Tag Archives: empati

P.A.R.E.N.T: Cara Membesarkan Anak yang Tangguh dan Bahagia

Sesuai rencana, saya akan membahas lebih jauh metode pengasuhan yang diterapkan oleh orang Denmark, yang menurut penulis buku “The Danish Way of Parenting” menjadi salah satu faktor utama yang menjadikan Denmark negara paling bahagia di dunia.

Penulis menyingkat metode tersebut ke dalam kata PARENT, kemudian menjabarkan tiap hurufnya dalam sebuah bab. Di sini, saya mencoba merangkumnya dalam satu tulisan singkat. Semoga cukup memberi gambaran filosofi atau metode pengasuhan macam apa sih yang digunakan di Denmark.

1. P untuk Play
Bermain adalah sesuatu yang secara alami senang dilakukan oleh anak-anak, namun orang tua seringkali melihatnya sebagai sesuatu yang dilakukan sekadar sebagai hiburan, selingan dari kegiatan belajar. Bahkan, dianggap membuang-buang waktu jika dirasa dilakukan terlalu banyak. Padahal, dari bermain itulah anak-anak paling banyak belajar. Bermain mengajarkan ketangguhan, cara mengatasi stres, beradaptasi dan berbagai keterampilan lain yang dibutuhkan anak untuk menjadi manusia yang sukses dan bahagia.

Orang Denmark menyadari hal ini. Mereka lebih berfokus pada keterampilan hidup anak daripada menekan mereka secara akademis. Anak-anak dibiarkan bermain dan tidak memulai sekolah hingga usia 7 tahun, itupun masih banyak waktu bermain bebasnya. Mereka juga menganut filosofi “proximal development” yang intinya memberikan ruang dan waktu untuk anak berkembang, tanpa intervensi berlebihan. Mereka percaya setiap anak perlu menumbuhkan dorongan internal untuk meraih sesuatu daripada mengejar faktor eksternal seperti nilai yang baik, penghargaan, atau pujian orang tua. Ini juga akan menumbuhkan kendali internal yang kuat pada anak, yang berdasarkan riset mengurangi depresi dan kecemasan.

2. A untuk Autentisitas
Film-film Denmark tidak selalu menyajikan akhir yang bahagia. Mereka lebih suka memperlihatkan sebuah kisah sebagaimana kehidupan adanya. Ada tragedi, kesedihan, kegagalan, hal-hal yang menyakitkan. Hal ininjuga berlaku pada dongeng anak-anak, seperti misalnya cerita-cerita yang ditulis oleh Hans Christian Andersen.

Jika dalam versi bahasa Inggrisnya cerita-cerita ini diubah dengan akhir yang bahagia dengan anggapan versi asli kurang tepat untuk anak, orang Denmark percaya bahwa tragedi dan kesedihan juga perlu dibahas bersama anak-anak. Hal ini berguna untuk membantu mengenali dan menerima semua emosi dalam diri, bersyukur, dan menumbuhkan empati pada orang lain. Jujur pada diri sendiri membantu kita memahami apa yang kita inginkan serta menyusun strategi menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Orang Denmark juga tidak terbiasa membanjiri anak dengan pujian. Mereka lebih fokus pada usaha daripada hasil. Apresiasi diberikan pada proses dan usaha yang dilakukan. Hal ini mendorong terbangunnya pola pikir yang berkembang (growth mindset), bahwa kecerdasan dan keberhasilan bisa diusahakan daripada pola pikir permanen (fixed mindset), yaitu kecerdasan adalah sesuatu yang berasal dari sananya dan sudah demikian adanya.

Pola pikir permanen membuat anak cepat puas atau melakukan sesuatu hanya untuk mendapat gelar itu dan mudah menyerah atau takut mencoba lalu gagal dan kehilangan gelarnya.

3. R untuk Reframing
Memaknai ulang setiap situasi adalah pembawaan alami yang dimiliki oleh orang Denmark dan diwariskan pada anak-anak mereka. Orang Denmark selalu bisa menemukan sudut pandang yang positif dari situasi yang bisa jadi kurang baik bahkan menekan.

