Tag Archives: Kuliah Bunda Sayang

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Kelima

Kali ini kegiatan Nara dan Kyna masih seputar menggambar.

Journaling kami biasa menyebutnya. Ini adalah salah satu kegiatan yang rutin kami lakukan.

18-12-04-14-24-41-122_deco

Selain sebagai latihan mengekspresikan diri, kegiatan ini juga mengembangkan kemampuan pra menulis anak. Anak biasanya akan menggoreskan pola-pola sesuai tahap perkembangannya. Cara dan kemampuan mereka memegang krayon atau alat tulis lainnya pun turut berkembang.

Ini sepertinya melibatkan dua gaya belajar ya. Kinestetik, belajar dengan melakukan, dan visual belajar menggoreskan apa yang dilihat dan direkam dalam ingatan melalui penglihatan.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Keempat

Kegiatan hari keempat ini seputar menggunting.

Nara sedang menyukai kegiatan ini. Sejak awal diperkenalkan pada gunting, kemampuan Nara menggunting sudah jauh berkembang.

Pertama kali saya memberikan gunting padanya, Nara bahkan tidak bisa membuka guntingnya. Saya kemudian memperbanyak latihan seperti menjepit, meremas, dan semacamnya, guna menguatkan jari-jarinya.

Lama-kelamaan Nara bisa menggunakan gunting, tapi masih kesulitan. Saya pun masih mengawasi dengan ketat dan hati was-was setiap kali Nara menggunting.

Pada kegiatan menggunting kali ini, Nara sudah mahir menggunting kertas dari ujung ke ujung, juga membuat potongan panjang melingkar.

GL 4 D4 - 031218

Saya tidak pernah sengaja memberikan pola untuk dia gunting atau menunjukkan seperti apa dia harus menggunting.

Ternyata memang benar teori yang pernah saya dengar, anak akan bisa menemukan sendiri cara melakukan sesuatu beserta variasinya. Dengan cara ini, kemampuan eksplorasi dan discovery anak terasah. Lebih banyak sambungan dan pemahaman yang terjadi dalam otaknya daripada jika dia diberitahu sejak awal cara dan pola yang harus dikerjakan misalnya.

Sepertinya, ini bisa digolongkan gaya belajar kinestetik ya? Belajar dengan cara melakukan.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Ketiga

Kali ini saya mengajak Nara melempar bola. Saya hanya memberikan instruksi secara lisan, tanpa peragaan seperti biasa.

Pertama saya meminta Nara melempar bola dari atas, sampai mengenai pintu. Nara melakukannya dengan baik. Selanjutnya saya memintanya melempar bola dari bawah. Kali ini dia agak bingung. Baru setelah saya mencontohkannya dia bisa menirukan.

Sepemahaman saya, anak seusia Nara mungkin memang akan lebih paham jika dicontohkan daripada sekadar diberitahu secara lisan. Tapi bisa jadi juga itu karena kecendrungan gaya belajar visualnya.

Sorenya, saya mengajak Nara dan Kyna melukis. Kegiatan yang cukup sering mereka lakukan.

Nara bisa menyelesaikan lukisannya dengan fokus yang baik. Sementara Kyna sibuk mondar-mandir. Entah berusaha meraih cat air, yang sebenarnya bisa diambil tanpa berdiri, atau mencoba melukis di kertas kakaknya 😅

Rasanya saya masih perlu banyak belajar lagi agar stimulasi dan pengamatan yang dilakukan lebih baik ya.

Sejauh ini, masih kecendrungan visual yang saya temukan pada Nara.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Kedua

Saat saya akan membuat nasi goreng atau masakan lain yang menggunakan bawang merah, Nara dan Kyna seringkali membantu mengupas bawangnya.

Kali ini saya mengamati saat Nara mengupas bawang. Seperti biasa, fokusnya baik. Dia telaten mengupas bawang hingga selesai. Nara juga tidak terganggu saat saya menyanyi di dekatnya.

