[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kesebelas

Setelah penimbangan di Posyandu pagi ini, Nara dan Kyna mendapat penganan berupa susu kotak dan dua bungkus biskuit.

Mereka tentu dengan gembira menerima dan memakannya begitu tiba di rumah.

19-05-06-21-58-42-256_deco

Saya menggunakan kesempatan itu untuk kembali mengenalkan konsep rezeki pada mereka.

“Kakak dan Adek suka makanannya?”
“Itu juga rezeki dari Allah loh. Bilang apa sama Allah?

“Makasih Allah.”

“Kalo terima kasih sama Allah gimana bilangnya?”

“Alhamdulillah.”

❤❤❤

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kesepuluh

Nara dan Kyna tertarik melakukan apapun yang kami selaku orang tuanya lakukan. Begitu pula dalam hal belanja.

Mereka yang ingin membawa keranjangnya, memasukkan barang, hingga mengeluarkan barang dan membayar di kasir.

Kali ini juga begitu. Kami membiarkannya, untuk menumbuhkan fitrah ingin mencoba dan membantu, inisiatif, juga agar mereka semakin mengerti proses segala sesuatu.

19-05-05-23-09-50-152_deco

Mereka jadi menyaksikan sendiri, kalau barang-barang yang kita ambil itu perlu ditukar dulu dengan uang, baru bisa dibawa pulang dan digunakan.

Kita juga perlu memilih antara barang yang dibutuhkan atau sekadar keinginan yang tidak harus selalu dipenuhi.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kesembilan

19-05-04-21-32-22-142_deco

Itu celengan Nara dan Kyna. Yang biru isinya uang logam Rp. 500,-, yang hijau Rp. 1.000,-.

Sengaja dipisahkan, biar lebih gampang menghitungnya nanti. Sekalian Nara dan Kyna latihan membedakan kedua jenis uang logam dan mengelompokkannya ke tempat yang tepat.

Nara dan Kyna selalu semangat kalau ada yang memberikan uang logam untuk dimasukkan ke celengan. Mereka tak jarang meminta uang logam demi bisa memasukkannya ke celengan.

Nara, terlebih Kyna, belum terlalu mengerti fungsi celengan tersebut. Mereka hanya tau, memasukkan uangnya menyenangkan, dan mungkin bisa dipakai untuk membeli apa yang mereka suka. Seperti tadi saat saya bertanya pada Nara untuk apa dia akan menggunakan uang dalam celengannya, dia menjawab, “Untuk beli es krim.” 😆

Nggak salah juga sih. Bisa juga digunakan untuk itu kalau dia mau. Mungkin nanti saya bisa menjelaskan pada Nara bahwa dia bisa menyimpannya untuk barang yang lebih besar nilainya, yang tidak habis dalam sekali makan saja.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kedelapan

Setelah bermain menggunakan kertas, hari ini Nara dan Kyna menggunakan mangkuk sebagai toples pembagian uang.

Masing-masing anak diberikan sejumlah kancing sebagai pengganti uang saku. Lalu dipersilakan membaginya ke dalam 3 mangkuk Save, Spend, dan Share.

19-05-03-21-03-26-903_deco

Setelahnya, mereka membelanjakan “uang” mangkuk spend untuk keperluan sehari-hari sesuai jumlah kancingnya. Mangkuk save untuk membeli haln yang mereka inginkan (Nara memilih buku). Sementara mangkuk share diberikan pada yang membutuhkan (Kynan si boneka bebek yang jadi pemerannya).

Nara cukup bisa ikut bermain sesuai aturan mainnya. Sementara Kyna masih bermain sesukanya.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Ketujuh

Kalau waktu itu Nara dan Kyna baru mendengar cerita tentang Nina yang membagi uang sakunya ke dalam 3 toples, kali ini mereka bermain mengenai konsep yang sama.

Mereka yang jadi Ninanya. Saya lalu memberi mereka “uang saku” yang bisa mereka bagi ke dalam tiga “toples”: Save, Share, dan Spend.

