Tag Archives: Kemandirian Anak

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Aliran Rasa

Seperti yang pernah saya tulis tentang matrikulasi, yang menarik dari materi dan tantangan Kelas Bunda Sayang ini adalah keterkaitannya.

Setiap materi, yang tentunya diikuti oleh tantangan, menunjang materi setelahnya dan dapat menggunakan materi sebelumnya untuk mendukung keberhasilan tantangan yang sedang dihadapi.

Dalam tantangan game level 2 ini misalnya, saat melatih kemandirian anak, saya perlu mengasah kembali komunikasi produktif dengan Nara, agar dia dapat menangkap pesan saya dengan baik dan saya mampu mendengarkan kebutuhannya dengan penuh empati.

Saya sungguh banyak belajar dari tantangan kali ini. Tentang pentingnya kemandirian, perlunya orang tua melepaskan, menahan diri untuk tidak mudah membantu, berkomentar atau mengoreksi, memberi kepercayaan pada anak, bahwa mereka bisa dan perlu belajar untuk bisa. Saya juga belajar kapan harus konsisten, kapan harus lebih santai.

Dalam melatih kemandirian ini, penting bagi anak untuk melakukannya dengan sukarela dengan motivasi dari dalam dirinya. Sehingga saya kemudian berhenti terlalu memaksakan diri apalagi Nara dalam melakukan sesuatu atau mencapai target tertentu.

Saya akhirnya bisa lebih baik dalam melihat apa yang sedang ingin dia lakukan sendiri dan memanfaatkan hal itu. Saya juga menerima kalau terkadang dia sedang ingin dibantu, maka saya memberi kelonggaran pada saat itu.

Saya semakin menyadari bahwa untuk menjadi mandiri, anak perlu terlebih dahulu yakin bahwa orang tua ada untuknya, siap mendukung dan mendampinginya. Dengan demikian, dia bisa dengan tenang mulai melepaskan diri, melakukan hal-hal baru untuknya sendiri.

Saya sudah mulai melatih kemandirian ini sebelumnya. Namun tantangan ini membuat saya lebih memperhatikan apa yang saya lakukan, melakukannya dengan konsisten, dan lebih cermat dalam mengobservasi serta mengevaluasi.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kelimabelas

Hari ini saya belajar untuk lebih banyak menahan diri dalam menyuruh, melarang, dan (terutama) marah.

Saya menyadari bahwa saya masih seringkali memaksa anak-anak saya untuk mengikuti keinginan dan kebutuhan saya tanpa mendengarkan apa yang mereka inginkan atau butuhkan.

Ini juga berdasarkan perenungan saya atas masalah-masalah yang saya hadapi, terutama dengan Nara. Bagaimana dia sulit mendengarkan saya, sengaja melakukan apa yang saya minta tidak dia lakukan, hingga menangis sampai berteriak-teriak di beberapa kesempatan.

Saya merasa perlu memperbaiki hubungan kami. Mengatur kembali agar komunikasi yang terjalin lebih efektif dan produktif. Lebih banyak mendengarkan dan bersabar menghadapi ulahnya. Lebih fleksibel dalam cara dan waktu, memberinya kesempatan lebih banyak untuk melakukan hal sesuai caranya.

Saya percaya hal terpenting yang perlu dibangun dengan anak adalah kedekatan hati. Keharmonisan hubungan. Rekening emosional yang senantiasa berusaha untuk saling dipenuhi dari waktu ke waktu. Hubungan yang penuh cinta, kehangatan dan keterbukaan, namun juga penghargaan dan penghormatan untuk satu sama lain. Jika itu sudah dicapai, niscaya yang lainnya akan lebih mudah diaplikasikan.

Hari ini saya kembali berusaha menuju tujuan itu.

Daripada menyuruh Nara (dan Kyna), kadang dengan tidak sabar, memburu-burunya, bahkan kadang menyelipkan ancaman di dalamnya. Hari ini saya lebih banyak memberinya kesempatan memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan.

