Category Archives: Institut Ibu Profesional

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesepuluh

Hari ini usia Nara genap tiga tahun. Sejak jauh-jauh hari, saya sudah memberitahu dia tentang hari ini. Ini terutama berkaitan dengan kesapakatan kami bahwa dia akan berhenti menyusu pada usia tiga tahun.

Selebihnya, saya menceritakan apa saja yang akan kami lakukan pada hari itu, siapa yang akan datang, bagaimana sikapnya terhadap mereka, termasuk juga bahwa sebelumnya akan ada acara lamaran tantenya, adik bungsu saya.

Nara menanti-nanti hari ini. Setiap hari dia menanyakan apakah hari itu sudah ulang tahunnya atau apakah umurnya sudah tiga tahun. Dia juga sibuk memilih mau seperti apa kuenya, bertanya-tanya akan mendapat hadiah apa, dan seterusnya.

Saat hari ulang tahunnya akhirnya tiba, Nara terlihat senang dan bersemangat. Dia ingin segera memotong kue dan membuka kadonya. Saya ingatkan kembali kalau semua itu akan kami lakukan setelah acara tantenya selesai.

Biasanya, Nara perlu waktu untuk beradaptasi saat bertemu orang baru. Dalam proses beradaptasi itu, dia bisa menjadi diam saja, tidak mau salam, tidak mau menjawab pertanyaan, tidak mau makan atau melakukan apa-apa selain berdiri dan mengamati, duduk di dekat saya, atau minta digendong. Tapi hari ini, Nara ringan bercerita pada siapa saja, menjawab saat ditanya, cium tangan, mau menolong saat diminta salah seorang saudara, seru bermain dan membaca buku dengan saudara yang jarang bertemu sekalipun.

Saya pikir salah satu penyebabnya karena pijakan yang telah saya buat sebelumnya dengan menceritakan kepada Nara tentang hari ini, yang memberinya gambaran apa yang akan terjadi, mempersiapkannya secara mental sebelum menghadapinya secara fisik.

Malamnya, saat berbaring di tempat tidur bersama Nara, saya mengapresiasi sekaligus mengobservasi perilakunya hari ini.

“Kakak hari ini mau salim sama semuanya, mau menjawab pertanyaan, cerita-cerita, nolongin Nem, ya. Berani ya, Kakak. Kakak senang hari ini?”

“Senang, Ma.”   Jawab Nara, yang dilanjutkan dengan cerutanya tentang apa yang dilakukannya hari itu; bermain bersama Kak Nafisah, membaca buku sama Makwe dan Onty, menyelotip bukunya yang robek, dan seterusnya.

Saya menimpali seperlunya, mendengarkan sepuasnya.

Semoga kesenangan Nara hari ini menjadi bekal untuk menghadapi hari-hari selanjutnya, berkah selalu usia Nara, bahagia dunia akhirat. Aamiin YRA.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kesembilan

Kadang saya tidak yakin bisa konsisten melakukan komunikasi produktif ini. Tadi saja karena merasa lelah sepulang bekerja, saya jadi tidak sabaran. Maunya anak-anak langsung mengikuti apa yang saya minta, saya jadi cenderung memaksa, ucapan bernada kesal pun beberapa kali terlontar.

Anak-anak kabarnya tidak tidur sejak pagi tadi, tapi entah kenapa tidak langsung tidur saat saya bawa ke kamar. Beberapa kali Kyna menyusu, tapi kemudian keluar kamar lagi. Kyna yang sedang belajar pipis di kamar mandi juga bolak-balik membuka celananya, padahal tudak ada pipis yang keluar saat didudukkan di atas WC 😅

Nara yang masih enggan sikat gigi, menolak tidur karena kalau mau tidur harus sikat gigi dulu. Dia cari-cari alasan untuk menunda. Mau makan dulu, mau menghabiskan makanan yang tadi tidak habis (yang akhirnya tetap tidak dihabiskan), mau lihat Makly dulu, dan sebagainya.

Alhamdulillah Kyna akhirnya berhasil ditidurkan. Tapi Nara masih juga tidak mau sikat gigi, sementara jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Saya pun menggendong Nara ke kamar mandi.

