Tag Archives: adab sebelum ilmu

[Pra Bunda Sayang] Adab Menuntut Ilmu x CoC

Melewati Kelas Matrikulasi dan menjadi anggota Ibu Profesional memberikan banyak manfaat bagi saya. Yang jelas, semangat untuk terus belajar dan mengembangkan potensi senantiasa termunculkan kembali.

Karenanya, saat pendaftaran untuk kelas Bunda Sayang, yang merupakan kelas lanjutannya dibuka, saya tidak ingin ketinggalan.

Sebelum masuk ke materi utama, terdapat materi pra Bunda Sayang. Materi pertama mengenai manajemen waktu, di mana peserta membuat jadwal daily activity. Ini tentunya penting, karena kelancaran proses belajar (juga berbagai peran lain dalam kehidupan) tergantung pada perencanaan dan disiplin yang baik dalam mengikuti rencana yang telah dibuat.

Materi kedua mengenai Adab Menuntut Ilmu dan Code of Conduct (CoC) atau kode etis dalam mengikuti perkuliahan. Sebagaimana juga Kelas Matrikulasi diawali dengan materi ini, dalam IIP, adab senantiasa didahulukan dari ilmu, agar ilmu bisa diserap dengan maksimal, penuh berkah, bermanfaat penuh bagi diri dan sekitar tanpa merugikan siapapun.

Materi tentu saja diikuti oleh tugas yang berfungsi mengikat ilmu agar tertanam dalam hati dan ingatan, juga lebih mudah diamalkan.

Jika tugas pertama langsung saya lampirkan di google class, tempat perkuliahan berlangsung selain di grup Whatsapp, maka tugas kedua saya tuliskan di sini.

Tugas terbagi menjadi tiga: Pertanyaan untuk individu; Studi kasus untuk didiskusikan di peer group; pertanyaan saat diskusi di grup Whatsapp. Berikut hasilnya:

1. Pertanyaan untuk individu
a. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?
Saya ingin menambah ilmu dan pemahaman khususnya dalam mengasuh anak-anak saya sesuai dengan fitrah dan tahap perkembangan mereka. Saya juga ingin menjadi diri yang lebih baik sehingga mampu menjalankan berbagai peran yang saya miliki, terutama sebagai ibu dan istri, dengan sebaik-baiknya.

b. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang Anda rencanakan di bidang tersebut?
Saya akan mengelola waktu saya dengan lebih baik, yaitu menyusun jadwal dan dengan tertib mengikutinya. Dengan demikian, saya bisa mengikuti perkuliahan dengan lebih baik, membaca dan merangkum setiap materi, menyimak dan memberi tanggapan atau bertanya jika diperlukan saat berdiskusi, juga mengerjakan tugas dan tantangan yang diberikan dengan sebaik mungkin. Sebagai tambahan, saya juga akan membaca buku atau artikel yang sekiranya menunjang proses pembelajaran.

c. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
1. Mendekatkan diri pada Allah swt. Sang Pemilik Ilmu dengan memperbaiki ibadah, banyak mengingat-Nya dan berdoa agar diberikan pemahaman dan keberkahan dalam ilmu yang diperoleh.
2. Mengutamakan pembacaan materi segera setelah diberikan. Membuat catatan dan pertanyaan jika ada untuk disampaikan saat diskusi.
3. Mengerjakan tugas sebaik dan sesegera mungkin, agar maksimal kualitas dan manfaatnya, juga selesai tepat pada waktunya.
4. Sebisa mungkin terlibat dalam setiap diskusi dalam grup dan memberi tanggapan saat diperlukan baik kepada fasilitator maupun sesama peserta.

2. Resume Studi Kasus dalam Peer Group
Berikut resume hasil diskusi dari Grup 2 yang disusun oleh Mbak Tia Agustriani selaku koordinator grup:
1. Sikap Pembelajar Terhadap Fasilitator
1. Menghormati:
– Datang tepat waktu/ bahkan sebelum materi dimulai.
– Menyimak apa yang disampaikan.
2. Menghargai:
– Mengaplikasikan ilmu.
– Respon yang baik saat pembelajaran.
– Tidak menyela saat fasil menyampaikan materi.
3. Bersikap sopan dan beradab saat fasil melakukan kesalahan (lebih baik wapri).
4. Meminta izin dengan baik saat diperlukan.

2.Saat berdiskusi, fasil menyampaikan jawaban yang kurang tepat, apa yang kita lakukan?
1. Husnudzon ke fasil.
2. Koreksi kesalahan dengan penuh kesopanan via japri.

