Tag Archives: kebahagiaan

[Book Review] The Danish Way of Parenting

Akhirnya saya mulai membiasakan baca buku lagi mulai Maret lalu, seiring dengan pembentukan kebiasaan berkaitan dengan tugas Kelas Gemari Madya.

Salah satu kebiasaan yang mau dibangun kembali adalah rutin membaca buku minimal 20 halaman per hari. Bukan rencana baru memang. Tapi satu-satunya cara mengubah kegagalan menjadi keberhasilan adalah tidak berhenti mencoba, berusaha lagi dan lagi dengan semangat dan strategi baru. Kali ini cukup terbantu dengan aplikasi Habits dan Read More.

Buku “The Danish Way of Parenting” adalah buku kedua yang selesai dibaca dengan bantuannya.

Isi buku ini sebenarnya membantu dirinya sendiri untuk selesai dibaca dengan cepat sih. Menarik banget soalnya. Paling tidak untuk saya.

Bikin ngangguk-ngangguk setuju selama bacanya dan jadi pengen bagiin semuanya ke semua orang. Faktanya, beberapa bagian saya foto dan bagikan ke keluarga dekat untuk didiskusikan.

19-04-22-15-38-36-742_deco

Penulisnya, awalnya mencari tahu apa sih yang bikin Denmark dinobatkan jadi negara paling bahagia sedunia oleh World Happiness Report-nya PBB, bukan cuma setahun dua tahun tapi selama 40 tahun!

Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa salah satu faktor terbesar yang mempengaruhinya adalah pola pengasuhan.

Agak ngiri sih, sama orang Denmark. Soalnya, seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, pola asuh turun-temurun itu bukan sesuatu yang mudah untuk diubah. Kebanyakan kita di Indonesia berjuang untuk tidak mengulang pola asuh yang kurang efektif yang sudah tertanam selama puluhan tahun kita hidup sebagai anak. Pola asuh yang sudah ada dari zaman orang tua, kakek nenek, bahkan barangkali nenek moyang kita 😅

Nah, orang Denmark juga sama. Mereka punya filosofi dan pola asuh warisan. Bedanya, pola asuh yang mereka wariskan itu adalah yang secara teori parenting baru kita usahakan untuk diterapkan. Pola asuh yang terbukti menghasilkan anak-anak yang tangguh, baik dalam pengelolaan emosi, serta bahagia. Anak-anak yang bahagia ini kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, yang kembali melakukan dan mewariskan pola asuh yang sama ke anak-anak mereka. Begitu seterusnya hingga Denmark pun menjadi negara paling bahagia sedunia selama puluhan tahun.

Penulis membagi buku ini ke dalam 7 bab. Bab pertama meminta kita “Mengenali Apa yang Menjadi Pembawaan Alami Kita”. Mengamati setelan bawaan atau kecenderungan alami kita dalam bereaksi, khususnya sebagai orang tua, membantu kita memutuskan mana yang mau kita ubah dan seperti apa. Sehingga kita tidak hanya mengulang apa yang sudah tertanam, yang kebanyakan berasal dari cara kita dibesarkan.

Pada bab-bab selanjutnya, penulis menjabarkan prinsip pengasuhan ala Denmark yang dibagi menggunakan singkatan PARENT (Play; Authenticity; Reframing; Empathy; No Ultimatum; Togetherness). Tentang ini, saya berencana membahasnya lebih lanjut dalam post terpisah.

Seperti buku-buku tentang pengasuhan lainnya, yang terpenting adalah kesediaan kita membuka hati dan pikiran akan cara-cara yang bisa jadi lebih efektif dalam mengasuh anak-anak kita. Kemudian, secara sadar memanfaatkan jeda sebelum bereaksi agar bisa memilih menggunakan cara-cara tersebut daripada cara kita yang biasa, yang kita tahu tidak efektif namun kembali kita lakukan atas dasar kebiasaan.

Perlu kita ingat, cara kita membesarkan anak, tidak hanya berpengaruh pada perkembangan dan masa depan mereka, namun juga bergenerasi-generasi setelahnya. Tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Betapa penting peran dan tanggung jawab kita karenanya.

