Tag Archives: Kelas Bunda Sayang

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Keenam

Ini hari kedua saya mengajak Nara menonton video “Sentuhan Boleh, Sentuhan Tidak Boleh” sebagai bagian dari penjelasan mengenai area pribadi dan bagaimana kita harus menjaganya. Saya juga menerangkan bahwa itulah sebabnya saya ingin dia bisa memenuhi kebutuhannya di kamar mandi sendiri.

Saya ingin Nara dan Kyna mengerti bahwa tubuh mereka berharga. Mereka yang paling berhak atas tubuh tersebut. Siapapun perlu minta izin terlebih dahulu untuk bisa menyentuhnya, dan mereka berhak menolak jika merasa tidak nyaman. Mereka pun tidak boleh sembarangan melihat area pribadi orang lain, apalagi menyentuhnya.

Itu juga mengapa saya membiasakan mereka minta izin saat ingin menggunakan barang orang lain dan tidak memaksa mereka meminjamkan atau memberikan barang mereka pada orang lain kalau mereka tidak mau. Harapannya, mereka jadi menghargai kepemilikan, bahwa tiap orang berhak atas benda miliknya. Sehingga mereka tidak memaksa saat meminjam atau meminta sesuatu dari orang lain, juga tidak mudah memberikan miliknya karena perasaan tidak enak atau tekanan dari pihak lain.

Jika pun ingin berbagi, mereka berbagi karena ingin, dengan sukarela dan senang hati. Berbagi sambil menikmati kebahagiaan dari perbuatan itu, bukan karena disuruh orang lain.

Kembali ke keahlian Nara buang air dengan mandiri, hari ini highlight-nya adalah konsekuensi. Saya mencoba menunjukkan pada Nara bahwa setiap pilihan yang dia ambil akan berpengaruh pada hasil yang dia terima setelahnya.

Misalnya saat dia langsung mencuci tangan tanpa menaruh Dory terlebih dahulu setelah buang air, artinya dia harus mencuci tangan kembali setelah menaruh Dorynya. Atau saat dia tidak mau memakai Dory saat buang air, akibatnya dia tidak bisa cebok dengan baik karena dia harus menahan tubuhnya dengan tangan agar tidak jatuh ke dalam WC 😆 Sehingga akhirnya, tanpa saya harus menyuruh, dia mengambil Dory dan kursi lalu kembali menggunakannya agar bisa cebok.

Semoga dengan demikian, Nara menemukan sendiri alasannya melakukan sesuatu, juga bisa dengan sadar mengambil suatu pilihan beserta konsekuensi yang mengikutinya.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Aliran Rasa

Menurut saya, tantangan 10 hari, yang menjadi bentuk tugas Kelas Bunda Sayang ini sangat efektif. Untuk Game Level 1 tentang Komunikasi Produktif ini misalnya. Saya dan mahasiswa lainnya didorong untuk memraktekkan poin dan kaidah komunikasi produktif yang telah kami pelajari dari materi yang diberikan, secara konsisten selama paling tidak sepuluh hari. Hal ini “memaksa” saya untuk mengingat-ingat tiap poin yang ada, lemudian mencobanya, tidak hanya untuk sehari, namun minimal sepuluh hari.

Padahal, sebelum ada tantangan ini, niat untuk memperbaiki pola dan kualitas komunikasi dalam keluarga sudah ada. Berbagai teori pun sudah pernah dibaca. Namun, prakteknya selalu teetunda. Seringnya juga bingung hendak mulai dari mana.

Materi Bunda Sayang yang dibuat ringkas dan jelas dengan daftar poin sungguh memudahkan saya mengingat, memahami, dan menerapkan semuanya satu per satu.

Hasilnya juga menyenangkan, baik bagi ketenangan hati saya maupun reaksi anak-anak dan hubungan saya dengan mereka.

Melakukan tantangan ini secara konsisten selama sepuluh hari berturut-turut menumbuhkan kepercayaan diri saya untuk bisa terus berkomunikasi produktif, juga membuat saya ketagihan untuk meneruskannya di sepanjang hidup saya. Walaupun dalam hal membuat laporan, saya gagal meneruskan sampai 15 hari atau lebih. Sampai saat ini pun, saya masih terus berjuang agar lebih banyak poin komunikasi produktif yang saya terapkan.

