Tag Archives: bunda sayang

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kelima

Saat saya sedang bersiap shalat Subuh tadi, Nara terbangun. Dia menangis karena katanya mau BAB dan sudah tidak tahan. Mendengar itu dan mepihat kondisinya yang masih mengantuk, akhirnya saya membantunya membuka celana dan mengangkatnya ke atas WC.

Tapi ternyata, setelahnya Nara tetap melakukan tahap seperti biasa: Cebok (dengan bantuan saya untuk bagian belakang), cuci tangan, dan menutup pintu. Dia bahkan tidak keberatan mengenakan celana sendiri, tanpa menolak atau mengeluh juga tidak menunda-nunda.

Dia juga tidak protes saat saya mengatakan mau shalat dulu bersama kakek neneknya. Bahkan dia ikut shalat berjamaah di samping saya dari awal hingga selesai. Walau tidak pakai mukena sih.

Setelahnya, saya berusaha menahan diri untuk tidak banyak mengingatkan. Saya biarkan saja saat Nara lupa memasukkan kursi atau lua menaruh kembali Dory sebelum mencuci tangannya. Ternyata dia kembali dan mepakukan yang terlupa. Hanya saat lupa mengeluarkan kursi dan menutup pintu saya masih mengingatkan dengan pertanyaan “Ada yang ketinggalan nggak ya?” atau “Temannya lupa dipulangkan nih.” Saat dia tidak bisa menjawab pertanyaan saya.

Bukan cuma Nara yang belajar mandiri, Mama juga belajar melepaskan ya, Kak :’)

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Keempat

Pagi ini saat bilang ingin buang air, saya cukup mengatakan, “Yuk.” pada Nara. Dia kemudian langsung beranjak ke kamar mandi, membuka celana, membuka pintu, menaruh kursi dan Dory di tempatnya, lalu duduk.

Saya sempat mengingatkan untuk mengangkat bajunya juga meletakkan kembali Dory dan kursi kembali ke tempat penyimpanannya. Selebihnya alhamdulillah dia sudah mulai ingat.

Memakai celana kembali pun memakan waktu yang lebih singkat dari sebelumnya. Mudah-mudahan sih untuk seterusnya yaa..

Saya memilih kegiatan buang air di kamar mandi ini sebagai keahlian pertama yang ingin saya latih pada Nara karena ini berkaitan dengan area pribadi atau auratnya. Sehingga, saya ingin membiasakan sedini mungkin agar Nara tidak banyak membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukannya.

Ini sejalan dengan usaha saya untuk mengajarkannya tentang aurat, bahwa ada bagian-bagian tubuhnya yang tidak boleh dilihat apalagi disentuh oleh sembarang orang. Begitu pula dia tidak boleh sembarangan melihat apalagi menyentuh aurat orang lain. Proses untuk ini masih panjang sih, saya juga masih belajar.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Ketiga

Nara sudah bisa pakai baju sendiri. Melepas celana juga sudah. Melepas baju yang masih kesulitan. Tapi belakangan ini, dia semakin sering menolak untuk pakai baju sendiri. Kalau dibiarkan, dia tahan berlama-lama tanpa pakaian.

Biasanya, saya akhirnya menawarkan untuk memakaikan salah satu pakaiannya. Sisanya tetap dia pakai sendiri. Seringnya berhasil, walau tidak jarang membutuhkan waktu yang cukup lama untuknya bergerak mengenakan bajunya.

Sama halnya dengan saat ingin buang air. Nara kerap menolak membuka celana sendiri. Alasannya tidak bisa. Padahal saya tahu betul dia bisa. Lalu dia berpindah mengatakan sulit, kemudian baru mengakui kalau dia tidak mau membukanya sendiri karena malas. “Maunya dibukain Mama aja!”  Ujarnya.

Saya berpikir, salah satu penyebabnya mungkin karena dia iri melihat adiknya yang kadang masih dipakaikan baju (kadang, karena adiknya sudah masuk fase mau melakukan semuanya sendiri). Terlebih karena Nara baru disapih. Penolakannya itu bisa jadi lebih karena meminta perhatian saya, bukan karena tidak bisa. PR saya adalah meyakinkan Nara bahwa rasa sayang dan perhatian saya tetap ada untuknya, dengan perkataan dan dengan perbuatan di saat-saat lain, sambil menahan diri untuk tidak mudah membantu juga menjaga reaksi agar tidak penuh emosi.

