Category Archives: Institut Ibu Profesional

[Matrikulasi] Nice Homework #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Setelah berdiskusi tentang materi matrikulasi sesi 4, saya dan peserta matrikulasi IIP  mulai mempraktekkan ilmu yang sudah kami dapat satu persatu dalam NHW #4.

Bisa dibilang, NHW #4 ini merupakan evaluasi dari NHW-NHW sebelumnya, yang sesungguhnya sangat diperlukan agar semua tahapannya sejalan dan berkesinambungan sehingga hasilnya pun bisa maksimal juga efektif. Berikut jawaban saya atas beberapa soal NHW #4.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Setelah melalui beberapa sesi matrikulasi dan perenungan demi perenungan, saya malah semakin mantap memilih jurusan ilmu pengasuhan atau parenting, khususnya dalam bidang perkembangan dan pendidikan anak. Saya merasa itulah jurusan yang paling menarik minat saya saat ini, dan percaya bahwa jika jurusan ini bisa saya kuasai maka banyak sekali kebaikan yang bisa saya hasilkan, bukan saja untuk saya dan keluarga saya, tapi juga untuk masyarakat di sekitar saya.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Terus terang, saya belum konsisten melaksanankan checklist harian yang saya buat pada NHW #2 :(

Saya bahkan belum jadi menyetak dan menempel checklist tersebut di tempat terlihat agar bisa diisi setiap hari seperti rencana semula. Ada beberapa jadwal yang menurut saya penting yang juga belum saya buat. NHW #4 ini menjadi pengingat untuk menguatkan kembali komitmen saya dalam melaksanakan checklist tersebut demi perbaikan yang berkelanjutan dan tercapainya tujuan hidup saya.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Membayangkan kembali bagaimana saya selalu bersemangat jika membicarakan masalah pengasuhan anak, melihat potensi yang saya tulis pada NHW #3, juga mengamati kegembiraan yang saya rasakan dalam menggeluti pekerjaan baru saya sebagai Book Advisor, yang juga terkait dengan pendidikan anak, saya ingin menggambarkan tujuan penciptaan saya sebagai berikut:

Misi Hidup: Menumbuhkan kesadaran hingga pemahaman melalui edukasi dan menyebarkan inspirasi melalui praktik baik yang dilakukan.
Bidang: Pengasuhan dan pendidikan anak (khususnya pentingnya anak cinta belajar dan membaca buku).
Peran: Edukator, inspirator.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Untuk menjalankan misi hidup tersebut, saya paling tidak perlu menguasai antara lain:
1. Ilmu tentang pengembangan dan perbaikan diri.
2. Ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak.
3. Ilmu komunikasi, khususnya cara berbicara di depan umum agar apa yang ingin disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh orang lain.
4. Ilmu kepenulisan, agar juga mampu menyebarkan informasi dan berbagi pengalaman melalui tulisan, khususnya blog pribadi.
5. Ilmu bercerita (story telling), karena saya percaya cerita merupakan salah satu media yang baik untuk menyampaikan sesuatu.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup.
KM 0 saya tetapkan pada bulan Maret 2018. Selanjutnya, paling tidak 5 jam dalam sehari akan saya jadwalkan untuk mempelajari, mempraktekkan, dan membagikan ilmu pengasuhan, juga ilmu-ilmu penunjang untuk menjalankan misi hidup saya tersebut.

Jika targetnya adalah 10.000 jam untuk seseorang menjadi ahli dalam suatu bidang. Maka dalam waktu kurang dari 6 tahun, saya akan melihat hasil dari usaha saya itu.

Untuk itu, berikut milestone yang saya tetapkan:
KM 0 – KM 1 (tahun 1): Menguasai ilmu seputar pengembangan dan perbaikan diri.
KM 1 – KM 3 (tahun 2-3): Menguasai ilmu seputar pengasuhan dan pendidikan anak.
KM 3 – KM 4 (tahun 4): Menguasai ilmu seputar komunikasi.
KM 4 – KM 6 (tahun 5-6): Menguasai ilmu seputar kepenulisan dan story telling.

