Tag Archives: IIP

[Bunda Sayang] Game Level 11: Fitrah Seksualitas – Hari Ketiga

Kesan pertama pas buka materi dari PG 3: Desainnya bagus. Perpaduan warna cerah memanjakan mata, jadi lebih semangat baca materinya.

Sebelum membagikan materi, PG 3 juga memberikan poin-poin yang akan dibahas. Hal ini memudahkan peserta lain dalam menangkap tentang apa pembahasan materi secara keseluruhan, sebelum mencerna lebih detail isinya.

Setelah PG 2 membahas “Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini”, PG 3 melanjutkan dengan menekankan pada “Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas”.

Peran orang tua ini tentu sangat erat kaitannya dengan pendidikan fitrah seksualitas sejak dini, karena orang tua merupakan guru pertama dan utama anak.

Pada prinsipnya, pendidikan fitrah seksualitas ini membutuhkan kehadiran sosok ibu dan ayah secara utuh dan seimbang sesuai usia dan tahap perkembangan anak.

Ayah dan ibu memiliki fitrah perannya masing-masing, mentransfer sisi maskulin dan feminin yang perlu dimiliki oleh anak dengan kombinasi yang sesuai dengan jenis kelaminnya, sehingga dia dapat tumbuh sesuai sifat gendernya dan menjadi pria atau wanita sejati.

PG 3 kemudian menjelaskan alasan dan tujuan kedekatan anak dengan ayah juga ibu baik untuk anak yang berjenis kelamin sama maupun berbeda jenis kelamin dengan keduanya. Saat salah satu orang tua jauh atau tidak ada, maka komunikasi penting untuk dijaga. Sosok pengganti dengan jenis kelamin yang sama juga bisa dihadirkan untuk mengisi kekosongan sehingga fitrah seksualitas anak tetap terjaga.

PG 3 kemudian juga menyebutkan sikap-sikap yang dapat dibangun orang tua dalam menghadapi anak, khususnya saat bertanya mengenai seksualitas. Namun, yang paling mengena adalah satu kalimat singkat yang menjadi penutup materi sekaligus merangkum inti dari materi: “Orang tua, akrablah dengan anak Anda!”

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 11: Fitrah Seksualitas – Hari Kedua

Setelah memahami perbedaan gender dari presentasi PG 1, hari ini PG 2 mempresentasikan tentang “Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini”.

Materi antara lain berisi definisi fitrah seksualitas, tujuan pendidikan fitrah seksualitas, akibat bila hal tersebut tidak/terlambat dilakukan, tahapan pendidikannya sesuai usia dilengkapi contoh pengajarannya oleh kedua orang tua, dan terakhir, penanganan bila terjadi kekurangan dalam pendidikan seksualitas.

Materi yang disusun cukup lengkap dan mudah dipahami. Saya kembali diingatkan apa-apa saja yang perlu diperhatikan untuk menjaga fitrah seksualitas anak. Memisahkan tempat tidur anak menjadi salah satu PR saya, mengingat Nara sudah berusia hampir 4 tahun.

Diskusi berlangsung seru. Pertanyaan yang diajukan mewakili pertanyaan saya. Jawaban-jawabannya sungguh lengkap dan jelas.

Pembagian tugas PG 2 juga baik. Setiap orang diberi peran.

Saya pikir, cara penyajian materi seperti ini sungguh efektif. Belajar mengumpulkan, memahami, menyarikan materi dan berdiskusi dalam tim, lalu mengajarkannya pada peserta di PG lain. Learning by teaching.

Anggota PG lain pun belajar dari apa yang dikerjakan temannya. Diskusi berjalan lebih seru karena materinya segar, baru dibuat oleh anggota PG yang bersangkutan.

[Bunda Sayang] Game Level 11: Fitrah Seksualitas – Hari Pertama

Presentasi pertama dari Peer Group 1 (PG 1) bertema “Pemahaman Perbedaan Gender”. Kelompok ini membagi presentasinya ke dalam 5 sub-tema: Definisi Gender; Gender vs Sex; Gender Menurut Pandangan Islam; Fitrah Lelaki dan Perempuan; Efek Gender dengan Perkembangan Anak.

PG 1 berhasil membagi tugas dengan baik juga terlihat kompak saat mempresentasikan materi serta menjawab pertanyaan peserta lain.

Materi disusun rapi, disampaikan dengan jelas, anggota PG 1 kelihatan menguasai materinya.

Diskusi pun berlangsung seru, hingga waktu dua jam rasanya begitu cepat berlalu. Ini tercermin dari reaksi teman-teman, karena saya ketinggalan diskusi dan baru memanjat setelahnya 🙈

Dari presentasi dan diskusi tersebut, saya menangkap bahwa:
1. Sex berkaitan dengan ciri biologis laki-laki dan perempuan, sementara gender lebih kepada sikap atau ekspresi yang biasa dikenal sebagai feminitas dan maskulinitas.