Mereka menerima bahwa ada hal-hal negatif dalam hidup namun memilih untuk berfokus pada sisi positifnya. Daripada satu aspek kurang baik dari suatu hal, mereka melihat gambaran besarnya, menginterpretasikan hal negatif menjadi lebih positif, berprasangka baik, dan menggunakan bahasa yang lebih positif dalam memaknai sesuatu. Ini termasuk ke dalam memisahkan seseorang dari perilakunya dan menghindari pemberian label.

4. E untuk Empati
Keyakinan orang Denmark bahwa peduli kepada kebahagiaan orang lain selalu penting untuk menciptakan kebahagiaan diri sendiri mendorong mereka untuk berusaha memahami orang lain.

Orang Denmark memiliki kecenderungan untuk menunjukkan kualitas karakter baik orang atau anak lain kepada anak mereka. Daripada menghakimi, mereka akan mencoba menjelaskan alasan di balik perilaku kurang menyenangkan dari orang lain. Sehingga mereka terbiasa melihat kebaikan dalam diri orang lain, percaya bahwa perilaku bukanlah sesuatu yang mendefinisikan seseorang namun sesuatu yang bersifat sementara dan dipengaruhi oleh situasi.

Mereka menerima setiap emosi yang dirasakan orang lain, termasuk anak-anak mereka, berusaha memahami dan menghormatinya.

5. N untuk No Ultimatum
Hubungan antara anak dan orang tua kadang bisa berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan. Orang tua kerap menggunakan ancaman bahkan kemudian kekerasan fisik saat merasa tidak didengar dan diremehkan “kuasa”-nya. Orang Denmark percaya bahwa rasa hormat berlaku dua arah dan karenanya mengasuh anak-anak mereka dengan penuh hormat daripada sekadar menumbuhkan rasa takut.

Orang Denmark percaya setiap anak baik dan menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk memikirkan cara menghindari masalah daripada menghukum anak saat melakukannya. Guru Denmark dilatih untuk melihat kebutuhan spesifik setiap siswa, membuat rencana dan tujuan bersama masing-masingnya, juga membuat kesepakatan bersama seluruh kelas akan peraturan apa yang bisa diterapkan untuk mewujudkan kelas yang baik.

Orang Denmark tidak sekadar melarang tapi menjelaskan alasan dibalik sebuah peraturan, membantu anak menemukan jalan keluar dari suatu masalah atau perilaku yang kurang tepat. Mereka juga lebih santai terhadap penolakan-penolakan kecil anak, tidak menjadikan semuanya sebagai perebutan kekuasaan, memberi kesempatan anak belajar akan konsekuensi dari sebuah pilihan.

6. T untuk Togetherness
Orang Denmark punya budaya “bersantai bersama” teman dan keluarga atau biasa dikenal dengan hygge (baca: huga). Mereka benar-benar menganggap penting hal ini sehingga semua orang bekerja sama untuk menciptakan susana yang nyaman.

Semua saling membantu jadi tidak ada satu atau beberapa orang yang merasa bekerja sendirian, partisipasi dalam permainan atau kegiatan akan dilakukan walau sedang tidak ingin. Masalah pribadi ditinggalkan di belakang, perselisihan dihindari, semua berusaha semaksimal mungkin untuk bersantai dan membawa suasana positif ke dalam waktu bersama ini.

Konsep kebersamaan ini membantu mereka merasa terhubung dengan yang lain, memberikan sebuah arti dan tujuan. Mengesampingkan diri sendiri untuk manfaat keseluruhan, menciptakan suasana menyenangkan yang baik diwariskan kepada anak-anak.

Konsep ini tidak berakhir pada satu atau dua pertemuan saja, tapi meluas dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak Denmark didorong untuk melihat kekuatan dan kelemahan orang lain sebagai celah untuk membantu dan bekerja sama dalam satu tim. Mereka diajarkan untuk rendah hati dan peduli pada kesulitan serta keberhasilan orang lain juga. Ini berlaku dalam setiap aspek, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan pekerjaan, hingga masyarakat pada umumnya. Ikatan sosial dan sistem dukungan di Denmark karenanya sangat kuat.

=====

Seluruh prinsip di atas sudah menyatu dalam budaya Denmark. Tidak heran kalau Denmark terpilih menjadi negara paling bahagia di dunia selama puluhan tahun.