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Secara spesifik belum dimasukkan dalam checklist di NHW #2. Insya Allah akan segera direvisi secara bertahap berikut pembuatan jadwal harian sesuai rencana sebelumnya.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.
Hal tersulit sekaligus terpenting dari misi hidup ini adalah melaksanakan rencana yang telah dibuat. NHW #4 yang masih jauh dari sempurna ini, insya Allah akan terus disempurnakan seiring dengan proses pelaksanaannya. Semoga Allah memudahkan, menguatkan, dan meridhai. Aamiin YRA.

Click to Share

[Matrikulasi] Materi Sesi #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“Just DO It”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

“PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH”

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogikan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 4): My Neighbourhood

Pertanyaan terakhir dari NHW #3 adalah tentang lingkungan tempat tinggal. Dengan potensi diri dan keluarga yang dimiliki, tantangan apa yang bisa diselesaikan, pengaruh apa yang bisa diberikan oleh keberadaan saya dan keluarga pada lingkungan di sekitar kami.

Pengasuhan adalah hal yang menjadi ketertarikan saya. Salah satunya mungkin karena saya kerap merasa terganggu jika menyaksikan ada anak yang tidak menghormati orangtuanya, bersikap seenaknya, tidak tahu aturan, hingga mengganggu, merugikan, atau menyakiti orang lain.

Saya jadi ingin belajar, bagaimana sih cara yang efektif mengasuh anak agar tidak menjadi seperti itu. Bagaimana agar paling tidak anak kelak saya tidak seperti itu.

Dalam perjalanannya, saya menemukan bahwa akan lebih efektif jika saling berbagi dengan orangtua lain mengenai ilmu pengasuhan ini. Sehingga kami bisa saling belajar dan mendukung dalam proses pengasuhan anak-anak kami.

Kemudian saya bertemu dengan komunitas yang percaya bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, kita hanya perlu terus belajar mencintai dengan lebih baik. Juga bahwa pengasuhan adalah urusan bersama. Apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita akan berpengaruh pada lingkungan tempat mereka tinggal saat ini hingga nanti saat mereka dewasa. Sehingga, selain belajar untuk diri dan anak sendiri, penting bagi kita untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan sebanyak mungkin orangtua dan pengasuh agar semakin banyak anggota tim untuk bekerja sama membesarkan generasi yang lebih baik.

Seperti pepatah yang juga pernah dikutip oleh IIP ini, “It takes a village to raise a child.”

Diawali dengan diri sendiri yang terus belajar mencintai dengan lebih baik, semoga kesalahan dan praktek baik yang saya lakukan bersama keluarga bisa menjadi contoh serta pembelajaran bagi orang lain di sekitar kami.

Mudah-mudahan juga, semakin banyak orangtua dan pengasuh yang memahami cara mengasuh dan mendidik anak dengan lebih efektif, semakin meningkat anak-anak yang tumbuh sesuai tahap perkembangannya, termaksimalkan potensinya, bahagia hidupnya, peduli dan bermanfaat untuk sekitarnya, yang kemudian menjadi orangtua yang lebih baik lagi dalam mencintai, terus demikian hingga menghasilkan masyarakat yang harmonis serta dunia yang lebih nyaman dan aman untuk ditinggali.

Insya Allah.

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 3): My Role

Setelah melihat kebaikan suami dan potensi kekuatan anak, bagian ketiga dari NHW #3 adalah tentang memahami kekuatan potensi diri sendiri dan bagaimana peran kita dalam keluarga dipengaruhi oleh keunikan positif kita itu. Apa pesan rahasia atau alasan Allah swt. menghadirkan kita di tengah keluarga yang seperti suami dan anak-anak kita dengan bekal potensi yang kita miliki.

