata

Mbak Susi kemudian menekankan bahwa dunia anak adalah dunia imajinasi, orang tua lah yang perlu mengaktifkan kembali daya imajinasinya.

Ini sebabnya tantangan level ini dibuat, agar orang tua mampu masuk dalam dunia anak dan memasukkan nilai-nilai positif melaluinya, dengan ikatan yang kuat sebagai bonusnya.

Selanjutnya Mbak Susi memberikan beberapa gambar dan mempersilakan para peserta membuat cerita berdasarkan gambar tersebut. Awalnya cerita pendek, kemudian cerita berantai yang dibuat bersambung oleh beberapa peserta.

Menarik sekali melihat bagaimana imajinasi dan kreativitas kita bisa terpicu dalam waktu singkat. Seru juga membaca cerita yang dibuat oleh kawan-kawan di kelas Bunda Sayang.

Semoga anak-anak nanti juga akan sama serunya saat mendengar dongeng dari para bunda peserta kelas ya 😁