Tag Archives: books

Saya Mau Anak-Anak Saya Gila Baca!

Sudah cukup lama pengen nulis tentang buku-buku MDS alias Mandira Dian Semesta. Bukan, bukan cuma karena saya jualan buku-bukunya (tapi kalo mau beli atau nanya-nanya tetap boleh hubungi saya ya :D), tapi karena buku-bukunya itu emang keren banget! Semuanya!

Beneran deh. Saya itu awalnya juga tertarik daftar jadi Book Advisor MDS karena naksir sama buku-bukunya. Niatnya paling nggak kan jadi lebih murah kalo mau beli untuk KynaRa kan, kan? Sekalian nambah-nambah tabungan untuk… Ya, beli buku juga sih, hahaha.

Iya, saya emang gila buku. Saya tahan untuk nggak beli baju, sepatu, kosmetik, atau yang lain-lain. Nggak masalah kalo pakenya yang itu-itu aja. Makan pake telor ceplok juga jadi. Tapi, kalo udah yang namanya buku, kayanya seisi toko kalo bisa pengen dibeli semua xD

Itu penyakit saya sih. Saya bilang penyakit karena saya beli buku lebih banyak daripada yang saya baca. Jatohnya jadi penimbun yaa.. Tapi saya sungguh berniat membaca semuanya loh, serius. Makanya saya buat kebiasaan baru ini kan (tolong jangan tanya dulu gimana perkembangannya).

Kalo dulu saya paling sering beli novel, terutama yang bergenre fantasi, sekarang saya lebih tertarik pada buku tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Selain itu, setelah punya anak, saya tentunya juga tertarik untuk membelikan mereka buku sesuai usianya.

Naah… Buku-buku MDS ini jadi salah satu pilihan saya.

Ta.. Tapi, harganya kan mahal. Iya sih, saya juga dulu mikirnya begitu. Eh, sampai sekarang deh, hahah.

Cuma setelah saya hitung-hitung lagi, untuk buku sebanyak itu, harga segitu rasanya pantas deh. Belum liat kontennya, desainnya, manfaatnya untuk anak-anak. Dibandingkan dengan buku anak-anak lain yang kualitasnya setara, harganya juga nggak jauh beda. Boleh di-survey ke berbagai toko buku yang ada. Apalagi kalo liat harga buku-buku impor. Wuih.

Mahal atau nggaknya suatu barang itu juga sebenarnya tergantung penting atau nggaknya barang tersebut buat kita, nggak sih?

Kalo kita nggak suka buku atau nggak mengerti apa gunanya baca buku, mungkin kita melihat buku hanya sebagai kumpulan tulisan dan gambar yang terbuat dari tumpukan kertas. Kita hanya menghitung bahan bakunya, lalu merasa itu tidak sebanding dengan harga jualnya. Kita melupakan ide dan ilmu yang terkandung di dalamnya. Lebih-lebih sesuatu yang begitu besar dan mendasar yang bisa diperoleh dari membacanya.

Jadi kenapa MDS? Boleh berkunjung ke IG @kynarasbookpond untuk ngintip sebagian buku-bukunya yang cakep-cakep itu. Saya juga insya Allah akan nulis tentang buku-buku itu di sini deh.

Ada satu hal sih, sebenernya, yang membuat saya ingin sekali mendekatkan anak-anak saya pada buku, yaitu besarnya manfaat membaca(kan) buku sejak dini.

Ini bukan hanya tentang ilmu yang didapat dari membaca buku ya. Tapi lebih kepada bagaimana kegiatan membaca dan dibacakan buku merangsang otak manusia, terutama anak-anak kita, untuk berkembang, membentuk sambungan-sambungan yang diperlukan sebagai pondasi berpikirnya kelak.

Pendeknya, anak yang terbiasa dibacakan buku sejak dini, otaknya akan memiliki kemampuan berpikir serta fokus yang lebih baik. Dia kemudian juga akan lebih mudah belajar (termasuk membaca buku), menangkap serta mengolah informasi, dan menghasilkan banyak hal dari kemampuannya itu. Lebih lengkap soal pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak pernah saya post di sini.