Di hari ketiga ini, Nara sudah lebih mau langsung melepas celana saat akan buang air. Walau di tengah jalan masih mengeluh susah, setelah saya yakinkan bahwa dia bisa, Nara mau menyelesaikannya.

Kembali mengenakan celana setelah buang air malah lebih susah. Nara masih suka berlama-lama berkeliaran tanpa celana 😥

Semoga seiring berlalunya hari, tahapan ini bisa Nara lakukan dengan lebih mudah ya.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Kedua

Pada hari kedua ini, Nara masih perlu diingatkan tahapan yang bisa dia lakukan saat ingin buang air.

Tapi, jika sebelumnya saya selalu menyuruhnya membuka celana saat dia bilang ingin buang air, sekarang saya mengubahnya jadi bentuk pertanyaan, “Bagaimana kalau ingin buang air?”

Kadang dia ingat semua tahapannya, kadang masih perlu saya bantu. Sebisa mungkin saya hanya memberi petunjuk-petunjuk seperti, “Ada yang ketinggalan nggak?” Saat Nara lupa meletakkan kursi kembali ke tempatnya atau belum menutup pintu.

Nara juga masih belum terbiasa mengangkat bajunya sebelum duduk di atas Dory, jadi masih saya ingatkan.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Hari Pertama

Setelah materi, terbitlah tantangan. Seperti game level 1, pada game level 2 ini pun kami ditantang untuk melatih kemandirian anak dan melaporkannya selama minimal sepuluh hari.

Selama periode tantangan, yaitu tanggal 4-20 Oktober 2018, kami dipersilakan menentukan 1-4 kemandirian yang ingin dilatih pada anak.

Sebelum menginjak usia tiga tahun, alhamdulillah Nara sudah lulus toilet training. Saya lupa kapan persisnya dia berhenti menggunakan pospak di siang hari, tapi dia baru melepas pospak di malam hari beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ketiga. Alasan utama adalah ketidaksiapan ibunya, hahaha… Syukurlah tidak perlu waktu terlalu lama untuknya tidur malam tanpa mengompol maupun pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil di tengah malam.

Untuk melengkapi kemampuannya buang air di kamar mandi, saya memutuskan untuk mulai lebih melepasnya melakukan kegiatannya itu.

Selama ini, setiap ingin BAK atau BAB, dia akan memberitahu saya, lalu saya membantunya melepas celana, mengangkatnya ke WC setelah menaruh toilet seat miliknya, kemudian menyebokinya dan memakaikan kembali celananya.

Nara sudah mulai lebih sering cebok sendiri setelah BAK, dia juga sudah bisa melepas dan menggunakan celana sendiri. Tapi, kadang dia suka minta dipakaikan atau saya yang tidak sabar sehingga membantunya.

Untuk tantangan hari pertama ini, saya berusaha mengurangi campur tangan saya dan membantunya untuk dapat melakukan hal yang biasanya saya bantu, sendiri.

Diawali dengan mengajaknya bicara bahwa dia akan belajar hal baru hari itu, kemudian menjelaskan tahapan apa yang bisa dia lakukan kalau ingin buang air.

Saya lalu mengajaknya memraktekkan tahapan itu. Tahap yang kami susun: Ke depan kamar mandi, buka celana, buka pintu kamar mandi, taruh kursi ke depan WC, taruh Dory (sebutan untuk toilet seat-nya yang bergambar Finding Dory) di atas WC, naik ke atas WC, buang air, cebok, taruh Dory kembali di tempatnya, cuci tangan, kembalikan kursi ke tempatnya, tutup pintu kamar mandi.

18-10-04-22-27-56-730_deco
Peralatan Penunjang Kemandiran Nara xD

Prakteknya meliputi pelatihan membuka pintu kamar mandi yang selama ini belum bisa dia lakukan. Sisanya dia kurang pebih sudah bisa, hanya perlu dibiasakan saja.

Untuk menyalakan dan mematikan lampu, juga menyiram WC, masih perlu bantuan saya, karena tangannya belum sampai ke saklar lampu walau menggunakan kursi dan belum kuat menekan tombol flush yang memang agak keras.