Nara mulai menangis. Saya mencoba menawarkan pilihan, apa dia mau sikat gigi sendiri dulu atau langsung saya yang bantu sikatin. Dia tetap menangis, minta digendong, tidak mau sikat gigi. l

Saya sempat ingin memaksa menyikat giginya saja, biar cepat selesai. Namun saya memutuskan untuk mencoba bersabar lagi. Saya ingatkan Nara betapa beraninya dia kemarin, sikat gigi sendiri. Sikat giginya sudah mulai lancar,lama lagi.

“Ternyata Kakak udah bisa ya, Kak. Lama banget sikat giginya kemarin itu. Sampingnya masih kurang lancar, tapi kalau sering latihan pasti nanti juga bisa.”

Saya mengatakannya dengan penuh semangat disertai senyuman.

Nara mulai berhenti menangis, muncul binar di matanya.

“Coba Kak, Mama mau lihat lagi Kakak sikat gigi kaya kemarin. Lama banget loh itu, lurus lagi. Nggak kesakitan ya, Kakak.”

Nara mulai menyikat giginya dengan raut bangga. Dia kemudian membiarkan saya menyikat bagian yang belum bisa dia tuntaskan.

Setelahnya dia ganti baju dan berbaring di tempat tidur tanpa protes. Mungkin juga karena sudah mengantuk. Tidak lama, Nara pun tertidur lelap. Alhamdulillah.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedelapan

Ternyata, bukan saja saat mengritik namun saat memuji/ mengapresiasi anak pun kita perlu secara spesifik menyebutkan sikap atau perbuatan mana yang kita hargai atau yang menurut kita perlu mereka perbaiki.

Masuk akal sih. Anak jadi tahu persis apa yang baik atau tidak baik untuk dilakukan, kenapa, dan bagaimana memperbaikinya. Dia juga tahu kita menghargai proses yang dia jalani dan tetap menyayanginya apapun yang terjadi. Perbuatannya yang tidak kita sukai, bukan pribadinya. Usahanya yang kita lihat bukan hanya hasilnya.

Hari ini saya berlatih menerapkan ini pada Nara dan Kyna.

“Mama lihat Kyna sudah mulai bisa bilang kalau mau pipis. Good job, Kyna!” Kata saya saat Kyna berhasil buang air kecil di kamar mandi.

“Mama senang, Nara tadi sikat giginya tidak menangis. Mau sikat gigi sendiri juga disikatin Mama.” Ucap saya pada Nara, yang beberapa malam belakangan suka menangis saat waktunya sikat gigi.

“Kalau Nara kesulitan, bisa minta tolong Mama. Tidak baik melempar barang begitu ya.” Ujar saya kepada Nara yang melempar baju gantinya saat hendak mandi di kamar mandi atas, dengan alasan tidak bisa membawanya.

Nara terlihat lebih senang dan bisa menerima pesannya dengan cara ini. Kyna sih, senyum-senyum aja seperti biasa :))
Mudah-mudahan cara ini memiliki dampak yang baik untuk jangka panjang ya.

Untuk saya pribadi, cara ini juga membantu saya mengenali emosi juga keinginan saya, apa yang saya suka atau tidak suka dari perilaku anak, apa yang saya mau mereka perbaiki dan bagaimana. Saya juga jadi berlatih untuk tidak mudah melabeli anak, lebih banyak mengamati, menghargai usaha mereka sekecil apapun, dan memisahkan antara pribadi mereka dengan perbuatannya.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Ketujuh

Kadang kita suka lupa kalau sel-sel otak anak-anak belum bersambungan dengan sempurna. Fokus mereka juga belum sepanjang orang dewasa. Sehingga kalimat yang terlalu panjang belum tentu bisa ditangkap sepenuhnya. Apalagi kalau berupa omelan. Bisa-bisa kita sudah mengomel panjang lebar dari depan ke belakang, namun tidak ada yang ditangkap anak 😅

