Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Memangnya Penting?

  • CevherShare

Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk mengisi Sabtu Inspirasi di WAG Sahabat Bunda. Komunitas yang terbagi ke dalam grup Whatsapp per wilayah ini memang memiliki program, di mana tiap hari Sabtu pesertanya bergantian berbagi bermacam hal sesuai ilmu dan pengalaman masing-masing.

Karena saya memperkenalkan diri sebagai seorang Book Advisor dan sempat sedikit mengobrol soal ini di grup, jadilah saya. “ditodong” untuk berbagi tentang minat baca pada anak.

Berbekal sedikit pengetahuan dan buku yang saya miliki, saya pun menyusun artikel singkat yang diminta untuk dibagikan kepada para peserta sebagai bahan diskusi saat itu.

Berikut saya sertakan artikelnya, mana tahu bermanfaat.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak
Oleh: Aca Tadesa

1. Minat Baca VS Kualitas Sumber Daya Manusia
Dalam masyarakat kita, buku mungkin tidak termasuk benda yang populer. Ini dapat dilihat dari rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, hanya 8, 32% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas yang suka membaca berbagai sumber bacaan, seperti surat kabar, buku atau majalah. Sementara 91,68% sisanya lebih suka menonton televisi.

Data dari UNESCO pada tahun yang sama.mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, pada 1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki minat membaca.

Padahal, budaya baca adalah salah satu penentu utama tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, yang berkorelasi langsung demgan kemajuan bangsa tersebut. Bahkan, tingkat korupsi suatu negara ternyata bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.

Terbukti, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2013 Indonesia berada di peringkat ke 108 sari 187 negara di dunia, di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sedangkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada tahun 2014 menempati peringkat 107 dari 175 negara di dunia (dikeluarkan oleh lembaga Transparency International).

Kesimpulannya, minat baca rendah = kualitas SDM/ IPM rendah = tingkat korupsi tinggi. Sebaliknya, minat baca tinggi = terbentuk budaya baca = bangsa maju.

2. Buku VS Televisi atau Gawai
Di atas sudah disebutkan betapa minat baca yang tinggi menentukan kualitas SDM juga kemajuan suatu bangsa. Tapi bagaimana bisa sih?

Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan beberapa manfaat membaca, antara lain: Membantu mengembangkan pemikiran, menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan, memori, dan pemahaman, menambah pembendaharaan kata serta pola kalimat sekaligus meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami kata dan kalimat tersebut secara tersurat maupun tersirat.

Apakah televisi dan gawai memiliki manfaat yang sama? Ternyata tidak.

Terlepas dari berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari media elektronik tersebut, seperti tambahan informasi, edukasi, juga hiburan, stimulasi perkembangan otak yang didapatkan tidak semaksimal membaca bukubuku. Bahkan, jika dilakukan berlebihan bisa mengganggu fokus anak, memperpendek rentang konsentrasi, menghambat perkembangan kemampuan berbahasa, menimbulkan masalah dan kesulitan belajar, menurunkan minat baca, hingga menimbulkan kecanduan yang memperburuk semua efek yang telah disebutkan.

Media elektronik tersebut memiliki efek negatif yang lebih besar jika digunakan oleh balita. Hasil penelitian Seattle’s Children’s Hospital atas kebiasaan menonton 2.500 anak menyimpulkan bahwa untuk setiap empat jam menonton televisi per hari yang dilakukan oleh anak berusia sebelum tiga tahun, resiko terkena ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) di usia tujuh tahun meningkat 10%.

Otak anak di bawah usia dua tahun belum mampu mengolah informasi yang ditampilkan oleh layar dengan sempurna, sehingga dapat mengganggu perkembangan sel-sel otaknya. Belum lagi pengaruh cahayanya yang dapat merusak mata.

3. Kenapa penting membacakan buku pada anak sejak dini?
Ok, membaca buku memiliki banyak manfaat dan minat baca yang tinggi meningkatkan kualitas diri dan pendidikan seseorang hingga mempengaruhi kemajuan bangsa, tapi apakah harus membacakan buku sejak anak masih bayi? Bukankah dia bahkan belum mengerti?