Saya juga ingin anak-anak saya bisa menikmati kegiatan membaca. Membaca untuk kesenangan, untuk meluaskan imajinasi dan memenuhi rasa ingin tahu yang sejati. Bukan sekadar memenuhi pengetahuan yang diperlukan karena pelajaran di sekolah. Apalagi hanya semata untuk mendapatkan nilai ujian yang baik.

Jadi, ya, saya tidak akan berhenti mengusahakan buku-buku terbaik untuk anak saya. saya ingin mengajak mereka ke berbagai perpustakaan, dan yang terutama, menghabiskan banyak waktu untuk membaca bersama mereka. Dimulai dari kebiasaan membaca(kan) buku untuk mereka sebelum tidur. Seperti yang dilakukan ibu saya dulu, saat saya masih anak-anak.

Tapi semoga, daripada berhenti di gila buku, anak-anak saya kelak bisa jadi gila baca juga. Aamiin YRA.

Click to Share

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Memangnya Penting?

Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk mengisi Sabtu Inspirasi di WAG Sahabat Bunda. Komunitas yang terbagi ke dalam grup Whatsapp per wilayah ini memang memiliki program, di mana tiap hari Sabtu pesertanya bergantian berbagi bermacam hal sesuai ilmu dan pengalaman masing-masing.

Karena saya memperkenalkan diri sebagai seorang Book Advisor dan sempat sedikit mengobrol soal ini di grup, jadilah saya. “ditodong” untuk berbagi tentang minat baca pada anak.

Berbekal sedikit pengetahuan dan buku yang saya miliki, saya pun menyusun artikel singkat yang diminta untuk dibagikan kepada para peserta sebagai bahan diskusi saat itu.

Berikut saya sertakan artikelnya, mana tahu bermanfaat.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak
Oleh: Aca Tadesa

1. Minat Baca VS Kualitas Sumber Daya Manusia
Dalam masyarakat kita, buku mungkin tidak termasuk benda yang populer. Ini dapat dilihat dari rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, hanya 8, 32% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas yang suka membaca berbagai sumber bacaan, seperti surat kabar, buku atau majalah. Sementara 91,68% sisanya lebih suka menonton televisi.

Data dari UNESCO pada tahun yang sama.mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, pada 1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki minat membaca.

Padahal, budaya baca adalah salah satu penentu utama tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, yang berkorelasi langsung demgan kemajuan bangsa tersebut. Bahkan, tingkat korupsi suatu negara ternyata bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.

Terbukti, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2013 Indonesia berada di peringkat ke 108 sari 187 negara di dunia, di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sedangkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada tahun 2014 menempati peringkat 107 dari 175 negara di dunia (dikeluarkan oleh lembaga Transparency International).

Kesimpulannya, minat baca rendah = kualitas SDM/ IPM rendah = tingkat korupsi tinggi. Sebaliknya, minat baca tinggi = terbentuk budaya baca = bangsa maju.

2. Buku VS Televisi atau Gawai
Di atas sudah disebutkan betapa minat baca yang tinggi menentukan kualitas SDM juga kemajuan suatu bangsa. Tapi bagaimana bisa sih?

Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan beberapa manfaat membaca, antara lain: Membantu mengembangkan pemikiran, menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan, memori, dan pemahaman, menambah pembendaharaan kata serta pola kalimat sekaligus meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami kata dan kalimat tersebut secara tersurat maupun tersirat.

Apakah televisi dan gawai memiliki manfaat yang sama? Ternyata tidak.

Terlepas dari berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari media elektronik tersebut, seperti tambahan informasi, edukasi, juga hiburan, stimulasi perkembangan otak yang didapatkan tidak semaksimal membaca bukubuku. Bahkan, jika dilakukan berlebihan bisa mengganggu fokus anak, memperpendek rentang konsentrasi, menghambat perkembangan kemampuan berbahasa, menimbulkan masalah dan kesulitan belajar, menurunkan minat baca, hingga menimbulkan kecanduan yang memperburuk semua efek yang telah disebutkan.