Begitu juga saat meminta anak melakukan sesuatu. Saya kadang juga suka lupa, meminta Nara atau Kyna melakukan banyak hal sekaligus. Maksudnya sih mumpung ingat kan, sekalian gitu. Harapannya biar sekali bicara semua beres. Tapi tidak begitu kenyataannya. Kadang hanya satu hal yang disebutkan di awal/ akhir yang dikerjakan, atau malah nggak dikerjakan sama sekali. Mungkin bingung ya, mungkin juga jadi malas karena kok rasanya banyak betul 😆

Mengingat hal itu, saya mencoba menerapkan KISS (Keep Informafion Short and Simple) saat berbicara dengan Nara hari ini.

Misalnya saat buku-buku belum dikembalikan pada raknya, sementara Nara perlu mencuci tangannya dan meletakkan wadah bekas makan agar-agar di tempat cuci piring. Daripada mengatakan semuanya sekaligus, saya menyebutkannya satu per satu.

“Kak, tempat agarnya tolong taruh di belakang dulu ya.”

Saat dia sudah sampai di dapur, baru saya menambahkan,

“Sekalian cuci tangan ya, Kak.”

Saat dia sudah kembali ke ruang keluarga, baru saya memintanya membereskan buku-bukunya.

Lebih efektif dan menghemat energi sih, daripada harus mengatakan perintah yang sama berulang-ulang. Belum lagi, kalau kesabaran sedang tipis, nada bisa berubah dari datar menjadi kesal, padahal kesalahan terletak pada diri yang kurang pemahaman. Duh, astaghfirullah. Maaf ya, Kak. Semoga Mama bisa terus belajar berkomunikasi dengan lebih baik dan produktif.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Keenam

Sejak bulan Agustus yang lalu, Nara yang tadinya masih menyusu saat akan tidur siang dan malam, hanya menyusu saat akan tidur malam saja.  Itu berdasarkan kesepakatan kami sebelumnya, sebagai tahapan menuju penyapihan sepenuhnya saat dia berulang tahun di pertengahan September.

Dampaknya, Nara jadi nyaris tidak pernah tidur siang .

Nara memang cenderung sulit tidur siang. Saat masih menyusu pun, butuh waktu cukup lama hingga dia tertidur. Kadang juga tidak berhasil tidur. Setelah tidak menyusu, semakin sulit baginya untuk pergi ke alam tidur.

Kali ini, dia pun tidak bisa tidur, padahal sudah mengantuk, yang berakibat rewel semakin menjadi. Awalnya dia minta digendong. Setelah menitipkan Kyna pada atoknya (ayah saya), saya mulai menimangnya sambil bersenandung. Terlihat Nara berusaha memejamkan mata, tapi tudak lama, dia membukanya lagi.

Setelah beberapa saat, saya merasa lelah, lalu menawarkan kepadanya untuk berbaring bersama saya. Nara setuju. Kami berbaring bersebelahan.

Sambil memeluk boneka kesayangannya, Nara berusaha tidur, membolak-balik badannya, lalu mulai merengek karena merasa kesulitan.

“Nara, bisa kok nak, tidur tanpa nenen.”
“Ndak bisa, Ma.”
“Bisa kok, sayang. Kan sebelumnya udah pernah. Nara bisa bobo sendiri.” Balas saya lagi sambil mengusap-ngusap punggungnya.

Nara mengeluarkan keluhan kecil,  kemudian membalik badan menghadap saya, masuk dalam pelukan saya.

Saya mengusap kepalanya. Lalu berbaring di sana dalam tidur, sampai akhirnya ketiduran 😂

Saat saya terbangun beberapa menit kemudian, Nara sudah tidur.

Anak saya, tidur sendiri tanpa menyusu. Ternyata dia memang bukan bayi lagi ya :’)

Orangtua perlu percaya anaknya bisa, bahkan sebelum mereka percaya bahwa dirinya bisa. Mengganti kata “tidak bisa” menjadi “bisa”  dapat menjadi pilihan saat berkomunikasi dengan mereka.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kelima

Nara ngompol. Sejak toilet training beberapa bulan yang lalu, dia hampir tidak pernah ngompol kecuali saat tidur. Itupun sudah jarang terjadi.

