Tag Archives: ilmu

Islam itu Ramah, Bukan Marah

Itu adalah judul buku pertama yang saya baca di bulan ini. Membaca judulnya yang bagi saya terasa sungguh relevan dengan keadaan umat muslim saat ini, membuat saya tertarik untuk mengintip isinya.

Buku karya Irfan Amalee ini terlihat sederhana, dengan ukuran tidak terlalu besar dan tebal sekitar 200 halaman. Namun, saya menemukan banyak pencerahan serta sudut pandang baru dari tulisan penulis yang mudah dicerna.

Isi buku dibagi menjadi dua bagian:
>> Bagian 1: All About Peace
Pada bagian ini penulis membahas mengenai sifat manusia, penyebab konflik, peperangan, persatuan, hingga cara kerja otak dan kemampuan merespon dengan bijaksana/ hilm.

>> Bagian 2: Character Building
Di sini penulis menekankan pada nilai-nilai yang perlu dimiliki dan hal yang perlu dilakukan seseorang agar dapat menjadi bagian dari Islam yang maju dan damai, sesuai nilai ajarannya.

Islam Ramah Bukan Marah

Hal-hal yang ditulis dalam buku ini mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru atau sepenuhnya belum pernah saya dengar, tapi entah bagaimana, cara penulis menyampaikannya memunculkan semacam pemahaman baru dalam melihat suatu hal.

Penulis berhasil menunjukkan poin-poin penting dibalik berbagai hal yang dia bahas, dan walaupun tiap bagian tersusun dari bab-bab berisi tulisan pendek yang terasa ringan, semua terasa menyatu dan berkesinambungan.

Beberapa hal yang saya kumpulkan dari buku ini, misalnya:

  • Tentang betapa hati yang sakit akan menyakiti, da pentingnya harga diri sebagai pemicu sekaligus pengakhir konflik.
  • Bahwa untuk mengubah pemahaman seseorang , pengalaman jauh lebih efektif daripada perdebatan.
  • Tentang hilm/ response ability/ kemampuan merespon sesuatu dengan bijak, tidak reaktif. Sifat yang dimiliki oleh Rasulullah dan seperti hilang pada diri banyak orang zaman sekarang, yang terlalu cepat berbagi berita yang belum tentu benar, cepat memberi komentar, cepat marah, menuduh, menghakimi.
  • Tentang bagaimana pendidikan kita cenderung berfokus pada stimulasi otak reptilia manusia dengan menakut-nakuti daripada merangsang neo-cortex agar berpikir aktif dan kritis.
  • Tentang appreciate inquiry dan discovering ability, yaitu fokus pada hal positif juga kelebihan seseorang atau sesuatu.
  • Tentang konsep compassionate school atau sekolah yang beradab. Pentingnya hidden curriculum/ culture sebuah sekolah untuk menjadi pertimbangan saat akan memilih tempat belajar, daripada sekadar melihat prestasi akademik atau berbagai visi, misi dan kurikulum yang dikemukakan.
  • Tentang pentingnya budaya literasi dan bagaimana perintah membaca diulang sebanyak 33 kali, lebih banyak dari perintah memakai jilbab misalnya, yang artinya, kalau menutup aurat itu wajib dan penting, maka membaca atau menuntut ilmu itu lebih penting lagi. Menjalankan syariat harus ditunjang oleh ilmu.
  • Tentang Islamicity Index yang dibuat berdasarkan indikator nilai-nilai Islam yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadis, di mana Indonesia dan negara-negara Islam menempati urutan terendah sementara di urutan teratas ditempati negara-negara non-muslim.

Banyak lah. Dari satu buku itu mungkin bisa dikembangkan jadi banyak artikel.

Kalaupun ada yang kurang dari buku ini, itu adalah hilangnya poin nomor dua dari lima poin yang disebutkan pada halaman 111-116.

Irfan Amalee merupakan CEO Mizan Application Publisher dan tengah membangun Peace Generation, yang dicita-citakan menjadi sebuah social enterprise berskala internasional. Tulisannya dalam buku ini turut berjasa membuat saya memenuhi target membaca sekaligus kembali menulis review buku.

Click to Share

[Shokyuu Intensive Class] Task 2: Hambatan dan Solusi

Minggu ini, peserta kelas Shokyuu mendapat materi ketiga mengenai “Tidy by Category & Expressing Gratitude“. Kami juga mendapat Task 2 yang merupakan penjabaran lanjutan dari Task 1.

Jika diamati, Task 1 dan 2 ini masih berkutat seputar mindset dan visualisasi. Saya pikir, ini karena mindset adalah hal terpenting saat ingin melakukan sesuatu. Perubahan yang besar dan langgeng hanya bisa terjadi jika kita terlebih dahulu mengubah pola pikir kita mengenai hal tersebut. Dalam hal ini, pola pikir yang “benar” mengenai berbenah yang perlu kita jaga. Sementara visualisasi diperlukan untuk menguatkan keyakinan dan semangat kita dalam mencapai tujuan, sekaligus meprogram pikiran bawah sadar kita untuk menujunya.