Media elektronik tersebut memiliki efek negatif yang lebih besar jika digunakan oleh balita. Hasil penelitian Seattle’s Children’s Hospital atas kebiasaan menonton 2.500 anak menyimpulkan bahwa untuk setiap empat jam menonton televisi per hari yang dilakukan oleh anak berusia sebelum tiga tahun, resiko terkena ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) di usia tujuh tahun meningkat 10%.

Otak anak di bawah usia dua tahun belum mampu mengolah informasi yang ditampilkan oleh layar dengan sempurna, sehingga dapat mengganggu perkembangan sel-sel otaknya. Belum lagi pengaruh cahayanya yang dapat merusak mata.

3. Kenapa penting membacakan buku pada anak sejak dini?
Ok, membaca buku memiliki banyak manfaat dan minat baca yang tinggi meningkatkan kualitas diri dan pendidikan seseorang hingga mempengaruhi kemajuan bangsa, tapi apakah harus membacakan buku sejak anak masih bayi? Bukankah dia bahkan belum mengerti?

Membacakan buku pada anak bahkan penting dilakukan sejak anak berada dalam kandungan, untuk menstimulasi indera pendengaran dan otaknya. Seperti halnya mengajak bicara, memperdengarkan musik klasik atau muratal, membacakan buku sangat baik untuk dilakukan.

Pada masa keemasan (golden age) anak, yaitu dari usia 0-5 tahun, otaknya berkembang pesat, hingga mampu menyerap informasi dan merespon stimulasi dua kali lebih cepat dari usia setelahnya. Maka membacakan buku, bahkan saat anak tampak seperti tidak memperhatikan, bisa menambah banyak kosakata baru yang tidak ditemui dalam percakapan sehari-hari, mengajarkan arti kata, melatih daya imajinasi, mengasah rentang konsentrasi, merangsang persambungan antar sel otak, mencegah speech delay, meningkatkan kemampuan berpikir, memahami kalimat, intonasi, memancing pertanyaan, meluaskan pengetahuan, dan sebagainya.

Tentunya, membacakan buku sejak dini juga merupakan salah satu cara mengenalkan anak pada buku yang diharapkan menjadi benih cintanya pada buku, membaca dan belajar.

4. Bagaimana memilih buku yang sesuai untuk anak?
Usia anak dapat menjadi pertimbangan dalam memilihkan buku yang tepat untuknya:
a. 0-2 tahun
>> Board book, buku kain atau buku busa sehingga aman untuknya dan tidak gampang rusak oleh anak yang masih dalam tahap “memakan”, menarik, dan melempar.
>> Berwarna cerah atau kontras untuk merangsang indera penglihatannya.
>> Tulisan sedikit, bahkan hanya satu atau dua kata saja.

b. 2-4 tahun
>> Board book, buku aktivitas, buku main, busy book.
>> Berisi kalimat sederhana yang berima.

c. 4-6 tahun
>> Picture book, pop-up book, layer book, buku aktivitas.
>> Kalimat lebih panjang, kisah bermakna.

d. 7-12 tahun
>> Novel pendek, kumpulan dongeng, ensiklopedi
>> Sudah bisa membaca mandiri dengan pendampingan.

Selain usia, kemampuan berbahasa, kebutuhan dan ketertarikan anak juga perlu diperhatikan.

5. Bagaimana jika anak tidak tertarik?
Anak tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya. Awali dengan membuatnya terbiasa akan buku. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk menarik minat anak:

    a. Konsisten membacakan buku sejak dini.

>> Walau terkesan diabaikan, terus bacakan dengan pantang menyerah 😆 Jadikan membacakan buku sebagai bagian dari rutinitas anak. Selain menjadi terbiasa, manfaat dibacakan buku juga didapatkan olehnya. Bonding dengan orangtua juga bisa didapatkan dengan membacakan buku. Anak bisa mendapatkan kenangan indah dan kesan manis tentang buku dari kegiatan ini.

    b. Meletakkan buku di tempat yang terjangkau penglihatan dan tangannya.

>> Letakkan buku di berbagai tempat di sekitar anak, sehingga ia tidak menjadi benda yang asing dan jauh melainkan dekat dengan kesehariannya.

    c. Jadikan buku sebagai benda yang terkesan seru dan menyenangkan.

