Tag Archives: ibu profesional

[Bunda Sayang] Materi 4: Memahami Gaya Belajar Anak, Mendampingi dengan Benar

Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan perbedaan hasil yang diterima ketika dua orang dengan gaya belajar berlainan diajarkan dengan gaya pengajaran yang sama, yang mungkin lebih sesuai untuk salah satu orang saja.

Kita tentu ingin anak-anak kita bisa menangkap dengan maksimal apa yang mereka pelajari. Karenanya, daripada memaksakan gaya belajar tertentu, yang sesuai dengan kita misalnya, kita lebih baik berusaha mengenali dan memahami gaya belajar anak, sehingga bisa menyesuaikan pemberian materi dengan cara yang paling sesuai untuknya.

Dalam materi Bunda Sayang yag keempat ini, disebutkan 3 gaya belajar yang mungkin dimiliki anak (dan kita semua), yaitu:
1. Gaya Belajar Visual – Lebih mudah menangkap sesuatu yang terlihat
2. Gaya Belajar Auditori – Lebih mudah menangkap sesuatu yang didengar
3. Gaya Belajar Kinestetik – Lebih mudah menangkap sesuatu sambil melakukan gerakan atau simulasi.

Ada beberapa ciri juga strategi yang disebutkan dalam materi untuk membantu dalam mengamati ke mana kecenderungan belajar anak kita dan bagaimana kita dapat memfasilitasinya.

Semoga saya bisa melaksanakan tantangannya dengan lancar dan jadi lebih memahami gaya belajar anak-anak ya 😀

Click to Share

[Bunda Sayang] Materi 3: Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak Demi Kebahagiaan Hidup

Sesuai dengan judulnya, materi level 3 ini dibuka dengan penjelasan tentang makna sukses dan bahagia. Mengambil tulisan Prof. Martin Selligman dalam bukunya Authentic Happiness, definisi kebahagiaan hidup dibagi dalam tiga kategori: Hidup yang penuh kesenangan (pleasant life); Hidup nyaman (good life); Hidup bermakna (meaningful life).

Jika pleasant life berupa kebahagian yang bersifat material di mana kesenangan materi terpenuhi, good life lebih bersifat mental di mana segala kebutuhan jasmani dan rohani terpenuhi, maka meaningful life adalah hidup yang penuh pemahaman dan pemenuhan akan tujuan dan makna hidup untuk diri juga sekitar. Sehingga kebahagiaan yang terakhir ini lebih bersifat spiritual.

Kemudian disebutkan empat macam kecerdasan hidup yang perlu dimiliki untuk mencapai hidup sukses dan bahagia sesuai dengan definisi yang diinginkan:
a. Kecerdasan Intelektual (Intelectual Quotient) – dibutuhkan untuk mencapai pleasant life
b. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) – dibutuhkan untuk mencapai good life
c. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) – dibutuhkan untuk mencapai meaningful life
d. Kecerdasan Menghadapi Tantangan (Adversity Intelligence) – dibutuhkan untuk mencapai tingkat kebahagiaan hidup yang diinginkan.

Di akhir materi disertakan pula indikator masing-masing kecerdasan untuk usia tertentu. Indikator ini dapat digunakan untuk melihat sejauh mana anak kita telah mencapai kecerdasan tertentu sesuai dengan usianya.

Setelah menerapkan komunikasi produktif, kemudian melatih kemandirian anak, kali ini giliran belajar meningkatkan kecerdasan anak.

Insya Allah laporan pengerjaan tantangannya akan saya tulis di blog ini seperti biasa ya.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Pertama

Setelah materi, terbitlah tantangan. Seperti game level 1, pada game level 2 ini pun kami ditantang untuk melatih kemandirian anak dan melaporkannya selama minimal sepuluh hari.

Selama periode tantangan, yaitu tanggal 4-20 Oktober 2018, kami dipersilakan menentukan 1-4 kemandirian yang ingin dilatih pada anak.

Sebelum menginjak usia tiga tahun, alhamdulillah Nara sudah lulus toilet training. Saya lupa kapan persisnya dia berhenti menggunakan pospak di siang hari, tapi dia baru melepas pospak di malam hari beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ketiga. Alasan utama adalah ketidaksiapan ibunya, hahaha… Syukurlah tidak perlu waktu terlalu lama untuknya tidur malam tanpa mengompol maupun pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil di tengah malam.