19-05-02-23-33-19-933_deco

Mereka senang sekali, terutama Nara. Dia membagi “uang saku”-nya ke dalam toples-toples dan ingin melakukannya berulang-ulang. Saat ditanya kenapa dia menaruh dua keping di toples ini dan satu di sana, Nara bilang, “Soalnya uangnya nggak cukup untuk bisa sama banyak.” 😆

Sementara Kyna lebih ke seru-seruan meletakkan keping-keping “uang saku”-nya ke dalam toples.

Semoga kelak mereka bisa membagi rezeki yang diperoleh dengan bijaksana ya.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Keenam

Permainan hari ini dilakukan di dalam mobil, saat sedang berhenti sejenak di tengah perjalanan.

Kali ini giliran uang logam yang digunakan untuk bermain. Nara dan Kyna mengenal uang logam sebagai koin. Mereka biasa mendapatkannya untuk dimasukkan ke dalam celengan.

Saya mengenalkan kembali si koin sebagai uang logam. Kalau kemarin uang kertas terbuat dari kertas, maka uang logam terbuat dari logam.

19-05-01-15-54-58-213_deco

Seperti uang kertas, nilainya juga berbeda-beda. Kami menggunakan uang 100, 200, 500, dan 1.000 rupiah.

Nara terlihat senang melihat beragam uang logam. Saya membagi dua uang logam yang ada, kemudian memintanya menyocokkan uang logam yang ada di hadapannya dengan yang dia pegang.

Walau belum mengerti bilangan, Nara bisa menyocokkan berdasarkan tampilannya. Mungkin saya bisa mencoba permainan yang serupa mengunakan uang kertas ya 😁

[Gemari Madya] Task 7 – Menata Masalah

Sejujurnya saya agak bingung saat harus mengerjakan Task 7 ini, karena sepertinya kebanyakan masalah yang saya hadapi berkaitan dengan Task 1-6 😅

Setelah membaca suplemen, saya akhirnya memutuskan untuk memilih masalah nomor satu untuk dibahas pada task kali ini: Tidak/belum berhasil mencapai impian/goal yang kita tuju.

1. Analyze
Gunakan 5W1H untuk mengenali masalah dan mengidentifikasi akar masalah.

>> Apa yang sedang terjadi?
Banyak hal yang ingin dicapai dan dikerjakan, tapi berkali-kali gagal dalam membuat rencana dan/atau menjalankan rencana langkah demi langkah menuju tercapainya tujuan tersebut.

>> Kenapa bisa terjadi?
Karena kurang kuatnya tujuan (perlu mengganti beberapa impian), kurang komitmen, disiplin dan konsistensi dalam melakukan hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

>> Kapan kejadiannya?
Berkali-kali dalam hidup ini 😂

>> Di mana kejadiannya?
Saat di sekolah, di bangku kuliah, dalam pekerjaan di kantor (sebelum resign), dan sebagian besar di rumah dalam ranah peningkatan kualitas pribadi beserta segala perannya.

>> Siapa saja yang terlibat dengan kejadian itu?
Terutama diri sendiri dan mempengaruhi orang-orang terdekat, khususnyansaat ini suami dan anak-anak.

>> Bagaimana kejadian itu bisa sampai terjadi?
Saya mulai lalai dalam melakukan kebiasaan yang sedang dibangun, kembali ke kebiasaan dan cara lama, melupakan tujuan yang ingin dicapai, terbelenggu rutinitas.

2. The Most Trigger
Ya, masalahnya seringkali berulang. Saya pikir masalahnya ada pada diri saya sendiri. Sepeti tertulis pada suplemen solusinya hanya dua: Mengganti impian atau mengganti cara untuk mencapai impian.

Dalam kasus saya, bisa jadi ada beberapa impian yang perlu diganti atau dihilangkan karena sudah tidak relevan atau ternyata kurang memotivasi, sehingga sayanbisa lebih fokus pada impian yang lebih kuat. Namun, saya pikir saya memang lebih banyak belum maksimal dalam mencapi target dan impian saya. Baik dalam mencoba suatu cara maupun menggantinya dengan cara lain. Konsistensi, kesungguhan, saya masih berusaha membangun keduanya. Saya juga berusaha menambah ilmu dan semangat juang, salah satunya dengan bergabung dengan berbagai komunitas dan kelas belajar seperti contohnya Gemar Rapi ini.