Setelahnya, dia ikut menumis bawang. Saya contohkan, lalu dia mengikuti.

Sepertinya ini masih masuk gaya belajar visual ya. Berikutnya saya akan coba stimulasi ke arah gaya belajar lainnya.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Pertama

Habis baca materi level 4, ngikutin diskusinya, terus langsung membayangkan, kira-kira saya dan anak-anak gaya belajarnya cenderung ke yang mana ya…

Terus bingung, gimana cara mengamatinya ya, hehehe..

Menurut hasil diskusi, gaya belajar anak biasanya terlihat pada usia 6-7 tahun. Sebelum itu, masih bisa berubah-ubah. Kadang lebih visual, kadang auditori atau kinestetik, bisa juga kombinasi dari ketiganya.

Gaya Belajar Anak 301118

Sepertinya saya akan berpatokan pada ciri-ciri di atas. Sementara untuk kegiatannya saya mungkin akan banyak melihat contoh dari teman-teman sesama peserta Kelas Bunda Sayang, baik dari batch ini mapun batch sebelumnya.

Untuk tantangan kali ini, saya kembali memilih Nara, anak sulung saya yang berusia 3 tahun, karena usianya lebih besar jadi semoga juga lebih mudah mengamatinya 😀

Sejauh ingatan saya, Nara sepertinya cenderung lebih visual, sama seperti saya. Fokusnya sangat baik sejak berusia sangat kecil. Dia bisa bertahan menyimak saat dibacakan sebuah buku yang cukup panjang untuk usianya, sambil melihat gambar di bukunya. Nara bahkan hapal isi buku tersebut, hingga menangis saat salah dibacakan. Saat itu dia baru berusia 7 bulan.

Nara juga mengingat warna-warna tanpa saya ajarkan secara khusus. Dia dengan mudah mengelompokkan warna dan bentuk. Dia juga tidak mudah terganggu oleh suara berisik. Bahkan saat masih bayi, dia bisa terus tidur walau ada keramaian di sekitarnya. Nara juga menikmati musik, suka menyanyi dan mampu menghapal lirik dengan cepat.

Saya sesungguhnya baru menyadari semua itu setelah melihat perkembangan Kyna, anak kedua saya. Kyna lebih mudah teralih saat dibacakan buku. Baru di atas usia setahun dia mulai mau menyimak buku-buku dengan sedikit tulisan. Hingga usianya menjelang dua tahun, Kyna belum juga mengenal warna atau bentuk. Kyna juga suka mendengar musik, menyanyi dan menari. Namun dia belum bisa menyanyikan satu lagu utuh, di mana di usia lebih muda, Nara bisa melakukannya.

Di sisi lain, Kyna lebih kuat motorik kasarnya. Saat berusia beberapa minggu, Kyna sudah bisa memiringkan tubuh bahkan ada saat dia membalikkan badan dari tengkurap menjadi terlentang saat tidur. Pada usia 2 bulan, Kyna sudah bisa mengangkat kepala tinggi-tinggi dengan mudah. Sesuatu yang susah payah dilakukan Nara saat dia sudah berusia di atas 3 bulan. Kyna juga lebih aktif bergerak dan lebih cepat bisa berjalan. Melompat, memanjat, bergantungan, menjaga keseimbangan, adalah hal yang mudah baginya.

Kembali ke Nara. Untuk tantangan hari pertama ini, saya mengajaknya bermain menemukan huruf. Saya menulis beberapa huruf di atas kertas kemudian meminta Nara mencari huruf yang sama dengan yang tertera di kartu yang saya berikan.

GL 4 D1 - 301118

Nara memang mulai tertarik dengan huruf, jadi dia bersemangat melakukan permainan ini. Tidak ada kesulitan berarti saat mencari huruf yang sama dengan yang di kartu. Sejauh ini, dia paling ingat huruf “i”.

