Tag Archives: Game Level 4

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Keenam

Di salah satu saluran televisi untuk balita, ada tayangan menggambar menggunakan pasir.

Kami suka bermain tebak gambar kalau menonton tayangan tersebut.

Kali ini juga begitu.

Nara termasuk cepat dalam menebak gambar apa yang sedang dibuat oleh penggambar. Bahkan kadang dia menebak lebih cepat dan tepat dibanding saya atau ayahnya.

Saat seharusnya hasil akhirnya adalah jerapah, saya malah menebak (dalam hati) naga. Sementara Nara langsung menyebut jerapah, yang baru saya lihat kemudian.

Pada gambar selanjutnya, Nara juga menebak zebra dengan benar. Padahal itu bisa saja kuda kan, seperti yang saya duga sebelumnya.

Saya pikir ini berkaitan dengan kecendrungan gaya belajar visualnya. Dia bisa mengingat dengan baik bentuk binatang yang pernah dilihatnya, walau sebagian hanya dari gambar atau televisi.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Kelima

Kali ini kegiatan Nara dan Kyna masih seputar menggambar.

Journaling kami biasa menyebutnya. Ini adalah salah satu kegiatan yang rutin kami lakukan.

18-12-04-14-24-41-122_deco

Selain sebagai latihan mengekspresikan diri, kegiatan ini juga mengembangkan kemampuan pra menulis anak. Anak biasanya akan menggoreskan pola-pola sesuai tahap perkembangannya. Cara dan kemampuan mereka memegang krayon atau alat tulis lainnya pun turut berkembang.

Ini sepertinya melibatkan dua gaya belajar ya. Kinestetik, belajar dengan melakukan, dan visual belajar menggoreskan apa yang dilihat dan direkam dalam ingatan melalui penglihatan.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Keempat

Kegiatan hari keempat ini seputar menggunting.

Nara sedang menyukai kegiatan ini. Sejak awal diperkenalkan pada gunting, kemampuan Nara menggunting sudah jauh berkembang.

Pertama kali saya memberikan gunting padanya, Nara bahkan tidak bisa membuka guntingnya. Saya kemudian memperbanyak latihan seperti menjepit, meremas, dan semacamnya, guna menguatkan jari-jarinya.

Lama-kelamaan Nara bisa menggunakan gunting, tapi masih kesulitan. Saya pun masih mengawasi dengan ketat dan hati was-was setiap kali Nara menggunting.

Pada kegiatan menggunting kali ini, Nara sudah mahir menggunting kertas dari ujung ke ujung, juga membuat potongan panjang melingkar.

GL 4 D4 - 031218

Saya tidak pernah sengaja memberikan pola untuk dia gunting atau menunjukkan seperti apa dia harus menggunting.

Ternyata memang benar teori yang pernah saya dengar, anak akan bisa menemukan sendiri cara melakukan sesuatu beserta variasinya. Dengan cara ini, kemampuan eksplorasi dan discovery anak terasah. Lebih banyak sambungan dan pemahaman yang terjadi dalam otaknya daripada jika dia diberitahu sejak awal cara dan pola yang harus dikerjakan misalnya.

Sepertinya, ini bisa digolongkan gaya belajar kinestetik ya? Belajar dengan cara melakukan.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Ketiga

Kali ini saya mengajak Nara melempar bola. Saya hanya memberikan instruksi secara lisan, tanpa peragaan seperti biasa.

Pertama saya meminta Nara melempar bola dari atas, sampai mengenai pintu. Nara melakukannya dengan baik. Selanjutnya saya memintanya melempar bola dari bawah. Kali ini dia agak bingung. Baru setelah saya mencontohkannya dia bisa menirukan.

Sepemahaman saya, anak seusia Nara mungkin memang akan lebih paham jika dicontohkan daripada sekadar diberitahu secara lisan. Tapi bisa jadi juga itu karena kecendrungan gaya belajar visualnya.

Sorenya, saya mengajak Nara dan Kyna melukis. Kegiatan yang cukup sering mereka lakukan.

Nara bisa menyelesaikan lukisannya dengan fokus yang baik. Sementara Kyna sibuk mondar-mandir. Entah berusaha meraih cat air, yang sebenarnya bisa diambil tanpa berdiri, atau mencoba melukis di kertas kakaknya 😅

Rasanya saya masih perlu banyak belajar lagi agar stimulasi dan pengamatan yang dilakukan lebih baik ya.

