Tag Archives: Bunda Sayang Batch #4

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesepuluh

Hari ini usia Nara genap tiga tahun. Sejak jauh-jauh hari, saya sudah memberitahu dia tentang hari ini. Ini terutama berkaitan dengan kesapakatan kami bahwa dia akan berhenti menyusu pada usia tiga tahun.

Selebihnya, saya menceritakan apa saja yang akan kami lakukan pada hari itu, siapa yang akan datang, bagaimana sikapnya terhadap mereka, termasuk juga bahwa sebelumnya akan ada acara lamaran tantenya, adik bungsu saya.

Nara menanti-nanti hari ini. Setiap hari dia menanyakan apakah hari itu sudah ulang tahunnya atau apakah umurnya sudah tiga tahun. Dia juga sibuk memilih mau seperti apa kuenya, bertanya-tanya akan mendapat hadiah apa, dan seterusnya.

Saat hari ulang tahunnya akhirnya tiba, Nara terlihat senang dan bersemangat. Dia ingin segera memotong kue dan membuka kadonya. Saya ingatkan kembali kalau semua itu akan kami lakukan setelah acara tantenya selesai.

Biasanya, Nara perlu waktu untuk beradaptasi saat bertemu orang baru. Dalam proses beradaptasi itu, dia bisa menjadi diam saja, tidak mau salam, tidak mau menjawab pertanyaan, tidak mau makan atau melakukan apa-apa selain berdiri dan mengamati, duduk di dekat saya, atau minta digendong. Tapi hari ini, Nara ringan bercerita pada siapa saja, menjawab saat ditanya, cium tangan, mau menolong saat diminta salah seorang saudara, seru bermain dan membaca buku dengan saudara yang jarang bertemu sekalipun.

Saya pikir salah satu penyebabnya karena pijakan yang telah saya buat sebelumnya dengan menceritakan kepada Nara tentang hari ini, yang memberinya gambaran apa yang akan terjadi, mempersiapkannya secara mental sebelum menghadapinya secara fisik.

Malamnya, saat berbaring di tempat tidur bersama Nara, saya mengapresiasi sekaligus mengobservasi perilakunya hari ini.

“Kakak hari ini mau salim sama semuanya, mau menjawab pertanyaan, cerita-cerita, nolongin Nem, ya. Berani ya, Kakak. Kakak senang hari ini?”

“Senang, Ma.”   Jawab Nara, yang dilanjutkan dengan cerutanya tentang apa yang dilakukannya hari itu; bermain bersama Kak Nafisah, membaca buku sama Makwe dan Onty, menyelotip bukunya yang robek, dan seterusnya.

Saya menimpali seperlunya, mendengarkan sepuasnya.

Semoga kesenangan Nara hari ini menjadi bekal untuk menghadapi hari-hari selanjutnya, berkah selalu usia Nara, bahagia dunia akhirat. Aamiin YRA.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesembilan

Kadang saya tidak yakin bisa konsisten melakukan komunikasi produktif ini. Tadi saja karena merasa lelah sepulang bekerja, saya jadi tidak sabaran. Maunya anak-anak langsung mengikuti apa yang saya minta, saya jadi cenderung memaksa, ucapan bernada kesal pun beberapa kali terlontar.

Anak-anak kabarnya tidak tidur sejak pagi tadi, tapi entah kenapa tidak langsung tidur saat saya bawa ke kamar. Beberapa kali Kyna menyusu, tapi kemudian keluar kamar lagi. Kyna yang sedang belajar pipis di kamar mandi juga bolak-balik membuka celananya, padahal tudak ada pipis yang keluar saat didudukkan di atas WC 😅

Nara yang masih enggan sikat gigi, menolak tidur karena kalau mau tidur harus sikat gigi dulu. Dia cari-cari alasan untuk menunda. Mau makan dulu, mau menghabiskan makanan yang tadi tidak habis (yang akhirnya tetap tidak dihabiskan), mau lihat Makly dulu, dan sebagainya.

Alhamdulillah Kyna akhirnya berhasil ditidurkan. Tapi Nara masih juga tidak mau sikat gigi, sementara jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Saya pun menggendong Nara ke kamar mandi.

Nara mulai menangis. Saya mencoba menawarkan pilihan, apa dia mau sikat gigi sendiri dulu atau langsung saya yang bantu sikatin. Dia tetap menangis, minta digendong, tidak mau sikat gigi. l

Saya sempat ingin memaksa menyikat giginya saja, biar cepat selesai. Namun saya memutuskan untuk mencoba bersabar lagi. Saya ingatkan Nara betapa beraninya dia kemarin, sikat gigi sendiri. Sikat giginya sudah mulai lancar,lama lagi.

“Ternyata Kakak udah bisa ya, Kak. Lama banget sikat giginya kemarin itu. Sampingnya masih kurang lancar, tapi kalau sering latihan pasti nanti juga bisa.”

Saya mengatakannya dengan penuh semangat disertai senyuman.

Nara mulai berhenti menangis, muncul binar di matanya.

“Coba Kak, Mama mau lihat lagi Kakak sikat gigi kaya kemarin. Lama banget loh itu, lurus lagi. Nggak kesakitan ya, Kakak.”

Nara mulai menyikat giginya dengan raut bangga. Dia kemudian membiarkan saya menyikat bagian yang belum bisa dia tuntaskan.

Setelahnya dia ganti baju dan berbaring di tempat tidur tanpa protes. Mungkin juga karena sudah mengantuk. Tidak lama, Nara pun tertidur lelap. Alhamdulillah.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedelapan

Ternyata, bukan saja saat mengritik namun saat memuji/ mengapresiasi anak pun kita perlu secara spesifik menyebutkan sikap atau perbuatan mana yang kita hargai atau yang menurut kita perlu mereka perbaiki.

Masuk akal sih. Anak jadi tahu persis apa yang baik atau tidak baik untuk dilakukan, kenapa, dan bagaimana memperbaikinya. Dia juga tahu kita menghargai proses yang dia jalani dan tetap menyayanginya apapun yang terjadi. Perbuatannya yang tidak kita sukai, bukan pribadinya. Usahanya yang kita lihat bukan hanya hasilnya.

Hari ini saya berlatih menerapkan ini pada Nara dan Kyna.

“Mama lihat Kyna sudah mulai bisa bilang kalau mau pipis. Good job, Kyna!” Kata saya saat Kyna berhasil buang air kecil di kamar mandi.

“Mama senang, Nara tadi sikat giginya tidak menangis. Mau sikat gigi sendiri juga disikatin Mama.” Ucap saya pada Nara, yang beberapa malam belakangan suka menangis saat waktunya sikat gigi.

“Kalau Nara kesulitan, bisa minta tolong Mama. Tidak baik melempar barang begitu ya.” Ujar saya kepada Nara yang melempar baju gantinya saat hendak mandi di kamar mandi atas, dengan alasan tidak bisa membawanya.

Nara terlihat lebih senang dan bisa menerima pesannya dengan cara ini. Kyna sih, senyum-senyum aja seperti biasa :))
Mudah-mudahan cara ini memiliki dampak yang baik untuk jangka panjang ya.

Untuk saya pribadi, cara ini juga membantu saya mengenali emosi juga keinginan saya, apa yang saya suka atau tidak suka dari perilaku anak, apa yang saya mau mereka perbaiki dan bagaimana. Saya juga jadi berlatih untuk tidak mudah melabeli anak, lebih banyak mengamati, menghargai usaha mereka sekecil apapun, dan memisahkan antara pribadi mereka dengan perbuatannya.