Semoga tantangan berikutnya bisa saya jalani dengan lebih baik dan membawa manfaat yang juga baik bagi diri, keluarga, juga sekitar saya ya. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesebelas | Family Forum

Niat hati ingin meneruskan post tentang komunikasi produktif ini sampai hari kelimabelas, yang merupakan pilihan yang bisa diambil dalam setiap tantangan kelas Bunda Sayang. Sayang disayang, handphone mendadak kereset, kemudian eror. Aktivitas seharian di luar rumah ditambah acara keluarga malam harinya, membuat saya kehabisan waktu untuk memulihkan handphone juga menulis lapoan hari itu. Akhirnya hari kesebelas pun berlalu begitu saja.

Saat memeriksa kembali laporan yang sudah saya buat, saya menemukan satu poin yang belum terpenuhi dalam daftar yang terlampir pada tiap post sebelumnya: Menyatakan Keinginan

Seringkali kita, sebagai orangtua, menyatakan apa yang tidak kita inginkan. Misalnya:
“Mama nggak mau Kakak lempar-lempar barang kaya gitu, nanti rusak kan.”
“Jangan lari-lari, nanti jatuh.”
“Nggak usah main di situ, Ky, kotor.”

Ternyata, adalah lebih produktif dan efektif, jika kita menyatakan keinginan secara positif. Untuk contoh di atas, alternatifnya misalnya:
“Mama mau Kakak jaga mainannya, bisa ditaruh pelan-pelan ya.”
“Berjalan. Jaga keseimbangan.”
“Kyna main di sebelah sini aja, ya.”

Untuk hal yang berbahaya, kita bisa menjelaskan sebelumnya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan juga alasannya, sehingga saat hal itu dilakukan, kita tinggal mengingatkannya saja.

Berhubungan dengan hal itu, juga satu utang tugas lagi untuk dilakukan, yaitu: Family Forum atau forum untuk berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga membahas apa saja yang dirasa perlu pada saat itu.

Untuk Family Forum kali ini saya mengusulkan untuk membahas Kesepakatan Bersama, sesuatu yang sudah lama ingin saya susun bersama keluarga, namun terus tertunda.

Kesepakatan Bersama merupakan daftar hal-hal yang ingin dibentuk dalam keluarga. Mirip seperti peraturan, namun bedanya, ini disusun dan disepakati oleh seluruh anggota keluarga. Anggota keluarga bisa duduk bersama untuk membicarakan hal apa yang dirasa perlu diubah atau dibiasakan agar kehidupan dalam keluarga menjadi lebih baik.

Panduan Kesepakatan Bersama
Panduan Membuat Kesepakatan Bersama

Poin nomor lima dalam panduan di atas sekaligus memenuhi poin “Menyatakan Keinginan, Bukan yang Tidak Diinginkan” dalam komunikasi produktif.

18-09-22-21-51-00-048_deco

Hasil Family Forum pertama kami tertera pada foto di atas. Forum berjalan cukup baik. Walau Kyna lebih suka meloncat dari meja ke kasur, Nara yang terkadang ikut serta masih bisa diajak berbicara dan menanggapi kesepakatan yang akan dibuat. Kami berusaha memilih kalimat yang jelas dan positif, menyatakan keinginan kami, alasan dan konsekuensinya, memberikan pilihan, juga mendengarkan masukannya.

Semoga pelaksanaannya juga lancar ya.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesepuluh

Hari ini usia Nara genap tiga tahun. Sejak jauh-jauh hari, saya sudah memberitahu dia tentang hari ini. Ini terutama berkaitan dengan kesapakatan kami bahwa dia akan berhenti menyusu pada usia tiga tahun.

Selebihnya, saya menceritakan apa saja yang akan kami lakukan pada hari itu, siapa yang akan datang, bagaimana sikapnya terhadap mereka, termasuk juga bahwa sebelumnya akan ada acara lamaran tantenya, adik bungsu saya.