3. Jadwal diskusi sudah ditetapkan, materi sudah diposting di
GClassroom, kemudian review diskusi pun sudah tersedia, apa yang perlu dilakukan sebagai mahasiswi yang beradab baik
?
1. Pribadi:
– Membaca materi dan mencernanya dengan baik.
– Mencatat jadwal diskusi.
– Menyiapkan bahan utk diskusi (jika ada yang ingin ditanyakan).
– Izin jika berhalangan diskusi.
– Menyimak dan berperan aktif saat hadir dalam diskusi.
– Mengamalkan materi yang sudah didapat.

2. Bersama:
Berbagi hasil resume materi kepada teman yang berhalangan.

4. Di setiap level, akan ada tantangan 10 hari, di mana mahasiswi
perlu menuliskan pengalamannya dalam melakukan tantangan yang diberikan. Tentunya mahasiswi ingin bisa tepat waktu dalam menyetorkan tugasnya. Mana yang lebih bermartabat, membuat
setoran asal-asalan agar tepat waktu, atau berusaha mengatur waktu dengan baik agar bisa membuat setoran berkualitas dan bisa tepat waktu?

Tepat waktu dan berkualitas, dengan alasan:
1. Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab.
2. Melatih manajemen waktu.
3. Mencontohkan yang baik untuk anak dan itu akan terasa lebih semangat.
4. Sebagai komitmen kita dalam mengamalkan materi/ilmu.

5. Materi yang disampaikan dirasa sangat bermanfaat, mana yang lebih bermartabat? Menulis ulang materi di medsos/blog, atau menuliskan pengalaman dan hikmah saat mendapat materi, kemudian membuat review dari sudut pandang sendiri?
Yang lebih bermanfaat adalah menuliskan pengalaman dan hikmah dari materi yang didapat yang selanjutnya membuat review berdasarkan sudut pandang pribadi.
Hal ini juga penting, karena:
– Menghindari plagiat.
– Melatih bakat kepenulisan kita.
– Lebih terasa ilmunya.
– Sebagai perbaikan diri/reminder.

Sedangkan menulis materi ulang, menurut kami cukup sebagai catatan pribadi saja (sesuai CoC tidak disebarluaskan).

6. Mendapatkan tawaran untuk mengisi materi yang berkaitan dengan Bunda Sayang, apa yang akan Anda lakukan?
Diterima jika sudah mendapat izin dari suami dan anak-anak, dan tentu minta pendapat ke fasil/ tim IP terkait materi yang disampaikan. Jika sudah fix dr pihak terkait, baru pelajari/ persiapkan dengan matang agar penyampaian materi lancar.

7. Kegiatan domestik dan ranah publik dirasa semakin padat, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan. Cuti atau mengundurkan diri, dibolehkan. Bagaimanakah etika saat ingin mengajukan cuti atau mengundurkan diri?
– Komunikasikan (salah satunya meminta izin) dengan tim iP terkait dengan etika yang baik.
– Jika diizinkan lakukan prosedur selanjutnya dengan baik.
– Berpamitan dengan teman-teman sekelas.

8. Kuota bunda sayang terbatas, banyak IPers yang ingin mengikuti perkuliahan namun tidak mendapat kuota, sementara itu ada peserta yang sudah daftar mundur di tengah jalan. Bagaimana pendapat teman-teman mengenai konsekuensi yang sebaiknya diberlakukan?
Selalu diawali berhusnudzon atas keluarnya peserta dari kelas. Konsekuensinya tergantung alasan mundurnya karena apa. Kalau memang sesuatu yang mendadak, tidak diduga sebelumnya, misalnya dapat musibah atau kondisi yang berubah, konsekuensinya hanya harus remidi. Tapi kalau itu sesuatu yang memang sudah berjalan, tapi ternyata setelah dijalani tidak bisa mengatur waktu, mungkin boleh juga dibanned satu periode misalnya. Jadibbaru boleh ikut lagi dua batch setelahnya. Konsekuensi ini perlu dinyatakan pada saat pendaftaran.

3. Hasil diskusi di WAG
Resume hasil diakusi di WAG berikut masih disusun oleh Mbak Tia:
1. Terkait studi kasus, untuk yang permintaan menjadi narsum:
Alhamdulillah ada pihak yang meminta kita jadi narsum di suatu acara, dan ternyata materi Bunda Sayang sangat cocok disampaikan. Boleh nggak ya? Harus izin dulu atau tidak?

