Tag Archives: Game Level 1

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Ketujuh

Kadang kita suka lupa kalau sel-sel otak anak-anak belum bersambungan dengan sempurna. Fokus mereka juga belum sepanjang orang dewasa. Sehingga kalimat yang terlalu panjang belum tentu bisa ditangkap sepenuhnya. Apalagi kalau berupa omelan. Bisa-bisa kita sudah mengomel panjang lebar dari depan ke belakang, namun tidak ada yang ditangkap anak 😅

Begitu juga saat meminta anak melakukan sesuatu. Saya kadang juga suka lupa, meminta Nara atau Kyna melakukan banyak hal sekaligus. Maksudnya sih mumpung ingat kan, sekalian gitu. Harapannya biar sekali bicara semua beres. Tapi tidak begitu kenyataannya. Kadang hanya satu hal yang disebutkan di awal/ akhir yang dikerjakan, atau malah nggak dikerjakan sama sekali. Mungkin bingung ya, mungkin juga jadi malas karena kok rasanya banyak betul 😆

Mengingat hal itu, saya mencoba menerapkan KISS (Keep Informafion Short and Simple) saat berbicara dengan Nara hari ini.

Misalnya saat buku-buku belum dikembalikan pada raknya, sementara Nara perlu mencuci tangannya dan meletakkan wadah bekas makan agar-agar di tempat cuci piring. Daripada mengatakan semuanya sekaligus, saya menyebutkannya satu per satu.

“Kak, tempat agarnya tolong taruh di belakang dulu ya.”

Saat dia sudah sampai di dapur, baru saya menambahkan,

“Sekalian cuci tangan ya, Kak.”

Saat dia sudah kembali ke ruang keluarga, baru saya memintanya membereskan buku-bukunya.

Lebih efektif dan menghemat energi sih, daripada harus mengatakan perintah yang sama berulang-ulang. Belum lagi, kalau kesabaran sedang tipis, nada bisa berubah dari datar menjadi kesal, padahal kesalahan terletak pada diri yang kurang pemahaman. Duh, astaghfirullah. Maaf ya, Kak. Semoga Mama bisa terus belajar berkomunikasi dengan lebih baik dan produktif.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Keempat

Belakangan ini, Nara sungguh penuh drama. Sedikit saja merasa tidak nyaman atau ada yang tidak sesuai keinginannya, dia akan mulai merengek, berteriak, atau menangis. Dia ingin terus berada di dekat saya.

Dugaan saya, karena hari penyapihannya semakin dekat. Dia tahu, karena saya terus mengingatkannya. Nara sudah sepakat, bahwa pada hari ulang tahunnya yang ke tiga, dia akan berhenti menyusu. Dia tahu dan setuju, tapi tampaknya tidak berarti itu mudah baginya.

Saya berusaha memahami Nara, karena dia tidak biasanya seperti itu. Menangis saat harus mandi, berteriak saat cara mandinya salah, minta digendong, marah saat harus makan nasi dulu sebelum makan kue atau minum susu.

Setelah mandi sore tadi, yang juga penuh drama, Nara bilang dia mau makan bakwan yang tadi pagi dibeli ayahnya. Saat mengetahui bahwa bakwannya sudah tidak ada, dia mulai merengek, terus mengulang-ngulang dia mau bakwan. Saya lalu mencoba merefleksikan pengalaman saya.

“Dulu, Mama juga pernah, pengen makan bakwan, tapi ternyata sudah habis. Mama kecewa sih, rasanya kesal, karena Mama belum sempat makan, eh, udah keduluan yang lain. Tapi terus Mama pikir, masih banyak makanan lain. Nggak apa-apa deh. Besok-besok bisa beli bakwan lagi.”

Tanpa saya duga, wajah Nara langsung berubah jadi ceria.

“Sama kaya Kakak ya, Ma.” Ujarnya dengan mata berbinar.

Setelahnya, dia langsung tertawa-tawa lagi, tidak lagi meminta bakwannya.

Ternyata, pesan-pesan memang bisa jadi lebih mudah diterima saat disampaikan dengan ringan, sekadar berbagi pengalaman, tanpa terkesan menggurui ya. Mungkin dengan demikian, anak juga merasa tidak sendirian dan dimengerti.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedua

Suara tangisan dan teriakan terdengar dari kamar mandi di lantai bawah. Saya yang sedang di lantai dua rumah kami bergegas turun.

Dalam kamar mandi, ibu saya sedang mencoba berbicara dengan Nara yang baru selesai buang air besar. Rupanya, Nara hanya mau dibersihkan oleh saya. Dia menangis dan melempar semprotan yang biasa digunakan untuk cebok. Bajunya juga basah. Kata ibu saya, Nara tadi berusaha mengambil semprotannya sendiri, lalu tidak sengaja tersemprot.

Saya menarik napas, menenangkan diri, lalu berusaha menenangkan Nara. Saya berjongkok agar mata saya sejajar dengan matanya, lalu saya mulai berbicara.

“Nara maunya dicebok Mama ya?”
“Iya, Ma.”
“Nara kesal, karena Nely (panggilan Nara untuk ibu saya) mau cebokin Nara?”
“Iya, Nara nggak mau.”
“Mama mengerti. Nely kan cuma mau bantu Nara. Nely kasihan karena Nara lama tunggu Mama.”

Sampai di sini, Nara menangis lalu memeluk saya. Mungkin menyesal, mungkin juga mau mencari kenyamanan. Sambil memeluknya, saya melanjutkan.

