Category Archives: Parenting

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Keempat

Dongeng hari ini tentang Nara dan Kyna yang sudah bisa makan sendiri tetapi kadang masih suka minta disuapi. Sekali-sekali itu tidak apa-apa, tapi sebaiknya tidak terlalu sering, karena makan sendiri baik untuk melatih banyak aspek. Keterampilan makan, koordinasi mata-tangan, kemandirian, kekuatan otot tangan, dan sebagainya. “Semakin sering makan sendiri, Nara dan Kyna akan semakin pandai menyuap makanan dengan cepat dan tanpa tumpah.”

Baru selesai bercerita, Nara yang saat itu sedang saya suapkan makannya langsung minta menyuap sendiri. Kyna juga menyuap sendiri walau cuma sekali, selanjutnya dia kembali minta disuapkan.

Semoga seiring dengan cerita-cerita selanjutnya Nara dan Kyna lebih semangat untuk makan sendiri ya.

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Ketiga

Cerita hari ini berlanjut pada bagaimana Nara dan Kyna suka waktu makan, dengan semangat memilih sendiri mau makan dengan telur yang dimasak seperti apa di pagi hari.

Nara dan Kyna menyimak sambil mengunyah sarapan mereka. Tapi kemudian Kyna menangis karena bibirnya sakit. Memang sedang ada sariawan di bagian dalam bibirnya.

Kyna selalu menolak dipakaikan obat, katanya nanti tambah sakit. Akhirnya saya bercerita tentang Titi, yang sedang sariawan dan juga takut pakai obat. Tetapi Titi suka makan dan sariawan menghalanginya untuk makan makanan kesukaannya. Dia takut pakai obat, tapi dia ingin sekali bisa menikmati berbagai makanan kesukaannya lagi.

Akhirnya Titi memutuskan untuk memberanikan diri memakai obat. Ternyata tidak sesakit yang dia bayangkan. Malahan sariawannya jadi berkurang sakitnya. Titi mulai bisa makan. Dia pun melanjutkan menggunakan obatnya secara teratur.

Dua hari kemudian saat bangun tidur, sariawan Titi tidak terasa sakit lagi. Saat dilihat ibunya, ternyata sariawannya sudah tidak ada! Alhamdulillah Titi sudah sembuh.

Kyna tersenyum dan tertawa saat mendengarkan ceritanya. Dia masih takut dipakaikan obat, tapi mau mengikuti saya saat mengambil obatnya. Obat pun berhasil dipakaikan, walau diiringi tangisan. Setelahnya Kyna bisa menghabiskan sarapannya. Alhamdulillah.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Kedua

Satu hal yang sedang menjadi perhatian saya saat ini adalah ketertiban makan Nara dan Kyna.

Mulai dari jadwal makan, waktu yang dihabiskan setiap kali makan, kemandirian, tempat makan, sampai makanan dihabiskan tanpa bersisa.

Ini PR jangka panjang yang kuncinya di saya sebenarnya. Saya yang bisa membuat jadwal kemudian menyusun kegiatan mereka sedemikian rupa agar jadwalnya terpenuhi. Saya yang perlu konsisten menerapkan kesepakatan berapa lama waktu makan dan di mana kami makan beserta konsekuensinya. Saya yang perlu mencari cara agar acara makan bisa jadi menyenangkan dan anak-anak bersedia makan sendiri juga menghabiskan makanannya dengan senang hati.

Saya akan mencoba dongeng sebagai salah satu caranya.

Hari ini saya memulainya dengan kisah tentang Nara dan Kyna yang belajar makan dengan tertib. Iya, mereka paling suka cerita yang tokohnya diri mereka sendiri.

Saya bercerita versi ideal saya akan kebiasaan makan Nara dan Kyna. Mereka menyimak dengan senang, sesekali tertawa mendengar tingkah mereka sendiri dalam cerita saya. Tujuan utama saya kali ini adalah menanamkan dalam pikiran mereka betapa menyenangkannya kegiatan makan dan betapa enaknya makan dengan tertib beserta segudang manfaatnya.

[Bunda Sayang] Game Level 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng – Hari Pertama

Bercerita sesungguhnya adalah salah satu kegiatan favorit Nara dan Kyna. Selain membacakan buku, mereka suka meminta saya untuk bercerita.