Dia bilang sudah tidak tahan, jadi akhirnya pipis di atas sofa.

Saya mencoba memahami dia. Menahan diri untuk tidak mengomel karena merasa dia seharusnya sudah tidak lagi melakukan itu.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Nara mungkin sedang dalam proses menerima perubahan yang segera tiba. Bisa jadi mengompol ini bagian dari itu juga.

Saya memutuskan untuk berfokus pada solusi, bukan masalah.

“Nara tadi udah nggak tahan sih, ya. Gimana ya, lain kali biar nggak sampai ngompol lagi?”

Nara terlihat berpikir.

“Oh, Mama tahu. Gimana kalau lain kali, begitu terasa mau pipis, Nara langsung lari aja ke depan kamar mandi, terus buka celananya sambil panggil Mama. Setuju nggak?”

“Setuju, Ma.”

“Nanti kita latihan ya. Kita coba, pura-puranya Kakak mau pipis lagi ya.”

“Iya, Ma!” Ujarnya bersemangat.

Tidak ada kalimat yang merendahkan atau mempermalukan. Semoga saya bisa konsisten menahan mulut saya dari ucapan-ucapan semacam itu dan terus belajar jadi ibu yang lebih baik untuk anak-anak saya. Tanpa kekerasan. Menggunakan komunikasi yang lebih produktif dari waktu ke waktu. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Keempat

Belakangan ini, Nara sungguh penuh drama. Sedikit saja merasa tidak nyaman atau ada yang tidak sesuai keinginannya, dia akan mulai merengek, berteriak, atau menangis. Dia ingin terus berada di dekat saya.

Dugaan saya, karena hari penyapihannya semakin dekat. Dia tahu, karena saya terus mengingatkannya. Nara sudah sepakat, bahwa pada hari ulang tahunnya yang ke tiga, dia akan berhenti menyusu. Dia tahu dan setuju, tapi tampaknya tidak berarti itu mudah baginya.

Saya berusaha memahami Nara, karena dia tidak biasanya seperti itu. Menangis saat harus mandi, berteriak saat cara mandinya salah, minta digendong, marah saat harus makan nasi dulu sebelum makan kue atau minum susu.

Setelah mandi sore tadi, yang juga penuh drama, Nara bilang dia mau makan bakwan yang tadi pagi dibeli ayahnya. Saat mengetahui bahwa bakwannya sudah tidak ada, dia mulai merengek, terus mengulang-ngulang dia mau bakwan. Saya lalu mencoba merefleksikan pengalaman saya.

“Dulu, Mama juga pernah, pengen makan bakwan, tapi ternyata sudah habis. Mama kecewa sih, rasanya kesal, karena Mama belum sempat makan, eh, udah keduluan yang lain. Tapi terus Mama pikir, masih banyak makanan lain. Nggak apa-apa deh. Besok-besok bisa beli bakwan lagi.”

Tanpa saya duga, wajah Nara langsung berubah jadi ceria.

“Sama kaya Kakak ya, Ma.” Ujarnya dengan mata berbinar.

Setelahnya, dia langsung tertawa-tawa lagi, tidak lagi meminta bakwannya.

Ternyata, pesan-pesan memang bisa jadi lebih mudah diterima saat disampaikan dengan ringan, sekadar berbagi pengalaman, tanpa terkesan menggurui ya. Mungkin dengan demikian, anak juga merasa tidak sendirian dan dimengerti.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Ketiga

Ada saja alasan Nara untuk menunda sikat gigi. Awalnya dia bilang mau main funtastic learning dulu. Saya bisa saja kekeuh bilang ini waktunya sikat gigi, tidak main lagi malam-malam. Tapi, kami belum punya kesepakatan soal itu dan berdasarkan pengalaman, urusannya malah bisa jadi panjang. Jadi, saya mencoba mengganti perintah dengan pilihan.

“Kakak mau main setengah dulu, sikat gigi, baru lanjut main lagi sampai selesai, atau sikat gigi dulu, baru main satu halaman sampai selesai?”

