Tag Archives: Institut Ibu Profesional

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Aliran Rasa

Game level 3 ini sungguh seru.

Ini pertama kalinya kami membuat Family Project. Mulai dari menentukan kecerdasan yang ingin ditingkatkan, tema yang mau diusung, tujuan yang ingin dicapai, juga metode yang digunakan. Semua disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak.

Prakteknya mungkin masih jauh dari sempurna. Banyak kegiatan yang bisa dilaksanakan dengan lebih baik, juga ide kegiatan yang belum sempat dilaksanakan. Tapi yang sudah berjalan, walau kebanyakan terdiri dari kegiatan sederhana sehari-hari,karena dilakukan dengan tujuan yang disadari, jadi terasa lebih bermakna.

Kegiatan-kegiatan kecil yang berkesinambungan juga membangun suasana sesuai tujuan yang ingin dicapai.

Sebagai evaluasi untuk proyek-proyek selanjutnya,komunikasi antar anggota keluarga mungkin perlu ditingkatkan, khususnya dengan suami sebagai rekan fasilitator. Dalam proyek kali ini, walau beberapa kali ikut terlibat, namun kesibukan beliau membuat proyek ini cenderung jauh dari kehadirannya.

Untuk selanjutnya, saya mungkin bisa memaksimalkan perannya dengan bercerita tentang kegiatan yang akan atau sudah dilakukan, sehingga suami bisa paling tidak membahasnya dengan anak-anak serta memberi masukan. Bisa juga memaksimalkan kontribusinya di akhir pekan, dengan kegiatan yang dikhususkan untuk ayah dan anak ataupun seluruh keluarga.

Terlepas dari segala kekurangannya, saya senang bisa membuat proyek keluarga dan terdorong untuk membuatnya lagi dengan tema yang berbeda. Sangat menyenangkan rasanya bisa bekerja bersama seluruh keluarga melakukan kegiatan yang bermanfaat sekaligus mempererat hubungan. ❤

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Kelimabelas

Tanaman tomat kami akhirnya keluar tunasnya! 😆

Setelah hari sebelumnya lupa menyiram, tentu saja kami lega dan senang melihatnya.

18-11-16-21-28-36-991_deco

Nara dan Kyna makin semangat menyiram si tomat. Tidak lupa Nara selipkan ucapan agar tomat tumbuh dengan baik juga sehat.

Mudah-mudahan, bersamaan dengan tumbuhnya tomat, kasih sayang yang dirasakan untuk makhluk hidup lain juga tumbuh di hati kami ya :)

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Keempatbelas

Kami lupa menyiram si tomat! :(

Hari itu kami kembali membaca buku “Allah Sayang Padaku: Allah Ciptakan Tubuhku”.

Nara dan Kyna selalu semangat menyebutkan anggota-anggota tubuh yang digambarkan dalam buku.

Giliran organ seperti otak, paru-paru, otot atau tulang, mereka masih suka lupa, tapi dengan senang kembali menyimak di mana organ itu berada dan apa fungsinya.

Betapa sempurna ciptaan Allah. Semoga kami bisa selalu mensyukurinya, dengan menggunakannya untuk kebaikan dan dalam ketaatan kepada-Nya. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Ketigabelas

Tanaman tomat belum juga terlihat tunasnya. Nara dan Kyna masih menyiramnya setiap sore sambil mengajaknya bicara dan mendoakannya agar segera tumbuh.

Hari itu kami membaca buku “Aku Belajar Puasa” dari seri Halo Balita.

Nara dan Kyna memang belum pernah mencoba puasa, tapi mereka, Nara khususnya, melihat orang-orang dewasa di sekitarnya menjalani ibadah puasa. Nara juga kerap ikut “berbuka” dengan menunda waktu minum teh dan makan kuenya hingga adzan magrib berkumandang.

18-11-14-15-54-40-013_deco

Buku tersebut mengenalkan konsep puasa lebih dekat pada mereka.