Mungkin diperlukan usaha lebih bagi kita untuk belajar dari prinsip-prinsip tersebut dan menerapkannya dalam hidup kita, namun rasanya patut dicoba untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bahagia, dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedua

Suara tangisan dan teriakan terdengar dari kamar mandi di lantai bawah. Saya yang sedang di lantai dua rumah kami bergegas turun.

Dalam kamar mandi, ibu saya sedang mencoba berbicara dengan Nara yang baru selesai buang air besar. Rupanya, Nara hanya mau dibersihkan oleh saya. Dia menangis dan melempar semprotan yang biasa digunakan untuk cebok. Bajunya juga basah. Kata ibu saya, Nara tadi berusaha mengambil semprotannya sendiri, lalu tidak sengaja tersemprot.

Saya menarik napas, menenangkan diri, lalu berusaha menenangkan Nara. Saya berjongkok agar mata saya sejajar dengan matanya, lalu saya mulai berbicara.

“Nara maunya dicebok Mama ya?”
“Iya, Ma.”
“Nara kesal, karena Nely (panggilan Nara untuk ibu saya) mau cebokin Nara?”
“Iya, Nara nggak mau.”
“Mama mengerti. Nely kan cuma mau bantu Nara. Nely kasihan karena Nara lama tunggu Mama.”

Sampai di sini, Nara menangis lalu memeluk saya. Mungkin menyesal, mungkin juga mau mencari kenyamanan. Sambil memeluknya, saya melanjutkan.

“Kalau Nara tidak mau, bisa bicara baik-baik ya, bilang sama Nely kalau Nara mau tunggu Mama aja.”
“Ok. Sekarang Mama cebokin Nara dulu ya.”

Keluar dari kamar mandi, Nara sudah berhenti menangis. Sambil membuka bajunya yang basah, saya kembali mengajaknya bicara.

“Tadi kenapa semprotannya dilempar?”
“Nara nggak bisa taruhnya.”
“Bisa minta tolong aja kalau nggak bisa ya, Kak. Nggak perlu dilempar.”

“Habis ini kita pakai baju, terus salim Nely ya.”
“Nggak mau, Ma.”
“Tadi kan Kakak marah-marah sama Nely. Mau salim sendiri atau Mama temenin?”
“Mau ditemenin, Ma.”

Percakapan di atas mungkin belum sempurna. Tapi paling tidak, saya berhasil mengendalikan emosi. Saya menatap mata Nara, menjaga intonasi suara, dan menerima emosi-nya.

Terasa sekali bedanya bagaimana Nara juga jadi lebih cepat menenangkan diri. Mau mendengarkan saya, mau juga diajak salim sama Nelynya, tanpa banyak drama yang biasanya terjadi.

Ternyata memang tidak perlu banyak perang urat leher dalam berkomunikasi produktif ya, apalagi dengan anak. Belajar memahami lawan bicara, mau mendengarkan dan menghargai, baru kemudian menyampaikan pesan kita. Hati lebih tenang, anak senang, tidak ada kerusakan tambahan yang tidak diperlukan.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Pertama

Tantangan ini tiba tepat pada saat saya merasa cara saya berkomunikasi dengan anak-anak seringkali terasa buruk dan saya ingin memperbaikinya.

Intonasi yang kerap meninggi, kata-kata yang kurang ramah, ucapan yang kurang sabar, teriakan, hingga ancaman masih suka muncul terutama saat saya sedang lelah, banyak kerjaan atau pikiran. Sungguh tidak adil bukan? Bagaimana saya anak-anak harus mengalami semua itu hanya karena saya tidak bisa mengelola diri dengan baik.

Saya tidak ingin hubungan kami menjadi buruk di kemudian hari. Saya juga tidak mau meninggalkan luka pada hati anak-anak tersayang saya. Karenanya, saya membulatkan tekad untuk melakukan poin demi poin komunikasi produktif yang telah diberikan dalam materi pertama Kelas Bunda Sayang.

Pada hari pertama ini, saya memutuskan untuk memulai dengan mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah.

Jika sebelumnya saya kerap menyuruh dengan tidak sabar agar anak membereskan mainan misalnya. Hari ini, saya berusaha mendekati mereka, menyejajarkan mata saya dengan mata mereka, lalu meminta tolong dengan perlahan dan sambil tersenyum.

Tidak mudah memang.

