Tag Archives: Game Level 3

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Keenam

Buku yang menjadi pilihan kali ini adalah “Allah Sayang Padaku: Allah Ciptakan Tubuhku”. Buku ini menceritakan bagaimana Allah menciptakan manusia, mulai dari rahim, memberinya organ dan anggota tubuh, sampai dia kemudian dilahirkan ke dunia.

Di dunia pun diceritakan betapa banyak karunia Allah yang dilimpahkan dan bisa kita nikmati dengan anugerah Allah berupa berbagai indra.

GL 3 D6 - 061118

Semua diceritakan dari sudut pandang anak. Ilustrasinya pun menarik. Sejak awal dibacakan buku ini, Nara sudah menyukainya. Hingga sekarang pun dia belum bosan, bahkan semakin banyak komentar dan pertanyaan yang diajukannya saat dibacakan buku ini. Kyna juga mulai tertarik. Dia berkali-kali minta dibacakan buku ini lagi.

Menurut saya, buku ini sangat membantu menunjukkan pada anak-anak betapa Allah yang memberikannya begitu banyak hal. Allah yang menciptakan, memelihara, memberi rejeki dan banyak sekali nikmat. Untuk itu, kita patut bersyukur kepada Allah, termasuk dengan menggunakan apa yang Dia berikan untuk kebaikan.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Kelima

Pada kegiatan melukis sore itu, saya meminta Nara dan Kyna menggambar ciptaan Allah swt.
Setelah mereka selesai melukis, saya pun meminta masing-masing bercerita tentang gambarnya.

Nara bercerita bahwa dia menggambar Sali, Saliha, Ayah, dan Ibu yang sedang makan di taman. Tokoh-tokoh dalam buku serial Halo Balita itu membawa bekal berupa nasi goreng. Mereka dikelilingi pepohonan dan buah-buahan.

Sementara Kyna katanya melukis ikan paus yang sedang makan dan minum.

GL 3 D5 -051118

Walaupun manusia yang digambar Nara merupakan tokoh rekaan, tapi sebagai manusia mereka boleh lah masuk kategori ciptaan Allah ya… Apalagi pepohonan dan buah-buahannya. Saya tetap mencoba menjelaskan sih, kalau keluarga itu adalah gambar yang dibuat manusia.
Ikan paus juga termasuk ciptaan Allah, jadi masuk ya. Hihi.

Kegiatan ini diharapkan dapat menanamkan ingatan dan membangun pemahaman tentang Allah yang Maha Pencipta dengan lebih baik. Imajinasi dan kreativitas Nara dan Kyna juga turut terasah.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Keempat

Pada hari keempat ini, saya kembali menceritakan tentang Allah yang Maha Pencipta. Dia yang menciptakan kita semua, bermacam tanaman yang kami lihat di luar rumah, juga berbagai binatang yang pernah kami lihat langsung maupun yang baru kami lihat di televisi dan buku-buku.

Sang Ayah, rekan fasilitator saya dalam proyek ini, membantu membangun aura senang beribadah dengan menunjukkan wajah bersemangat saat mendengar adzan dan bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat.

Malamnya, Nara bercerita panjang lebar tentang betapa Allah sangat hebat, bisa menciptakan segala sesuatu. Terdengar berulang-ulang dari mulutnya, “Allah hebat, ya…”.

Semoga saya dapat suami dapat konsisten menyuburkan kekaguman terhadap Allah ini di hati Nara dan Kyna ya.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Ketiga

Setelah cerita sebelum tidur yang banyak menggambarkan soal bersyukur kepada Allah, kemarin saya mengajak anak-anak (dan ayahnya) membuat jurnal syukur.

Setelah membuka kegiatan dengan menceritakan kembali mengenai Allah Yang Maha Pemberi, saya pun meminta Nara dan Kyna menyebutkan apa yang membuat mereka bersyukur hari itu.

Mereka sempat bingung. Saya kemudian mencoba menyederhanakan dengan kalimat “Apa yang membuat Nara dan Kyna senang hari ini?”

Hasilnya seperti foto di bawah ini:

18-11-04-07-29-15-596_deco

Nara dan Kyna dapat bagian menggambar hal yang disyukuri, sementara saya yang membuat tulisannya. Saya dan suami turut menambahkan hal yang kami syukuri.

Karena anak-anak tampaknya belum terlalu paham konsep “hari ini”, akhirnya saya biarkan saja mereka menyebutkan hal yang disyukuri tanpa batasan waktu.

Sederhana saja rupanya hal-hal yang membuat kita bersyukur itu ya. Hal sederhana yang ternyata sungguh bermakna.

P.s. Tanggal di gambarnya saya salah tulis, harusnya tanggal 3 November ya 😅

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Kedua

Membacakan buku sebelum tidur sudah menjadi kegiatan rutin saya dan anak-anak setiap malam.

Kemarin malam, saya menawarkan buku “Allah Ciptakan Tubuhku” dan “Aku Sayang Allah” sebagai pilihan bercerita. Kakak Nara memilih yang kedua. Setelahnya, dia dan adiknya bebas memilih buku lainnya, seperti malam-malam sebelumnya.

Buku “Aku Sayang Allah”, yang juga menjadi inspirasi judul proyek kami, merupakan salah satu jilid dari seri Halo Balita. Isinya menceritakan tentang bagaimana nama Allah disebutkan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya, mengucap ‘alhamdulillah’ saat menerima kebaikan, ‘innalillahi’ saat kehilangan atau mendapat musibah, ‘astaghfirullah’ saat lalai atau ingin dijaga dari kesalahan.