Dalam buku itu, diceritakan bagaimana Ibu menjelaskan kepada Sali bahwa puasa artinya menahan diri, dari lapar, haus, atau amarah. Dengan demikian, kita akan terlatih mengendalikan diri untuk menjauhi keburukan dan banyak berbuat kebaikan.

Berpuasa baik untuk kita dan menambah sayang Allah kepada kita. Itu poin yang ingin saya sampaikan untuk Nara dan Kyna sih.

Saya ingin mereka melihat puasa sebagai sesuatu yang menyenangkan, baik, dan seru untuk dilakukan. Sebagaimana Sali yang menjalaninya tanpa paksaan atau iming-iming hadiah.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Keduabelas

Sudah lama saya ingin mengajak Nara memasak atau membuat kue bersama.

Pertama, karena dia sangat tertarik dengan kegiatan di dapur. Selalu mengikuti dan melihat saya atau neneknya memasak. Nara juga sudah sering kami biarkan ikut membantu pekerjaan-pekerjaan kecil, seperti menuang bahan, mengaduk, mengupas bawang, dan semacamnya.

Kedua, saya pernah mendengar bahwa kegiatan memasak itu banyak sekali manfaatnya untuk anak. Mulai dari melatih motorik halus, kemampuan koordinasi juga kontrol mata dan tangan, practical life skill, matematika, hingga ketekunan, kepedulian, kepekaan, kesabaran, dan pemahaman akan proses.

Untuk proyek hari keduabelas ini, saya memutuskan untuk membuat kue kering bersama Nara. Tadinya saya ingin membuat bentuk bintang dan bulan, agar mengingatkan pada ciptaan Allah yang menakjubkan itu. Saya juga ingin mengaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. yang diceritakan sempat menduga keduanya sebagai Tuhan sebelum diberi petunjuk oleh Allah swt.

Tapi ternyata cetakannya tidak dapat ditemukan.

Akhirnya saya menggunakan cetakan yang ada saja, bentuk hati dan bunga. Cukuplah mewakili ciptaan Allah dan kasih sayang yang Allah miliki terhadap ciptaan-Nya, juga kasih sayang yang seharusnya kita miliki untuk sesama dan alam semesta.

Seperti yang sudah saya duga, Nara begitu bersemangat saat diajak membuat kue. Dia berkali-kali menanyakan kapan kami akan mulai. Nara yang kemudian yang mencampur bahan-bahan dan mengaduknya, menggiling adonan hingga siap dicetak, dan mencetaknya. Saya membantu dalam setiap tahap, namun menahan diri untuk terlalu banyak mengambil alih. Saya yang kemudian memindahkan hasil cetakan ke dalam loyang dan mencairkan coklat untuk menyelup biskuitnya setelah dipanggang.

GL 3 D12b - 131118

GL 3 D12 - 131118

Di mana Kyna?

Kyna tidur siang, tapi bangun saat kami sedang menyetak kue. Kyna pun kebagian nyetak kue, menyelup kue yang sudah matang ke dalam coklat cair berwarna merah (pilihan Nara), lalu memakan kuenya sampai tangan dan mulutnya belepotan coklat.

Kegiatan seru yang perlu diulang nih.

Saya sempat juga mengingatkan Nara, bahwa yang membuat kue adalah manusia, tapi Allah yang memberi izin dan kemampuan. Sebelumnya, kami sudah pernah juga membahas hal ini, saat Nara tampak kesulitan membedakan mana yang ciptaan Allah mana yang buatan manusia. Semoga pemahaman Nara semakin terbentuk, juga kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, walau bukan hasil ciptaan-Nya secara langsung.

Btw, foto sebelah kiri bawah, yang kue keringnya bersebelahan dengan nastar buatan ibu saya itu, Nara yang ambil sendiri lho fotonya.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Kesebelas

Hari ini giliran seri Nabiku Idolaku jilid “Nabi Ishaq a.s.” yang jadi pilihan Nara dan Kyna.

Nabi yang dikisahkan penuh kasih sayang, sabar dan cinta perdamaian ini menjadi contoh bagi Nara dan Kyna bagaimana mengasihi sesama. Nabi Ishaq juga tidak pernah menyakiti binatang maupun merusak tanaman. Begitulah kita sebagai manusia seharusnya bersikap.