Nara menanti-nanti hari ini. Setiap hari dia menanyakan apakah hari itu sudah ulang tahunnya atau apakah umurnya sudah tiga tahun. Dia juga sibuk memilih mau seperti apa kuenya, bertanya-tanya akan mendapat hadiah apa, dan seterusnya.

Saat hari ulang tahunnya akhirnya tiba, Nara terlihat senang dan bersemangat. Dia ingin segera memotong kue dan membuka kadonya. Saya ingatkan kembali kalau semua itu akan kami lakukan setelah acara tantenya selesai.

Biasanya, Nara perlu waktu untuk beradaptasi saat bertemu orang baru. Dalam proses beradaptasi itu, dia bisa menjadi diam saja, tidak mau salam, tidak mau menjawab pertanyaan, tidak mau makan atau melakukan apa-apa selain berdiri dan mengamati, duduk di dekat saya, atau minta digendong. Tapi hari ini, Nara ringan bercerita pada siapa saja, menjawab saat ditanya, cium tangan, mau menolong saat diminta salah seorang saudara, seru bermain dan membaca buku dengan saudara yang jarang bertemu sekalipun.

Saya pikir salah satu penyebabnya karena pijakan yang telah saya buat sebelumnya dengan menceritakan kepada Nara tentang hari ini, yang memberinya gambaran apa yang akan terjadi, mempersiapkannya secara mental sebelum menghadapinya secara fisik.

Malamnya, saat berbaring di tempat tidur bersama Nara, saya mengapresiasi sekaligus mengobservasi perilakunya hari ini.

“Kakak hari ini mau salim sama semuanya, mau menjawab pertanyaan, cerita-cerita, nolongin Nem, ya. Berani ya, Kakak. Kakak senang hari ini?”

“Senang, Ma.”   Jawab Nara, yang dilanjutkan dengan cerutanya tentang apa yang dilakukannya hari itu; bermain bersama Kak Nafisah, membaca buku sama Makwe dan Onty, menyelotip bukunya yang robek, dan seterusnya.

Saya menimpali seperlunya, mendengarkan sepuasnya.

Semoga kesenangan Nara hari ini menjadi bekal untuk menghadapi hari-hari selanjutnya, berkah selalu usia Nara, bahagia dunia akhirat. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesembilan

Kadang saya tidak yakin bisa konsisten melakukan komunikasi produktif ini. Tadi saja karena merasa lelah sepulang bekerja, saya jadi tidak sabaran. Maunya anak-anak langsung mengikuti apa yang saya minta, saya jadi cenderung memaksa, ucapan bernada kesal pun beberapa kali terlontar.

Anak-anak kabarnya tidak tidur sejak pagi tadi, tapi entah kenapa tidak langsung tidur saat saya bawa ke kamar. Beberapa kali Kyna menyusu, tapi kemudian keluar kamar lagi. Kyna yang sedang belajar pipis di kamar mandi juga bolak-balik membuka celananya, padahal tudak ada pipis yang keluar saat didudukkan di atas WC 😅

Nara yang masih enggan sikat gigi, menolak tidur karena kalau mau tidur harus sikat gigi dulu. Dia cari-cari alasan untuk menunda. Mau makan dulu, mau menghabiskan makanan yang tadi tidak habis (yang akhirnya tetap tidak dihabiskan), mau lihat Makly dulu, dan sebagainya.

Alhamdulillah Kyna akhirnya berhasil ditidurkan. Tapi Nara masih juga tidak mau sikat gigi, sementara jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Saya pun menggendong Nara ke kamar mandi.

Nara mulai menangis. Saya mencoba menawarkan pilihan, apa dia mau sikat gigi sendiri dulu atau langsung saya yang bantu sikatin. Dia tetap menangis, minta digendong, tidak mau sikat gigi. l

Saya sempat ingin memaksa menyikat giginya saja, biar cepat selesai. Namun saya memutuskan untuk mencoba bersabar lagi. Saya ingatkan Nara betapa beraninya dia kemarin, sikat gigi sendiri. Sikat giginya sudah mulai lancar,lama lagi.