Nara pilih main setengah halaman dulu. Tapi setelahnya dia lihat Nely lagi bikin nastar pesanan, terus menolak lagi diajak sikat gigi.

“Kakak mau sikat gigi dulu baru lihat Nely bikin kue lagi, atau lihat Nely bikin kue dulu sampai alarmnya bunyi baru sikat gigi?” Ujar saya memberi pilihan baru.

Nara mengambil pilihan kedua. Dia semangat memilih suara ayam sebagai bunyi alarmnya.

Di tengah sikat gigi, Nara mendadak mogok. Bilangnya mau minum dulu, yang tentu sulit, karena mulutnya masih penuh odol. Saya:

“Kakak mau selesain sikat giginya, jadi bisa langsung kumur lalu minum, atau mau tunggu Mama sikat gigi dulu, tapi belum boleh minum karena mulutnya masih penuh odol?”

Nara pilih selesaikan sikat giginya dulu. Setelahnya, dia kembali lari ke dapur untuk melihat Nelynya.

“Kakak mau langsung tidur atau lihat Nely bikin kue dulu sampai alarmnya bunyi?”

Nara pilih alarm, pilih suara yang berbeda untuk bunyi alarmnya. Malam pun berakhir dengan damai.

Dibutuhkan kesabaran yang banyak untuk melakukan ini, tapi hasilnya lebih menyenangkan sih. Minim pertengkaran dan luka hati di kedua belah pihak 😅

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedua

Suara tangisan dan teriakan terdengar dari kamar mandi di lantai bawah. Saya yang sedang di lantai dua rumah kami bergegas turun.

Dalam kamar mandi, ibu saya sedang mencoba berbicara dengan Nara yang baru selesai buang air besar. Rupanya, Nara hanya mau dibersihkan oleh saya. Dia menangis dan melempar semprotan yang biasa digunakan untuk cebok. Bajunya juga basah. Kata ibu saya, Nara tadi berusaha mengambil semprotannya sendiri, lalu tidak sengaja tersemprot.

Saya menarik napas, menenangkan diri, lalu berusaha menenangkan Nara. Saya berjongkok agar mata saya sejajar dengan matanya, lalu saya mulai berbicara.

“Nara maunya dicebok Mama ya?”
“Iya, Ma.”
“Nara kesal, karena Nely (panggilan Nara untuk ibu saya) mau cebokin Nara?”
“Iya, Nara nggak mau.”
“Mama mengerti. Nely kan cuma mau bantu Nara. Nely kasihan karena Nara lama tunggu Mama.”

Sampai di sini, Nara menangis lalu memeluk saya. Mungkin menyesal, mungkin juga mau mencari kenyamanan. Sambil memeluknya, saya melanjutkan.

“Kalau Nara tidak mau, bisa bicara baik-baik ya, bilang sama Nely kalau Nara mau tunggu Mama aja.”
“Ok. Sekarang Mama cebokin Nara dulu ya.”

Keluar dari kamar mandi, Nara sudah berhenti menangis. Sambil membuka bajunya yang basah, saya kembali mengajaknya bicara.

“Tadi kenapa semprotannya dilempar?”
“Nara nggak bisa taruhnya.”
“Bisa minta tolong aja kalau nggak bisa ya, Kak. Nggak perlu dilempar.”

“Habis ini kita pakai baju, terus salim Nely ya.”
“Nggak mau, Ma.”
“Tadi kan Kakak marah-marah sama Nely. Mau salim sendiri atau Mama temenin?”
“Mau ditemenin, Ma.”

Percakapan di atas mungkin belum sempurna. Tapi paling tidak, saya berhasil mengendalikan emosi. Saya menatap mata Nara, menjaga intonasi suara, dan menerima emosi-nya.

Terasa sekali bedanya bagaimana Nara juga jadi lebih cepat menenangkan diri. Mau mendengarkan saya, mau juga diajak salim sama Nelynya, tanpa banyak drama yang biasanya terjadi.