>> Tidak harus selalu tersusun rapi, buku juga bisa disusun membentuk jembatan atau terowongan, ditata bersama mainan, sehingga anak mengesankannya sebagai benda yang menyenangkan.

    d. Berikan contoh

>> Anak meniru orangtuanya. Baca buku di sekitarnya, biarkan ia mengamati dan mengikuti.

Children are made readers on the laps of their parents. —Emilie Buchwald

Books open your mind, broaden your mind, and strengthen you as nothing else can. -William Feather

Sumber bacaan:
Trelease, Jim. 2017. The Read-Aloud Handbook
Mandira Dian Semesta. Panduan Book Advisor.
al-Qarni, Dr. Aidh bin Abdullah. La Tahzan.

Islam itu Ramah, Bukan Marah

Itu adalah judul buku pertama yang saya baca di bulan ini. Membaca judulnya yang bagi saya terasa sungguh relevan dengan keadaan umat muslim saat ini, membuat saya tertarik untuk mengintip isinya.

Buku karya Irfan Amalee ini terlihat sederhana, dengan ukuran tidak terlalu besar dan tebal sekitar 200 halaman. Namun, saya menemukan banyak pencerahan serta sudut pandang baru dari tulisan penulis yang mudah dicerna.

Isi buku dibagi menjadi dua bagian:
>> Bagian 1: All About Peace
Pada bagian ini penulis membahas mengenai sifat manusia, penyebab konflik, peperangan, persatuan, hingga cara kerja otak dan kemampuan merespon dengan bijaksana/ hilm.

>> Bagian 2: Character Building
Di sini penulis menekankan pada nilai-nilai yang perlu dimiliki dan hal yang perlu dilakukan seseorang agar dapat menjadi bagian dari Islam yang maju dan damai, sesuai nilai ajarannya.

Islam Ramah Bukan Marah

Hal-hal yang ditulis dalam buku ini mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru atau sepenuhnya belum pernah saya dengar, tapi entah bagaimana, cara penulis menyampaikannya memunculkan semacam pemahaman baru dalam melihat suatu hal.

Penulis berhasil menunjukkan poin-poin penting dibalik berbagai hal yang dia bahas, dan walaupun tiap bagian tersusun dari bab-bab berisi tulisan pendek yang terasa ringan, semua terasa menyatu dan berkesinambungan.

Beberapa hal yang saya kumpulkan dari buku ini, misalnya:

  • Tentang betapa hati yang sakit akan menyakiti, da pentingnya harga diri sebagai pemicu sekaligus pengakhir konflik.
  • Bahwa untuk mengubah pemahaman seseorang , pengalaman jauh lebih efektif daripada perdebatan.
  • Tentang hilm/ response ability/ kemampuan merespon sesuatu dengan bijak, tidak reaktif. Sifat yang dimiliki oleh Rasulullah dan seperti hilang pada diri banyak orang zaman sekarang, yang terlalu cepat berbagi berita yang belum tentu benar, cepat memberi komentar, cepat marah, menuduh, menghakimi.
  • Tentang bagaimana pendidikan kita cenderung berfokus pada stimulasi otak reptilia manusia dengan menakut-nakuti daripada merangsang neo-cortex agar berpikir aktif dan kritis.
  • Tentang appreciate inquiry dan discovering ability, yaitu fokus pada hal positif juga kelebihan seseorang atau sesuatu.
  • Tentang konsep compassionate school atau sekolah yang beradab. Pentingnya hidden curriculum/ culture sebuah sekolah untuk menjadi pertimbangan saat akan memilih tempat belajar, daripada sekadar melihat prestasi akademik atau berbagai visi, misi dan kurikulum yang dikemukakan.
  • Tentang pentingnya budaya literasi dan bagaimana perintah membaca diulang sebanyak 33 kali, lebih banyak dari perintah memakai jilbab misalnya, yang artinya, kalau menutup aurat itu wajib dan penting, maka membaca atau menuntut ilmu itu lebih penting lagi. Menjalankan syariat harus ditunjang oleh ilmu.
  • Tentang Islamicity Index yang dibuat berdasarkan indikator nilai-nilai Islam yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadis, di mana Indonesia dan negara-negara Islam menempati urutan terendah sementara di urutan teratas ditempati negara-negara non-muslim.