“Ternyata Kakak udah bisa ya, Kak. Lama banget sikat giginya kemarin itu. Sampingnya masih kurang lancar, tapi kalau sering latihan pasti nanti juga bisa.”

Saya mengatakannya dengan penuh semangat disertai senyuman.

Nara mulai berhenti menangis, muncul binar di matanya.

“Coba Kak, Mama mau lihat lagi Kakak sikat gigi kaya kemarin. Lama banget loh itu, lurus lagi. Nggak kesakitan ya, Kakak.”

Nara mulai menyikat giginya dengan raut bangga. Dia kemudian membiarkan saya menyikat bagian yang belum bisa dia tuntaskan.

Setelahnya dia ganti baju dan berbaring di tempat tidur tanpa protes. Mungkin juga karena sudah mengantuk. Tidak lama, Nara pun tertidur lelap. Alhamdulillah.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedelapan

Ternyata, bukan saja saat mengritik namun saat memuji/ mengapresiasi anak pun kita perlu secara spesifik menyebutkan sikap atau perbuatan mana yang kita hargai atau yang menurut kita perlu mereka perbaiki.

Masuk akal sih. Anak jadi tahu persis apa yang baik atau tidak baik untuk dilakukan, kenapa, dan bagaimana memperbaikinya. Dia juga tahu kita menghargai proses yang dia jalani dan tetap menyayanginya apapun yang terjadi. Perbuatannya yang tidak kita sukai, bukan pribadinya. Usahanya yang kita lihat bukan hanya hasilnya.

Hari ini saya berlatih menerapkan ini pada Nara dan Kyna.

“Mama lihat Kyna sudah mulai bisa bilang kalau mau pipis. Good job, Kyna!” Kata saya saat Kyna berhasil buang air kecil di kamar mandi.

“Mama senang, Nara tadi sikat giginya tidak menangis. Mau sikat gigi sendiri juga disikatin Mama.” Ucap saya pada Nara, yang beberapa malam belakangan suka menangis saat waktunya sikat gigi.

“Kalau Nara kesulitan, bisa minta tolong Mama. Tidak baik melempar barang begitu ya.” Ujar saya kepada Nara yang melempar baju gantinya saat hendak mandi di kamar mandi atas, dengan alasan tidak bisa membawanya.

Nara terlihat lebih senang dan bisa menerima pesannya dengan cara ini. Kyna sih, senyum-senyum aja seperti biasa :))
Mudah-mudahan cara ini memiliki dampak yang baik untuk jangka panjang ya.

Untuk saya pribadi, cara ini juga membantu saya mengenali emosi juga keinginan saya, apa yang saya suka atau tidak suka dari perilaku anak, apa yang saya mau mereka perbaiki dan bagaimana. Saya juga jadi berlatih untuk tidak mudah melabeli anak, lebih banyak mengamati, menghargai usaha mereka sekecil apapun, dan memisahkan antara pribadi mereka dengan perbuatannya.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Ketujuh

Kadang kita suka lupa kalau sel-sel otak anak-anak belum bersambungan dengan sempurna. Fokus mereka juga belum sepanjang orang dewasa. Sehingga kalimat yang terlalu panjang belum tentu bisa ditangkap sepenuhnya. Apalagi kalau berupa omelan. Bisa-bisa kita sudah mengomel panjang lebar dari depan ke belakang, namun tidak ada yang ditangkap anak 😅

Begitu juga saat meminta anak melakukan sesuatu. Saya kadang juga suka lupa, meminta Nara atau Kyna melakukan banyak hal sekaligus. Maksudnya sih mumpung ingat kan, sekalian gitu. Harapannya biar sekali bicara semua beres. Tapi tidak begitu kenyataannya. Kadang hanya satu hal yang disebutkan di awal/ akhir yang dikerjakan, atau malah nggak dikerjakan sama sekali. Mungkin bingung ya, mungkin juga jadi malas karena kok rasanya banyak betul 😆

Mengingat hal itu, saya mencoba menerapkan KISS (Keep Informafion Short and Simple) saat berbicara dengan Nara hari ini.