Nara (3 tahun) sedang tidak mau membereskan mainan hari ini. Dia tidak mau memasukkan crayon yang habis dia gunakan ke tempatnya. Dia bahkan mengeluarkan (tepatnya melempar) semua buku dari dua baris rak buku ke lantai dan menolak membereskannya, walau saya sudah memintanya dengan cara di atas.

Biasanya saya mungkin marah. Tapi kali ini saya sudah bertekad untuk tidak terpancing apapun ulahnya. Saya tetap berkata perlahan, tersenyum, bahkan memeluk Nara.

Saya sadar, anak sulung saya itu mungkin sedang merasa kurang senang. Dia sepertinya menunggu saya marah seperti biasa dan agak heran karena itu tidak terjadi.

Saya melakukan cara itu sepanjang hari. Mendekati anak saya saat berbicara juga efektif untuk mencegah saya berteriak. Menatap matanya menunjukkan kalau saya perduli, sungguh-sungguh, dan lebih baik dalam mendapatkan fokusnya.

18-09-06-20-59-52-318_deco

Saat Nara atau Kyna marah, menangis, atau menyampaikan kekecewaannya, saya mencoba berempati. Ini sudah suka saya lakukan sebelumnya, tapi tidak jarang terlupakan kalau sedang kesal atau merasa diburu waktu.

“Mama tahu Kyna masih ingin duduk di situ, tapi Kyna sudah selesai pipis. Nanti lagi ya.” Ujar saya saat anak kedua saya menangis, karena tidak mau saya ajak keluar dari kamar mandi setelah buang air kecil.

“Mama mengerti Nara kesal, tapi meja makan bukan tempat untuk bermain air. Ada tempatnya kalau Nara mau bermain. Bisa di sini atau di situ.” Kata saya waktu Nara marah, saat saya melarangnya menuang air ke dalam mangkuk bekas semangka dan berniat menuangnya lagi ke mangkuk lain.

Itu salah dua dari kalimat yang saya keluarkan hari ini.

Di penghujung hari, saya merasa Nara jadi lebih mau mendengarkan saya. Ada satu momen di mana dia yang sedang kesal berbinar matanya saat kami berbicara, yang membuat saya semakin ingin melanjutkan ini.

Saya juga merasa lebih tenang dan senang, tidak mudah marah, lebih mudah “memaafkan” tingkah laku anak-anak saya.

Senyum mereka semoga menjadi amunisi mengedalikan emosi dan membiasakan komunikasi produktif ini di hari-hari selanjutnya ya.

[Matrikulasi] Nice Homework #9: Ibu sebagai Agen Perubahan

NHW terakhir. Sedih juga ya, rasanya. Setelah terbiasa mengikuti materi matrikulasi tiap minggu, banyak merenung sambil dikejar deadline untuk mengerjakan NHW-nya, menyimak review NHW, mengikuti diskusi, perkenalan, dan obrolan-obrolan hangatnya. Pasti akan kangen semua itu.

Duh, jadi mellow deh 😢😅

Bersyukur banget bisa ikutan Kelas Matrikulasi IIP ini. Bersyukur masuk grup MIIP Batch #5 Tangsel 3 yang penuh semangat dan aura positif.

Kembali ke NHW #9. Sesuai dengan materi sesi #9, setelah kita menemukan passion dan misi spesifik hidup, NHW terakhir ini merumuskan misi tersebut ke dalam kontribusi kita di masyarakat. Karena setelah mengubah diri dan keluarga kita, masyarakat adalah ladang kita untuk bisa bermanfaat seluas-luasnya.

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai:

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.

Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini (terlampir).

Selamat menjadi agen perubahan.
Karena,
Everyone is a Changemaker
(Setiap orang adalah agen perubahan)

Sampai jumpa di perkuliahan Ibu Profesional selanjutnya untuk bisa lebih memahami secara detil matrikulasi IIP ini.

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Berdasarkan NHW #8, berikut bagan yang saya buat:

Social Venture 260318

Dengan ini, selesai sudah rangkaian NHW dalam Kelas Matrikulasi yang saya ikuti.

Insya Allah bisa menjadi awal dalam proses menuju diri yang lebih memahami misi hidupnya, mengenali dan mengelola potensi dirinya, terus belajar dan berkontribusi bagi keluarga juga masyarakat di sekitarnya. Menjadi agen perubahan. Aamiin YRA.