Berikut Task 2 beserta jawaban saya.

Dalam poin 1 pekan lalu, latar belakang dan mindset telah Anda jelaskan. Maka selanjutnya adalah paparkan upaya apa saja yang Anda usahakan untuk konsisten dalam “menjaga mindset” tersebut.

Mindset saya dalam berbenah, seperti yang telah saya tuliskan pada Task 1, mungkin paling tergambar dalam kalimat berikut:

“Saya percaya membenahi tempat tinggal saya merupakan salah satu kunci untuk membenahi diri dan kehidupan saya.”

Salah satu usaha yang saya lakukan untuk menjaganya adalah dengan secara sungguh-sungguh mengikuti setiap materi dan diskusi, juga mengerjakan tugas dalam Shokyuu Class ini, dengan harapan, ilmu, teman berbagi, serta semangat positif untuk berbenah yang didapatkan dari kelas turut memelihara tekad saya untuk membenahi tempat tinggal sekaligus kehidupan saya.

Pada poin 2 tentang visualisasi “ideal lifestyle” apakah sudah detail sesuai keinginan dan harapan Anda? jika belum, bisa Anda tambahkan. Jika sudah maka buatlah poin hambatan dalam merealisasikannya sekaligus solusi menurut Anda.

Sejauh ini rasanya poin visualisasi yang telah saya buat sudah cukup mewakili keinginan dan harapan saya. Foto-foto berikut kurang lebih menggambarkan visualisasi saya akan gaya hidup yang ideal seperti yang saya tuliskan pada Task 1.

18-02-26-17-38-14-799_deco

18-02-26-17-38-54-938_deco

18-02-26-17-39-33-106_deco

Sedangkan hambatan dalam merealisasikannya antara lain sebagai berikut:
a. Waktu
❤ Membagi waktu sebagai istri, ibu dua anak batita, juga pekerja tidak selalu mudah. Bahkan saya seringkali keteteran. Jangankan berbenah, baju dicuci dan dijemur dalam hari yang sama saja sudah merupakan prestasi 😂

Mau melipat pakaian dengan dua anak berkeliaran? Pasti mereka serta-merta turut “membantu” hingga pakaian yang sudah terlipat kembali berantakan dan malah berhambur ke mana-mana 😅

Solusi:
Pengelolaan waktu yang lebih baik. Waktu berbenah bisa dijadwalkan saat anak-anak tidur atau sengaja diajak main oleh ayahnya selama beberapa waktu sehingga mamanya bisa beres-beres. Kalau memang tidak bisa sekaligus dalam satu hari, kegiatan berbenah bisa dicicil setiap hari, sesuai jadwal yang telah ditentukan tersebut. Tentunya dengan metode Konmari, yaitu berbenah per kategori, memilah yang ingin disimpan, dan disusun dengan baik, sehingga hasilnya lebih efektif.

Pengelolaan waktu yang lebih baik ini, antara lain dengan membuat jadwal harian dan mengikutinya, juga bisa menjadi solusi untuk hidup yang lebih teratur dan meliputi kegiatan-kegiatan yang saya inginkan seperti yang telah saya sebutkan pada Task 1.

b. Ilmu dan Pemahaman
❤ Kurangnya ilmu mengenai berbenah membuat berbenah yang selama ini saya lakukan tidak tuntas. Kalaupun berhasil membereskan sebagian tempat, tidak lama semua kembali berantakan. Hingga saya malas membereskan kembali, karena rasanya percuma, nantinya akan berantakan lagi (pembenaran atas kemalasan).

Solusi:
Belajar bagaimana berbenah yang lebih efektif. Membaca buku tentang metode Konmari dan sekarang mengikuti kelas Shokyuu ini merupakan upaya saya untuk menambah pemahaman akan metode yang lebih tepat untuk berbenah. Diawali dari menemukan motivasi dan mindset
berbenah serta membuat visualisasi tentang gaya hidup ideal yang diinginkan, saya percaya kali ini saya akan bisa berbenah dengan lebih efektif. Selama saya menjaga tekad dan komitmen untuk itu tentu saja.

Dalam menyusun timeline apakah Anda sudah mengerjakan sebelumnya ataukah mulai dari nol? ceritakan pengalaman Anda.

Saya sudah pernah mencoba cara melipat dan menyimpan ala Konmari untuk baju anak-anak, namun hanya sebatas itu saja. Belum pernah saya melakukan metode Konmari sepenuhnya, dari mulai menyortir dan seterusnya. Jadi, bisa dikatakan saya mulai dari nol. Timeline yang saya susun benar-benar mengikuti jadwal kelas Shokyuu ini. Maka saat ada tugas untuk mulai berbenah, saat itu pulalah saya, insya Allah akan mulai berbenah.