Tag Archives: Be Creative

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Aliran Rasa

Tantangan kali ini terasa kurang maksimal dijalani. Tidak seperti level sebelumnya yang bisa dilakukan secara konsisten selama paling tidak 10 hari berturut-turut, kali ini laporan terpaksa dirapel di hari-hari terakhir tantangan.

Alhamdulillah, tetap ada manfaat yang didapatkan dari mengerjakan tantangan. Kemampuan mengamati yang lebih terasah juga keyakinan yang bertambah-tambah bahwa anak-anak sungguh terlahir kreatif, senang belajar, pandai meniru, memiliki berjuta ide yang kadang tidak terbayangkan oleh orang dewasa.

Saya semakin memahami bahwa pemicu kreativitas utama yang bisa diberikan oleh orang tua adalah kepercayaan. Untuk memberi anak-anak ruang bereksplorasi, berkarya, dan menemukan solusi. Membiarkan mereka memilih dan membuat keputusan. Merelakan mereka melakukan sesuatu dengan cara mereka, berbuat kesalahan lalu belajar darinya.

Saat diberi kesempatan, bukan saja anak-anak bisa menyalurkan kreativitasnya juga belajar melalui proses yang dilaluinya, tapi kita, selaku orang tuanya juga bisa banyak belajar dari anak-anak kita.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kesepuluh

Nara dan Kyna menyambut kehadiran adiknya dengan senang. Mereka tak henti-hentinya ingin melihat, memegang, mengelus, menggendong Raya, putri kami yang ketiga.

Mereka juga dengan cepat mengulurkan tangan saat saya minta bantuan untuk keperluan Raya. Mulai mengambilkan pakaian, membuang popok bekas pakai, atau menaruh pakaian kotor Raya di tempatnya.

Malam itu mereka mendongeng untuk Raya.

19-06-29-22-00-30-082_deco

Menggunakan boneka tangan, Nara sibuk bercerita pada Raya. Kyna juga ikut menggoyang-goyangkan boneka di samping Raya walau tanpa cerita.

Raya terlihat menyimak dengan serius :))

Saya tidak tahu darimana mereka tiba-tiba mendapat ide untuk melakukan itu. Tapi saya senang dan terharu melihatnya.

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kesembilan

Bermain petak umpet memicu kreativitas anak dalam mencari tempat persembunyian juga memikirkan di mana kira-kira temannya bersembunyi.

Sebelum ini, saya biasa mengajak Nara dan Kyna mencari saya yang bersembunyi di nernagai tempat di rumah. Lucu sekali melihat mereka mencari-cari saya dengan penuh kegembiraan. Apalagi saat mereka berhasil menemukan saya, sungguh tawa riang yang menceriakan hati.

19-06-29-21-56-56-280_deco

Sekarang, kami bergantian mencari dan bersembunyi. Nara dan Kyna benar-benar bersembunyi di mana saja 😂

Mereka masih dalam taraf konsep “kalau aku nggak bisa lihat, berarti orang lain juga nggak bisa lihat aku”. Padahal siapa juga yang nggak bisa menemukan kalau kakinya ke mana-mana kaya di foto kan 😆🤣

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kedelapan

Bongkar pasang, atau kami biasa menyebutnya balok, adalah salah satu mainan kesukaan Nara dan Kyna.

Mereka bisa menghabiskan cukup banyak waktu membuat berbagai hal dengan balok. Mulai dari binatang, peralatan rumah tangga, bangunan, dan sebagainya. Kali ini, Nara membuat kue ulang tahun dari balok tersebut.

19-06-28-19-42-34-316_deco

Sambungan-sambungan balok Nara susun sehingga menjadi kue sesuai bayangannya. Dia bilang kuenya terdiri dari berbagai macam rasa. Ada rasa coklat, strawberry, blueberry, dan lain-lain.

Nara meminta saya memilih rasa. Saya memilih rasa coklat. Dia kemudian “memotong” kue dengan rasa yang saya minta dan memberikannya kepada saya untuk dimakan. Kyna juga ikut makan kue sesuai rasa yang dia pilih.

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Ketujuh

Saatnya melukis!

Kali ini saya menyediakan tiga warna primer dan cotton but sebagai alat lukisnya.

19-06-28-19-41-21-287_deco

Mereka memyambut gembira karena belum pernah menggunakan cotton but sebelumnya.

Saya menyatukan 5 buah cotton but dengan karet gelang. Kyna langsung menggunakannya untuk melukis, sementara Nara melepaskan ikatannya lalu menggunakan satu cotton but untuk satu warna. Ini kemudian diikuti oleh Kyna, yang bergantian menggunakan kumpulan cotton but dan cotton but satuan.

Saya membebaskan mereka menggunakan cara masing-masing. Hingga di akhir, saat catnya tinggal sedikit, Nara menggunakan tangannya untuk melukis. Kyna yang cenderung lebih pembersih bolak-balik mencuci tangan dan cotton but-nya, serta menolak menggunakan tangannya untuk melukis 😆

Seperti biasa, saya meminta mereka menceritakan gambarnya. Nara bercerita panjang lebar mengenai gambar yang dia buat, juga hal-hal yang melatarbelakanginya. Kyna lebih singkat dan padat.