Tidak selalu mudah memang mengenali potensi diri sendiri. Beberapa hal yang pernah saya rasakan sendiri juga berdasarkan apa yang pernah dikatakan oleh orang lain mungkin di antaranya sebagai berikut:

Saya cukup mudah merangkai kata. Selama sekolah, saya lebih suka pelajaran yang bisa mengandalkan “mengarang” dalam menjelaskannya, khususnya di waktu ujian atau mengerjakan tugas, daripada pelajaran yang memerlukan jawaban pasti seperti ilmu alam atau hitungan.

Selama punya sedikit pengetahuan atau pemahaman tentang pelajaran itu, saya bisa mengembangkan sedikit poin yang saya ketahui menjadi jawaban panjang yang lebih jelas. Seorang guru saya saat sekolah dulu juga pernah menyatakan bahwa saya memiliki cara berpikir yang sistematis, terlihat dari jawaban saya yang runut dan teratur.

NHW #3 - 120218

Logika saya termasuk baik. Itu menurut ayah saya. Saya biasa berdiskusi dengan ayah saya dan menurutnya, argumen yang saya kemukakan sering kali masuk akal dan bisa diterima. Saya juga bisa dibilang cepat memahami suatu hal hingga bisa menjelaskannya kembali pada orang lain agar lebih mudah dipahami.

Saya juga memiliki prinsip dan komitmen yang kuat. Saat mengetahui alasan dibalik suatu hal dan sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu saya bisa setia menjalankannya. Hanya memang alasannya harus benar-benar kuat, karena saya juga suka cepat bosan dan jarang mendalami sesuatu.

Setelah berkeluarga dan memiliki anak, potensi yang saya sebutkan di atas membantu saya dalam menjelaskan banyak hal pada anak-anak saya, juga dalam berdiskusi dengan suami, dan berbagi apa yang saya ketahui termasuk dalam hal pengasuhan dengannya.

Potensi tersebut juga membantu saya untuk belajar lebih banyak lagi khususnya tentang hal yang berhubungan dengan pengasuhan dan pendidikan anak.

Kalau saya lebih baik dalam tataran teori, suami saya orangnya lebih praktikal. Jadi dia sangat bisa membantu saya mempraktekkan apa yang sudah kami pelajari.

Semoga idealisme dan komitmen yang saya miliki juga bisa saya terapkan dalam membangun keluarga kecil saya.

Semoga saya juga bisa terus berusaha memahami dan memaksimalkan potensi yang saya miliki, menyadari dan turut menumbuhkan potensi keluarga sehingga kami bisa bersinergi dengan baik membawa kebaikan bagi keluarga juga sekitar kami. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 2): My Precious Daughters

Kalau bagian pertama NHW kali ini melihat kebaikan suami, bagian kedua giliran melihat potensi kekuatan anak.

Alhamdulillah, sampai saat ini saya dan suami dikaruniai dua orang putri yang (bagi saya) luar biasa. Masya Allah. Tabarakallah.

Putri pertama kami Nayyara/ Nara usianya 29 bulan. Satu hal yang paling menonjol darinya adalah kemampuan verbalnya. Nara termasuk cepat bicara untuk usianya. Sejak dia masih di bawah 6 bulan, dia sudah punya kata saat ingin menyusu. Walau bukan kata yang umum kita kenal, tapi dia selalu konsisten menggunakan kata itu. Bahkan kadang saat terbangun dari tidur, dia tidak menangis, hanya menyebut kata buatannya itu.

Bisa jadi bukan hanya Nara yang seperti itu. Tapi karena adik dan sepupu-sepupunya tidak demikian, jadi saya pikir itu cukup istimewa.

Saat sebagian anak seusianya belum jelas berkata-kata, Nara sudah lancar menyanyikan beberapa lagu. Bicaranya juga sudah kalimat lengkap layaknya orang dewasa, hanya masih cadel di huruf ‘r’ dan ‘s’.