Untuk melengkapi kemampuannya buang air di kamar mandi, saya memutuskan untuk mulai lebih melepasnya melakukan kegiatannya itu.

Selama ini, setiap ingin BAK atau BAB, dia akan memberitahu saya, lalu saya membantunya melepas celana, mengangkatnya ke WC setelah menaruh toilet seat miliknya, kemudian menyebokinya dan memakaikan kembali celananya.

Nara sudah mulai lebih sering cebok sendiri setelah BAK, dia juga sudah bisa melepas dan menggunakan celana sendiri. Tapi, kadang dia suka minta dipakaikan atau saya yang tidak sabar sehingga membantunya.

Untuk tantangan hari pertama ini, saya berusaha mengurangi campur tangan saya dan membantunya untuk dapat melakukan hal yang biasanya saya bantu, sendiri.

Diawali dengan mengajaknya bicara bahwa dia akan belajar hal baru hari itu, kemudian menjelaskan tahapan apa yang bisa dia lakukan kalau ingin buang air.

Saya lalu mengajaknya memraktekkan tahapan itu. Tahap yang kami susun: Ke depan kamar mandi, buka celana, buka pintu kamar mandi, taruh kursi ke depan WC, taruh Dory (sebutan untuk toilet seat-nya yang bergambar Finding Dory) di atas WC, naik ke atas WC, buang air, cebok, taruh Dory kembali di tempatnya, cuci tangan, kembalikan kursi ke tempatnya, tutup pintu kamar mandi.

18-10-04-22-27-56-730_deco
Peralatan Penunjang Kemandiran Nara xD

Prakteknya meliputi pelatihan membuka pintu kamar mandi yang selama ini belum bisa dia lakukan. Sisanya dia kurang pebih sudah bisa, hanya perlu dibiasakan saja.

Untuk menyalakan dan mematikan lampu, juga menyiram WC, masih perlu bantuan saya, karena tangannya belum sampai ke saklar lampu walau menggunakan kursi dan belum kuat menekan tombol flush yang memang agak keras.

PR-nya adalah membuat dia mau melepas celana tanpa bantuan dan menggunakannya kembali segera setelah selesai buang air 😅

Targetnya adalah mengubah kebiasaan buang airnya dari “Kakak mau pipis.” Lalu menunggu Mama mengantarnya ke kamar mandi, menyuruhnya membuka celana atau membantunya membuka celana dan seterusnya, menjadi “Kakak mau pipis, tolong nyalain lampunya.” Lalu langsung buka celana dan seterusnya sesuai tahapan tadi.

Untuk hari pertama sih, saya masih membimbingnya melakukan tahapan tadi dan mengajaknya mengulangi urutannya saat sedang santai.

Semoga lama-lama dia terbiasa ya, dan kami bisa menjalani prosesnya dengan senang.

[Bunda Sayang] Materi 2: Kemandirian Anak

Setelah membentuk kebiasaan untuk berkomunikasi secara produktif dalam game level 1 yang lalu. Minggu ini Kelas Bunda Sayang masuk pada materi kedua: Kemandirian Anak.

Ini topik yang bagi saya pribadi sangat penting, karena saya merasa kurang mandiri dan hal itu menyulitkan saya setelah dewasa. Karenanya, kemandirian merupakan kualitas yang menjadi prioritas saya dalam membesarkan anak-anak. Materi dan tantangan yang diberikan di Kelas Bunda Sayang ini tentu akan membantu saya untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Dalam materi kedua ini, dijabarkan betapa pentingnya melatih kemandirian anak. Di antaranya adalah meningkatkan kepercayaan dirinya, juga kemampuan untuk merdeka, tidak banyak tegantung dengan orang lain. Anak yang mandiri juga lebih potensial untuk membantu orang lain, karena sudah terlepas dari kesulitan memenuhi kebutuhan dirinya.