Kali ini saya membacakannya dengan menambahkan beberapa penjelasan seiring dengan berjalannya cerita. Betapa hebatnya Allah yang bisa menciptakan beraneka ragam binatang yang menakjubkan. Betapa baiknya Allah yang sudah memberi kita banyak rejeki dan kesenangan. Betapa kita hanya bisa bersandar pada Allah dan hanya dengan izin-Nya segala sesuatu bisa terlaksana.

Tentunya dengan bahasa yang sederhana, dikaitkan dengan kehidupan kami sehari-hari, dan dengan ekspresi gembira juga bersemangat.

Saat membacakan buku selanjutnya, masih dari seri Halo Balita, yang berjudul “Aku Suka Berterima Kasih”, saya kembali mengaitkannya dengan Alah yang juga banyak memberi segala sesuatu kepada kita semua. Jika kepada manusia saja kita berterima kasih, tentu pada Allah kita juga perlu senantiasa bersyukur.

Sungguh proyek ini sekaligus mengingatkan saya juga untuk lebih banyak bersyukur dan mengingat Allah dalam keseharian saya.

[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Pertama

Sempat bingung waktu baca tantangan dari materi kali ini. Mau fokus ke kecerdasan yang mana, kegiatan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan yang dipilih.

Terus inget buku Fitrah Based Education-nya Harry Santosa. Dalam buku itu disebutkan bahwa usia 0-7 tahun merupakan golden age bagi fitrah keimanan.

Pada usia tersebut, secara fitrah perkembangan, imajinasi dan abstraksi anak berada pada puncaknya, alam bawah sadar masih terbuka lebar. Sehingga imaji tentang Allah, Rasulullah, kebajikan, ciptaan-Nya mudah dibangkitkan pada usia ini. Demikian dijelaskan dalam buku tersebut.

Karenanya, di antara empat kecerdasan yang disebutkan dalam materi, saya memutuskan untuk lebih mengasah kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence).

Saya menggunakan buku FBE sebagai panduan kegiatan dan mendasarkan tujuan kegiatan pada indikator kecerdasan dari materi Bunda Sayang.

Prinsip dasar dalam mengasah kecerdasan spiritual berdasarkan fitrah keimanan pada usia ini adalah menumbuhkan kecintaan pada Allah dan agama. Karena memang anak-anak belum bertanggung jawab secara moral hingga usia 7 tahun. Kecintaan pada Allah juga merupakan pondasi yang kuat untuk dapat beribadah dengan motivasi internal dan pemahaman yang baik. Tanpa paksaan apalagi ancaman.

Ini juga seiring dengan indikator dari materi Bunda Sayang untuk kecerdasan spiritual usia 0-7 tahun:
– Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah
– Mengenal ciptaan Allah
– Membangkitkan kesadaran Allah sebagao pengasih dan penyayang, pencipta, pemberi rejeki.

Berangkat dari situ, saya memberi nama proyek keluarga pertama kami ini: “Proyek Aku Sayang Allah”

Saya dan suami bekerjasama menjadi fasilitatornya, sementara Nara dan Kyna menjadi pesertanya.

Metode yang digunakan, berdasarkan buku FBE, berpusat pada dua hal:
– Menciptakan atmosfer keshalihan (kebaikan, kecintaan, keridhaan) di rumah.
– Membangun keteladanan dari hal yang paling sederhana, seperti mimik wajah, penguatan moral dengan sikap, kisah keteladanan melalui dongeng, dukungan penuh pada gairah kebaikan, dan seterusnya.

Kegiatan yang akan kami lakukan dalam proyek ini berpatokan pada metode dan indikator tersebut.

Untuk hari pertama, saya memulainya saat mengajak anak-anak mandi.

Seperti biasa, ada saatnya anak-anak, terutama Nara, enggan mandi. Sore itu, selain menggunakan komunikasi produktif, saya mencoba mengenalkan sifat Allah yang mencintai kebersihan.

Mama: “Ada yang tahu nggak kenapa kita harus mandi?”
Nara: “Kenapa Ma?”
Mama: “Seharian ini, debu-debu kan menempel di badan kita, ada kumannya juga. Jadi kita sabunin deh biar kuman-kumannya mati, debunya hilang.”
Nara: “Biar mati, hilang semua, nggak ada lagi ya, Ma.”
Mama: “Iya, terus kadang kita kan keringetan tuh, lengket, lepek, kalo mandi jadi segar deh. Pakai sabun jadi wangi. Enak ya, kalo habis mandi. Mama senang, Kakak senang, Adek senang. Ada satu lagi yang senang. Tau nggak siapa?”
Nara: “Siapa Ma?”
Mama: “Allah. Allah kan suka kebersihan. Kalo liat kita mandi, Allah pasti senang. Allah juga senang kerapian. Makanya kita kalo abis main diberesin lagi ya, kalo numpahin air atau bikin kotor dibersihin.”

Saya nggak tau sih sejauh apa ini ditangkap oleh Nara dan Kyna. Tapi saya berusaha untuk membuat Allah dekat dengan mereka, mengenalkan sifat-sifat, dan menyertakan-Nya dalam setiap kegiatan yang kami lakukan.

Sore itu Nara dan Kyna mandi dengan semangat. Semoga saya bisa selalu sabar dalam mengajak mereka ke arah kebaikan menggunakan cara yang baik ya.