Saya hanya membantu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Di mana kita bisa mandi ya?” (saat sudah tiba saatnya mandi sesuai kesepakatan sebelumnya); “Bagaimana perilaku saat di kursi?” “Kursi fungsinya untuk apa ya?” “Di bagian mana kita duduk saat di kursi?” (saat Nara memanjat-manjat atau duduk di senderan kursi); “Kaki bisa dipakai untuk apa ya?” (saat Nara iseng menendang-nendang bantal saat duduk di belakang saya); “Kita ke mana ya, kalau habis mandi?” (saat hendak berpakaian), dan seterusnya.

Lumayan capek sih, hahaha… Apalagi saat Nara tidak langsung melakukan sesuatu sesuai harapan. Sengaja meledek dengan jawaban-jawaban yang disalah-salahkan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pertanyaan saya.

Namun, bahkan pada saat itu, sya berusaha mengikutinya saja. Bereaksi terkejut atau tertawa atas jawaban-jawabannya, walau dalam hati mulai tidak sabar. Tidak memaksa, tidak memarahi, tidak menyuruh. Hanya berusaha menggiringnya mencapai tujuan demi kepentingan bersama.

Walau memakan waktu lebih lama, tapi tidak ada drama saat Nara akhirnya mandi. Sebagai catatan, Nara masuk sendiri ke kamar mandi dengan senang. Bahkan saat saya membilas rambutnya, dia kemudian mengatakan sesuatu yang biasanya dimulai oleh saya, “I love you, Mama Aca”, bukan hanya sekali, tapi berulang-ulang, bergantian dengan balasan saya :’)

Nara mau masuk kamar tanpa berlama-lama berkeliaran di ruang lain. Dia memilih pakaian dan mengenakannya sendiri, tanpa menunda-nunda. Dia juga makan sendiri, mau membereskan mainan, dan lain-lain tanpa banyak drama.

Terasa sekali bedanya. Saat saya mulai lupa dan menyuruhnya dengan kurang ramah, dia kembali terlihat enggan.

Saya semakin yakin bahwa saya harus lebih konsisten melatih kemampuan mengelola emosi dan berkomunikasi dengan baik. Selain untuk membangun hubungan yang berkualitas, juga sebagai contoh bagi anak-anak bagaimana berperilaku dalam setiap hubungan yang mereka miliki, termasuk dengan saya dan ayah mereka.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Keempatbelas

Setelah saya lebih santai, tidak ada target apapun selain membiarkan Nara menikmati mandi sendiri sebisanya, hasilnya ternyata malah lebih baik.

Saat saya tawarkan apa Nara mau membuka baju sendiri (yang kebetulan berkancing!), dia mau. Dan berhasil membuka hampir semua kancingnya. Walau sempat mengeluh susah dan tidak bisa di tengah jalan, tapi setelah saya semangati juga yakinkan bahwa dia bisa, Nara bersedia melanjutkan hingga kancing terakhir, di mana dia akhirnya meminta pertolongan saya.

Saya tidak banyak berkomentar kali ini. Jika sebelumnya saat dia terlihat tidak bisa saya langsung mengajarinya kembali, kadang mungkin sambil sedikit tidak sabar, kali ini saya membiarkan saja dia meneruskan sambil sesekali menyemangati.

Setelah itu, Nara melanjutkan dengan mandi sendiri. Saya masih membantu untuk bagian punggung dan kaki bagian bawah. Dia menjalaninya dengan senang, saya juga senang.

Hari ini Nara dan Kyna juga belajar mengupas bawang merah, yang kemudian ditumis untuk membuat mie goreng untuk sarapan pagi mereka. Nara juga ikut mengaduk bahan-bahan di dalam wajan.

Menjadi orangtua memang media pembelajaran yang luar biasa ya. Sarana bertumbuh menjadi diri yang lebih baik, seiring dengan usaha kita menumbuhkan anak-anak kita menjadi manusia-manusia yang baik.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Ketigabelas

Nara masih menolak berlatih membuka kancing. Dia juga enggan melakukan beberapa hal yang saya minta. Capek, alasannya.

