Tag Archives: Kelas Bunda Sayang Batch 4

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Aliran Rasa

Seperti yang pernah saya tulis tentang matrikulasi, yang menarik dari materi dan tantangan Kelas Bunda Sayang ini adalah keterkaitannya.

Setiap materi, yang tentunya diikuti oleh tantangan, menunjang materi setelahnya dan dapat menggunakan materi sebelumnya untuk mendukung keberhasilan tantangan yang sedang dihadapi.

Dalam tantangan game level 2 ini misalnya, saat melatih kemandirian anak, saya perlu mengasah kembali komunikasi produktif dengan Nara, agar dia dapat menangkap pesan saya dengan baik dan saya mampu mendengarkan kebutuhannya dengan penuh empati.

Saya sungguh banyak belajar dari tantangan kali ini. Tentang pentingnya kemandirian, perlunya orang tua melepaskan, menahan diri untuk tidak mudah membantu, berkomentar atau mengoreksi, memberi kepercayaan pada anak, bahwa mereka bisa dan perlu belajar untuk bisa. Saya juga belajar kapan harus konsisten, kapan harus lebih santai.

Dalam melatih kemandirian ini, penting bagi anak untuk melakukannya dengan sukarela dengan motivasi dari dalam dirinya. Sehingga saya kemudian berhenti terlalu memaksakan diri apalagi Nara dalam melakukan sesuatu atau mencapai target tertentu.

Saya akhirnya bisa lebih baik dalam melihat apa yang sedang ingin dia lakukan sendiri dan memanfaatkan hal itu. Saya juga menerima kalau terkadang dia sedang ingin dibantu, maka saya memberi kelonggaran pada saat itu.

Saya semakin menyadari bahwa untuk menjadi mandiri, anak perlu terlebih dahulu yakin bahwa orang tua ada untuknya, siap mendukung dan mendampinginya. Dengan demikian, dia bisa dengan tenang mulai melepaskan diri, melakukan hal-hal baru untuknya sendiri.

Saya sudah mulai melatih kemandirian ini sebelumnya. Namun tantangan ini membuat saya lebih memperhatikan apa yang saya lakukan, melakukannya dengan konsisten, dan lebih cermat dalam mengobservasi serta mengevaluasi.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kedua

Pada hari kedua ini, Nara masih perlu diingatkan tahapan yang bisa dia lakukan saat ingin buang air.

Tapi, jika sebelumnya saya selalu menyuruhnya membuka celana saat dia bilang ingin buang air, sekarang saya mengubahnya jadi bentuk pertanyaan, “Bagaimana kalau ingin buang air?”

Kadang dia ingat semua tahapannya, kadang masih perlu saya bantu. Sebisa mungkin saya hanya memberi petunjuk-petunjuk seperti, “Ada yang ketinggalan nggak?” Saat Nara lupa meletakkan kursi kembali ke tempatnya atau belum menutup pintu.

Nara juga masih belum terbiasa mengangkat bajunya sebelum duduk di atas Dory, jadi masih saya ingatkan.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Aliran Rasa

Menurut saya, tantangan 10 hari, yang menjadi bentuk tugas Kelas Bunda Sayang ini sangat efektif. Untuk Game Level 1 tentang Komunikasi Produktif ini misalnya. Saya dan mahasiswa lainnya didorong untuk memraktekkan poin dan kaidah komunikasi produktif yang telah kami pelajari dari materi yang diberikan, secara konsisten selama paling tidak sepuluh hari. Hal ini “memaksa” saya untuk mengingat-ingat tiap poin yang ada, lemudian mencobanya, tidak hanya untuk sehari, namun minimal sepuluh hari.

Padahal, sebelum ada tantangan ini, niat untuk memperbaiki pola dan kualitas komunikasi dalam keluarga sudah ada. Berbagai teori pun sudah pernah dibaca. Namun, prakteknya selalu teetunda. Seringnya juga bingung hendak mulai dari mana.

Materi Bunda Sayang yang dibuat ringkas dan jelas dengan daftar poin sungguh memudahkan saya mengingat, memahami, dan menerapkan semuanya satu per satu.