Membacakan buku pada anak bahkan penting dilakukan sejak anak berada dalam kandungan, untuk menstimulasi indera pendengaran dan otaknya. Seperti halnya mengajak bicara, memperdengarkan musik klasik atau muratal, membacakan buku sangat baik untuk dilakukan.

Pada masa keemasan (golden age) anak, yaitu dari usia 0-5 tahun, otaknya berkembang pesat, hingga mampu menyerap informasi dan merespon stimulasi dua kali lebih cepat dari usia setelahnya. Maka membacakan buku, bahkan saat anak tampak seperti tidak memperhatikan, bisa menambah banyak kosakata baru yang tidak ditemui dalam percakapan sehari-hari, mengajarkan arti kata, melatih daya imajinasi, mengasah rentang konsentrasi, merangsang persambungan antar sel otak, mencegah speech delay, meningkatkan kemampuan berpikir, memahami kalimat, intonasi, memancing pertanyaan, meluaskan pengetahuan, dan sebagainya.

Tentunya, membacakan buku sejak dini juga merupakan salah satu cara mengenalkan anak pada buku yang diharapkan menjadi benih cintanya pada buku, membaca dan belajar.

4. Bagaimana memilih buku yang sesuai untuk anak?
Usia anak dapat menjadi pertimbangan dalam memilihkan buku yang tepat untuknya:
a. 0-2 tahun
>> Board book, buku kain atau buku busa sehingga aman untuknya dan tidak gampang rusak oleh anak yang masih dalam tahap “memakan”, menarik, dan melempar.
>> Berwarna cerah atau kontras untuk merangsang indera penglihatannya.
>> Tulisan sedikit, bahkan hanya satu atau dua kata saja.

b. 2-4 tahun
>> Board book, buku aktivitas, buku main, busy book.
>> Berisi kalimat sederhana yang berima.

c. 4-6 tahun
>> Picture book, pop-up book, layer book, buku aktivitas.
>> Kalimat lebih panjang, kisah bermakna.

d. 7-12 tahun
>> Novel pendek, kumpulan dongeng, ensiklopedi
>> Sudah bisa membaca mandiri dengan pendampingan.

Selain usia, kemampuan berbahasa, kebutuhan dan ketertarikan anak juga perlu diperhatikan.

5. Bagaimana jika anak tidak tertarik?
Anak tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya. Awali dengan membuatnya terbiasa akan buku. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk menarik minat anak:

    a. Konsisten membacakan buku sejak dini.

>> Walau terkesan diabaikan, terus bacakan dengan pantang menyerah 😆 Jadikan membacakan buku sebagai bagian dari rutinitas anak. Selain menjadi terbiasa, manfaat dibacakan buku juga didapatkan olehnya. Bonding dengan orangtua juga bisa didapatkan dengan membacakan buku. Anak bisa mendapatkan kenangan indah dan kesan manis tentang buku dari kegiatan ini.

    b. Meletakkan buku di tempat yang terjangkau penglihatan dan tangannya.

>> Letakkan buku di berbagai tempat di sekitar anak, sehingga ia tidak menjadi benda yang asing dan jauh melainkan dekat dengan kesehariannya.

    c. Jadikan buku sebagai benda yang terkesan seru dan menyenangkan.

>> Tidak harus selalu tersusun rapi, buku juga bisa disusun membentuk jembatan atau terowongan, ditata bersama mainan, sehingga anak mengesankannya sebagai benda yang menyenangkan.

    d. Berikan contoh

>> Anak meniru orangtuanya. Baca buku di sekitarnya, biarkan ia mengamati dan mengikuti.

Children are made readers on the laps of their parents. —Emilie Buchwald

Books open your mind, broaden your mind, and strengthen you as nothing else can. -William Feather

Sumber bacaan:
Trelease, Jim. 2017. The Read-Aloud Handbook
Mandira Dian Semesta. Panduan Book Advisor.
al-Qarni, Dr. Aidh bin Abdullah. La Tahzan.

Click to Share

Leave a Reply