Tag Archives: Gaya Belajar Visual

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Kelimabelas

Hari ini saya mengajak Nara mengikuti ketukan

Saya mengetukkan tangan ke atas meja, lalu dia mengikuti polanya. Saya hanya memberikan dua pola: tangan terbuka dan tertutup. Masing-masing tiga ketukan. Variasi lainnya ada pada kecepatan ketukan.

Awalnya dia melakukannya sambil melihat. Nara tidak langsung paham. Dia lebih banyak melihat ke wajah saya. Baru setelah saya minta memperhatikan tangan saya dia mengikuti dengan lebih baik.

Setelah itu, saya memintanya mengikuti tanpa melihat. Kadang Nara berhasil menirukan, kadang masih belum tepat.

Kami hanya sempat bermain sebentar, karena Nara mulai bosan.

Ketiga gaya belajar: Visual, auditori, dan kinestetik distumulasi di sini. Dengan melihat, jelas lebih mudah bagi Nara untuk mengikuti ketukannya. Tapi Nara juga cukup mampu mengikuti janya dengan suara walau belum lancar. Seiring gerakan tangannya yang dilakukan beeulang-ulang, Nara jadi lebih lancar mengubah bentuk tangan dari terbuka menjadi tertutup dan sebaliknya dan mengatur kombinasinya.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Keempatbelas

Sejak usianya sekitar satu setengah tahun, Nara sudah hapal beberapa lagu dan bisa menyanyikannya dengan baik. Pengucapannya juga sudah jelas lecuali beberapa huruf yang masih cadel.

Ini salah satunya mungkin karena Naea sering sekali dinyanyikan lagu, terutama oleh kakek neneknya. Awalnya karena dia menolak minum ASIP saat saya mulai bekerja. Nara kesulitan menggunakan dot, sementara neneknya kesulitan menggunakan feeder cup. Akhirnya dicoba menggunakan sendok, Nara menutup mulutnya.

Kakeknya lalu mencoba menyanyikan lagu-lagu. Ternyata Nara mau minum ASIP! Sejak itu, kakek Nara selalu menyanyi berbagai lagu sampai Nara selesai minum ASIP. Berlanjut hingga dia mulai mengkonsumsi MPASi. Kadang sambil menari.

Waktu ulang tahunnya yang pertama, ayah Nara membelikan boneka yang bisa bernyanyi. Mulai lagu daerah hingga lagu islami.

Koleksi lagu yang bisa dinyanyikannya pun bertambah.

Walau ada unsur visual dalam kegiatan ini (kakek yang menari), namun rasanya gaya belajar auditori yang lebih mendominasi dan berperan dalam membuat Nara hapal lagu-lagu.

Hingga kini pun Nara masih suka bernyanyi bersama si boneka. Kyna juga mulai menikmati nyanyian Atok(panggilan untuk sang kakek dan boneka tersebut).

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Ketigabelas

Kalau biasanya saya yang membacakan buku sebelum tidur untuk Nara dan Kyna. Malam ini, saya meminta Nara yang membacakan bukunya.

Tentu saja tidak benar-benar membaca, karena Nara belum bisa, melainkan menceritakan kembali isi buku sesuai yang dia ingat.

Saya sudah pernah mendengar Nara “membaca” buku sendiri. Dia asyik sendiri membalik buku sambil bercerita. Tapi baru kali ini saya menjadi pendengarnya sambil duduk di sebelahnya.

Nara sudah bisa menceritakan kembali isi bukunya. Walaupun tidak secara detail, tapi inti ceritanya tersampaikan. Bahkan beberapa perkataan tokoh di dalamnya turut melengkapi ceritanya.

Nara pun makin bersemangat seiring dia menceritakan bukunya. Matanya terlihat berbinar. Dia sibuk menunjukkan gambar dalam bukunya yang menggambarkan ceritanya. Terkadang tangannya juga bergerak sesuai alur cerita.