Hasilnya juga menyenangkan, baik bagi ketenangan hati saya maupun reaksi anak-anak dan hubungan saya dengan mereka.

Melakukan tantangan ini secara konsisten selama sepuluh hari berturut-turut menumbuhkan kepercayaan diri saya untuk bisa terus berkomunikasi produktif, juga membuat saya ketagihan untuk meneruskannya di sepanjang hidup saya. Walaupun dalam hal membuat laporan, saya gagal meneruskan sampai 15 hari atau lebih. Sampai saat ini pun, saya masih terus berjuang agar lebih banyak poin komunikasi produktif yang saya terapkan.

Semoga tantangan berikutnya bisa saya jalani dengan lebih baik dan membawa manfaat yang juga baik bagi diri, keluarga, juga sekitar saya ya. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesebelas | Family Forum

Niat hati ingin meneruskan post tentang komunikasi produktif ini sampai hari kelimabelas, yang merupakan pilihan yang bisa diambil dalam setiap tantangan kelas Bunda Sayang. Sayang disayang, handphone mendadak kereset, kemudian eror. Aktivitas seharian di luar rumah ditambah acara keluarga malam harinya, membuat saya kehabisan waktu untuk memulihkan handphone juga menulis lapoan hari itu. Akhirnya hari kesebelas pun berlalu begitu saja.

Saat memeriksa kembali laporan yang sudah saya buat, saya menemukan satu poin yang belum terpenuhi dalam daftar yang terlampir pada tiap post sebelumnya: Menyatakan Keinginan

Seringkali kita, sebagai orangtua, menyatakan apa yang tidak kita inginkan. Misalnya:
“Mama nggak mau Kakak lempar-lempar barang kaya gitu, nanti rusak kan.”
“Jangan lari-lari, nanti jatuh.”
“Nggak usah main di situ, Ky, kotor.”

Ternyata, adalah lebih produktif dan efektif, jika kita menyatakan keinginan secara positif. Untuk contoh di atas, alternatifnya misalnya:
“Mama mau Kakak jaga mainannya, bisa ditaruh pelan-pelan ya.”
“Berjalan. Jaga keseimbangan.”
“Kyna main di sebelah sini aja, ya.”

Untuk hal yang berbahaya, kita bisa menjelaskan sebelumnya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan juga alasannya, sehingga saat hal itu dilakukan, kita tinggal mengingatkannya saja.

Berhubungan dengan hal itu, juga satu utang tugas lagi untuk dilakukan, yaitu: Family Forum atau forum untuk berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga membahas apa saja yang dirasa perlu pada saat itu.

Untuk Family Forum kali ini saya mengusulkan untuk membahas Kesepakatan Bersama, sesuatu yang sudah lama ingin saya susun bersama keluarga, namun terus tertunda.

Kesepakatan Bersama merupakan daftar hal-hal yang ingin dibentuk dalam keluarga. Mirip seperti peraturan, namun bedanya, ini disusun dan disepakati oleh seluruh anggota keluarga. Anggota keluarga bisa duduk bersama untuk membicarakan hal apa yang dirasa perlu diubah atau dibiasakan agar kehidupan dalam keluarga menjadi lebih baik.

Panduan Kesepakatan Bersama
Panduan Membuat Kesepakatan Bersama

Poin nomor lima dalam panduan di atas sekaligus memenuhi poin “Menyatakan Keinginan, Bukan yang Tidak Diinginkan” dalam komunikasi produktif.

18-09-22-21-51-00-048_deco

Hasil Family Forum pertama kami tertera pada foto di atas. Forum berjalan cukup baik. Walau Kyna lebih suka meloncat dari meja ke kasur, Nara yang terkadang ikut serta masih bisa diajak berbicara dan menanggapi kesepakatan yang akan dibuat. Kami berusaha memilih kalimat yang jelas dan positif, menyatakan keinginan kami, alasan dan konsekuensinya, memberikan pilihan, juga mendengarkan masukannya.

Semoga pelaksanaannya juga lancar ya.