Sepertinya saya perlu mengevaluasi lagi komunikasi produktif saya dengannya. Lalu membuat latihan kemandirian ini kembali menarik dan menyenangkan baginya.

Saya mungkin juga perlu lebih perlahan dalam melangkah. Biarkan saja Nara menikmati proses belajarnya. Bisa jadi ada kemampuan yang perlu diasah dulu, misalnya motorik halusnya, sebelum belajar membuka kancing.

Satu hal yang Nara sedang senang lakukan adalah mandi sendiri. Saya pikir saya sebaiknya berfokus ke sini saja. Tentunya tanpa memaksa hasilnya harus sempurna. Nanti saat dia sudah lebih siap, saya percaya Nara akan mau belajar membuka dan mengancing baju lagi.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Keduabelas

Nara menunda-nunda memakai pakaian sepanjang hari -_-

Baik setelah mandi pagi dan sore, saat ganti baju karena basah, tiap memakai celana setelah buang air, hingga tadi saat berganti pakaian karena mau tidur pun, dia lebih memilih berkeliaran tanpa pakaian dan menolak mendengarkan permintaan saya untuk memakai pakaiannya.

Nara juga jadi banyak mengeluh setiap kali harus membuka pakaian atau melakukan sesuatu.

Kadang saya meminta dengan sabar. Beberapa kali saya akhirnya membantu sebagian prosesnya. Tapi adakalanya saya akhirnya marah-marah.

Menyadari itu sama sekali tidak efektif dan malah membuat Nara semakin menjadi. Saya akhirnya menarik napas, lalu mencoba memahaminya. Saya bertanya pada Nara, apakah dia kesal pada saya? Dia bilang iya. Tapi belum berhasil menjelaskan kenapa ataupun bagaimana kami dapat mengatasinya.

Saya merasa ada sesuatu yang salah dengan cara saya menjalani hari bersamanya hari ini. Bukan hanya hari ini, mungkin sudah dari sebelumnya. Barangkali saya terlalu terburu-buru, lantas memburu-buru Nara. Terlalu cepat berkata tidak atas permintaan-permintaannya, kurang mendengarkan atau memerhatikan dia, kurang menghormatinya sebagai manusia. Mungkin.

Yang jelas, latihan kemandirian tidak bisa dilakukan dengan maksimal hari ini.

Semoga besok bisa lebih baik.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kesebelas

Alhamdulillah gigi Nara udah nggak sakit katanya. Buah kembali habis dimakannya. Mandi pun mau buka baju sendiri, dan dia bisa buka dengan lancar baju lengan panjang. Lulus!

Tapi, saat disodori baju berkancing untuk berlatih membuka dan memasang kancing, Nara menolak. Dia sedang tidak ingin kelihatannya, jadi saya tidak memaksa.

Saat berganti baju tidur, Nara mau mencoba melepas kancing dan mengancing bajunya sendiri. Tapi dia masih kesulitan, terutama saat mengancing. Saya pun memberikan bantuan.

Besok kita coba lagi deh ya, Kak.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kesepuluh

Kemarin malam, Nara berlatih dengan membuka kancing baju adiknya. Mama mencontohkan dengan analogi memasukkan koin ke dalam celengan, yang biasa dilakukan Nara.

Beberapa kali sebelum ini, Nara pernah berhasil membuka kancing bajunya. Namun kadang dia tidak sabar, kadang saya yang tidak sabar. Kali ini, saya dan Nara membuat kesepakatan untuk mulai berlatih agar lebih lancar.

Setelahnya, saya sengaja menyodorkan piyama berkancing saat Nara hendak mengganti pakaian sebelum tidur. Nara setuju, karena dia juga semangat ingin berlatih.

Nara berhasil mengenakan sendiri bajunya dengan sedikit bantuan.