Fokus Nara menurut pandangan saya juga cukup baik untuk anak seusianya. Rentang konsentrasinya cukup panjang. Sejak mungkin sekitar usia 8 bulan, dia sudah dapat menyimak dengan baik buku yang dibacakan dari awal sampai akhir, sudah punya buku favorit dan hafal ceritanya, sampai saat Atoknya, ayah saya, terlewat satu halaman, dia menangis karena ceritanya tidak sesuai yang seharusnya 😂

Nara suka bermain peran. Dia paling suka berperan sebagai ibu dari boneka-bonekanya. Dengan telaten dia menggendong, memandikan, mengajak jalan-jalan, memberi makan sampai menyusui mereka. Setelah punya adik, dia pun ingin ikut “mengasuh” adiknya itu.

Nara adalah anak yang teguh pendiriannya. Dia tahu apa yang dia mau, dengan cara yang dia mau. Tidak mudah mengubah pilihannya.

NHW 3-2

Putri kedua kami, Kynatha/ Kyna, bulan ini insya Allah mencapai usia 12 bulan atau genap satu tahun.

Secara motorik, Kyna lebih kuat. Dari usia beberapa hari dia sudah bisa membalikkan badan dan mengangkat kepala. Sekarang, dia paling suka memanjat apa saja. Tangga rumah, stroler, sofa, kardus, semua dia panjat. Jalannya lebih tegap daripada Nara waktu seusianya, walau masih perlu digandeng.

Kyna cenderung lebih banyak bergerak. Dia tertarik pada buku, tapi lebih untuk di bolak balik, ditarik, dan dimakan :)) Untuk buku yang bukan board book, kemungkinan besar akan robek di tangannya. Saat dibacakan buku, di sebagian besar waktu dia akan melakukan kegiatan lain.

Mungkin masih banyak potensi kekuatan kedua anak saya yang belum terlihat atau belum saya sadari. Berbagai stimulus dan aktivitas untuk merangsang perkembangan juga menemukan minat dan bakat mereka perlu terus saya berikan.

Semoga Allah swt. memberikan saya kesabaran juga kemudahan dalam membantu mereka memaksimalkan potensi, sesuai minat dan bakat mereka, sehingga mereka bisa menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, bermanfaat bagi diri dan sekitar, juga bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Nice Homework #3 (Part 1): Dear Husband

Materi matrikulasi sesi #3 ini adalah tentang “Membangun Peradaban dari Rumah”. Kami belajar merenung untuk memahami, apa “misi spesifik” diri sendiri, kemudian juga berusaha melihat potensi suami, anak-anak, serta lingkungan, untuk kemudian memahami “peran spesifik keluarga”. Sehingga hidup lebih jelas hendak dibawa ke mana dengan peran yang kita pahami tersebut.

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam proses menemukan pemahaman itu. NHW kali ini pun diberikan untuk mendorong terjadinya proses ini.

Kelompok pertanyaan dibagi menjadi tiga kondisi kehidupan yang sedang dijalani: Pra nikah, nikah, dan orangtua tunggal (single parent). Karena saya masuk ke dalam kondisi kedua (nikah), ada 4 bagian yang harus saya kerjakan. Post ini berisi bagian yang pertama.

“Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.”

Berikut surat yang akhirnya saya tulis untuk suami saya:

Dear Husband,

Bagi Mama, Ayah adalah hadiah kejutan dari Allah swt. untuk Mama. Sungguh tidak terbayangkan saat pertama kali kita dipertemukan, bahwa di tahun yang sama kita kemudian menjadi suami istri.

Kejutan yang diikuti oleh dua kejutan lainnya, dua putri kita yang manis, Nayyara dan Kynatha.