Yup harus izin. Namun untuk materi-materi kelas mulai matrikulasi, bunsay, buncek, bunprod dan bunshal semuanya hanya untuk internal mahasiswi kelas tersebut. Jadi tidak boleh disebar bebas keluar 😊

Kenapa bisa begitu?
Karena:
✅ Penyusunan kurikulum tidak mudah.
✅ Jika disebarkan sepotong-sepotong khawatir ada salah tangkap dalam penerimaannya.
✅ Setiap materi harus ada pendampingan.
✅ Nggak jelas sumber ilmunya karena sudah tersebar luas tanpa tanggung jawab.
✅ Isinya bisa diubah-ubah atau malah dijadikan hak klaim.
✅ Bisa dianggap ilmu yg menyesatkan jika dipotong-potong dalam menyebarkannya.
✅ Berkaitan erat dengan adab menuntut ilmu sebagai bentuk menghargai.

Dan ini terkait dgn pertanyaan no. 5: akan lebih bermartabat jika kita menuliskan pengalaman dan hikmah saat mendapat materi baru, kemudian membuat review dari sudut pandang kita sendiri

Kalau dari IIP sendiri, kalau tiba-tuba ada yang cuti atau mengundurkan diri di tengah jalan, apakah ada konsekuensi tertentu?
Jika ada kejadian seperti ini tentu pengajuan pengunduran diri atau cutinya tdk langsung diapprove. Akan dilakukan pendekatan personal dan dibantu menyelesaikan kendala yang dihadapi si mahasiswi tersebut. Juga akan dilakukan upaya agar mahasiswi tersebut tetap bisa belajar bersama. Dan ini butuh support dan kerjasama dari kita semua yang ada di kelas. Saling membantu, saling peduli, saling support sehingga belajar di kelas ini tidak terasa berat tapi sebaliknya, akan terasa ringan, menyenangkan, ngangeni dan sebagainya.

Semoga apa yang tertulis di sini mampu saya amalkan dengan sebaik mungkin ya, dan menjadi bekal awal kelancaran proses belajar di kelas selanjutnya. Mohon doanya. 🙏

Click to Share

[Matrikulasi] Nice Homework #1: Adab Menuntut Ilmu

Setelah setiap sesi materi di kelas matrikulasi Ibu Profesional, diberikan tugas yang disebut Nice Homework (NHW), fungsinya untuk menguatkan ilmu yang telah didapat.

Berikut NHW dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU”, beserta jawaban saya tentunya 😀

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Saya selalu tertarik dengan hal yang berkaitan dengan pendidikan, psikologi, pengembangan diri, dan pengasuhan. Semakin ke sini, fokusnya jadi lebih ke anak-anak. Terlebih saat sudah punya anak, rasanya ingin banyak belajar segala sesuatu yang berhubungan dengan parenting dan pendidikan anak. Jadi, kalau diminta memilih satu jurusan ilmu yang akan ditekuni dalam universitas kehidupan ini, saya akan memilih ilmu parenting, khususnya memerhatikan perkembangan dan pendidikan anak.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
Alasan terkuat saya memilih ilmu tersebut adalah untuk menjadi orangtua yang lebih baik dalam mengasuh dan mendidik anak-anak saya, kemudian juga agar bisa berbagi ilmu tersebut untuk orangtua dan masyarakat di sekitar saya. Sehingga tercipta generasi yang lebih bahagia, termaksimalkan potensinya, baik sebagai anak, orangtua, maupun masyarakat.

Adab Menuntut Ilmu 2701183. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Sejauh ini, saya berusaha melibatkan diri dalam komunitas yang bergerak di bidang pengasuhan dan pendidikan keluarga. Bergabung di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional ini juga merupakan salah satu usaha saya untuk menambah ilmu tersebut. Saya juga membaca buku-buku tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Berbagi ilmu dan pengalaman melalui blog, media sosial, serta kelas pengasuhan, sambil berusaha menerapkan ilmu yang saya peroleh, menjadi langkah berikutnya dalam strategi saya.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Perubahan sikap yang akan saya perbaiki dalam menuntut ilmu tersebut:
1. Pada diri sendiri:
Meluruskan niat dan memperbaiki ibadah, menjadwalkan waktu belajar dan mengikutinya, lebih rajin membuat catatan dan membaginya di blog atau media sosial, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.
2. Terhadap guru (penyampai sebuah ilmu):
Menyimak dengan baik setiap ilmu yang diberikan, memberikan tanggapan yang baik jika diperlukan, membagi ilmunya dengan izin dan menyertakan sumbernya.
3. Terhadap sumber ilmu:
Mengatur ulang buku-buku dan file yang dimiliki sehingga lebih mudah ditemukan dan lebih menyenangkan untuk dipelajari.

[Matrikulasi] Materi Sesi #1: Adab Menuntut Ilmu

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang
paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan.

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya.

ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Referensi:
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015