Tag Archives: Aliran Rasa

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Aliran Rasa

Tantangan level ini sesungguhnya mematangkan lagi konsep rezeki untuk diri sendiri. Bahwa uang hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak rezeki dalam berbagai bentuknya yang telah dan selalu dikaruniakan Allah kepada kita.

Rezeki bukan saja nikmat tapi juga titipan. Mensyukurinya juga bukan hanya dengan ucapan syukur tetapi juga ditunjukkan dengan cara kita memanfaatkan dan mengelolanya sebaik mungkin.

Menjaga kesehatan, berbuat baik dengan tubuh dan ilmu, membagi harta kita untuk berbagi, berinvestasi, kemudian baru kebutuhan yang dipisahkan lagi dari keinginan, merupakan contoh cara kita bersyukur dan bertanggung jawab atas titipan Allah kepada kita.

Mengajarkan konsep tersebut pada anak-anak sekaligus menguatkan pemahaman diri sendiri. Ilmu untuk mengelola rezeki berupa uang, selanjutnya bisa perlahan ditanamkan melalui kebiasaan. Terutama tentunya teladan dari cara kita mengelola keuangan.

Semoga kita dan anak keturunan kita mampu mengelola setiap rezeki sehingga senantiasa diliputi keberkahan. Aamiin YRA.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 7: Tantangan 10 Hari Semua Anak adalah Bintang – Aliran Rasa

Mengerjakan tantangan kali ini mengingatkan saya untuk lebih baik dalam mengamati kesenangan anak. Kegiatan mana yang membuat matanya berbinar, apa yang lebih sering dia mainkan atau dia minta untuk dilakukan.

Banyak dari kegiatan anak-anak merupakan sesuatu yang begitu sederhana bagi kita, namun sungguh menarik untuk mereka. Kegiatan ini mampu menarik perhatian dan fokus mereka hingga jangka waktu yang lama juga membuat mereka ingin melakukannya lagi dan lagi di berbagai kesempatan.

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak, sesepele apapun kelihatannya bagi kita, sesungguhnya pasti membawa manfaat tertentu untuk mereka. Kegiatan ini juga menuntun ke kegiatan lainnya, yang jika kita amati, bisa menjadi sarana untuk mengenali anak-anak kita dengan lebih baik.

Untuk Nara dan Kyna, kegiatan yang menarik perhatian mereka sejauh ini seputar kegiatan praktis sehari-hari, bermain air, membaca buku, menggambar, menggunting, menyusun balok, mengambil foto, bergerak dan mengeksplorasi dunia luar.

Masih banyak kegiatan seputar itu yang bisa mereka lakukan, masih banyak pula kegiatan yang belum pernah mereka coba.

Perjalanan masih panjang, tapi paling tidak bertambah kesadaran, untuk lebih membebaskan anak-anak melakukan kegiatan yang mereka sukai dan mencoba banyak hal baru untuk mengetahui lebih banyak ketertarikan dan potensi mereka.

[Bunda Sayang] Game Level 6: Tantangan 10 Hari Menstimulus Matematika Logis – Aliran Rasa

Kalau mendengar kata matematika, yang terbayang di benak saya adaah deretan angka dan rumus yang harus diingat dan dipecahkan. Matematika hanya sebatas soal-soal di atas kertas yang kadang membingungkan pada masa sekolah dulu.

Materi level 6 beserta tantangannya mengingatkan saya betapa matematika itu ada di sekitar kita. Matematika ditemukan sebagai alat untuk membantu kita memahami hingga memanfaatkan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa deretan angka dan rumus-rumus itu bukanlah tanpa makna, bukan sekadar harus dihapal agar mendapat nilai bagus dalam ujian.

Mengenalkan dan menstimulasi anak pada matematika logis mengakrabkan matematika dengan diri mereka, sekaligus mengasah kemampuan mereka untuk berikir logis, kritis, sistematis, menemukan solusi dari berbagai masalah dengan lebih baik.

Dalam perjalanan mengerjakan tantangan ini, saya jadi turut menyadari apa-apa saja yang ada di sekitar kita yang sesungguhnya termasuk dalam matematika logis. Walaupun keterbatasan pengetahuan saya mungkin membuat stimulasi menjadi kurang maksimal atau bervariasi.

Namun saya menemukan dari satu subjek saja, misalnya pola atau kasifikasi, banyak sekali hal yang bisa kita kenalkan pada anak, yang juga sungguh dekat dengan kegiatan sehari-hari.

Misalnya meletakkan mainan dan pakaian sesuai kategorinya, membedakan antara pakaian Ayah, Mama, Kakak, dan Adik, membentuk rutinitas, dan sebagainya, yang sebelumnya tidak terlihat sebagai bagian dari matematika logis.

Saya juga semakin mengerti betapa satu ilmu berkaitan dengan ilmu-ilmu lain, terutama dalam penerapannya, dan sebuah pengetahuan atau keahlian bisa berpengaruh pada banyak aspek kehidupan, di luar bidangnya sendiri.

[Bunda Sayang] Game Level 5: Tantangan 10 Hari Menstimulasi Anak Suka Membaca – Aliran Rasa

Sebelum dimulai, saya sudah semangat menyambut datangnya tantangan ini, karena memang sejalan dengan salah satu tujuan saya sebagai ibu: Membuat anak-anak saya gila baca! Hihi. Saya juga percaya sekali akan manfaat membacakan buku sejak dini serta pentingnya membangun kebiasaan membaca buku untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Setelah dikerjakan, ternyata tantangan yang satu ini memang menyenangkan. Anak-anak makin semangat mita dibacakan buku. Saya juga turut semangat merutinkan kembali membaca buku untuk diri sendiri. Bahkan suami saya, yang hampir tidak pernah membaca buku, juga ikutan membaca buku, walau akhirnya cuma sehari dalam 17 hari jangka waktu tantangan yang digunakan untuk membaca.