Nara lebih mengingat bentuk, daripada nama huruf yang saya ucapkan. Untuk hari pertama, kecenderungan visual lebih terlihat.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Aliran Rasa

Game level 3 ini sungguh seru.

Ini pertama kalinya kami membuat Family Project. Mulai dari menentukan kecerdasan yang ingin ditingkatkan, tema yang mau diusung, tujuan yang ingin dicapai, juga metode yang digunakan. Semua disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak.

Prakteknya mungkin masih jauh dari sempurna. Banyak kegiatan yang bisa dilaksanakan dengan lebih baik, juga ide kegiatan yang belum sempat dilaksanakan. Tapi yang sudah berjalan, walau kebanyakan terdiri dari kegiatan sederhana sehari-hari,karena dilakukan dengan tujuan yang disadari, jadi terasa lebih bermakna.

Kegiatan-kegiatan kecil yang berkesinambungan juga membangun suasana sesuai tujuan yang ingin dicapai.

Sebagai evaluasi untuk proyek-proyek selanjutnya,komunikasi antar anggota keluarga mungkin perlu ditingkatkan, khususnya dengan suami sebagai rekan fasilitator. Dalam proyek kali ini, walau beberapa kali ikut terlibat, namun kesibukan beliau membuat proyek ini cenderung jauh dari kehadirannya.

Untuk selanjutnya, saya mungkin bisa memaksimalkan perannya dengan bercerita tentang kegiatan yang akan atau sudah dilakukan, sehingga suami bisa paling tidak membahasnya dengan anak-anak serta memberi masukan. Bisa juga memaksimalkan kontribusinya di akhir pekan, dengan kegiatan yang dikhususkan untuk ayah dan anak ataupun seluruh keluarga.

Terlepas dari segala kekurangannya, saya senang bisa membuat proyek keluarga dan terdorong untuk membuatnya lagi dengan tema yang berbeda. Sangat menyenangkan rasanya bisa bekerja bersama seluruh keluarga melakukan kegiatan yang bermanfaat sekaligus mempererat hubungan. ❤

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Kelimabelas

Tanaman tomat kami akhirnya keluar tunasnya! 😆

Setelah hari sebelumnya lupa menyiram, tentu saja kami lega dan senang melihatnya.

18-11-16-21-28-36-991_deco

Nara dan Kyna makin semangat menyiram si tomat. Tidak lupa Nara selipkan ucapan agar tomat tumbuh dengan baik juga sehat.

Mudah-mudahan, bersamaan dengan tumbuhnya tomat, kasih sayang yang dirasakan untuk makhluk hidup lain juga tumbuh di hati kami ya :)

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Keempatbelas

Kami lupa menyiram si tomat! :(

Hari itu kami kembali membaca buku “Allah Sayang Padaku: Allah Ciptakan Tubuhku”.

Nara dan Kyna selalu semangat menyebutkan anggota-anggota tubuh yang digambarkan dalam buku.

Giliran organ seperti otak, paru-paru, otot atau tulang, mereka masih suka lupa, tapi dengan senang kembali menyimak di mana organ itu berada dan apa fungsinya.

Betapa sempurna ciptaan Allah. Semoga kami bisa selalu mensyukurinya, dengan menggunakannya untuk kebaikan dan dalam ketaatan kepada-Nya. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Ketigabelas

Tanaman tomat belum juga terlihat tunasnya. Nara dan Kyna masih menyiramnya setiap sore sambil mengajaknya bicara dan mendoakannya agar segera tumbuh.

Hari itu kami membaca buku “Aku Belajar Puasa” dari seri Halo Balita.

Nara dan Kyna memang belum pernah mencoba puasa, tapi mereka, Nara khususnya, melihat orang-orang dewasa di sekitarnya menjalani ibadah puasa. Nara juga kerap ikut “berbuka” dengan menunda waktu minum teh dan makan kuenya hingga adzan magrib berkumandang.