Misalnya saat buku-buku belum dikembalikan pada raknya, sementara Nara perlu mencuci tangannya dan meletakkan wadah bekas makan agar-agar di tempat cuci piring. Daripada mengatakan semuanya sekaligus, saya menyebutkannya satu per satu.

“Kak, tempat agarnya tolong taruh di belakang dulu ya.”

Saat dia sudah sampai di dapur, baru saya menambahkan,

“Sekalian cuci tangan ya, Kak.”

Saat dia sudah kembali ke ruang keluarga, baru saya memintanya membereskan buku-bukunya.

Lebih efektif dan menghemat energi sih, daripada harus mengatakan perintah yang sama berulang-ulang. Belum lagi, kalau kesabaran sedang tipis, nada bisa berubah dari datar menjadi kesal, padahal kesalahan terletak pada diri yang kurang pemahaman. Duh, astaghfirullah. Maaf ya, Kak. Semoga Mama bisa terus belajar berkomunikasi dengan lebih baik dan produktif.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Keenam

Sejak bulan Agustus yang lalu, Nara yang tadinya masih menyusu saat akan tidur siang dan malam, hanya menyusu saat akan tidur malam saja.  Itu berdasarkan kesepakatan kami sebelumnya, sebagai tahapan menuju penyapihan sepenuhnya saat dia berulang tahun di pertengahan September.

Dampaknya, Nara jadi nyaris tidak pernah tidur siang .

Nara memang cenderung sulit tidur siang. Saat masih menyusu pun, butuh waktu cukup lama hingga dia tertidur. Kadang juga tidak berhasil tidur. Setelah tidak menyusu, semakin sulit baginya untuk pergi ke alam tidur.

Kali ini, dia pun tidak bisa tidur, padahal sudah mengantuk, yang berakibat rewel semakin menjadi. Awalnya dia minta digendong. Setelah menitipkan Kyna pada atoknya (ayah saya), saya mulai menimangnya sambil bersenandung. Terlihat Nara berusaha memejamkan mata, tapi tudak lama, dia membukanya lagi.

Setelah beberapa saat, saya merasa lelah, lalu menawarkan kepadanya untuk berbaring bersama saya. Nara setuju. Kami berbaring bersebelahan.

Sambil memeluk boneka kesayangannya, Nara berusaha tidur, membolak-balik badannya, lalu mulai merengek karena merasa kesulitan.

“Nara, bisa kok nak, tidur tanpa nenen.”
“Ndak bisa, Ma.”
“Bisa kok, sayang. Kan sebelumnya udah pernah. Nara bisa bobo sendiri.” Balas saya lagi sambil mengusap-ngusap punggungnya.

Nara mengeluarkan keluhan kecil,  kemudian membalik badan menghadap saya, masuk dalam pelukan saya.

Saya mengusap kepalanya. Lalu berbaring di sana dalam tidur, sampai akhirnya ketiduran 😂

Saat saya terbangun beberapa menit kemudian, Nara sudah tidur.

Anak saya, tidur sendiri tanpa menyusu. Ternyata dia memang bukan bayi lagi ya :’)

Orangtua perlu percaya anaknya bisa, bahkan sebelum mereka percaya bahwa dirinya bisa. Mengganti kata “tidak bisa” menjadi “bisa”  dapat menjadi pilihan saat berkomunikasi dengan mereka.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Keempat

Belakangan ini, Nara sungguh penuh drama. Sedikit saja merasa tidak nyaman atau ada yang tidak sesuai keinginannya, dia akan mulai merengek, berteriak, atau menangis. Dia ingin terus berada di dekat saya.

Dugaan saya, karena hari penyapihannya semakin dekat. Dia tahu, karena saya terus mengingatkannya. Nara sudah sepakat, bahwa pada hari ulang tahunnya yang ke tiga, dia akan berhenti menyusu. Dia tahu dan setuju, tapi tampaknya tidak berarti itu mudah baginya.

Saya berusaha memahami Nara, karena dia tidak biasanya seperti itu. Menangis saat harus mandi, berteriak saat cara mandinya salah, minta digendong, marah saat harus makan nasi dulu sebelum makan kue atau minum susu.