PR-nya adalah membuat dia mau melepas celana tanpa bantuan dan menggunakannya kembali segera setelah selesai buang air 😅

Targetnya adalah mengubah kebiasaan buang airnya dari “Kakak mau pipis.” Lalu menunggu Mama mengantarnya ke kamar mandi, menyuruhnya membuka celana atau membantunya membuka celana dan seterusnya, menjadi “Kakak mau pipis, tolong nyalain lampunya.” Lalu langsung buka celana dan seterusnya sesuai tahapan tadi.

Untuk hari pertama sih, saya masih membimbingnya melakukan tahapan tadi dan mengajaknya mengulangi urutannya saat sedang santai.

Semoga lama-lama dia terbiasa ya, dan kami bisa menjalani prosesnya dengan senang.

[Bunda Sayang] Materi 2: Kemandirian Anak

Setelah membentuk kebiasaan untuk berkomunikasi secara produktif dalam game level 1 yang lalu. Minggu ini Kelas Bunda Sayang masuk pada materi kedua: Kemandirian Anak.

Ini topik yang bagi saya pribadi sangat penting, karena saya merasa kurang mandiri dan hal itu menyulitkan saya setelah dewasa. Karenanya, kemandirian merupakan kualitas yang menjadi prioritas saya dalam membesarkan anak-anak. Materi dan tantangan yang diberikan di Kelas Bunda Sayang ini tentu akan membantu saya untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Dalam materi kedua ini, dijabarkan betapa pentingnya melatih kemandirian anak. Di antaranya adalah meningkatkan kepercayaan dirinya, juga kemampuan untuk merdeka, tidak banyak tegantung dengan orang lain. Anak yang mandiri juga lebih potensial untuk membantu orang lain, karena sudah terlepas dari kesulitan memenuhi kebutuhan dirinya.

Kemandirian juga ternyata bisa diajarkan sedini mungkin. Paling tidak saat anak sudah melewati usia bayi, yaitu 0-12 bulan. Jadi, jika anak kita sudah di atas usia satu tahun, alangkah baiknya kita berhenti memperlakukannya sebagai bayi dan mulai memberinya kesempatan untuk belajar melakukan banyak hal sendiri. Wah, padahal tidak jarang kita jumpai anak yang sudah masuk sekolah masih disuapi atau dipakaikan baju oleh orangtua maupun pengasuhnya ya… Saya pun terkadang masih suka membantu anak saya melakukan berbagai hal yang dia sebenarnya sudah bisa atau paling tidak sudah mau mencoba melakukan sendiri. Apalagi anak saya yang kedua, yang sekarang sudah menginjak usia 19 bulan.

Tentunya diperlukan proses yang tidak sebentar dalam melatih kemandirian ini. Maka kesabaran dan konsistensi orangtua menjadi kunci. Kesabaran dalam menahan diri untuk tidak terlalu cepat mengintervensi atau menawarkan bantuan. Ketahanan untuk tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi pada hasilnya, dan konsisten pada aturan atau kesepakatan yang telah dibuat.

PR melatih kemandirian ini berlanjut terus hingga usia sekolah anak. Namun jika sudah dimulai sejak usia satu tahun, tentu lebih mudah bagi anak, karena sudah terbentuk kebiasaan menjadi pembelajar mandiri. Keahlian dan tanggung jawab anak juga akan terasah, sehingga lebih mudah baginya untuk menjalani kehidupan sehari-hari tanpa banyak bantuan atau suruhan. Anak jadi bisa membantu dirinya sendiri juga orang lain, bahkan jika kita tidak ada.

Saya semakin bertekad untuk melatih kemandirian ini pada anak-anak saya. Kita tidak pernah tahu sampai kapan dan sejauh apa kita bisa mendampingi mereka. Insya Allah kemandirian yang mereka miliki akan membantu mereka menjalani kehidupan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki dengan maksimal.

[Pra Bunda Sayang] Aktualisasi Diri

Tugas berikut adalah tugas dari materi Pra Bunda Sayang terakhir sebelum kami memasuki materi Bunda Sayang. Sebelum ini ada juga materi Inner Child, namun karena tugasnya bersifat pribadi, tidak saya publikasikan di sini.

