Tag Archives: Cerdas Finansial

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Keenam

Permainan hari ini dilakukan di dalam mobil, saat sedang berhenti sejenak di tengah perjalanan.

Kali ini giliran uang logam yang digunakan untuk bermain. Nara dan Kyna mengenal uang logam sebagai koin. Mereka biasa mendapatkannya untuk dimasukkan ke dalam celengan.

Saya mengenalkan kembali si koin sebagai uang logam. Kalau kemarin uang kertas terbuat dari kertas, maka uang logam terbuat dari logam.

19-05-01-15-54-58-213_deco

Seperti uang kertas, nilainya juga berbeda-beda. Kami menggunakan uang 100, 200, 500, dan 1.000 rupiah.

Nara terlihat senang melihat beragam uang logam. Saya membagi dua uang logam yang ada, kemudian memintanya menyocokkan uang logam yang ada di hadapannya dengan yang dia pegang.

Walau belum mengerti bilangan, Nara bisa menyocokkan berdasarkan tampilannya. Mungkin saya bisa mencoba permainan yang serupa mengunakan uang kertas ya 😁

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kelima

Saya kembali menggunakan cerita untuk mengenalkan perbedaan nilai uang kertas berdasarkan warnanya.

Nara senang mendengarkan ceritanya, tapi belum bisa mengingat warna-warnanya. Wajar sih, karena dia belum mengenal bilangan sampai ribuan apalagi puluhan dan ratusan ribu.

Memang sebenarnya lebih cocok melakukan permainan yang konkrit untuk anak seusia Nara dan Kyna. Sayangnya saya belum sempat mengeksekusi ide-ide yang terpikirkan. Membuat toples pun belum jadi dilakukan :(

Besok dan lusa kami akan melakukan perjalanan. Semoga ada celah untuk menstimulasi kecerdasan finansial anak-anak.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Keempat

Melanjutkan kegiatan kemarin, saya kembali menunjukkan uang kertas kepada Nara. Kali ini dalam versi lebih lengkap. Kyna juga turut serta.

19-04-29-21-31-51-833_deco

Saya kemudiam bertanya pada Nara apa dia tahu gunanya uang, Nara menjawab, “Untuk belanja.”

Saya pun menjelaskan kembali bagaimana cara memperoleh dan menggunakan uang. Kemudian, saya menjelaskan bahwa tiap lembar uang yang ada di hadapannya itu memiliki nilai yang berbeda-beda.

Saya kemuudian mengumpamakan, “Kalau satu buah es krim harganya lima ribu rupiah, pakai yang uang 2 ribu tidak cukup, 5 ribu dapat satu, 10 ribu dapat dua, dan seterusnya.

Dari situ, Nara ternyata mengerti mana uang yang nilainya paling besar.

Terakhir saya menutupnya dengan kembali membahas tentang kegunaan uang. Selain untuk belanja, menukar uang dengan barang yang diperlukan, uang juga bisa digunakan untuk menabung, memgumpulkan uang untuk membeli barang atau makanan tertentu. Uang juga bisa diberikan pada orang lain yang membutuhkan, atau bisa kita sebut dengan sedekah.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Ketiga

Dalam mobil, di perjalanan kami hari ini, Nara tiba-tiba bercerita pada tantenya tentang berdoa. Kita bisa berdoa untuk.meminta sesuatu sama Allah. Termasuk uang. Ayah dapat uang dari Allah. Allah hebat bisa ciptakan apa saja, bisa kasih apa saja.

Masya Allah Tabarakallah.

Kami baru sampai di rumah malam harinya. Rencana saya untuk mengenalkan Nara dan Kyna tentang uang kertas dan uang logam pun harus tertunda. Saya akhirnya hanya menunjukkan sebagian uang kertas yang ada, agar Nara bisa melihat dan merasakan tekstur uang yang memang seperti kertas. Sebelumnya Nara sudah pernah melihat dan memegang uang kertas, tapi bukan dalam rangka memperhatikan. Saya juga memberitahu nilai uang-uang yang berbeda. Sementara uang logam, Nara lebih familiar. Dia mengenalnya dengan sebutan koin, dan biasa memintanya untuk dimasukkan ke dalam celengan.

19-04-28-23-36-13-011_deco

Besok insya Allah kita akan melanjutkan proses mengenal bentuk uang ini ya, Nara juga Kyna.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kedua

Karena belum sempat membuat toples 3S (Spend, Save, Share), saya kembali menggunakan media cerita untuk mengenalkan konsepnya terlebih dahulu kepada Nara dan Kyna.

Dalam cerita yang saya buat, seorang anak bernama Nina belajar mengelola uang sakunya dengan lebih baik karena kisah seekor burung yang murah hati. Nina tadinya enggan berbagi. Semua uang sakunya dia habiskan untuk membeli banyak jajanan. Tidak ada yang boleh minta. Semua dia habiskan atau disimpan hingga kasang terbuang.

Ibunya kemudian menceritakan tentang burung yang murah hati tadi. Bagaimana burung itu mengerti bahwa apa yang dia punya adalah pemberian dari yang Maha Kuasa, karenanya dia pun ingin memberi.