Penulis buku ini berhasil menunjukkan hal itu dari sisi positif pengasuhan yang diwariskan selama bertahun-tahun oleh orang-orang paling bahagia di dunia.

Sudut pandang Jessica, sebagai seorang Amerika yang bersuamikan orang Denmark beserta pengalaman-pengalaman pribadinya dan pengalaman Iben sebagai psikoterapis naratif di Denmark, memperkaya buku ini. Ini juga memudahkan saya dalam menangkap dan menyerap apa yang ingin disampaikan dalam buku ini.

Click to Share

[Bunda Sayang] Materi 4: Memahami Gaya Belajar Anak, Mendampingi dengan Benar

Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan perbedaan hasil yang diterima ketika dua orang dengan gaya belajar berlainan diajarkan dengan gaya pengajaran yang sama, yang mungkin lebih sesuai untuk salah satu orang saja.

Kita tentu ingin anak-anak kita bisa menangkap dengan maksimal apa yang mereka pelajari. Karenanya, daripada memaksakan gaya belajar tertentu, yang sesuai dengan kita misalnya, kita lebih baik berusaha mengenali dan memahami gaya belajar anak, sehingga bisa menyesuaikan pemberian materi dengan cara yang paling sesuai untuknya.

Dalam materi Bunda Sayang yag keempat ini, disebutkan 3 gaya belajar yang mungkin dimiliki anak (dan kita semua), yaitu:
1. Gaya Belajar Visual – Lebih mudah menangkap sesuatu yang terlihat
2. Gaya Belajar Auditori – Lebih mudah menangkap sesuatu yang didengar
3. Gaya Belajar Kinestetik – Lebih mudah menangkap sesuatu sambil melakukan gerakan atau simulasi.

Ada beberapa ciri juga strategi yang disebutkan dalam materi untuk membantu dalam mengamati ke mana kecenderungan belajar anak kita dan bagaimana kita dapat memfasilitasinya.

Semoga saya bisa melaksanakan tantangannya dengan lancar dan jadi lebih memahami gaya belajar anak-anak ya 😀

[Bunda Sayang] Materi 3: Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak Demi Kebahagiaan Hidup

Sesuai dengan judulnya, materi level 3 ini dibuka dengan penjelasan tentang makna sukses dan bahagia. Mengambil tulisan Prof. Martin Selligman dalam bukunya Authentic Happiness, definisi kebahagiaan hidup dibagi dalam tiga kategori: Hidup yang penuh kesenangan (pleasant life); Hidup nyaman (good life); Hidup bermakna (meaningful life).

Jika pleasant life berupa kebahagian yang bersifat material di mana kesenangan materi terpenuhi, good life lebih bersifat mental di mana segala kebutuhan jasmani dan rohani terpenuhi, maka meaningful life adalah hidup yang penuh pemahaman dan pemenuhan akan tujuan dan makna hidup untuk diri juga sekitar. Sehingga kebahagiaan yang terakhir ini lebih bersifat spiritual.

Kemudian disebutkan empat macam kecerdasan hidup yang perlu dimiliki untuk mencapai hidup sukses dan bahagia sesuai dengan definisi yang diinginkan:
a. Kecerdasan Intelektual (Intelectual Quotient) – dibutuhkan untuk mencapai pleasant life
b. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) – dibutuhkan untuk mencapai good life
c. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) – dibutuhkan untuk mencapai meaningful life
d. Kecerdasan Menghadapi Tantangan (Adversity Intelligence) – dibutuhkan untuk mencapai tingkat kebahagiaan hidup yang diinginkan.

Di akhir materi disertakan pula indikator masing-masing kecerdasan untuk usia tertentu. Indikator ini dapat digunakan untuk melihat sejauh mana anak kita telah mencapai kecerdasan tertentu sesuai dengan usianya.

Setelah menerapkan komunikasi produktif, kemudian melatih kemandirian anak, kali ini giliran belajar meningkatkan kecerdasan anak.

Insya Allah laporan pengerjaan tantangannya akan saya tulis di blog ini seperti biasa ya.