Banyak lah. Dari satu buku itu mungkin bisa dikembangkan jadi banyak artikel.

Kalaupun ada yang kurang dari buku ini, itu adalah hilangnya poin nomor dua dari lima poin yang disebutkan pada halaman 111-116.

Irfan Amalee merupakan CEO Mizan Application Publisher dan tengah membangun Peace Generation, yang dicita-citakan menjadi sebuah social enterprise berskala internasional. Tulisannya dalam buku ini turut berjasa membuat saya memenuhi target membaca sekaligus kembali menulis review buku.

Books I Read in 2015

Yes, you read that right: 2015.

Hahaha.. My reading habit had been de-esclating through the years. From 66 books a year to 57 books to only 12 books on 2015, at least until I stop writing the list, than stop making the post at all xD

Well, I’m about to start again. It’s the middle of the year, so I’m just going to put in the books I can recall from the past months. I’m going to put ini in the page as usual than move it into post when the year ended.

Happy reading, Aca! :)

=======

New year, new book list. You can also check out the list of books I read on 2013 and 2014. Let’s spread the beauty of reading! 😀

“The more you read, the more things you know. The more that you learn, the more places you’ll go.” – Dr. Seuss-

Beautiful books, beautiful mind ;) Beautiful books, beautiful mind 😉

Books I read in 2015:

>> January:
1. Wonder Struck – Brian Selznick

>> February:
2. Mommies Daily Pregnancy Checklist Book – Tim Mommies Daily
3. The Mortal Instruments: City of Heavenly Fire – Cassandra Clare

>> March:
4. Breastfriends: inspirASI 22 – Adenita
5. Terminal – Roderick Gordon & Brian Williams
6. The Giver – Lois Lowry

>> April:
7. Magical Seira #3: Seira and the Destined Farewell
8. Pertarungan Jiwa Billy – Daniel Keyes

>> May:
9. Wanita Dalam Lukisan [Rose Madder] – Stephen King
10. Anak juga Manusia – Angga Setyawan
11. Kenali Anakmu – Angga Setyawan
12. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair – C. S. Lewis

[Shokyuu Intensive Class] Task 6: Berbenah Buku

Kategori kedua yang akan dibereskan dalam Tidying Festival adalah BUKU.

Bagi saya ini lebih sulit dari pakaian, karena saya suka buku dan tidak mudah menyingkirkan buku yang, kalau dalam istilah Konmari: Tidak spark joy, termasuk buku-buku yang rencananya akan dibaca tapi pada kenyataannya tidak akan pernah dibaca 😆

Seperti saat berbenah pakaian, berbenah buku ini bisa dibilang bagai menemukan jati diri. Kita memilih hanya buku yang dirasa paling sesuai dengan kita, paling kita sukai dan membuat kita senang membaca juga menyimpannya.

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya saya membongkar rak buku kami (saya dan adik-adik). Tentunya setelah difoto sebelumnya untuk tugas ini 😁

1. Kirimkan before dan after Konmari rak buku teman-teman.

2. Sertakan sedikit narasi untuk foto tersebut yaitu jawaban untuk pertanyaan : apa saja kesulitan yang teman-teman alami ketika berbenah buku ala Konmari?

Rak buku kami: Before
Rak buku kami: Before

Seperti bisa dilihat pada foto, rak buku kami sudah penuh sesak dengan buku. Buku berbaris depan belakang, sampai ditumpuk di bagian atas karena sudah tidak muat. Selain buku, di dalamnya juga ada beberapa benda lain seperti sticker dan booklet.