Setelah mandi sore tadi, yang juga penuh drama, Nara bilang dia mau makan bakwan yang tadi pagi dibeli ayahnya. Saat mengetahui bahwa bakwannya sudah tidak ada, dia mulai merengek, terus mengulang-ngulang dia mau bakwan. Saya lalu mencoba merefleksikan pengalaman saya.

“Dulu, Mama juga pernah, pengen makan bakwan, tapi ternyata sudah habis. Mama kecewa sih, rasanya kesal, karena Mama belum sempat makan, eh, udah keduluan yang lain. Tapi terus Mama pikir, masih banyak makanan lain. Nggak apa-apa deh. Besok-besok bisa beli bakwan lagi.”

Tanpa saya duga, wajah Nara langsung berubah jadi ceria.

“Sama kaya Kakak ya, Ma.” Ujarnya dengan mata berbinar.

Setelahnya, dia langsung tertawa-tawa lagi, tidak lagi meminta bakwannya.

Ternyata, pesan-pesan memang bisa jadi lebih mudah diterima saat disampaikan dengan ringan, sekadar berbagi pengalaman, tanpa terkesan menggurui ya. Mungkin dengan demikian, anak juga merasa tidak sendirian dan dimengerti.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedua

Suara tangisan dan teriakan terdengar dari kamar mandi di lantai bawah. Saya yang sedang di lantai dua rumah kami bergegas turun.

Dalam kamar mandi, ibu saya sedang mencoba berbicara dengan Nara yang baru selesai buang air besar. Rupanya, Nara hanya mau dibersihkan oleh saya. Dia menangis dan melempar semprotan yang biasa digunakan untuk cebok. Bajunya juga basah. Kata ibu saya, Nara tadi berusaha mengambil semprotannya sendiri, lalu tidak sengaja tersemprot.

Saya menarik napas, menenangkan diri, lalu berusaha menenangkan Nara. Saya berjongkok agar mata saya sejajar dengan matanya, lalu saya mulai berbicara.

“Nara maunya dicebok Mama ya?”
“Iya, Ma.”
“Nara kesal, karena Nely (panggilan Nara untuk ibu saya) mau cebokin Nara?”
“Iya, Nara nggak mau.”
“Mama mengerti. Nely kan cuma mau bantu Nara. Nely kasihan karena Nara lama tunggu Mama.”

Sampai di sini, Nara menangis lalu memeluk saya. Mungkin menyesal, mungkin juga mau mencari kenyamanan. Sambil memeluknya, saya melanjutkan.

“Kalau Nara tidak mau, bisa bicara baik-baik ya, bilang sama Nely kalau Nara mau tunggu Mama aja.”
“Ok. Sekarang Mama cebokin Nara dulu ya.”

Keluar dari kamar mandi, Nara sudah berhenti menangis. Sambil membuka bajunya yang basah, saya kembali mengajaknya bicara.

“Tadi kenapa semprotannya dilempar?”
“Nara nggak bisa taruhnya.”
“Bisa minta tolong aja kalau nggak bisa ya, Kak. Nggak perlu dilempar.”

“Habis ini kita pakai baju, terus salim Nely ya.”
“Nggak mau, Ma.”
“Tadi kan Kakak marah-marah sama Nely. Mau salim sendiri atau Mama temenin?”
“Mau ditemenin, Ma.”

Percakapan di atas mungkin belum sempurna. Tapi paling tidak, saya berhasil mengendalikan emosi. Saya menatap mata Nara, menjaga intonasi suara, dan menerima emosi-nya.

Terasa sekali bedanya bagaimana Nara juga jadi lebih cepat menenangkan diri. Mau mendengarkan saya, mau juga diajak salim sama Nelynya, tanpa banyak drama yang biasanya terjadi.

Ternyata memang tidak perlu banyak perang urat leher dalam berkomunikasi produktif ya, apalagi dengan anak. Belajar memahami lawan bicara, mau mendengarkan dan menghargai, baru kemudian menyampaikan pesan kita. Hati lebih tenang, anak senang, tidak ada kerusakan tambahan yang tidak diperlukan.