Perubahan dari kehidupan lajang jadi istri dan ibu dua batita bukan hal yang mudah. Mama seakan dibangunkan dari tempat tidur yang nyaman dan aman. Kehidupan yang Mama kenal selama puluhan tahun mendadak harus berubah.

Dulu, mau ikut kegiatan apa aja tinggal cus. Mau ngeborong di pameran buku atau ikut event lari, jalan-jalan atau sekadar nonton serial tv kesukaan, bisa Mama lakukan tanpa pikir panjang.

Sekarang, mau ngopi cantik di rumah aja harus nunggu anak-anak tidur siang barengan dulu, itupun dilema sama beresin kerjaan rumah (seringnya sih kopi yang menang 😂). Beli buku juga mikir-mikir, karena uangnya mungkin lebih baik ditabung atau beli kebutuhan lain. Sekalinya beli juga lebih sering buku parenting atau malah buku anak-anak. Mau ikut kegiatan di luar? Harus liat dulu, suaminya ngizinin nggak, bentrok sama acara lain nggak, masuk prioritas nggak biayanya, anaknya bisa diajak atau ada yang bisa dititipin nggak, ASIP-nya cukup nggak. Hehehe…

Mama bersyukur, adalah Ayah pasangan Mama dalam menghadapi semua perubahan itu.

NHW 3-1

Ayah yang menghibur Mama saat sedang sedih, mendengarkan kisah dan keluh kesah Mama. Rasanya senang, juga tenang kalau udah cerita ke Ayah.

Ayah juga mau ngertiin kemampuan Mama mengurus rumah yang masih jauh dari sempurna. Mulai dari sarapan yang seadanya bahkan nggak selalu tersedia, cucian yang menumpuk atau baju kerja yang belum disetrika.

Dalam hal kebersihan, Ayah malah lebih baik dari Mama. Ayah biasa membersihkan kamar kita, menyapu dan mengepel lantainya, menyedot debunya, mengganti seprainya, memastikan anak-anak kita nggak digigit semut atau tungau. Berburu dengan raket nyamuk sebelum tidur pun suka Ayah lakukan demi nyenyaknya tidur anak-anak kita (dan kita semua).

Kamar mandi mungkin paling senang sama Ayah, karena Ayah rajin menyikat lantai juga menguras baknya, setelah membersihkan saringan kerannya. Air kamar mandi paling bening setelah Ayah bersihkan. Munyang aja sampai kagum dan bilang (kurang lebih), “untunglah Aca tu dapet Wen.” Dan setelah liat air di kamar mandi Atok, tante-tante jadi tertarik beli saringan yang sama 😂

Soal mengasuh anak? Ayah pun nggak ketinggalan. Gantiin popok, mandiin, gantiin baju, nyuapin makan, ajak main, ngobrol, dan jalan-jalan, semua Ayah lakukan. Kaya yang Ayah pernah bilang, cuma satu yang Ayah nggak bisa lakuin: Menyusui :)) Kalo soal itu, Mama yang menang ya 😁

Ayah pun rela menghabiskan hari libur untuk mencari penghasilan tambahan.

Iya, Mama emang beruntung. Dapet suami yang seperti Ayah.

Sebelum nikah, Mama pernah bilang, kalau nanti punya suami, mau yang dengerin cerita Mama sampai berjam-jam, bisa diajak diskusi, bercanda, dan seru-seruan bareng. Alhamdulillah doanya terjawab dalam bentuk Ayah.

Ayah juga sabar menunggu sampai anak-anak tidur untuk membicarakan masalah di antara kita, agar nggak sampai bertengkar di depan anak juga nggak menyesal belakangan karena melampiaskan emosi saat sedang memuncak. Ayah menunda, tapi tetap berusaha menyelesaikannya, supaya nggak berlarut-larut dan menjadi duri dalam hubungan kita.

Mama banyak belajar dari Ayah.

Untuk lebih peduli sama orang-orang di sekitar kita, terutama orangtua dan keluarga.

