Tag Archives: ibu cekatan 1

[Bunda Cekatan] Kelas Telur-telur: Jurnal #1

Tingkatan baru dalam perkuliahan di Institut Ibu Profesional. Setelah menuntaskan Kelas Bunda Sayang, saya, yang emang doyan belajar ini, walaupun prakteknya masih banyak kekurangan, langsung lanjut daftar Kelas Bunda Cekatan.

Rasanya tuh, biar masih sering keteteran, lebih semangat saat dapet ilmu baru lagi, tertantang ngerjain tugas-tugas yang harapannya bisa membantu meningkatkan kualitas diri sebagai perempuan, istri, dan ibu.

Untuk Kelas Bunda Cekatan ini, media yang digunakan untuk pemberian materi, tugas, juga diskusi adalah sebuah grup di media sosial. Mahasiswa dari seluruh Indonesia tergabung di sana. Grup chat tuap wilayah tetap ada, tapi hanya untuk diskusi antar peserta, saling mengingatkan akan tugas dan jadwal.

Materi pertama berbentuk video yang disiarkan secara langsung oleh Bu Septi Peni, salah seorang founder Institut Ibu Profesional. Materi pertama yang diberi judul “Dongeng #1″ ini, pada prinsipnya menekankan pada pentingnya menemukan kebahagiaan kita sebagai pribadi agar kemudian bisa membantu anggota keluarga lain menemukan kebahagian masing-masing, sebagai diri dan keluarga. Untuk itu, kita perlu mengenali apa yang menjadi kesukaan kita, kegiatan yang mebuat kita senang, berbinar saat melakukannya. Juga hal yang kurang hingga tidak kita sukai atau tidak bisa lakukan agar bisa dicari cara agar bisa tetap terselesaikan dengan baik jika dibutuhkan.

Jurnal pertama yang menjadi tugas pertama pun berkaitan dengan itu. Peserta diminta membuat daftar kegiatan yang dilakukan sebagai perempuan, ibu, dan istri, kemudian membaginya ke dalam empat kuadran.

20191217_205833_0002

20191217_205833_0000

20191217_205833_0001

Tugas semacam ini sebenarnya sudah pernah juga saya lakukan saat Kelas Matrikulasi, beserta tes bakat yang dilakukan melalui sebuah website, namun kali ini kegiatan yang diminta lebih luas mencakup berbagai peran tersebut.

Setelah membagi ke dalam empat kuadran, peserta diminta memilih lima hal yang paling disuks dan bisa dilakukan. Lima hal ini yang nantinya menjadi prioritas untuk digali juga menjadi ceruk-ceruk bahagia saat kita “diharuskan” mengerjakan hal-hal yang tidak kita sukai namun belum atau tidak bisa didelegasikan.

Bagaimana selanjutnya?

Saya juga menantikan di materi dan tugas berikutnya.

Click to Share