Kemandirian juga ternyata bisa diajarkan sedini mungkin. Paling tidak saat anak sudah melewati usia bayi, yaitu 0-12 bulan. Jadi, jika anak kita sudah di atas usia satu tahun, alangkah baiknya kita berhenti memperlakukannya sebagai bayi dan mulai memberinya kesempatan untuk belajar melakukan banyak hal sendiri. Wah, padahal tidak jarang kita jumpai anak yang sudah masuk sekolah masih disuapi atau dipakaikan baju oleh orangtua maupun pengasuhnya ya… Saya pun terkadang masih suka membantu anak saya melakukan berbagai hal yang dia sebenarnya sudah bisa atau paling tidak sudah mau mencoba melakukan sendiri. Apalagi anak saya yang kedua, yang sekarang sudah menginjak usia 19 bulan.

Tentunya diperlukan proses yang tidak sebentar dalam melatih kemandirian ini. Maka kesabaran dan konsistensi orangtua menjadi kunci. Kesabaran dalam menahan diri untuk tidak terlalu cepat mengintervensi atau menawarkan bantuan. Ketahanan untuk tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi pada hasilnya, dan konsisten pada aturan atau kesepakatan yang telah dibuat.

PR melatih kemandirian ini berlanjut terus hingga usia sekolah anak. Namun jika sudah dimulai sejak usia satu tahun, tentu lebih mudah bagi anak, karena sudah terbentuk kebiasaan menjadi pembelajar mandiri. Keahlian dan tanggung jawab anak juga akan terasah, sehingga lebih mudah baginya untuk menjalani kehidupan sehari-hari tanpa banyak bantuan atau suruhan. Anak jadi bisa membantu dirinya sendiri juga orang lain, bahkan jika kita tidak ada.

Saya semakin bertekad untuk melatih kemandirian ini pada anak-anak saya. Kita tidak pernah tahu sampai kapan dan sejauh apa kita bisa mendampingi mereka. Insya Allah kemandirian yang mereka miliki akan membantu mereka menjalani kehidupan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki dengan maksimal.

[Matrikulasi] Materi Sesi #8: Misi Spesifik Hidup dan Produktivitas

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.
Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rezeki will Follow

Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.
“Rezeki will follow’ bisa dimaknai bahwa rezeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir (sekitar 10-13 th) dan memasuki taraf aqil baligh (usia 14 th ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis).

Maka sekarang, jalankan saja yang anda BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tsb apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri:
a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar.
b. energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.
c. rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi.
d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas:
a. Kita harus menjadi (memiliki mental) seperti orang yang kita harapkan (be)
b. Kita harus melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan (do)
c. kita mempunyai semua yang kita inginkan (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan:
a. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
b.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
c. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang anda pikir memang harus diubah.

Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita. Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”.

Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka diskusi dan nanti kami akan lebih detilkan materi ini secara real di nice homework #8 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di nice homework#7.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan:
Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014
Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif, 2016
Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

[Matrikulasi] Materi Sesi #6: Ibu Manajer Keluarga Handal

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Motivasi Bekerja Ibu
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib profesional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita, kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas di manapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?
a. Apakah masih “ASAL KERJA”, menggugurkan kewajiban saja?
b. Apakah didasari sebuah “KOMPETISI ”, sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain?
c. Apakah karena “PANGGILAN HATI”, sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga.

a. Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
b. kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stres, tidak suka melihat keluarga lain sukses
c. Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Ibu Manajer Keluarga
Peran Ibu sejatinya adalah seorang manajer keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
“Saya Manajer Keluarga”, kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manajer.

a. Hargai diri anda sebagai manajer keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manajer keluarga.
b.Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi.
c.Buatlah skala prioritas.
d.Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan
Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST
– Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami.
– Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini.
– Aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b.ONE BITE AT A TIME
Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap
-Lakukan sekarang
-Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda.Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya. Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran
Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih “SEKEDAR MENJADI IBU”.

IMG-20180226-WA0011

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:
a. Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga”.

b. Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang “manajer gizi keluarga”, dan terjadilah perubahan peran.

c. Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.

Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

d. Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata

BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
– Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015
– Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016
– Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009.

[Matrikulasi] Materi Sesi #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #5?
Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;
1. perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1. bersangkutan dengan profesi;
2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?
Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?
“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :
BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015