Category Archives: Keluarga Kita

4 Syarat Membuat Konsekuensi yang Tepat untuk Menumbuhkan Disiplin Diri Anak

Kedisiplinan adalah salah satu tujuan pengasuhan yang pada umumnya dimiliki oleh para orangtua.

Seringkali, untuk mencapai tujuan tersebut, kita sebagai orangtua berfokus pada bagaimana agar anak mematuhi peraturan yang kita buat. Berbagai hukuman maupun sogokan pun diberikan.

Tapi jika kita renungkan, yang kita inginkan tentu anak yang memiliki disiplin diri, yang mampu melakukan sesuatu dengan kesadaran dan pemahaman akan manfaat atau konsekuensinya. Bukan semata karena takut pada orangtua, menghindari hukuman, atau ingin mendapat hadiah.

Sekilas mungkin tampak sama saja. Bukankah hukuman juga merupakan bentuk dari konsekuensi? Bukankah hadiah adalah manfaat yang didapat anak saat melakukan sesuatu?

Bedanya terletak pada efek yang ditimbulkannya, terutama untuk jangka panjang.

Hukuman juga sogokan menumpulkan motivasi internal dalam diri anak. Anak jadi terbiasa mencari dorongan dari luar untuk dapat melakukan sesuatu. Memberi iming-iming hadiah berupa uang untuk setiap hari puasa yang berhasil diselesaikan misalnya, mengambil kesempatan anak untuk menghayati makna dan kenikmatan alami sebagai orang berpuasa.

Demikian pula dengan hukuman. Pendeknya, cara ini dapat menghasilkan orang yang menggunakan helm karena takut ditilang polisi, bukan demi keamanan diri sendiri, buang sampah sembarangan jika merasa tidak ada petugas yang mengawasi, atau menyontek bila guru sedang dianggap lengah.

Kita ingin anak memiliki keahlian dari dalam untuk mengendalikan diri, sehingga mampu melakukan hal yang benar juga menghadapi berbagai tantangan, tanpa tergantung dengan kontrol dari luar. Untuk itu, hukuman menjadi tidak efektif. Apalagi biasanya, hukuman diiringi dengan ancaman. Keduanya, hukuman dan ancaman, juga cenderung menghasilkan emosi negatif, menciptakan ketakutan dan kepatuhan yang sifatnya sementara.

Berbeda dengan hukuman, yang biasanya diberikan untuk memberi efek jera, menakuti, hingga melampiaskan emosi orangtua, konsekuensi diberikan untuk menumbuhkan kesadaran dan melatih anak bertanggung jawab atas kesalahannya. Konsekuensi juga diberikan sesuai dengan kesepakatan sebelumnya atau minimal pembahasan bagaimana kesalahan bisa diperbaiki, dijadikan bahan pelajaran, dan tidak diulangi di kemudian hari.

Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut Najelaa Shihab dalam buku “Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik”, konsekuensi yang tepat harus memenuhi 4 syarat berikut (contoh kesalahan: menumpahkan air di sofa):

1. Berhubungan dengan kesalahan.
Tepat: Mengeringkan sofa.
Tidak tepat: Tidak boleh menonton TV selama 1 bulan.

2. Masuk akal.
Tepat: Memindahkan posisi sofa hingga kering atau bisa diduduki.
Tidak tepat: Melarang anak dudukdi sofa itu selamanya.

3. Memberikan pengalaman belajar.
Tepat: Menyepakati menggunakan cangkir dengan pegangan agar mudah digenggam.
Tidak tepat: Membolehkan anak hanya minum dari botol.

4. Menjaga harga diri anak.
Tepat: Menunggui anak tanpa membentak saat ia mengeringkan sofa.
Tidak tepat: Menceritakannya pada orang lain.

Berdasarkan buku yang sama, konsekuensi ini dapat dikenalkan pada anak bahkan sejak masih bayi. Misalnya saat bayi menggigit ibu ketika menyusu. Daripada berteriak, yang tidak efektif dan bisa menimbulkan trauma, ibu bisa dengan lembut menjauhkan bayi dari tubuhnya. Sehingga perlahan dia belajar, bahwa kalau menggigit dia tidak dapat menyusu.