“Kalau Nara tidak mau, bisa bicara baik-baik ya, bilang sama Nely kalau Nara mau tunggu Mama aja.”
“Ok. Sekarang Mama cebokin Nara dulu ya.”

Keluar dari kamar mandi, Nara sudah berhenti menangis. Sambil membuka bajunya yang basah, saya kembali mengajaknya bicara.

“Tadi kenapa semprotannya dilempar?”
“Nara nggak bisa taruhnya.”
“Bisa minta tolong aja kalau nggak bisa ya, Kak. Nggak perlu dilempar.”

“Habis ini kita pakai baju, terus salim Nely ya.”
“Nggak mau, Ma.”
“Tadi kan Kakak marah-marah sama Nely. Mau salim sendiri atau Mama temenin?”
“Mau ditemenin, Ma.”

Percakapan di atas mungkin belum sempurna. Tapi paling tidak, saya berhasil mengendalikan emosi. Saya menatap mata Nara, menjaga intonasi suara, dan menerima emosi-nya.

Terasa sekali bedanya bagaimana Nara juga jadi lebih cepat menenangkan diri. Mau mendengarkan saya, mau juga diajak salim sama Nelynya, tanpa banyak drama yang biasanya terjadi.

Ternyata memang tidak perlu banyak perang urat leher dalam berkomunikasi produktif ya, apalagi dengan anak. Belajar memahami lawan bicara, mau mendengarkan dan menghargai, baru kemudian menyampaikan pesan kita. Hati lebih tenang, anak senang, tidak ada kerusakan tambahan yang tidak diperlukan.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Pertama

Tantangan ini tiba tepat pada saat saya merasa cara saya berkomunikasi dengan anak-anak seringkali terasa buruk dan saya ingin memperbaikinya.

Intonasi yang kerap meninggi, kata-kata yang kurang ramah, ucapan yang kurang sabar, teriakan, hingga ancaman masih suka muncul terutama saat saya sedang lelah, banyak kerjaan atau pikiran. Sungguh tidak adil bukan? Bagaimana saya anak-anak harus mengalami semua itu hanya karena saya tidak bisa mengelola diri dengan baik.

Saya tidak ingin hubungan kami menjadi buruk di kemudian hari. Saya juga tidak mau meninggalkan luka pada hati anak-anak tersayang saya. Karenanya, saya membulatkan tekad untuk melakukan poin demi poin komunikasi produktif yang telah diberikan dalam materi pertama Kelas Bunda Sayang.

Pada hari pertama ini, saya memutuskan untuk memulai dengan mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah.

Jika sebelumnya saya kerap menyuruh dengan tidak sabar agar anak membereskan mainan misalnya. Hari ini, saya berusaha mendekati mereka, menyejajarkan mata saya dengan mata mereka, lalu meminta tolong dengan perlahan dan sambil tersenyum.

Tidak mudah memang.

Nara (3 tahun) sedang tidak mau membereskan mainan hari ini. Dia tidak mau memasukkan crayon yang habis dia gunakan ke tempatnya. Dia bahkan mengeluarkan (tepatnya melempar) semua buku dari dua baris rak buku ke lantai dan menolak membereskannya, walau saya sudah memintanya dengan cara di atas.

Biasanya saya mungkin marah. Tapi kali ini saya sudah bertekad untuk tidak terpancing apapun ulahnya. Saya tetap berkata perlahan, tersenyum, bahkan memeluk Nara.

Saya sadar, anak sulung saya itu mungkin sedang merasa kurang senang. Dia sepertinya menunggu saya marah seperti biasa dan agak heran karena itu tidak terjadi.

Saya melakukan cara itu sepanjang hari. Mendekati anak saya saat berbicara juga efektif untuk mencegah saya berteriak. Menatap matanya menunjukkan kalau saya perduli, sungguh-sungguh, dan lebih baik dalam mendapatkan fokusnya.

18-09-06-20-59-52-318_deco

Saat Nara atau Kyna marah, menangis, atau menyampaikan kekecewaannya, saya mencoba berempati. Ini sudah suka saya lakukan sebelumnya, tapi tidak jarang terlupakan kalau sedang kesal atau merasa diburu waktu.

“Mama tahu Kyna masih ingin duduk di situ, tapi Kyna sudah selesai pipis. Nanti lagi ya.” Ujar saya saat anak kedua saya menangis, karena tidak mau saya ajak keluar dari kamar mandi setelah buang air kecil.

“Mama mengerti Nara kesal, tapi meja makan bukan tempat untuk bermain air. Ada tempatnya kalau Nara mau bermain. Bisa di sini atau di situ.” Kata saya waktu Nara marah, saat saya melarangnya menuang air ke dalam mangkuk bekas semangka dan berniat menuangnya lagi ke mangkuk lain.

Itu salah dua dari kalimat yang saya keluarkan hari ini.

Di penghujung hari, saya merasa Nara jadi lebih mau mendengarkan saya. Ada satu momen di mana dia yang sedang kesal berbinar matanya saat kami berbicara, yang membuat saya semakin ingin melanjutkan ini.

Saya juga merasa lebih tenang dan senang, tidak mudah marah, lebih mudah “memaafkan” tingkah laku anak-anak saya.

Senyum mereka semoga menjadi amunisi mengedalikan emosi dan membiasakan komunikasi produktif ini di hari-hari selanjutnya ya.