Untuk melapangkan dada dalam menerima dan memaafkan perlakuan orang lain yang kurang menyenangkan sampai menzalimi kita.

Untuk menyebut nama seseorang saat berbicara dengannya, walau cuma dalam interaksi yang singkat, dengan supir taksi online misalnya.

Kalau Mama menggebu-gebu, Ayah lebih tenang dalam menyikapi sesuatu. Kalau Mama seringkali ribet dan banyak pertimbangan, Ayah lebih praktis.

Makasih ya, Ayah, udah jadi diri Ayah yang sekarang. Suami yang terbaik untuk Mama dan Ayah terbaik untuk anak-anak kita.

Dear Ayah yang senyumnya paling manis dan ketawanya bikin Mama ikut seneng, sementara muramnya bikin Mama ikut termenung…

Seperti Mama yang nggak sempurna, Ayah tentunya juga nggak sempurna. Tapi semoga kita bisa lebih banyak berfokus pada kebaikan masing-masing, sambil terus belajar menjadi diri kita yang lebih baik lagi. Demi diri kita dan satu sama lain, juga untuk anak-anak kita. Karena Allah tentu saja, sebagai bagian dari ibadah kita kepada-Nya. Aamiin YRA.

Mama sayang Ayah.

Ttd,

Istrinya Wendy Himawan Purba

Responnya?

Senyuman manis dan sebuah kecupan.

Itu aja saya udah senang sih, karena paling tidak dia tahu bagaimana saya bersyukur dan berterima kasih atas kehadirannya sebagai suami saya.

[Matrikulasi] Materi Sesi #3 – Membangun Peradaban dari Rumah

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA, AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

MIIP #3 - 090218

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

It Takes a Village to Raise a Child

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

[Matrikulasi] Nice Homework #2: Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Untuk NHW pekan ini, setelah menerima materi sesi #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga, saya dan teman-teman peserta kelas matrikulasi lainnya belajar membuat “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang mencakup tiga peran berikut:
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Indikator yang kami buat berpegang pada lima kunci yang disingkat menjadi SMART:
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (Berikan batas waktu)

Serunya, kami diminta untuk berdiskusi dengan keluarga (anak dan suami) dalam menyusun indikator khususnya yang berkaitan langsung dengan mereka, yaitu sebagai istri dan ibu. Pendapat mereka tentang istri atau ibu yang seperti apa yang membuat mereka bahagia bisa dijadikan referensi dalam membuat checklist. Bagi yang belum berkeluarga, belum memiliki anak atau anaknya masih terlalu kecil untuk diajak berdiskusi, boleh dibayangkan saja kriteria ideal yang ingin dipenuhi saat menjalankan peran-peran tersebut.

Tentunya ingat juga kemampuan kita, perhatikan lagi lima kunci di atas, terutama bagian achievable dan realistic. Jadi, walaupun rasanya banyak sekali yang ingin kita ubah, fokus pada beberapa prioritas terlebih dahulu, yang kita yakin bisa menjalankannya.

Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga 030218

Berikut “Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan” yang saya buat setelah berdiskusi dengan suami dan saya bayangkan untuk diri dan anak saya:

a. Sebagai individu
– Shalat wajib tepat waktu. | Maksimal 30 menit setelah adzan.
– Minum 2 liter air putih. | Setiap hari.
– Makan 1 porsi sayur minimal sekali dalam sehari. | Setiap hari
– Membaca buku minimal 30 halaman. | Setiap hari
– Membuat jadwal harian agar waktu bisa terkelola dengan baik. | Dibuat dalam minggu ini

b. Sebagai istri
– Menyediakan sarapan minimal 4x dalam seminggu (3 hari weekend, 1 hari weekdays).
– Memastikan pakaian siap pakai tersedia sehabis mandi. | Setiap hari
– Mendoakan suami agar berkah rezekinya, terlindungi dari berbagai keburukan, terjaga keimanan dan ibadahnya. | Minimal setiap habis shalat wajib