Tumpukan buku setelah dikeluarkan dari rak 😱
Tumpukan buku setelah dikeluarkan dari rak 😱

Walau tidak diminta dalam Task 6 ini, saya merasa perlu menyertakan foto di atas agar terlihat banyaknya buku yang dijejalkan dalam rak tersebut 😅

Mau mengibarkan bendera putih saja rasanya saat itu. Karena tumpukannya banyak sekali, penuh debu, begitupun rak bukunya dengan kertas koran yang sudah kotor dan menguning. Sementara saya alergi debu dan hampir setiap saat ditempel oleh dua orang balita 😂 Adik-adik sibuk dengan kegiatan masing-masing, hanya sempat membantu saya menyortir buku mereka (yang persentasenya lebih sedikit dari buku saya 😆).

Rak buku kami: After Konmari
Rak buku kami: After Konmari

Setelah bergelut dengan debu-debu, memilah dan memilih buku-buku yang masih memberi perasaan senang saat memegangnya, mengelompokkannya sesuai kategori yang dirasa sesuai, dan menyusunnya kembali dalam rak buku, tentunya sambil bolak-balik memenuhi kebutuhan anak di lantai bawah (rak bukunya di lantai dua), akhirnya selesailah acara berbenah kali ini.

Mungkin belum sepenuhnya ter-Konmari ya, karena dalam satu lantai masih terdiri dari 2-3 baris buku. Tapi sudah jauuuh lebih rapi, bersih, dan terpilah.

Jadi terlihat lebih jelas yaa, minat saya buku yang seperti apa, bidang dan genre apa saja. Saat memilah, ada buku-buku yang membuat saya sangat bersemangat karena saya suka sekali isinya, ada yang biasa saja, ada juga yang dengan tidak terlalu sulit saya singkirkan saja. Sempat juga ada buku yang ragu mau saya keluarkan dari koleksi. Ada yang baru dibaca sebagian ada juga yang masih dalam plastik alias belum pernah dibaca sama sekali. Tapi pada akhirnya berhasil saya letakkan di tumpukkan yang akan disingkirkan. Rasanya lega juga ya ternyata, haha.. *tepuk pundak sendiri

Terima kasih untuk semua buku yang pernah mengisi hari dan hati ini. Baik yang sudah selesai atau belum dibaca, yang disimpan atau disingkirkan.

Kategori selanjutnya: Kertas.

Books I Read in 2014

It’s crazy how the time passed isn’t it? I can’t believe the first month of 2015 is coming to an end and the last time I post anything on this blog was May 2014 -_-”

There were so many things happened last year, a life changing ones.

Well, this is my first post this year. Hopefully an opener to more posts and updates.

Apparently, I also read less book on 2014, like 9 books less than 2013.

I don’t know if I could read more this year, since one of so called life-changing-event I might going to tell you in another post, but I will keep updating it on the “Book List” page. And I will try my best to create more post.

Well, this is my 2014 book list:

[To continue what I did here, this page is now will make a note of the books I finished reading on 2014. Feel free to share your own list or your recommendation of books worth reading on the comment below. Enjoy your reading! :)]

books 2014
Oh, the joy of reading…

Books I read in 2014:

>> January:
1. American Gods – Neil Gaiman
2. The Mortal Instruments: City of Bones – Cassandra Clare
3. Siomay Pink: Sebuah Perjalanan untuk Menemukan Cinta – Nidya Febriani Utami
4. Otobiografi Malcolm X: Sang Negro yang Merevolusi Dunia Islam dan Kemanusiaan – Malcolm X & Alex Haley

>> February:
5. Of Mice and Men – John Steinbeck
6. Please Look After Mom – Kyung-sook Shin
7. The Mortal Instruments: City of Ashes – Cassandra Clare
8. The Mortal Instruments: City of Glass – Cassandra Clare
9. Pulang – Leila S. Chudori
10. Gadis Jeruk – Jostein Gaarder