Ternyata memang tidak perlu banyak perang urat leher dalam berkomunikasi produktif ya, apalagi dengan anak. Belajar memahami lawan bicara, mau mendengarkan dan menghargai, baru kemudian menyampaikan pesan kita. Hati lebih tenang, anak senang, tidak ada kerusakan tambahan yang tidak diperlukan.

[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Pertama

Tantangan ini tiba tepat pada saat saya merasa cara saya berkomunikasi dengan anak-anak seringkali terasa buruk dan saya ingin memperbaikinya.

Intonasi yang kerap meninggi, kata-kata yang kurang ramah, ucapan yang kurang sabar, teriakan, hingga ancaman masih suka muncul terutama saat saya sedang lelah, banyak kerjaan atau pikiran. Sungguh tidak adil bukan? Bagaimana saya anak-anak harus mengalami semua itu hanya karena saya tidak bisa mengelola diri dengan baik.

Saya tidak ingin hubungan kami menjadi buruk di kemudian hari. Saya juga tidak mau meninggalkan luka pada hati anak-anak tersayang saya. Karenanya, saya membulatkan tekad untuk melakukan poin demi poin komunikasi produktif yang telah diberikan dalam materi pertama Kelas Bunda Sayang.

Pada hari pertama ini, saya memutuskan untuk memulai dengan mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah.

Jika sebelumnya saya kerap menyuruh dengan tidak sabar agar anak membereskan mainan misalnya. Hari ini, saya berusaha mendekati mereka, menyejajarkan mata saya dengan mata mereka, lalu meminta tolong dengan perlahan dan sambil tersenyum.

Tidak mudah memang.

Nara (3 tahun) sedang tidak mau membereskan mainan hari ini. Dia tidak mau memasukkan crayon yang habis dia gunakan ke tempatnya. Dia bahkan mengeluarkan (tepatnya melempar) semua buku dari dua baris rak buku ke lantai dan menolak membereskannya, walau saya sudah memintanya dengan cara di atas.

Biasanya saya mungkin marah. Tapi kali ini saya sudah bertekad untuk tidak terpancing apapun ulahnya. Saya tetap berkata perlahan, tersenyum, bahkan memeluk Nara.

Saya sadar, anak sulung saya itu mungkin sedang merasa kurang senang. Dia sepertinya menunggu saya marah seperti biasa dan agak heran karena itu tidak terjadi.

Saya melakukan cara itu sepanjang hari. Mendekati anak saya saat berbicara juga efektif untuk mencegah saya berteriak. Menatap matanya menunjukkan kalau saya perduli, sungguh-sungguh, dan lebih baik dalam mendapatkan fokusnya.

18-09-06-20-59-52-318_deco

Saat Nara atau Kyna marah, menangis, atau menyampaikan kekecewaannya, saya mencoba berempati. Ini sudah suka saya lakukan sebelumnya, tapi tidak jarang terlupakan kalau sedang kesal atau merasa diburu waktu.

“Mama tahu Kyna masih ingin duduk di situ, tapi Kyna sudah selesai pipis. Nanti lagi ya.” Ujar saya saat anak kedua saya menangis, karena tidak mau saya ajak keluar dari kamar mandi setelah buang air kecil.

“Mama mengerti Nara kesal, tapi meja makan bukan tempat untuk bermain air. Ada tempatnya kalau Nara mau bermain. Bisa di sini atau di situ.” Kata saya waktu Nara marah, saat saya melarangnya menuang air ke dalam mangkuk bekas semangka dan berniat menuangnya lagi ke mangkuk lain.

Itu salah dua dari kalimat yang saya keluarkan hari ini.

Di penghujung hari, saya merasa Nara jadi lebih mau mendengarkan saya. Ada satu momen di mana dia yang sedang kesal berbinar matanya saat kami berbicara, yang membuat saya semakin ingin melanjutkan ini.

Saya juga merasa lebih tenang dan senang, tidak mudah marah, lebih mudah “memaafkan” tingkah laku anak-anak saya.

Senyum mereka semoga menjadi amunisi mengedalikan emosi dan membiasakan komunikasi produktif ini di hari-hari selanjutnya ya.