Nara bercerita dengan bantuan gambar (gaya belajar visual). Nara juga mengingat cerita dan percakapan tokohnya berdasarkan apa yang dia dengar saat saya membacakannya (gaya belajar auditori). Gerakan-gerakan yang dilakukan saat bercerita untuk membantunya mengekspresikan isi cerita, bisa dimasukkan dalam gaya belajar kinestetik.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Keduabelas

Memanfaatkan tepung yang digunakan untuk tracing, saya mengajak Nara membuat cat.

Caranya sangat mudah. Tepung terigu yang sudah dipisahkan ke dalam tiga buah mangkuk dicampur air, lalu diaduk dan ditambahkan pewarna makanan.

Nara turut membantu mengaduk tepung dan air. Dia juga yang membuka botol pewarna dan menuangkannya ke dalam mangkuk lalu mengaduknya.

Kami sengaja hanya menggunakan tiga warna primer: Merah, biru, dan kuning. Agar Nara bisa mencoba dan melihat sendiri warna yang bisa dihasilkan dari percampuran ketiga warna tadi.

18-12-11-21-36-36-140_deco

Melukis menggunakan cat dari terigu ini ternyata lebih seru dari cat air yang biasa kami gunakan. Nara sampai menghabiskan empat kertas, mulai dari menggunakan kuas hingga tangan kosong untuk melukis.

Sayang sekali Kyna yang sedang tidur tidak ikutan.

Dari kegiatan ini, semua gaya belajar terstimulasi.

Nara mengikuti petunjuk membuat cat dengan baik (auditori). Nara mengidentifikasi warna-warna yang dilihatnya, termasuk mencoba-coba mencampur warna dan melihat hasilnya lalu menyebutkannya (visual). Gerakan-gerakan saat membuat cat maupun melukismembantunya belajar melakukannya dengan semakin baik (kinestetik).

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Kedelapan

Saat main ke rumah Nara, Ticha membuatkan Nara dan Shayna gambar gurita. Mereka kemudian menempelkan kertas liat yang telah mereka gunting sebelumnya di atas gambar masing-masing.

Besoknya, saya mengajak Nara menyelesaikan tempelan kertas di atas gurita yang memang masih banyak kosongnya.

Seperti biasa dia menggunting kertas lipat dengan lancar. Sekarang Nara sudah bisa menggunting dengan ukuran lebih kecil-kecil.

18-12-07-14-22-19-052_deco

Setelah itu, saya memberikan kertas bergambar gurita dan lem untuk dia aplikasikan pada kertas tersebut sebelum menempelkan guntingan kertas lipatnya.

Kali ini, Nara melakukannya sambil bercerita. Kabarnya itu termasuk ciri belajar auditori ya.

Nara menekan lem dengan kedua tangan lalu meratakan lemnya. Kemudian baru menempelkan kertas lipat sesuai bentuk guritanya. Kadang keluar dari garis juga sih. Fojusnya cukup baik, hanya sepertinya dia lebih tertarik menggunting daripada menempel. Ini cenderung visual ya.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Ketujuh

Sepupu Nara, Shayna, datang berkunjung. Shayna membawa buku yang bisa dimainkan menggunakan sejenis e-pen.

Setelah melihat Shayna memainkannya, giliran Nara mencoba. Nara langsung menyentuhkan pulpen ke buku seperti yang dilakukan Shayna. Tapi untuk variasi permainan, Nara masih perlu diberitahu oleh Ticha, ibunya Shayna.

18-12-06-22-36-38-798_deco

Nara cukup bisa mengerti dan mengikuti instruksi yang dikeluarkan oleh si pulpen. Ini masuknya auditori ya.

Setelah beberapa kali melakukan, Nara semakin lancar dan mengerti cara mainnya. Ini termasuk kinestetik.

Nara yang mencontoh Shayna dan menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan baik, masuknya ke visual.

Semakin hari pengamatan ini ternyata seru juga ya 😁

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Keenam

Di salah satu saluran televisi untuk balita, ada tayangan menggambar menggunakan pasir.

Kami suka bermain tebak gambar kalau menonton tayangan tersebut.

Kali ini juga begitu.

Nara termasuk cepat dalam menebak gambar apa yang sedang dibuat oleh penggambar. Bahkan kadang dia menebak lebih cepat dan tepat dibanding saya atau ayahnya.