Sorenya, saya mengajak Nara dan Kyna menyiram dan menyapa tanaman tomat kami.

Tumbuh yang baik ya, Tomat :)

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Kesepuluh

Sebagai bagian dari menyayangi ciptaan Allah, saya mengajak Nara dan Kyna menanam tomat. Ini juga terinspirasi dari buku yang kami baca kemarin sih.

18-11-10-16-40-33-022_deco

Pertama, saya memisahkan biji tomat dari buahnya, lalu membuat lubang-lubang kecil di pot berisi tanah yang sudah disiapkan ayah saya, atoknya Nara, yang memang hobi berkebun.

Kemudian, Nara dibantu ayahnya memasukkan biji-biji itu ke dalam lubang. Satu biji dalam satu lubang.

Setelah menutup bagian atasnya dengan tanah, Nara menyiram dua pot berisi biji-biji tomat tadi. Kyna yang sedang tidur terpaksa melewatkan kesempatan ini.

Tomat yang kami tanam jenis tomat rampai, tomat kecil-kecil yang biasa digunakan untuk membuat sambal oleh orang Lampung. Among Nara, ibu dari ayah Nara yang asli Lampung yang dulu memberikan tomat tersebut untuk ditanam oleh Atok. Dari tomat hasil tanam Atok lah biji tomat yang kami tanam.

Kegiatan menanam dan merawat tanaman tomat ini semoga dapat menumbuhkan kasih sayang dan melatih ketekunan Nara juga Kyna.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kelimabelas

Hari ini saya belajar untuk lebih banyak menahan diri dalam menyuruh, melarang, dan (terutama) marah.

Saya menyadari bahwa saya masih seringkali memaksa anak-anak saya untuk mengikuti keinginan dan kebutuhan saya tanpa mendengarkan apa yang mereka inginkan atau butuhkan.

Ini juga berdasarkan perenungan saya atas masalah-masalah yang saya hadapi, terutama dengan Nara. Bagaimana dia sulit mendengarkan saya, sengaja melakukan apa yang saya minta tidak dia lakukan, hingga menangis sampai berteriak-teriak di beberapa kesempatan.

Saya merasa perlu memperbaiki hubungan kami. Mengatur kembali agar komunikasi yang terjalin lebih efektif dan produktif. Lebih banyak mendengarkan dan bersabar menghadapi ulahnya. Lebih fleksibel dalam cara dan waktu, memberinya kesempatan lebih banyak untuk melakukan hal sesuai caranya.

Saya percaya hal terpenting yang perlu dibangun dengan anak adalah kedekatan hati. Keharmonisan hubungan. Rekening emosional yang senantiasa berusaha untuk saling dipenuhi dari waktu ke waktu. Hubungan yang penuh cinta, kehangatan dan keterbukaan, namun juga penghargaan dan penghormatan untuk satu sama lain. Jika itu sudah dicapai, niscaya yang lainnya akan lebih mudah diaplikasikan.

Hari ini saya kembali berusaha menuju tujuan itu.

Daripada menyuruh Nara (dan Kyna), kadang dengan tidak sabar, memburu-burunya, bahkan kadang menyelipkan ancaman di dalamnya. Hari ini saya lebih banyak memberinya kesempatan memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan.

Saya hanya membantu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Di mana kita bisa mandi ya?” (saat sudah tiba saatnya mandi sesuai kesepakatan sebelumnya); “Bagaimana perilaku saat di kursi?” “Kursi fungsinya untuk apa ya?” “Di bagian mana kita duduk saat di kursi?” (saat Nara memanjat-manjat atau duduk di senderan kursi); “Kaki bisa dipakai untuk apa ya?” (saat Nara iseng menendang-nendang bantal saat duduk di belakang saya); “Kita ke mana ya, kalau habis mandi?” (saat hendak berpakaian), dan seterusnya.

Lumayan capek sih, hahaha… Apalagi saat Nara tidak langsung melakukan sesuatu sesuai harapan. Sengaja meledek dengan jawaban-jawaban yang disalah-salahkan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pertanyaan saya.