Terakhir, orangtua perlu ingat untuk melakukan percakapan dan refleksi setelah kesalahan dilakukan, agar dapat mendiskusikan solusi dan kesepakatan yang tepat dalam memberikan konsekuensi. Tentunya disesuaikan dengan usia anak dan kondisi saat kesalahan dilakukan atau kesepakatan dilanggar.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesebelas | Family Forum

Niat hati ingin meneruskan post tentang komunikasi produktif ini sampai hari kelimabelas, yang merupakan pilihan yang bisa diambil dalam setiap tantangan kelas Bunda Sayang. Sayang disayang, handphone mendadak kereset, kemudian eror. Aktivitas seharian di luar rumah ditambah acara keluarga malam harinya, membuat saya kehabisan waktu untuk memulihkan handphone juga menulis lapoan hari itu. Akhirnya hari kesebelas pun berlalu begitu saja.

Saat memeriksa kembali laporan yang sudah saya buat, saya menemukan satu poin yang belum terpenuhi dalam daftar yang terlampir pada tiap post sebelumnya: Menyatakan Keinginan

Seringkali kita, sebagai orangtua, menyatakan apa yang tidak kita inginkan. Misalnya:
“Mama nggak mau Kakak lempar-lempar barang kaya gitu, nanti rusak kan.”
“Jangan lari-lari, nanti jatuh.”
“Nggak usah main di situ, Ky, kotor.”

Ternyata, adalah lebih produktif dan efektif, jika kita menyatakan keinginan secara positif. Untuk contoh di atas, alternatifnya misalnya:
“Mama mau Kakak jaga mainannya, bisa ditaruh pelan-pelan ya.”
“Berjalan. Jaga keseimbangan.”
“Kyna main di sebelah sini aja, ya.”

Untuk hal yang berbahaya, kita bisa menjelaskan sebelumnya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan juga alasannya, sehingga saat hal itu dilakukan, kita tinggal mengingatkannya saja.

Berhubungan dengan hal itu, juga satu utang tugas lagi untuk dilakukan, yaitu: Family Forum atau forum untuk berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga membahas apa saja yang dirasa perlu pada saat itu.

Untuk Family Forum kali ini saya mengusulkan untuk membahas Kesepakatan Bersama, sesuatu yang sudah lama ingin saya susun bersama keluarga, namun terus tertunda.

Kesepakatan Bersama merupakan daftar hal-hal yang ingin dibentuk dalam keluarga. Mirip seperti peraturan, namun bedanya, ini disusun dan disepakati oleh seluruh anggota keluarga. Anggota keluarga bisa duduk bersama untuk membicarakan hal apa yang dirasa perlu diubah atau dibiasakan agar kehidupan dalam keluarga menjadi lebih baik.

Panduan Kesepakatan Bersama
Panduan Membuat Kesepakatan Bersama

Poin nomor lima dalam panduan di atas sekaligus memenuhi poin “Menyatakan Keinginan, Bukan yang Tidak Diinginkan” dalam komunikasi produktif.

18-09-22-21-51-00-048_deco

Hasil Family Forum pertama kami tertera pada foto di atas. Forum berjalan cukup baik. Walau Kyna lebih suka meloncat dari meja ke kasur, Nara yang terkadang ikut serta masih bisa diajak berbicara dan menanggapi kesepakatan yang akan dibuat. Kami berusaha memilih kalimat yang jelas dan positif, menyatakan keinginan kami, alasan dan konsekuensinya, memberikan pilihan, juga mendengarkan masukannya.

Semoga pelaksanaannya juga lancar ya.

Mengenali Temperamen Bawaan

Pernah nggak sih, mengalami anak kita dibandingkan dengan anak lain, atau malah kita sendiri yang mengomentari anak karena dia nggak sesupel temannya, misalnya? Atau anak dianggap terlalu cengeng, manja, sulit diatur, dan sebagainya?

“Anak-anak lain nggak ada tuh yang nempel terus sama Mama kaya kamu.”