2. Dalam Islam perbedaan gender yang melekat pada jenis kelamin masing-masing ini berkaitan dengan perbedaan kodrat dan syariat. Selain memiliki kewajiban yang sama sebagai manusia, untuk beribadah kepada Allah, laki-laki dan perempuan memiliki bagian serta tugas masing-masing yang membutuhkan sifat yang sesuai dengan perannya itu.

3. Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda untuk saling melengkapi dan bersinergi bukan berkompetisi.

4. Kehadiran dan peran kedua orang tua dalam tiap tahap perkembangan anak sangat diperlukan agar anak mendapat porsi maskulinitas dan feminitas yang tepat sesuai jenis kelaminnya.

Jadi nggak sabar mengikuti presentasi berikutnya.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Aliran Rasa

Mendongeng, bercerita, bukanlah hal yang baru dalam keseharian keluarga kami.

Selain membacakan buku, saya terbiasa bercerita pada anak-anak. Tentang apa saja. Anak-anak kerap menentukan tokoh atau awal ceritanya, selebihnya saya yang mengarang bebas.

Dalam tantangan kali ini, kegiatan mendongeng jadi sesuatu yang dilakukan dengan lebih sadar, bertema, bertujuan. Walau menurut saya pribadi, karena ini adalah kegiatan yang sudah biasa kami lakukan, saya seharusnya bisa menaikkan levelnya. Dengan menambahkan media atau perlengkapan yang lebih seru misalnya.

Saya pada akhirnya hanya menambahkan media gambar saat mendongeng. Anak-anak ternyata menyukai hal itu. Mereka kembali meminta saya untuk bercerita sambil.menggambar di hari-hari selanjutnya.

Hal yang berkesan justru saat membaca laporan dari tantangan teman-teman kelas BunSay. Terharu rasanya membaca dan menyimak satu persatu tulisan juga rekaman suara yang mereka buat. Hati menjadi hangat merasakan kasih sayang para ibu ini dalam usaha menyampaikan nilai-nilai baik kepada anak-anaknya.

Respon beberapa anak, baik yang tertulis maupun saya dengar langsung dari rekaman membuat saya tersenyum.

Betapa polos dan murninya. Betapa dongeng yang dikisahkan oleh ibunya mampu menanamkan berbagai hal dalam pikiran kecilnya.

Rasanya saya jadi semakin yakin, kalau banyak orang tua mau rutin berkisah pada anaknya, akan lahir generasi penerus yang dekat hatinya dengan orang tuanya, hangat, kritis, juga kreatif. Insya Allah.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Kelimabelas

Malam ini, judul ceritanya “Aku Akan Selalu Menyayangimu”.

Ceritanya tentang ibu kelinci yang punya tiga ekor anak. Saat anak kedua (Bilal) lahir, anak pertama (Ali) khawatir dia berhenti disayang. Tapi ibunya menenangkan. Ibu menjelaskan bahwa dia akan selalu sayang pada Ali, walau sekarang perhatian ibu terbagi, tapi sayangnya sama seperti sebelumnya.

Waktu anak ketiga, Aisyah, lahir, giliran Bilal yang menangis diam-diam. Saat ketahuan oleh Ibu, Bilal menjelaskan hal yang sama seperti Ali dulu. Khawatir ibu, ayah, juga Abang Ali hanya sayang kepada Aisyah Bilal dilupakan.

Jawaban ibu masih sama seperti dulu. Ibu akan selalu sayang Ali, Bilal, dan Aisyah. Berapapun banyaknya anak ibu nantinya, tiap anak akan selalu penting di mata ibu, selalu dicintai oleh ibu sama.banyaknya. Abang Ali dan Ayah juga pasti selalu sayang Bilal seperti Bilal menyayangi mereka. Bahkan Aisyah juga sayang Bilal.

Ceritanya sesuai dengan keadaan saya, ibu tiga orang anak yang menyayangi anak-anaknya sama banyaknya. Walau terkadang berbeda cara mengekspresikannya, tergantung sifat dan usia mereka.

Semoga Nara, Kyna, dan Raya selalu saling menyayangi ya. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Keempatbelas

Saya kembali menggunakan gambar sambil bercerita. Rupanya anak-anak suka cara ini, jadi mereka memintanya lagi.

Temanya masih seputar huruf dan kata.

19-07-26-21-28-40-065_deco

Tokohnya anak bernama Doni (Nara yang kasih nama) yang berkenalan demgan keluarga kami. Saya lalu menuliskan nama-nama kami sambil menyebutkannya. Kemudian Doni meminta bantuan Nara dan Kyna untuk mencarikan nama yang tadi ditulis. Nara bisa menyebutkan dengan tepat mungkin mengingat dari bentuk dan letaknya.