Namun pagi ini, Nara bangun dengan menangis. Awalnya karena mencari saya. Sepertinya dia mimpi buruk, karena biasanya dia tidak menangis seperti itu. Kemudian, saat makan buah, dia mengeluh giginya sakit 😢

Akibatnya, selain Nara tidak menghabiskan buahnya, dia juga jadi sedikit rewel. Maunya dekat-dekat saya, semua maunya dibantu oleh saya, termasuk membukakan bajuanya saat hendak mandi. Hingga sore inipun masih begitu.

Mudah-mudahan besok sudah lebih baik dan mau kembali melakukan banyak hal sendiri ya, Kak.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kesembilan

Kalau biasanya Nara minta dibukakan baju saat ingin mandi, kali ini dia langsung mencoba membuka baju sendiri. Nara sempat memanggil saya, tapi saat saya mau membimbingnya, dia sudah mengangkat bajunya dan berhasil mengeluarkan sebelah tangannya. Bukan cara yang saya ajarkan, tapi tidak masalah, saya semangati dia untuk melanjutkannya. Yay! Selamat ya, Kak.

Sorenya, Nara membuka baju sendiri lagi sebelum mandi. Ternyata orangtua memang hanya perlu memberi kesempatan pada anak ya. Kadang mereka sebenarnya sudah bisa atau hanya perlu berlatih sedikit. Orangtua hanya perlu percaya.

Besok kita coba latihan dengan baju yang berkancing deh ya ;D

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kedelapan

Nara semakin lancar buang air sendiri di kamar mandi. Hari ini, setelah mengatakan kepadanya mengenai hal itu untuk mengapresiasinya, kami membicarakan apa lagi yang mau dipelajari, mengingat kegiatan sebelumnya kami anggap sudah bisa.

Untuk melengkapi rangkaian kegiatan ke kamar mandi, kami menyepakati untuk melatih kemampuannya membuka baju.

Selama ini, Nara baru bisa membuka sendiri baju yang longgar atau kaus dalam, selebihnya masih kesulitan. Sementara kegiatan memakai baju, memakai dan membuka celana, hingga memakai kaus kaki dan sepatu/sandal sudah cukup lancar dilakukannya.

Saat mengganti bajunya yang basah siang tadi, Nara bisa melakukannya sendiri karena bajunya cukup longgar. Sore ini, waktu hendak mandi, dia kesulitan membuka bajunya. Daripada membantunya, saya pun mulai mengajarkan caranya kepada Nara.

Nara tampak masih kesulitan mengikuti contoh yang saya tunjukkan. Dia juga sempat main-main, membuat saya ingin marah dan tertawa sekaligus. Untung yang akhirnya keluar adalah tawa. Nara jadi tidak kehilangan semangat meneruskan usahanya.

Dengan sedikit bantuan saya, Nara berhasil membuka bajunya. Saya reflek bertepuk tangan. Nara juga terlihat senang. Besok kita latihan lagi biar makin lancar ya, Kak 😘

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Ketujuh

Siang ini, saat Nara mau buang air, saya membiarkannya ke kamar mandi sendiri, sementara saya melihat dari jauh. Saat itu lampu kamar mandi menyala, jadi saya tidak perlu membantunya.

Waktu saya kemudian menghampirinya, dia baru selesai mencuci tangan. Dory sudah kembali ke tempatnya, dia kemudian dengan sigap mengembalikan kursinya.

Nara hanya lupa menutup pintu, yang saya ingatkan dengan ringan. Setelah menutup pintunya, dia segera mengambil celana lalu mengenakannya.

Sorenya juga begitu. Hanya kali ini saya membantu menyalakan lampu.

Barusan saja, Nara kembali melakukan hal yang sama. Ayahnya hanya membanty menyalakan lampu, lalu meninggalkannya, sementara saya menyusui Kyna.

Setelahnya, Nara memang dipakaikan celananya oleh Ayah. Tapi secara garis besar rasanya kami sudah bisa menambah keahlian kemandirian baru.