18-11-14-15-54-40-013_deco

Buku tersebut mengenalkan konsep puasa lebih dekat pada mereka.

Dalam buku itu, diceritakan bagaimana Ibu menjelaskan kepada Sali bahwa puasa artinya menahan diri, dari lapar, haus, atau amarah. Dengan demikian, kita akan terlatih mengendalikan diri untuk menjauhi keburukan dan banyak berbuat kebaikan.

Berpuasa baik untuk kita dan menambah sayang Allah kepada kita. Itu poin yang ingin saya sampaikan untuk Nara dan Kyna sih.

Saya ingin mereka melihat puasa sebagai sesuatu yang menyenangkan, baik, dan seru untuk dilakukan. Sebagaimana Sali yang menjalaninya tanpa paksaan atau iming-iming hadiah.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Keduabelas

Sudah lama saya ingin mengajak Nara memasak atau membuat kue bersama.

Pertama, karena dia sangat tertarik dengan kegiatan di dapur. Selalu mengikuti dan melihat saya atau neneknya memasak. Nara juga sudah sering kami biarkan ikut membantu pekerjaan-pekerjaan kecil, seperti menuang bahan, mengaduk, mengupas bawang, dan semacamnya.

Kedua, saya pernah mendengar bahwa kegiatan memasak itu banyak sekali manfaatnya untuk anak. Mulai dari melatih motorik halus, kemampuan koordinasi juga kontrol mata dan tangan, practical life skill, matematika, hingga ketekunan, kepedulian, kepekaan, kesabaran, dan pemahaman akan proses.

Untuk proyek hari keduabelas ini, saya memutuskan untuk membuat kue kering bersama Nara. Tadinya saya ingin membuat bentuk bintang dan bulan, agar mengingatkan pada ciptaan Allah yang menakjubkan itu. Saya juga ingin mengaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. yang diceritakan sempat menduga keduanya sebagai Tuhan sebelum diberi petunjuk oleh Allah swt.

Tapi ternyata cetakannya tidak dapat ditemukan.

Akhirnya saya menggunakan cetakan yang ada saja, bentuk hati dan bunga. Cukuplah mewakili ciptaan Allah dan kasih sayang yang Allah miliki terhadap ciptaan-Nya, juga kasih sayang yang seharusnya kita miliki untuk sesama dan alam semesta.

Seperti yang sudah saya duga, Nara begitu bersemangat saat diajak membuat kue. Dia berkali-kali menanyakan kapan kami akan mulai. Nara yang kemudian yang mencampur bahan-bahan dan mengaduknya, menggiling adonan hingga siap dicetak, dan mencetaknya. Saya membantu dalam setiap tahap, namun menahan diri untuk terlalu banyak mengambil alih. Saya yang kemudian memindahkan hasil cetakan ke dalam loyang dan mencairkan coklat untuk menyelup biskuitnya setelah dipanggang.

GL 3 D12b - 131118

GL 3 D12 - 131118

Di mana Kyna?

Kyna tidur siang, tapi bangun saat kami sedang menyetak kue. Kyna pun kebagian nyetak kue, menyelup kue yang sudah matang ke dalam coklat cair berwarna merah (pilihan Nara), lalu memakan kuenya sampai tangan dan mulutnya belepotan coklat.

Kegiatan seru yang perlu diulang nih.

Saya sempat juga mengingatkan Nara, bahwa yang membuat kue adalah manusia, tapi Allah yang memberi izin dan kemampuan. Sebelumnya, kami sudah pernah juga membahas hal ini, saat Nara tampak kesulitan membedakan mana yang ciptaan Allah mana yang buatan manusia. Semoga pemahaman Nara semakin terbentuk, juga kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, walau bukan hasil ciptaan-Nya secara langsung.

Btw, foto sebelah kiri bawah, yang kue keringnya bersebelahan dengan nastar buatan ibu saya itu, Nara yang ambil sendiri lho fotonya.