Biasanya, saya menanyakan kepada mereka mau cerita apa, terutama kalau saya sedang tidak punya ide. Mereka akan menyebutkan nama binatang atau kisah yang diinginkan, tugas saya untuk menyusun ceritanya.

Kadang saya yang menentukan ceritanya dari awal. Saya juga suka memanfaatkan kegiatan ini untuk menyisipkan pesan-pesan terkait kebiasaan baik atau hal baik yang ingin saya tumbuhkan dari mereka.

Seperti kali ini. Kyna suka duduk di atas meja. Saya selalu mengingatkannya setiap kali. Kadang dia mau mendengar, kadang tetap tidak mau turun dari meja.

Saya pun bercerita tentang Riri, anak perempuan yang suka duduk sembarangan. Riri duduk di atas meja, lemari, tengah jalan. Selain mengganggu, tidak sopan, juga tidak aman. Riri dalam cerita merasakan akibat dari duduknya yang di sembarang tempat itu. Dia pun akhirnya berusaha untuk duduk pada tempatnya.

Seringnya tidak cukup satu kali cerita, perlu beberapa kali pengulangan baru suatu pesan bisa melekat dalam hati dan pikiran mereka.

Paling tidak, setiap cerita menjadi bagian dari kenangan mereka. Semoga memperkuat ikatan dan menceriakan hari-hari kami.

[Bunda Sayang] Materi 10: Membangun Karakter Anak Lewat Dongeng

Seperti level sebelumnya, materi level 10 ini kembali diberikan dalam bentuk diskusi interaktif via WAG.

Kali ini temanya adalah mendongeng. Diawali dengan video yang membangkitkan imajinasi dan mendorong peserta untuk mengalirkan rasa, Mbak Susi Firdausa, selaku fasilitator kelas langsung lanjut ke pertanyaan yang mendasari materi kali ini: “Mengapa Harus Mendongeng?”

Jawaban dari peserta menunjukkan manfaat mendongeng:
– Menguatkan bonding
– Mengajar anak dengan menyenangkan
– Menyampaikan pesan tanpa menggurui
– Mengasah imajinasi
– Melatih kemampuan menyimak
– Meningkatkan kreativitas
– Membangun karakter anak
– Menambah perbendaharaan kata

Mbak Susi kemudian menekankan bahwa dunia anak adalah dunia imajinasi, orang tua lah yang perlu mengaktifkan kembali daya imajinasinya.

Ini sebabnya tantangan level ini dibuat, agar orang tua mampu masuk dalam dunia anak dan memasukkan nilai-nilai positif melaluinya, dengan ikatan yang kuat sebagai bonusnya.

Selanjutnya Mbak Susi memberikan beberapa gambar dan mempersilakan para peserta membuat cerita berdasarkan gambar tersebut. Awalnya cerita pendek, kemudian cerita berantai yang dibuat bersambung oleh beberapa peserta.

Menarik sekali melihat bagaimana imajinasi dan kreativitas kita bisa terpicu dalam waktu singkat. Seru juga membaca cerita yang dibuat oleh kawan-kawan di kelas Bunda Sayang.

Semoga anak-anak nanti juga akan sama serunya saat mendengar dongeng dari para bunda peserta kelas ya 😁

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Aliran Rasa

Tantangan kali ini terasa kurang maksimal dijalani. Tidak seperti level sebelumnya yang bisa dilakukan secara konsisten selama paling tidak 10 hari berturut-turut, kali ini laporan terpaksa dirapel di hari-hari terakhir tantangan.

Alhamdulillah, tetap ada manfaat yang didapatkan dari mengerjakan tantangan. Kemampuan mengamati yang lebih terasah juga keyakinan yang bertambah-tambah bahwa anak-anak sungguh terlahir kreatif, senang belajar, pandai meniru, memiliki berjuta ide yang kadang tidak terbayangkan oleh orang dewasa.

Saya semakin memahami bahwa pemicu kreativitas utama yang bisa diberikan oleh orang tua adalah kepercayaan. Untuk memberi anak-anak ruang bereksplorasi, berkarya, dan menemukan solusi. Membiarkan mereka memilih dan membuat keputusan. Merelakan mereka melakukan sesuatu dengan cara mereka, berbuat kesalahan lalu belajar darinya.