Saat seharusnya hasil akhirnya adalah jerapah, saya malah menebak (dalam hati) naga. Sementara Nara langsung menyebut jerapah, yang baru saya lihat kemudian.

Pada gambar selanjutnya, Nara juga menebak zebra dengan benar. Padahal itu bisa saja kuda kan, seperti yang saya duga sebelumnya.

Saya pikir ini berkaitan dengan kecendrungan gaya belajar visualnya. Dia bisa mengingat dengan baik bentuk binatang yang pernah dilihatnya, walau sebagian hanya dari gambar atau televisi.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Kelima

Kali ini kegiatan Nara dan Kyna masih seputar menggambar.

Journaling kami biasa menyebutnya. Ini adalah salah satu kegiatan yang rutin kami lakukan.

18-12-04-14-24-41-122_deco

Selain sebagai latihan mengekspresikan diri, kegiatan ini juga mengembangkan kemampuan pra menulis anak. Anak biasanya akan menggoreskan pola-pola sesuai tahap perkembangannya. Cara dan kemampuan mereka memegang krayon atau alat tulis lainnya pun turut berkembang.

Ini sepertinya melibatkan dua gaya belajar ya. Kinestetik, belajar dengan melakukan, dan visual belajar menggoreskan apa yang dilihat dan direkam dalam ingatan melalui penglihatan.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Keempat

Kegiatan hari keempat ini seputar menggunting.

Nara sedang menyukai kegiatan ini. Sejak awal diperkenalkan pada gunting, kemampuan Nara menggunting sudah jauh berkembang.

Pertama kali saya memberikan gunting padanya, Nara bahkan tidak bisa membuka guntingnya. Saya kemudian memperbanyak latihan seperti menjepit, meremas, dan semacamnya, guna menguatkan jari-jarinya.

Lama-kelamaan Nara bisa menggunakan gunting, tapi masih kesulitan. Saya pun masih mengawasi dengan ketat dan hati was-was setiap kali Nara menggunting.

Pada kegiatan menggunting kali ini, Nara sudah mahir menggunting kertas dari ujung ke ujung, juga membuat potongan panjang melingkar.

GL 4 D4 - 031218

Saya tidak pernah sengaja memberikan pola untuk dia gunting atau menunjukkan seperti apa dia harus menggunting.

Ternyata memang benar teori yang pernah saya dengar, anak akan bisa menemukan sendiri cara melakukan sesuatu beserta variasinya. Dengan cara ini, kemampuan eksplorasi dan discovery anak terasah. Lebih banyak sambungan dan pemahaman yang terjadi dalam otaknya daripada jika dia diberitahu sejak awal cara dan pola yang harus dikerjakan misalnya.

Sepertinya, ini bisa digolongkan gaya belajar kinestetik ya? Belajar dengan cara melakukan.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Ketiga

Kali ini saya mengajak Nara melempar bola. Saya hanya memberikan instruksi secara lisan, tanpa peragaan seperti biasa.

Pertama saya meminta Nara melempar bola dari atas, sampai mengenai pintu. Nara melakukannya dengan baik. Selanjutnya saya memintanya melempar bola dari bawah. Kali ini dia agak bingung. Baru setelah saya mencontohkannya dia bisa menirukan.

Sepemahaman saya, anak seusia Nara mungkin memang akan lebih paham jika dicontohkan daripada sekadar diberitahu secara lisan. Tapi bisa jadi juga itu karena kecendrungan gaya belajar visualnya.

Sorenya, saya mengajak Nara dan Kyna melukis. Kegiatan yang cukup sering mereka lakukan.

Nara bisa menyelesaikan lukisannya dengan fokus yang baik. Sementara Kyna sibuk mondar-mandir. Entah berusaha meraih cat air, yang sebenarnya bisa diambil tanpa berdiri, atau mencoba melukis di kertas kakaknya 😅

Rasanya saya masih perlu banyak belajar lagi agar stimulasi dan pengamatan yang dilakukan lebih baik ya.

Sejauh ini, masih kecendrungan visual yang saya temukan pada Nara.