Untuk materi aktualisasi diri, ada dua poin yang perlu dikerjakan, sebagai berikut:

1. Buat kartu nama yang menunjukkan siapa diri bunda, passion maupun profesinya.

Kartu Nama BunSay - 010918

2. Buat plot/ narasi seandainya bunda ditanya oleh seseorang tentang diri bunda.
Sebenarnya pertanyaan ini cukup luas cakupannya. Jawabannya bisa pendek, bisa panjang. Bisa membahas sisi yang satu atau yang lainnya, bahkan beberapa sisi sekaligus, tergantung konteks pertanyaannya. Dalam tugas ini, sesuai dengan tema dan berkaitan dengan poin yang pertama, saya membuat narasi dalam lingkup tersebut:

Saya orang yang suka belajar. Saya tertarik dengan pengembangan diri yang ujungnya menarik saya untuk melirik ilmu pengasuhan, pendidikan, dan tumbuh kembang anak. Saat ini, saya menjadi relawan di sebuah institusi yang bergerak di bidang pendidikan keluarga serta berusaha menyebarkan pentingnya membacakan buku sejak dini sebagai seorang book advisor. Saya juga tergabung dalam beberapa grup dan  kelas online yang berkaitan dengan ketertarikan saya itu, termasuk Institut Ibu Profesional.

Menulis adalah hal yang saya nikmati. Selain rutin menulis dalam jurnal pribadi, saya berbagi ide dan pengalaman saya melalui blog dan media sosial. Mengikuti beberapa kelas kepenulisan dan membuat antologi merupakan salah satu cara saya untuk melatih keterampilan serta menjaga semangat dan konsistensi menulis, sehingga bisa lebih produktif. Menulis dan mengedit artikel untuk website merupakan pekerjaan saya di ranah publik, sementara di ranah domestik, saya sedang asyik membersamai dua putri saya, Nayyara (3 tahun) dan Kynatha (18 bulan) bermain dan belajar sambil terus meng-upgrade ilmu dan keahlian saya  dalam mengasuh dan mendidik anak, mengelola rumah tangga, juga berkontribusi bagi sesama.

[Pra Bunda Sayang] Adab Menuntut Ilmu x CoC

Melewati Kelas Matrikulasi dan menjadi anggota Ibu Profesional memberikan banyak manfaat bagi saya. Yang jelas, semangat untuk terus belajar dan mengembangkan potensi senantiasa termunculkan kembali.

Karenanya, saat pendaftaran untuk kelas Bunda Sayang, yang merupakan kelas lanjutannya dibuka, saya tidak ingin ketinggalan.

Sebelum masuk ke materi utama, terdapat materi pra Bunda Sayang. Materi pertama mengenai manajemen waktu, di mana peserta membuat jadwal daily activity. Ini tentunya penting, karena kelancaran proses belajar (juga berbagai peran lain dalam kehidupan) tergantung pada perencanaan dan disiplin yang baik dalam mengikuti rencana yang telah dibuat.

Materi kedua mengenai Adab Menuntut Ilmu dan Code of Conduct (CoC) atau kode etis dalam mengikuti perkuliahan. Sebagaimana juga Kelas Matrikulasi diawali dengan materi ini, dalam IIP, adab senantiasa didahulukan dari ilmu, agar ilmu bisa diserap dengan maksimal, penuh berkah, bermanfaat penuh bagi diri dan sekitar tanpa merugikan siapapun.

Materi tentu saja diikuti oleh tugas yang berfungsi mengikat ilmu agar tertanam dalam hati dan ingatan, juga lebih mudah diamalkan.

Jika tugas pertama langsung saya lampirkan di google class, tempat perkuliahan berlangsung selain di grup Whatsapp, maka tugas kedua saya tuliskan di sini.

Tugas terbagi menjadi tiga: Pertanyaan untuk individu; Studi kasus untuk didiskusikan di peer group; pertanyaan saat diskusi di grup Whatsapp. Berikut hasilnya:

1. Pertanyaan untuk individu
a. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?
Saya ingin menambah ilmu dan pemahaman khususnya dalam mengasuh anak-anak saya sesuai dengan fitrah dan tahap perkembangan mereka. Saya juga ingin menjadi diri yang lebih baik sehingga mampu menjalankan berbagai peran yang saya miliki, terutama sebagai ibu dan istri, dengan sebaik-baiknya.

b. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang Anda rencanakan di bidang tersebut?
Saya akan mengelola waktu saya dengan lebih baik, yaitu menyusun jadwal dan dengan tertib mengikutinya. Dengan demikian, saya bisa mengikuti perkuliahan dengan lebih baik, membaca dan merangkum setiap materi, menyimak dan memberi tanggapan atau bertanya jika diperlukan saat berdiskusi, juga mengerjakan tugas dan tantangan yang diberikan dengan sebaik mungkin. Sebagai tambahan, saya juga akan membaca buku atau artikel yang sekiranya menunjang proses pembelajaran.

c. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
1. Mendekatkan diri pada Allah swt. Sang Pemilik Ilmu dengan memperbaiki ibadah, banyak mengingat-Nya dan berdoa agar diberikan pemahaman dan keberkahan dalam ilmu yang diperoleh.
2. Mengutamakan pembacaan materi segera setelah diberikan. Membuat catatan dan pertanyaan jika ada untuk disampaikan saat diskusi.
3. Mengerjakan tugas sebaik dan sesegera mungkin, agar maksimal kualitas dan manfaatnya, juga selesai tepat pada waktunya.
4. Sebisa mungkin terlibat dalam setiap diskusi dalam grup dan memberi tanggapan saat diperlukan baik kepada fasilitator maupun sesama peserta.

2. Resume Studi Kasus dalam Peer Group
Berikut resume hasil diskusi dari Grup 2 yang disusun oleh Mbak Tia Agustriani selaku koordinator grup:
1. Sikap Pembelajar Terhadap Fasilitator
1. Menghormati:
– Datang tepat waktu/ bahkan sebelum materi dimulai.
– Menyimak apa yang disampaikan.
2. Menghargai:
– Mengaplikasikan ilmu.
– Respon yang baik saat pembelajaran.
– Tidak menyela saat fasil menyampaikan materi.
3. Bersikap sopan dan beradab saat fasil melakukan kesalahan (lebih baik wapri).
4. Meminta izin dengan baik saat diperlukan.

2.Saat berdiskusi, fasil menyampaikan jawaban yang kurang tepat, apa yang kita lakukan?
1. Husnudzon ke fasil.
2. Koreksi kesalahan dengan penuh kesopanan via japri.

3. Jadwal diskusi sudah ditetapkan, materi sudah diposting di
GClassroom, kemudian review diskusi pun sudah tersedia, apa yang perlu dilakukan sebagai mahasiswi yang beradab baik
?
1. Pribadi:
– Membaca materi dan mencernanya dengan baik.
– Mencatat jadwal diskusi.
– Menyiapkan bahan utk diskusi (jika ada yang ingin ditanyakan).
– Izin jika berhalangan diskusi.
– Menyimak dan berperan aktif saat hadir dalam diskusi.
– Mengamalkan materi yang sudah didapat.

2. Bersama:
Berbagi hasil resume materi kepada teman yang berhalangan.

4. Di setiap level, akan ada tantangan 10 hari, di mana mahasiswi
perlu menuliskan pengalamannya dalam melakukan tantangan yang diberikan. Tentunya mahasiswi ingin bisa tepat waktu dalam menyetorkan tugasnya. Mana yang lebih bermartabat, membuat
setoran asal-asalan agar tepat waktu, atau berusaha mengatur waktu dengan baik agar bisa membuat setoran berkualitas dan bisa tepat waktu?

Tepat waktu dan berkualitas, dengan alasan:
1. Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab.
2. Melatih manajemen waktu.
3. Mencontohkan yang baik untuk anak dan itu akan terasa lebih semangat.
4. Sebagai komitmen kita dalam mengamalkan materi/ilmu.

5. Materi yang disampaikan dirasa sangat bermanfaat, mana yang lebih bermartabat? Menulis ulang materi di medsos/blog, atau menuliskan pengalaman dan hikmah saat mendapat materi, kemudian membuat review dari sudut pandang sendiri?
Yang lebih bermanfaat adalah menuliskan pengalaman dan hikmah dari materi yang didapat yang selanjutnya membuat review berdasarkan sudut pandang pribadi.
Hal ini juga penting, karena:
– Menghindari plagiat.
– Melatih bakat kepenulisan kita.
– Lebih terasa ilmunya.
– Sebagai perbaikan diri/reminder.

Sedangkan menulis materi ulang, menurut kami cukup sebagai catatan pribadi saja (sesuai CoC tidak disebarluaskan).

6. Mendapatkan tawaran untuk mengisi materi yang berkaitan dengan Bunda Sayang, apa yang akan Anda lakukan?
Diterima jika sudah mendapat izin dari suami dan anak-anak, dan tentu minta pendapat ke fasil/ tim IP terkait materi yang disampaikan. Jika sudah fix dr pihak terkait, baru pelajari/ persiapkan dengan matang agar penyampaian materi lancar.