Sejauh ini, masih kecendrungan visual yang saya temukan pada Nara.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Kedua

Saat saya akan membuat nasi goreng atau masakan lain yang menggunakan bawang merah, Nara dan Kyna seringkali membantu mengupas bawangnya.

Kali ini saya mengamati saat Nara mengupas bawang. Seperti biasa, fokusnya baik. Dia telaten mengupas bawang hingga selesai. Nara juga tidak terganggu saat saya menyanyi di dekatnya.

Setelahnya, dia ikut menumis bawang. Saya contohkan, lalu dia mengikuti.

Sepertinya ini masih masuk gaya belajar visual ya. Berikutnya saya akan coba stimulasi ke arah gaya belajar lainnya.

[Bunda Sayang] Game Level 4: Tantangan 10 Hari Memahami Gaya Belajar Anak – Hari Pertama

Habis baca materi level 4, ngikutin diskusinya, terus langsung membayangkan, kira-kira saya dan anak-anak gaya belajarnya cenderung ke yang mana ya…

Terus bingung, gimana cara mengamatinya ya, hehehe..

Menurut hasil diskusi, gaya belajar anak biasanya terlihat pada usia 6-7 tahun. Sebelum itu, masih bisa berubah-ubah. Kadang lebih visual, kadang auditori atau kinestetik, bisa juga kombinasi dari ketiganya.

Gaya Belajar Anak 301118

Sepertinya saya akan berpatokan pada ciri-ciri di atas. Sementara untuk kegiatannya saya mungkin akan banyak melihat contoh dari teman-teman sesama peserta Kelas Bunda Sayang, baik dari batch ini mapun batch sebelumnya.

Untuk tantangan kali ini, saya kembali memilih Nara, anak sulung saya yang berusia 3 tahun, karena usianya lebih besar jadi semoga juga lebih mudah mengamatinya 😀

Sejauh ingatan saya, Nara sepertinya cenderung lebih visual, sama seperti saya. Fokusnya sangat baik sejak berusia sangat kecil. Dia bisa bertahan menyimak saat dibacakan sebuah buku yang cukup panjang untuk usianya, sambil melihat gambar di bukunya. Nara bahkan hapal isi buku tersebut, hingga menangis saat salah dibacakan. Saat itu dia baru berusia 7 bulan.

Nara juga mengingat warna-warna tanpa saya ajarkan secara khusus. Dia dengan mudah mengelompokkan warna dan bentuk. Dia juga tidak mudah terganggu oleh suara berisik. Bahkan saat masih bayi, dia bisa terus tidur walau ada keramaian di sekitarnya. Nara juga menikmati musik, suka menyanyi dan mampu menghapal lirik dengan cepat.

Saya sesungguhnya baru menyadari semua itu setelah melihat perkembangan Kyna, anak kedua saya. Kyna lebih mudah teralih saat dibacakan buku. Baru di atas usia setahun dia mulai mau menyimak buku-buku dengan sedikit tulisan. Hingga usianya menjelang dua tahun, Kyna belum juga mengenal warna atau bentuk. Kyna juga suka mendengar musik, menyanyi dan menari. Namun dia belum bisa menyanyikan satu lagu utuh, di mana di usia lebih muda, Nara bisa melakukannya.

Di sisi lain, Kyna lebih kuat motorik kasarnya. Saat berusia beberapa minggu, Kyna sudah bisa memiringkan tubuh bahkan ada saat dia membalikkan badan dari tengkurap menjadi terlentang saat tidur. Pada usia 2 bulan, Kyna sudah bisa mengangkat kepala tinggi-tinggi dengan mudah. Sesuatu yang susah payah dilakukan Nara saat dia sudah berusia di atas 3 bulan. Kyna juga lebih aktif bergerak dan lebih cepat bisa berjalan. Melompat, memanjat, bergantungan, menjaga keseimbangan, adalah hal yang mudah baginya.

Kembali ke Nara. Untuk tantangan hari pertama ini, saya mengajaknya bermain menemukan huruf. Saya menulis beberapa huruf di atas kertas kemudian meminta Nara mencari huruf yang sama dengan yang tertera di kartu yang saya berikan.

GL 4 D1 - 301118

Nara memang mulai tertarik dengan huruf, jadi dia bersemangat melakukan permainan ini. Tidak ada kesulitan berarti saat mencari huruf yang sama dengan yang di kartu. Sejauh ini, dia paling ingat huruf “i”.

Nara lebih mengingat bentuk, daripada nama huruf yang saya ucapkan. Untuk hari pertama, kecenderungan visual lebih terlihat.