Ibu menjelaskan bahwa dari apa yang Allah titipkan kepada kita, ada bagian orang lain yang harus kita penuhi. Kita juga bisa menabung sebagian uang kita untuk membeli sesuatu yang kita butuhkan namun belum cukup dengan sekali pemberian uang saku saja.

Ibu kemudian mengajak Nina membuat toples 3S. Menggunakan toples tersebut, Nina belajar menyisihkan uang sakunya untuk sedekah, menabung untuk membeli buku idamannya, dan sisanya baru untuk jajan. Itupun kadang tidak dia belanjakan, karena Nina juga belajar membawa bekal.

Terdengar rumit ya?

Tapi Nara dan Kyna serius mendengarkan, walau tidak tahu juga sejauh apa mereka memahami.

Nara nyatanya mengingat soal toples 3S ini dan tertarik saat saya mengajaknya untuk membuatnya begitu kami kembali ke rumah sepulang menginap dari rumah Atoknya.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Pertama

Setelah merenungi apa yang saya tulis berdasarkan materi kemarin, untuk tantangan hari pertama saya memutuskan untuk membukanya dengan bercerita tentang konsep rezeki.

Awalnya saya sedang mengobrol dengan Nara tentang bagaimana nanti dia akan harus tidur di kamarnya sendiri. Nara memang tipe anak yang suka berpikir jauh ke depan, bagaimana nanti kalau begini atau begitu. Dia juga tipe perasa, hingga bisa menangis karena membayangkan harus berganti sepeda yang lebih besar sementara dia menyayangi sepedanya yang sekarang atau merasa sedih karena tidak mau tinggal berpisah dari saya kalau sudah besar nanti 😅

Nara merasa khawatir harus tidur sendiri, tapi kemudian arah pembicaraam berlanjut ke bagaimana serunya punya kamar sendiri. Nara langsung sibuk membayangkan nanti dia mau pintu dan dinding kamar warna apa. Pembicaraan bersambung ke memiliki rumah yang lebih besar, bahkan yang ada kolam renangnya juga 😆 Saya mengaminkan saja, lalu menggunakan kesempatan itu untuk bercerita tentang Allah swt. Yang Maha Kaya.

Apa saja yang kita inginkan, kita bisa minta kepada Allah. Kita berdoa saja, tapi juga disertai dengan usaha untuk mewujudkan impian kita.

Tidak lupa juga bersyukur atas semua yang sudah diberikan Allah swt. kepada kita. Semua rezeki dari Allah. Badan yang sehat, anggota tubuh yang lengkap, makanan yang kita makan, hadiah, dan banyak lagi. Ayah pun bekerja sebagai usaha untuk menjemput sebagian rezeki ini, yang di antaranya berupa uang, bisa untuk belanja macam-macam kebutuhan kita.

Sambil bercerita, Nara (dan Kyna) ikut menambahkan apa saja rezeki Allah untuk kami.

Semoga tertanam konsep awal ini dalam hati mereka. Insya Allah dilanjutkan di hari-hari selanjutnya.

[Bunda Sayang] Materi 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Ketemu materi tentang finansial lagi 😂

Kali ini memang lebih ke bagaimana agar anak jadi cerdas finansial. Tapi kan tetap aja ya, kalau mau anaknya cerdas, orang tuanya juga harus mau belajar. Kalau mau anaknya belajar, orang tuanya perlu menjadi teladan.

Mengelola keuangan masih PR banget buat saya. Perlahan mulai membenahi sih, seperti juga pernah dibahas di blog ini.

Dalam materi kali ini, mata saya dibuka, bahwa masalah uang hanya sekelumit dari konsep lebih luas yang perlu dikenalkan kepada anak: Tentang rezeki.

Uang adalah bagian kecil dari rezeki. Kemampuan mengelolanya dengan baik merupakan bagian dari syukur dan tanggung jawab terhadap rezeki yang Allah swt. telah amanahkan kepada kita.

Salah satu tujuan utama menstimulasi kecerdasan finansial pada anak adalah membantu mereka memahami konsep rezeki ini: Bagaimana memperolehnya, mengelolanya agar bisa termanfaatkan dengan baik sesuai kebutuhan juga memenuhi hak yang perlu ditunaikan. Bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan. Bagaimana dengan itu menyusun prioritas dan budget atau perencanaan keuangan. Bagaimana anak menjadi kuat dengan gaya hidup yang sesuai nilai yang diyakini keluarga dan tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan.

Untuk anak usia 3-5 tahun, dari diskusi tentang materi ini, saya mendapat beberapa tips menstimulasi kecerdasan finansial mereka:
1. Mengenalkan anak dengan beraneka bentuk uang (uang kertas, uang logam).
2. Bermain peran yang melibatkan transaksi keuangan, misalnya: Jual-beli, menabung di bank, dsb.
3. Jelaskan tentang pentingnya bekerja sebagai salah satu sarana mendapatkan uang.

Berkaitan dengan tugas dalam tantangan, saya juga akan membuat proyek Toples 3S untuk mengenalkan secara sederhana bahwa uang yang kita peroleh bisa dibagi ke dalam uang belanja, tabungan, dan sedekah. Sesuai usia anak, penekanannya tetap pada penguatan konsep bahwa rezeki berasal dari Allah swt.

Bismillah.