>> March:
11. Cahaya, Cinta, dan Canda M. Quraish Shihab: 70 Tahun Membumikan al-Qur’an – Mauluddin Anwar, Latief Siregar, Hadi Mustofa Djuraid
12. Cinderella in Paris – Sari Musdar
13. Berguru kepada Sang Mahaguru: Catatan Kecil [Seorang Murid] tentang Karya-karya dan Pemikiran M. Quraish Shihab – Muchlis M. Hanafi
14. Catatan Indah untuk Tuhan – Saptuari Sugiharto
15. Six Suspects – Vikas Swarup
16. Ibrahim Bapak Semua Agama: Sebuah Rekontruksi Sejarah Kenabian Ibrahim AS. Sebagaimana tertuang dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an – Iqbal Harahap (penyadur)
17. The Chronicles of Ghazi #1 – Sayf Muhammad Isa & Felix Y. Siauw
18. The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick
19. The Homecoming – Shashi Warrier
20. The Jilbab Traveler – Asma Nadia, dkk
21. Sepuluh Anak Negro (And Then There Were None) – Agatha Christie
22. One Amazing Thing – Chitra Banerjee Divakaruni
23. Mirror Image – Sandra Brown

>> April:
24. Always the Bridesmaid – Sarah Webb
25. Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye
26. The Old Man and the Sea – Ernest Hemingway
27. The Tales of Beedle the Bard – J.K. Rowling
28. Muhammad: A Prophet for Our Time – Karen Armstrong
29. The Time Traveler’s Wife – Audrey Niffenegger
30. Antologi Rasa – Ika Natassa
31. Kisah-kisah Tengah Malam – Edgar Allan Poe
32. Birrul Walidain: Wawasan al-Qur’an tentang Bakti kepada Ibu Bapak – M. Quraish Shihab

>> Mei:
33. Les Miserables – Victor Hugo
34. The Miracle of Enzyme – Hiromi Shinya, MD
35. The Mortal Instruments: City of Fallen Angels – Cassandra Clare
36. Creative Writing – A.S. Laksana

>> Juni:
37. Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya – Hwan sun-mi
38. The Mortal Instruments: City of Lost Souls – Cassandra Clare
39. Charlotte’s Web – E. B. White
40. Melunasi Janji Kemerdekaan – Muhammad Husnil

>> Juli:
41. Divergent – Veronica Roth
42. Insurgent – Veronica Roth
43. Allegiant – Veronica Roth
44. Run, Dear, Run – Corrine Morgan-Thomas, Gary Brozek

>> August:
45. The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo
46. My Life As: Film Director – Haqi Achmad
47. Cecilia dan Malaikat Ariel – Jostein Gaarder
48. Financial Stories: Kisah Inspiratif Pengelolaan Uang, Utang, dan Usaha – Erlina Juwita, dkk

>> September:
49. Mari Lari – Ninit Yunita
50. Sabtu Bersama Bapak – Adhitya Mulya
51. The Bartimaeus Trilogy: The Amulet of Samarkand – Jonathan Stroud
52. The Bartimaeus Trilogy: The Golem’s Eye – Jonathan Stroud

>> Oktober:
53. The Bartimaeus Trilogy: Ptolemy’s Gate – Jonathan Stroud
54. Beautiful Liar – Dyah Rinni
55. Menjadi Djo – Dyah Rinni

>> November:
56. I Will Always Love You – Jo Chang-in

>> December:
57. The Story Girl – Lucy M. Montgomery

[] >> I think I’ll keep the opener as it was just for the sake of nostalgia ;D

So, it is 2014

Suddenly it’s January.

Yes, the year has change again. 2013 was over, 2014 is now here.

There are some things I start doing or do more in 2013.

I read more books (which actually is one of my new year resolution, so yeay! :D). You can preview the 2013 list here, or take a pick on 2014 list here.

I blog more. It stopped in the middle of the year, but it still more than the year before :p

I started jogging again (although I still found it hard to keep it as a routine).

I joined running races (about four of them :D). There were so many of them, especially in Jakarta that you can enter at least a race almost every month.

There are (of course) things that I meant to do or get done on the same year but finally did not.

I meant to keep blogging once a week (and at least publish one last post before the year ended).

I meant to clean up the room.

I meant to write more on my journal.

I meant to write a novel (even a short story will be nice).

I meant to update my dream book.

Oh, well. Like the quote said,

Today is the first day of the rest of your life. -Charles Dederich-

Let’s just do better in 2014. I wish you all an amazing year ahead and the ability to cherish each moment of the rest of your life. Cheers! :)