Namun, bahkan pada saat itu, sya berusaha mengikutinya saja. Bereaksi terkejut atau tertawa atas jawaban-jawabannya, walau dalam hati mulai tidak sabar. Tidak memaksa, tidak memarahi, tidak menyuruh. Hanya berusaha menggiringnya mencapai tujuan demi kepentingan bersama.

Walau memakan waktu lebih lama, tapi tidak ada drama saat Nara akhirnya mandi. Sebagai catatan, Nara masuk sendiri ke kamar mandi dengan senang. Bahkan saat saya membilas rambutnya, dia kemudian mengatakan sesuatu yang biasanya dimulai oleh saya, “I love you, Mama Aca”, bukan hanya sekali, tapi berulang-ulang, bergantian dengan balasan saya :’)

Nara mau masuk kamar tanpa berlama-lama berkeliaran di ruang lain. Dia memilih pakaian dan mengenakannya sendiri, tanpa menunda-nunda. Dia juga makan sendiri, mau membereskan mainan, dan lain-lain tanpa banyak drama.

Terasa sekali bedanya. Saat saya mulai lupa dan menyuruhnya dengan kurang ramah, dia kembali terlihat enggan.

Saya semakin yakin bahwa saya harus lebih konsisten melatih kemampuan mengelola emosi dan berkomunikasi dengan baik. Selain untuk membangun hubungan yang berkualitas, juga sebagai contoh bagi anak-anak bagaimana berperilaku dalam setiap hubungan yang mereka miliki, termasuk dengan saya dan ayah mereka.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Keempatbelas

Setelah saya lebih santai, tidak ada target apapun selain membiarkan Nara menikmati mandi sendiri sebisanya, hasilnya ternyata malah lebih baik.

Saat saya tawarkan apa Nara mau membuka baju sendiri (yang kebetulan berkancing!), dia mau. Dan berhasil membuka hampir semua kancingnya. Walau sempat mengeluh susah dan tidak bisa di tengah jalan, tapi setelah saya semangati juga yakinkan bahwa dia bisa, Nara bersedia melanjutkan hingga kancing terakhir, di mana dia akhirnya meminta pertolongan saya.

Saya tidak banyak berkomentar kali ini. Jika sebelumnya saat dia terlihat tidak bisa saya langsung mengajarinya kembali, kadang mungkin sambil sedikit tidak sabar, kali ini saya membiarkan saja dia meneruskan sambil sesekali menyemangati.

Setelah itu, Nara melanjutkan dengan mandi sendiri. Saya masih membantu untuk bagian punggung dan kaki bagian bawah. Dia menjalaninya dengan senang, saya juga senang.

Hari ini Nara dan Kyna juga belajar mengupas bawang merah, yang kemudian ditumis untuk membuat mie goreng untuk sarapan pagi mereka. Nara juga ikut mengaduk bahan-bahan di dalam wajan.

Menjadi orangtua memang media pembelajaran yang luar biasa ya. Sarana bertumbuh menjadi diri yang lebih baik, seiring dengan usaha kita menumbuhkan anak-anak kita menjadi manusia-manusia yang baik.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Ketigabelas

Nara masih menolak berlatih membuka kancing. Dia juga enggan melakukan beberapa hal yang saya minta. Capek, alasannya.

Sepertinya saya perlu mengevaluasi lagi komunikasi produktif saya dengannya. Lalu membuat latihan kemandirian ini kembali menarik dan menyenangkan baginya.

Saya mungkin juga perlu lebih perlahan dalam melangkah. Biarkan saja Nara menikmati proses belajarnya. Bisa jadi ada kemampuan yang perlu diasah dulu, misalnya motorik halusnya, sebelum belajar membuka kancing.

Satu hal yang Nara sedang senang lakukan adalah mandi sendiri. Saya pikir saya sebaiknya berfokus ke sini saja. Tentunya tanpa memaksa hasilnya harus sempurna. Nanti saat dia sudah lebih siap, saya percaya Nara akan mau belajar membuka dan mengancing baju lagi.