3. Evaluasi
Terlepas dari banyaknya target dan impian yang belum atau tidak berhasil saya capai, saya juga sudah mencapai banyak hal dalam usaha saya mengalahkan diri sendiri.

Saya membuktikan bahwa jika saya ingin, saya bisa menjadi sangat konsisten dan bersungguh-sungguh. Misalnya, saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan diri saya setelah sempat menganggur dan berkutat dalam pekerjaan yang membebani hati dan pikiran saya. Masalah itu sempat membuat saya down dan merasa berada di titik terendah. Tidak berdaya, tidak berguna, egois, manja. Tetapi akhirnya, dengan izin Yang Maha Kuasa, saya bisa bangkit, menumbuhkan keyakinan diri dan tekad untuk mencapai yang lebih baik. Dan saya berhasil.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kelima

Saya kembali menggunakan cerita untuk mengenalkan perbedaan nilai uang kertas berdasarkan warnanya.

Nara senang mendengarkan ceritanya, tapi belum bisa mengingat warna-warnanya. Wajar sih, karena dia belum mengenal bilangan sampai ribuan apalagi puluhan dan ratusan ribu.

Memang sebenarnya lebih cocok melakukan permainan yang konkrit untuk anak seusia Nara dan Kyna. Sayangnya saya belum sempat mengeksekusi ide-ide yang terpikirkan. Membuat toples pun belum jadi dilakukan :(

Besok dan lusa kami akan melakukan perjalanan. Semoga ada celah untuk menstimulasi kecerdasan finansial anak-anak.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Keempat

Melanjutkan kegiatan kemarin, saya kembali menunjukkan uang kertas kepada Nara. Kali ini dalam versi lebih lengkap. Kyna juga turut serta.

19-04-29-21-31-51-833_deco

Saya kemudiam bertanya pada Nara apa dia tahu gunanya uang, Nara menjawab, “Untuk belanja.”

Saya pun menjelaskan kembali bagaimana cara memperoleh dan menggunakan uang. Kemudian, saya menjelaskan bahwa tiap lembar uang yang ada di hadapannya itu memiliki nilai yang berbeda-beda.

Saya kemuudian mengumpamakan, “Kalau satu buah es krim harganya lima ribu rupiah, pakai yang uang 2 ribu tidak cukup, 5 ribu dapat satu, 10 ribu dapat dua, dan seterusnya.

Dari situ, Nara ternyata mengerti mana uang yang nilainya paling besar.

Terakhir saya menutupnya dengan kembali membahas tentang kegunaan uang. Selain untuk belanja, menukar uang dengan barang yang diperlukan, uang juga bisa digunakan untuk menabung, memgumpulkan uang untuk membeli barang atau makanan tertentu. Uang juga bisa diberikan pada orang lain yang membutuhkan, atau bisa kita sebut dengan sedekah.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Ketiga

Dalam mobil, di perjalanan kami hari ini, Nara tiba-tiba bercerita pada tantenya tentang berdoa. Kita bisa berdoa untuk.meminta sesuatu sama Allah. Termasuk uang. Ayah dapat uang dari Allah. Allah hebat bisa ciptakan apa saja, bisa kasih apa saja.

Masya Allah Tabarakallah.

Kami baru sampai di rumah malam harinya. Rencana saya untuk mengenalkan Nara dan Kyna tentang uang kertas dan uang logam pun harus tertunda. Saya akhirnya hanya menunjukkan sebagian uang kertas yang ada, agar Nara bisa melihat dan merasakan tekstur uang yang memang seperti kertas. Sebelumnya Nara sudah pernah melihat dan memegang uang kertas, tapi bukan dalam rangka memperhatikan. Saya juga memberitahu nilai uang-uang yang berbeda. Sementara uang logam, Nara lebih familiar. Dia mengenalnya dengan sebutan koin, dan biasa memintanya untuk dimasukkan ke dalam celengan.

19-04-28-23-36-13-011_deco

Besok insya Allah kita akan melanjutkan proses mengenal bentuk uang ini ya, Nara juga Kyna.