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Keenam

Sebagai hadiah telah menjadi kakak, kami membelikan Nara dan Kyna mainan baru. Ini kami lakukan agar mereka makin semangat menyambut kehadiran sang adik, juga peran baru mereka.

Salah satu mainannya berupa perlengkapan dokter-dokteran.

19-06-28-02-45-59-361_deco

Mereka pun berubah menjadi dokter dan suster. Memeriksa semua orang yang ada di rumah, termasuk nenek kakeknya yang datang melihat si bayi.

Sasaran berikutnya adalah para boneka. Satu per satu diperiksa, diberi obat, lalu dibaringkan di tempat tidur agar bisa beristirahat.

Alat favorit mereka sejauh ini adalah stetoskop. Namun karena belum terlalu mengerti kegunaannya, mereka juga menggunakannya untuk mengukur suhu dan semua pasien sakitnya adalah demam 😆

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kelima

Sediakan air, pewarna, wadah, dan sendok, anak-anak pun betah bermain untuk jangka waktu yang lama.

Nara dan Kyna dengan semangat menuang air dari satu wadah ke wadah yang lain, mencampur pewarna makanan ke dalam air, kemudian mengaduknya.

19-06-28-02-25-26-934_deco

Mereka suka bermain seakan-akan membuat adonan kue. Kali ini katanya mereka membuat puding.

Mereka bahkan meminta untuk memasukkan “puding”-nya ke dalam kulkas. Saya mengajak mereka untuk membuat puding sesungguhnya saja lain kali, yang lebih tepat untuk dimasukkan ke dalam kulkas 😅

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Keempat

Kalau sebelumnya masak makanan di box bayi, kali ini Nara jadi penjual es krim. Pinggiran box bayi yang biasanya menjadi tempat menaruh perlengkapan bayi atau mainan dijadikan tempat es krim. Bola warna-warni menjadi es krim berbagai rasa.

19-06-23-16-37-19-810_deco

Nara kemudian menawarkan es krimnya, sasarannya siapa lagi kalau bukan Kyna dan Mama.

Setelah memilih mau rasa apa, Nara akan mengambilkan bola es krim, memasukkannya ke dalam mangkuk, lalu menyerahkannya kepada pembeli.

Es krim yang ini sehat katanya, jadi boleh beli banyak-banyak 😁

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Ketiga

Box bayi baru dipasang, menyambut kehadiran adik Nara dan Kyna yang insya Allah akan tiba bulan ini.

Tentu saja kakak-kakak tidak melewatkan kesempatan ini. Si box pun dijadikan mainan. Saya membolehkan, selama tidak dinaiki dan mainan dibereskan kembali setelahnya.

19-06-18-17-43-51-252_deco

Box pun segera berubah fungsi menjadi tempat mengolah masakan. Nara bilang, mereka sedang membuat banyak jenis makanan. Selesai dimasak, makanan yang sudah jadi dimasukkan ke dalam plastik. Katanya untuk persediaan makanan kami.

“Nanti Mama makan ya, Ma. Kakak udah buat banyak tuh. Sisanya disimpan untuk kita makan besok-besok.”

Alhamdulillah… Andaikan itu beneran ya, Kak, jadi Mama bisa libur masak dulu beberapa hari 😆

Oh, saya tentunya memakan sebagian makanan itu dengan lahap dong 😋

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kedua

Bermain peran adalah salah satu permainan favorit Nara dan Kyna. Mulai dari dokter-dokteran, jual-jualan, sekolah-sekolahan, sampai yang sekarang sedang sering dimainkan, menjadi ibu dan bayi.

Nara yang biasanya jadi ibunya. Dia berperan merawat Kyna, yang jadi bayinya. Memakaikan baju, membawa ke dokter dan merawat saat sakit, membacakan cerita, bahkan menyusui 😂

Kyna juga memerankan sang bayi dengan maksimal. Menangis saat ingin menyusu, merangkak, berbaring saat dipakaikan baju.

Sulit menahan tawa kalau mendengar mereka bercakap-cakap dalam perannya.

Bahkan saat saya mengajak bicara misalnya, mereka masih menghayati perannya. Contohnya suatu kali saat saya mengajak Nara makan:

“Kak, makan dulu yuk.”
“Saya lagi bacain cerita nih, Bu. Nanti aja saya makannya, nunggu suami saya.” 🤣

Anak-anak sungguh menyerap apa yang dia lihat dan dengar di sekitarnya, kemudian mampu menuangkannya dalam berbagai bentuk permainan, termasuk bermain peran ini.

Saya biasanya membiarkan saja mereka bermain, menggunakan benda-benda yang mereka rasa bisa mewakili alur permainan mereka. Sesekali saya ikut bermain, entah memang dilibatkan atau sekadar iseng ikut nimbrung sendiri. Dari sedikit saja keterlibatan atau perkataan dari saya, mereka bisa meresponnya dengan baik dan mengembangkannya menjadi kisah yang lebih panjang. Luar biasa ya, anak-anak itu.