Saat ditulis untuk kedua kalinya, Nara masih bisa menunjuknya. Belum tahu kalau di lain waktu dan di kertas berbeda :))

Kyna masih ikut-ikutan saja.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Ketigabelas

Nara sedang senang belajar mengenal huruf. Saya berusaha mengenalkannya dengan cara yang menyenangkan, tanpa paksaan atau tuntutan.

Siang tadi saat diminta bercerita, saya pun menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan beberapa huruf di dalamnya.

19-07-25-21-21-10-396_deco

Menggunakan media gambar, saya bercerita tentang Gani gajah dan Kunil kuda nil yang bertemu huruf-huruf saat berjalan-jalan. Saya menggambar satu per satu huruf sambil bertanya pada Nara huruf apa yang ditemukan Gani dan Kunil.

Kemudian, saya mengajak Nara membantu Gani dan Kunil menemukan huruf yang mereka cari dan melingkarinya.

Alhamdulillah Nara sudah mengenal sebagian huruf yang ada pada gambar. Sebagian lainnya masih suka lupa.

Tidak masalah sih, yang penting Nara dan Kyna menyukai ceritanya, menikmati prosesnya.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Keduabelas

Masih dengan mengubah cerita dalam buku. Nara yang menyebutkan “judul baru” tiap bukunya, saya yang membuat isi ceritanya. Gampang-gampang susah, tapi menarik juga ternyata.

Malam ini ayah Nara dan Kyna ikut menjadi “korban” mengubah cerita. Seru juga mendengar cerita yang berbeda dari biasanya. Cerita tetap harus sesuai alur dan gambar buku tapi sebagiannya diganyi sesuai judul yang Nara berikan.

Ayah dapat jatah dua buku, saya juga dua buku. Nara menolak dibacakan seperti biasa. Dai senang sekali mendengar cerita baru dari buku lamanya. Kyna ikut menikmati.

Apa ini saatnya beli buku baru lagi? 😅

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Kesebelas

Tema cerita hari ini adalah “Mengubah Cerita” xD

Nara minta dibacakan buku, tapi dia mengubah judulnya lantas meminta saya bercerita sesuai judul yang dia berikan.

Misalkan “Aku Selalu Makan Cemilan”, “Aku Suka Makan Sayur”. Buku digunakan sebagai alat peraga.

Untuk cerita yang kedua, saya menambahkan dengan kisah “Nara dan Kyna Suka Makan Sayur”. Saya menyebutkan semua jenis sayuran dan buah-buahan yang biasa mereka makan. Betapa mereka selalu suka memakannya sehingga menjadi sehat dan kuat.

Nara juga meminta saya bercerita tentang “Anak yang Tidak Suka Cemilan”. Anak ini lebih suka makan buah dan sayur daripada kue-kue, es krim atau coklat. Daya tahan tubuh dan staminanya pun lebih baik daripada teman-temannya.

Semoga Nara dan Kyna makin kreatif, makin suka makan sayur dan buah.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Kesepuluh

Sudah lama saya ingin kembali menyusun jadwal bersama anak-anak. Ini berkaitan dengan disiplin, rutinitas, keteraturan, yang kata para ahli dibutuhkan oleh anak-anak dalam hidupnya. Dengan rutinitas yang jelas dan terpola, akan mengurangi kebingungan anak akan perubahan cepat yang sulit dia ikuti. Sehingga, anak akan lebih tenang menjalani hari-hari karena dia tahu persis apa yang akan terjadi dalam harinya. Paling tidak untuk kegiatan pokoknya. Jadwal jadi semacam pijakan untuk menjalani hari.

Saya pun sudah merasakan betapa mereka jadi lebih mudah “ditangani” saat jadwal sudah berjalan baik dan konsisten. Tentunya disertai dengan pijakan-pijakan tambahan berupa penyebutan kegiatan setiap pagi sebelum memulai hari atau tiap malam untuk menyambut hari berikutnya.

Akhirnya, tadi kami kembali membuat jadwal dalamm bentuk sambil bercerita. Saya sebisa mungkin melibatkan mereka dalam proses penggambaran jadwal ini dengan bertanya kegiatan apa yang biasa atau baiknya kami lakukan mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur.

19-07-22-15-57-44-331_deco

Saya membagi hari menjadi tiga: pagi, siang, dan malam hari untuk mempermudah mereka mengingat jadwalnya.

Penggambaran jadwal berlangsung seru. Mereka senang melihat diri mereka berkegiatan dan antusias menunggu seluruh gambar diselesaikan, karena beberapa kali diinterupsi oleh tangisan adik bungsu yang mau menyusu.

Mudah-mudahan kami (terutama saya) bisa konsisten menjalani jadwalnya ya 😁