Saya juga jadi tahu, bahwa jumlah buku yang dibaca anak-anak dalam sehari ternyata cukup banyak. Rasanya senang melihat dahan mereka bertambah rimbun setiap harinya. Ditambah lagi, Nara mulai mau dan mampu menyimak buku-buku cerita dengan sedikit ilustrasi. Chapter book istilahnya.

Apakah saya akan melanjutkan membuat pohon literasi? Mungkin tidak. Rasanya terlalu merepotkan buat saya xD

Tapi, saya akan meneruskan membuat daftar buku yang sudah dibaca sekadar sebagai pengingat buku apa dan berapa banyak yang saya baca di bulan dan tahun ini. Mudah-mudahan saya juga bisa mendisiplinkan diri membuat reviewnya ya.

Untuk anak-anak, saya insya Allah akan terus membacakan buku untuk mereka. Tiada hari tanpa membacakan buku pokoknya.

Semoga, sering dengan membaiknya konsistensi saya mebaca buku, berbagi isinya, dan mengamalkan ilmu di dalamnya, suami saya bisa ikut tergerak lebih banyak membaca buku. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 2: Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak – Aliran Rasa

Seperti yang pernah saya tulis tentang matrikulasi, yang menarik dari materi dan tantangan Kelas Bunda Sayang ini adalah keterkaitannya.

Setiap materi, yang tentunya diikuti oleh tantangan, menunjang materi setelahnya dan dapat menggunakan materi sebelumnya untuk mendukung keberhasilan tantangan yang sedang dihadapi.

Dalam tantangan game level 2 ini misalnya, saat melatih kemandirian anak, saya perlu mengasah kembali komunikasi produktif dengan Nara, agar dia dapat menangkap pesan saya dengan baik dan saya mampu mendengarkan kebutuhannya dengan penuh empati.

Saya sungguh banyak belajar dari tantangan kali ini. Tentang pentingnya kemandirian, perlunya orang tua melepaskan, menahan diri untuk tidak mudah membantu, berkomentar atau mengoreksi, memberi kepercayaan pada anak, bahwa mereka bisa dan perlu belajar untuk bisa. Saya juga belajar kapan harus konsisten, kapan harus lebih santai.

Dalam melatih kemandirian ini, penting bagi anak untuk melakukannya dengan sukarela dengan motivasi dari dalam dirinya. Sehingga saya kemudian berhenti terlalu memaksakan diri apalagi Nara dalam melakukan sesuatu atau mencapai target tertentu.

Saya akhirnya bisa lebih baik dalam melihat apa yang sedang ingin dia lakukan sendiri dan memanfaatkan hal itu. Saya juga menerima kalau terkadang dia sedang ingin dibantu, maka saya memberi kelonggaran pada saat itu.

Saya semakin menyadari bahwa untuk menjadi mandiri, anak perlu terlebih dahulu yakin bahwa orang tua ada untuknya, siap mendukung dan mendampinginya. Dengan demikian, dia bisa dengan tenang mulai melepaskan diri, melakukan hal-hal baru untuknya sendiri.

Saya sudah mulai melatih kemandirian ini sebelumnya. Namun tantangan ini membuat saya lebih memperhatikan apa yang saya lakukan, melakukannya dengan konsisten, dan lebih cermat dalam mengobservasi serta mengevaluasi.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Aliran Rasa

Menurut saya, tantangan 10 hari, yang menjadi bentuk tugas Kelas Bunda Sayang ini sangat efektif. Untuk Game Level 1 tentang Komunikasi Produktif ini misalnya. Saya dan mahasiswa lainnya didorong untuk memraktekkan poin dan kaidah komunikasi produktif yang telah kami pelajari dari materi yang diberikan, secara konsisten selama paling tidak sepuluh hari. Hal ini “memaksa” saya untuk mengingat-ingat tiap poin yang ada, lemudian mencobanya, tidak hanya untuk sehari, namun minimal sepuluh hari.

Padahal, sebelum ada tantangan ini, niat untuk memperbaiki pola dan kualitas komunikasi dalam keluarga sudah ada. Berbagai teori pun sudah pernah dibaca. Namun, prakteknya selalu teetunda. Seringnya juga bingung hendak mulai dari mana.

Materi Bunda Sayang yang dibuat ringkas dan jelas dengan daftar poin sungguh memudahkan saya mengingat, memahami, dan menerapkan semuanya satu per satu.

Hasilnya juga menyenangkan, baik bagi ketenangan hati saya maupun reaksi anak-anak dan hubungan saya dengan mereka.

Melakukan tantangan ini secara konsisten selama sepuluh hari berturut-turut menumbuhkan kepercayaan diri saya untuk bisa terus berkomunikasi produktif, juga membuat saya ketagihan untuk meneruskannya di sepanjang hidup saya. Walaupun dalam hal membuat laporan, saya gagal meneruskan sampai 15 hari atau lebih. Sampai saat ini pun, saya masih terus berjuang agar lebih banyak poin komunikasi produktif yang saya terapkan.

Semoga tantangan berikutnya bisa saya jalani dengan lebih baik dan membawa manfaat yang juga baik bagi diri, keluarga, juga sekitar saya ya. Aamiin YRA.