“Makanya, anak dibiasain tidur di mana aja, jadi nggak gampang bangun kalau berisik sedikit.”

“Bau tangan tuh, digendong terus sih.”

Ternyata, sifat anak yang berbeda-beda ini bisa jadi merupakan temperamen bawaannya, loh.

Sejak baru lahir saja, biasanya sudah terlihat, ada bayi yang lebih sering menangis, ada bayi yang tangisannya lebih keras, ada yang popoknya basah sedikit sudah gelisah, ada juga yang tetap tidur walau suasana ramai, atau santai-santai saja padahal sudah menebar bau kotoran dari popoknya.

Saya semakin menyadari adanya temperamen bawaan ini sejak punya anak yang usianya berdekatan dengan anak adik, terlebih saat lahir anak kedua yang jaraknya tidak terpaut jauh dari kakaknya.

Anak pertama saya, Nara, waktu bayi bisa tidur sepanjang hari.  Sampai perlu bersusah payah dibangunkan untuk menyusu. Sementara Shayna, sepupunya, justru sangat mudah terbangun, hingga adik saya kerap harus menggendongnya sepanjang hari.

Nara lebih mudah fokus, adiknya Kyna, lebih banyak bergerak. Mereka berdua cenderung aktif dan membongkar mainan seenaknya, sementara Shayna begitu hati-hati melakukan sesuatu, rapi dan teliti saat bermain.

Berdasarkan buku “Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik” oleh Najeela Shihab, ada 9 Kontinum Temperamen Manusia:

1. Aktivitas/ Jumlah tenaga yang dikeluarkan tubuh.
Contoh: Sulit duduk tenang atau cenderung duduk diam.

2. Distraksi/ Seberapa mudah teralihkan oleh stimulus yang tiba-tiba.
Contoh: Sulit fokus atau tidak mudah terganggu oleh suara atau gerakan

3. Intensitas/ Bagaimana seseorang bereaksi atau menunjukkan respon emosi pada keadaan positif atau negatif.
Contoh: Cenderung memendam perasaan atau emosi mudah berubah naik turun.

4. Keteraturan/ Ketepatan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Contoh: Pola makan, tidur, dan rutinitas lain relatif sama atau cenderung berubah.

5. Ambang Sensori/ Batas toleransi seseorang akan stimulus suara, temperatur, tekstur, dan rasa.
Contoh: Mudah tidur di mana saja atau relatif kesulitan dalam situasi tertentu.

6. Pendekatan atau Penolakan/ Reaksi seseorang terhadap situasi baru.
Contoh: Senang bertemu orang baru atau tidak menyukai perkenalan.

7. Adaptif/ Kecepatan seseorang beradaptasi terhadap perubahan atau berhadapan dengan respon negatif.
Contoh: Mudah atau cenderung sulit menerima kegiatan baru.

8. Ketekunan/ Seberapa lama dapat bertahan menghadapi situasi sulit tanpa menyerah.
Contoh: Mudah beralih ke aktivitas lain ketika bertemu hambatan atau bisa tetap fokus menyelesaikan.

9. Suasana Hati/ Bagaimana seseorang menunjukkan kondisi hatinya yang positif dan negatif.
Contoh: Bersikap kaku atau selalu ceria dalam setiap kesempatan.

Pada prinsipnya, temperamen adalah reaksi manusia terhadap sesuatu di luar dirinya, hal itu dibawa oleh masing-masing kita sejak lahir dan tidak dapat diubah.

Tentu tidak adil bukan, menuntut anak berdasarkan sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya, apalagi sampai membandingkannya dengan anak lain yang tentu memiliki temperamen bawaan yang berbeda.

Satu hal yang bisa kita lakukan mengenai temperamen bawaan ini adalah mengenali dan menerimanya, kemudian mencari cara terbaik untuk membantu anak mengelolanya, sehingga dia bisa hidup dan berkontribusi dalam lingkungannya, sesuai potensi terbaiknya. Misalnya, anak yang sulit beradaptasi dengan orang baru, bisa kita persiapkan dengan lebih baik mengenai kondisi yang akan dia alami, atau datang lebih awal ke tempat yang dituju.