c. Sebagai ibu
– Membuat jadwal harian anak-anak agar teratur waktu makan, mandi, tidur, dan kegiatan lainnya. | Dibuat dalam minggu ini
– Membiasakan Nara dan Kyna makan di meja makan selama waktu makan (maksimal 30 menit). | Setiap hari
– Memberi kesempatan Nara dan Kyna belajar makan sendiri. | Minimal setiap makan siang
– Mendoakan Nara dan Kyna agar menjadi anak sholehah dan memberikan ridha sebagai ibu. | Minimal setiap habis shalat wajib

Walau terlihat sedikit, list ini sesungguhnya memuat perubahan yang cukup banyak bagi saya.

Sebetulnya, kalau mengikuti keinginan, masih banyak lagi yang ingin saya masukan ke dalam list, tapi sementara ini saja dulu yang saya prioritaskan.

Semoga yang terlihat sedikit ini bisa terpenuhi dengan baik dan menjadi awal perubahan tanpa henti menuju kebaikan ya. Aamiin YRA.

Bismillah.

[Matrikulasi] Materi Sesi #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #5?
Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;
1. perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1. bersangkutan dengan profesi;
2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?
Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?
“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :
BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

[Matrikulasi] Nice Homework #1: Adab Menuntut Ilmu

Setelah setiap sesi materi di kelas matrikulasi Ibu Profesional, diberikan tugas yang disebut Nice Homework (NHW), fungsinya untuk menguatkan ilmu yang telah didapat.

Berikut NHW dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU”, beserta jawaban saya tentunya 😀

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Saya selalu tertarik dengan hal yang berkaitan dengan pendidikan, psikologi, pengembangan diri, dan pengasuhan. Semakin ke sini, fokusnya jadi lebih ke anak-anak. Terlebih saat sudah punya anak, rasanya ingin banyak belajar segala sesuatu yang berhubungan dengan parenting dan pendidikan anak. Jadi, kalau diminta memilih satu jurusan ilmu yang akan ditekuni dalam universitas kehidupan ini, saya akan memilih ilmu parenting, khususnya memerhatikan perkembangan dan pendidikan anak.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
Alasan terkuat saya memilih ilmu tersebut adalah untuk menjadi orangtua yang lebih baik dalam mengasuh dan mendidik anak-anak saya, kemudian juga agar bisa berbagi ilmu tersebut untuk orangtua dan masyarakat di sekitar saya. Sehingga tercipta generasi yang lebih bahagia, termaksimalkan potensinya, baik sebagai anak, orangtua, maupun masyarakat.

Adab Menuntut Ilmu 2701183. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Sejauh ini, saya berusaha melibatkan diri dalam komunitas yang bergerak di bidang pengasuhan dan pendidikan keluarga. Bergabung di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional ini juga merupakan salah satu usaha saya untuk menambah ilmu tersebut. Saya juga membaca buku-buku tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Berbagi ilmu dan pengalaman melalui blog, media sosial, serta kelas pengasuhan, sambil berusaha menerapkan ilmu yang saya peroleh, menjadi langkah berikutnya dalam strategi saya.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Perubahan sikap yang akan saya perbaiki dalam menuntut ilmu tersebut:
1. Pada diri sendiri:
Meluruskan niat dan memperbaiki ibadah, menjadwalkan waktu belajar dan mengikutinya, lebih rajin membuat catatan dan membaginya di blog atau media sosial, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.
2. Terhadap guru (penyampai sebuah ilmu):
Menyimak dengan baik setiap ilmu yang diberikan, memberikan tanggapan yang baik jika diperlukan, membagi ilmunya dengan izin dan menyertakan sumbernya.
3. Terhadap sumber ilmu:
Mengatur ulang buku-buku dan file yang dimiliki sehingga lebih mudah ditemukan dan lebih menyenangkan untuk dipelajari.