Tag Archives: Kelas Bunda Sayang Batch 4

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kedua

Pada hari kedua ini, Nara masih perlu diingatkan tahapan yang bisa dia lakukan saat ingin buang air.

Tapi, jika sebelumnya saya selalu menyuruhnya membuka celana saat dia bilang ingin buang air, sekarang saya mengubahnya jadi bentuk pertanyaan, “Bagaimana kalau ingin buang air?”

Kadang dia ingat semua tahapannya, kadang masih perlu saya bantu. Sebisa mungkin saya hanya memberi petunjuk-petunjuk seperti, “Ada yang ketinggalan nggak?” Saat Nara lupa meletakkan kursi kembali ke tempatnya atau belum menutup pintu.

Nara juga masih belum terbiasa mengangkat bajunya sebelum duduk di atas Dory, jadi masih saya ingatkan.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Aliran Rasa

Menurut saya, tantangan 10 hari, yang menjadi bentuk tugas Kelas Bunda Sayang ini sangat efektif. Untuk Game Level 1 tentang Komunikasi Produktif ini misalnya. Saya dan mahasiswa lainnya didorong untuk memraktekkan poin dan kaidah komunikasi produktif yang telah kami pelajari dari materi yang diberikan, secara konsisten selama paling tidak sepuluh hari. Hal ini “memaksa” saya untuk mengingat-ingat tiap poin yang ada, lemudian mencobanya, tidak hanya untuk sehari, namun minimal sepuluh hari.

Padahal, sebelum ada tantangan ini, niat untuk memperbaiki pola dan kualitas komunikasi dalam keluarga sudah ada. Berbagai teori pun sudah pernah dibaca. Namun, prakteknya selalu teetunda. Seringnya juga bingung hendak mulai dari mana.

Materi Bunda Sayang yang dibuat ringkas dan jelas dengan daftar poin sungguh memudahkan saya mengingat, memahami, dan menerapkan semuanya satu per satu.

Hasilnya juga menyenangkan, baik bagi ketenangan hati saya maupun reaksi anak-anak dan hubungan saya dengan mereka.

Melakukan tantangan ini secara konsisten selama sepuluh hari berturut-turut menumbuhkan kepercayaan diri saya untuk bisa terus berkomunikasi produktif, juga membuat saya ketagihan untuk meneruskannya di sepanjang hidup saya. Walaupun dalam hal membuat laporan, saya gagal meneruskan sampai 15 hari atau lebih. Sampai saat ini pun, saya masih terus berjuang agar lebih banyak poin komunikasi produktif yang saya terapkan.

Semoga tantangan berikutnya bisa saya jalani dengan lebih baik dan membawa manfaat yang juga baik bagi diri, keluarga, juga sekitar saya ya. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesebelas | Family Forum

Niat hati ingin meneruskan post tentang komunikasi produktif ini sampai hari kelimabelas, yang merupakan pilihan yang bisa diambil dalam setiap tantangan kelas Bunda Sayang. Sayang disayang, handphone mendadak kereset, kemudian eror. Aktivitas seharian di luar rumah ditambah acara keluarga malam harinya, membuat saya kehabisan waktu untuk memulihkan handphone juga menulis lapoan hari itu. Akhirnya hari kesebelas pun berlalu begitu saja.

Saat memeriksa kembali laporan yang sudah saya buat, saya menemukan satu poin yang belum terpenuhi dalam daftar yang terlampir pada tiap post sebelumnya: Menyatakan Keinginan

Seringkali kita, sebagai orangtua, menyatakan apa yang tidak kita inginkan. Misalnya:
“Mama nggak mau Kakak lempar-lempar barang kaya gitu, nanti rusak kan.”
“Jangan lari-lari, nanti jatuh.”
“Nggak usah main di situ, Ky, kotor.”

Ternyata, adalah lebih produktif dan efektif, jika kita menyatakan keinginan secara positif. Untuk contoh di atas, alternatifnya misalnya:
“Mama mau Kakak jaga mainannya, bisa ditaruh pelan-pelan ya.”
“Berjalan. Jaga keseimbangan.”
“Kyna main di sebelah sini aja, ya.”

Untuk hal yang berbahaya, kita bisa menjelaskan sebelumnya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan juga alasannya, sehingga saat hal itu dilakukan, kita tinggal mengingatkannya saja.

Berhubungan dengan hal itu, juga satu utang tugas lagi untuk dilakukan, yaitu: Family Forum atau forum untuk berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga membahas apa saja yang dirasa perlu pada saat itu.

Untuk Family Forum kali ini saya mengusulkan untuk membahas Kesepakatan Bersama, sesuatu yang sudah lama ingin saya susun bersama keluarga, namun terus tertunda.

Kesepakatan Bersama merupakan daftar hal-hal yang ingin dibentuk dalam keluarga. Mirip seperti peraturan, namun bedanya, ini disusun dan disepakati oleh seluruh anggota keluarga. Anggota keluarga bisa duduk bersama untuk membicarakan hal apa yang dirasa perlu diubah atau dibiasakan agar kehidupan dalam keluarga menjadi lebih baik.

Panduan Kesepakatan Bersama
Panduan Membuat Kesepakatan Bersama

Poin nomor lima dalam panduan di atas sekaligus memenuhi poin “Menyatakan Keinginan, Bukan yang Tidak Diinginkan” dalam komunikasi produktif.

18-09-22-21-51-00-048_deco

Hasil Family Forum pertama kami tertera pada foto di atas. Forum berjalan cukup baik. Walau Kyna lebih suka meloncat dari meja ke kasur, Nara yang terkadang ikut serta masih bisa diajak berbicara dan menanggapi kesepakatan yang akan dibuat. Kami berusaha memilih kalimat yang jelas dan positif, menyatakan keinginan kami, alasan dan konsekuensinya, memberikan pilihan, juga mendengarkan masukannya.

Semoga pelaksanaannya juga lancar ya.