Saat diberi kesempatan, bukan saja anak-anak bisa menyalurkan kreativitasnya juga belajar melalui proses yang dilaluinya, tapi kita, selaku orang tuanya juga bisa banyak belajar dari anak-anak kita.

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kesepuluh

Nara dan Kyna menyambut kehadiran adiknya dengan senang. Mereka tak henti-hentinya ingin melihat, memegang, mengelus, menggendong Raya, putri kami yang ketiga.

Mereka juga dengan cepat mengulurkan tangan saat saya minta bantuan untuk keperluan Raya. Mulai mengambilkan pakaian, membuang popok bekas pakai, atau menaruh pakaian kotor Raya di tempatnya.

Malam itu mereka mendongeng untuk Raya.

19-06-29-22-00-30-082_deco

Menggunakan boneka tangan, Nara sibuk bercerita pada Raya. Kyna juga ikut menggoyang-goyangkan boneka di samping Raya walau tanpa cerita.

Raya terlihat menyimak dengan serius :))

Saya tidak tahu darimana mereka tiba-tiba mendapat ide untuk melakukan itu. Tapi saya senang dan terharu melihatnya.

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kesembilan

Bermain petak umpet memicu kreativitas anak dalam mencari tempat persembunyian juga memikirkan di mana kira-kira temannya bersembunyi.

Sebelum ini, saya biasa mengajak Nara dan Kyna mencari saya yang bersembunyi di nernagai tempat di rumah. Lucu sekali melihat mereka mencari-cari saya dengan penuh kegembiraan. Apalagi saat mereka berhasil menemukan saya, sungguh tawa riang yang menceriakan hati.

19-06-29-21-56-56-280_deco

Sekarang, kami bergantian mencari dan bersembunyi. Nara dan Kyna benar-benar bersembunyi di mana saja 😂

Mereka masih dalam taraf konsep “kalau aku nggak bisa lihat, berarti orang lain juga nggak bisa lihat aku”. Padahal siapa juga yang nggak bisa menemukan kalau kakinya ke mana-mana kaya di foto kan 😆🤣

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kedelapan

Bongkar pasang, atau kami biasa menyebutnya balok, adalah salah satu mainan kesukaan Nara dan Kyna.

Mereka bisa menghabiskan cukup banyak waktu membuat berbagai hal dengan balok. Mulai dari binatang, peralatan rumah tangga, bangunan, dan sebagainya. Kali ini, Nara membuat kue ulang tahun dari balok tersebut.

19-06-28-19-42-34-316_deco

Sambungan-sambungan balok Nara susun sehingga menjadi kue sesuai bayangannya. Dia bilang kuenya terdiri dari berbagai macam rasa. Ada rasa coklat, strawberry, blueberry, dan lain-lain.

Nara meminta saya memilih rasa. Saya memilih rasa coklat. Dia kemudian “memotong” kue dengan rasa yang saya minta dan memberikannya kepada saya untuk dimakan. Kyna juga ikut makan kue sesuai rasa yang dia pilih.

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Ketujuh

Saatnya melukis!

Kali ini saya menyediakan tiga warna primer dan cotton but sebagai alat lukisnya.

19-06-28-19-41-21-287_deco

Mereka memyambut gembira karena belum pernah menggunakan cotton but sebelumnya.

Saya menyatukan 5 buah cotton but dengan karet gelang. Kyna langsung menggunakannya untuk melukis, sementara Nara melepaskan ikatannya lalu menggunakan satu cotton but untuk satu warna. Ini kemudian diikuti oleh Kyna, yang bergantian menggunakan kumpulan cotton but dan cotton but satuan.

Saya membebaskan mereka menggunakan cara masing-masing. Hingga di akhir, saat catnya tinggal sedikit, Nara menggunakan tangannya untuk melukis. Kyna yang cenderung lebih pembersih bolak-balik mencuci tangan dan cotton but-nya, serta menolak menggunakan tangannya untuk melukis 😆

Seperti biasa, saya meminta mereka menceritakan gambarnya. Nara bercerita panjang lebar mengenai gambar yang dia buat, juga hal-hal yang melatarbelakanginya. Kyna lebih singkat dan padat.