7. Kegiatan domestik dan ranah publik dirasa semakin padat, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan. Cuti atau mengundurkan diri, dibolehkan. Bagaimanakah etika saat ingin mengajukan cuti atau mengundurkan diri?
– Komunikasikan (salah satunya meminta izin) dengan tim iP terkait dengan etika yang baik.
– Jika diizinkan lakukan prosedur selanjutnya dengan baik.
– Berpamitan dengan teman-teman sekelas.

8. Kuota bunda sayang terbatas, banyak IPers yang ingin mengikuti perkuliahan namun tidak mendapat kuota, sementara itu ada peserta yang sudah daftar mundur di tengah jalan. Bagaimana pendapat teman-teman mengenai konsekuensi yang sebaiknya diberlakukan?
Selalu diawali berhusnudzon atas keluarnya peserta dari kelas. Konsekuensinya tergantung alasan mundurnya karena apa. Kalau memang sesuatu yang mendadak, tidak diduga sebelumnya, misalnya dapat musibah atau kondisi yang berubah, konsekuensinya hanya harus remidi. Tapi kalau itu sesuatu yang memang sudah berjalan, tapi ternyata setelah dijalani tidak bisa mengatur waktu, mungkin boleh juga dibanned satu periode misalnya. Jadibbaru boleh ikut lagi dua batch setelahnya. Konsekuensi ini perlu dinyatakan pada saat pendaftaran.

3. Hasil diskusi di WAG
Resume hasil diakusi di WAG berikut masih disusun oleh Mbak Tia:
1. Terkait studi kasus, untuk yang permintaan menjadi narsum:
Alhamdulillah ada pihak yang meminta kita jadi narsum di suatu acara, dan ternyata materi Bunda Sayang sangat cocok disampaikan. Boleh nggak ya? Harus izin dulu atau tidak?

Yup harus izin. Namun untuk materi-materi kelas mulai matrikulasi, bunsay, buncek, bunprod dan bunshal semuanya hanya untuk internal mahasiswi kelas tersebut. Jadi tidak boleh disebar bebas keluar 😊

Kenapa bisa begitu?
Karena:
✅ Penyusunan kurikulum tidak mudah.
✅ Jika disebarkan sepotong-sepotong khawatir ada salah tangkap dalam penerimaannya.
✅ Setiap materi harus ada pendampingan.
✅ Nggak jelas sumber ilmunya karena sudah tersebar luas tanpa tanggung jawab.
✅ Isinya bisa diubah-ubah atau malah dijadikan hak klaim.
✅ Bisa dianggap ilmu yg menyesatkan jika dipotong-potong dalam menyebarkannya.
✅ Berkaitan erat dengan adab menuntut ilmu sebagai bentuk menghargai.

Dan ini terkait dgn pertanyaan no. 5: akan lebih bermartabat jika kita menuliskan pengalaman dan hikmah saat mendapat materi baru, kemudian membuat review dari sudut pandang kita sendiri

Kalau dari IIP sendiri, kalau tiba-tuba ada yang cuti atau mengundurkan diri di tengah jalan, apakah ada konsekuensi tertentu?
Jika ada kejadian seperti ini tentu pengajuan pengunduran diri atau cutinya tdk langsung diapprove. Akan dilakukan pendekatan personal dan dibantu menyelesaikan kendala yang dihadapi si mahasiswi tersebut. Juga akan dilakukan upaya agar mahasiswi tersebut tetap bisa belajar bersama. Dan ini butuh support dan kerjasama dari kita semua yang ada di kelas. Saling membantu, saling peduli, saling support sehingga belajar di kelas ini tidak terasa berat tapi sebaliknya, akan terasa ringan, menyenangkan, ngangeni dan sebagainya.

Semoga apa yang tertulis di sini mampu saya amalkan dengan sebaik mungkin ya, dan menjadi bekal awal kelancaran proses belajar di kelas selanjutnya. Mohon doanya. 🙏

[Matrikulasi] Materi Sesi #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“Just DO It”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

“PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH”

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogikan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

[Matrikulasi] Materi Sesi #3 – Membangun Peradaban dari Rumah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA, AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

MIIP #3 - 090218

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

It Takes a Village to Raise a Child

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016