Category Archives: Books

Saya Mau Anak-Anak Saya Gila Baca!

Sudah cukup lama pengen nulis tentang buku-buku MDS alias Mandira Dian Semesta. Bukan, bukan cuma karena saya jualan buku-bukunya (tapi kalo mau beli atau nanya-nanya tetap boleh hubungi saya ya :D), tapi karena buku-bukunya itu emang keren banget! Semuanya!

Beneran deh. Saya itu awalnya juga tertarik daftar jadi Book Advisor MDS karena naksir sama buku-bukunya. Niatnya paling nggak kan jadi lebih murah kalo mau beli untuk KynaRa kan, kan? Sekalian nambah-nambah tabungan untuk… Ya, beli buku juga sih, hahaha.

Iya, saya emang gila buku. Saya tahan untuk nggak beli baju, sepatu, kosmetik, atau yang lain-lain. Nggak masalah kalo pakenya yang itu-itu aja. Makan pake telor ceplok juga jadi. Tapi, kalo udah yang namanya buku, kayanya seisi toko kalo bisa pengen dibeli semua xD

Itu penyakit saya sih. Saya bilang penyakit karena saya beli buku lebih banyak daripada yang saya baca. Jatohnya jadi penimbun yaa.. Tapi saya sungguh berniat membaca semuanya loh, serius. Makanya saya buat kebiasaan baru ini kan (tolong jangan tanya dulu gimana perkembangannya).

Kalo dulu saya paling sering beli novel, terutama yang bergenre fantasi, sekarang saya lebih tertarik pada buku tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Selain itu, setelah punya anak, saya tentunya juga tertarik untuk membelikan mereka buku sesuai usianya.

Naah… Buku-buku MDS ini jadi salah satu pilihan saya.

Ta.. Tapi, harganya kan mahal. Iya sih, saya juga dulu mikirnya begitu. Eh, sampai sekarang deh, hahah.

Cuma setelah saya hitung-hitung lagi, untuk buku sebanyak itu, harga segitu rasanya pantas deh. Belum liat kontennya, desainnya, manfaatnya untuk anak-anak. Dibandingkan dengan buku anak-anak lain yang kualitasnya setara, harganya juga nggak jauh beda. Boleh di-survey ke berbagai toko buku yang ada. Apalagi kalo liat harga buku-buku impor. Wuih.

Mahal atau nggaknya suatu barang itu juga sebenarnya tergantung penting atau nggaknya barang tersebut buat kita, nggak sih?

Kalo kita nggak suka buku atau nggak mengerti apa gunanya baca buku, mungkin kita melihat buku hanya sebagai kumpulan tulisan dan gambar yang terbuat dari tumpukan kertas. Kita hanya menghitung bahan bakunya, lalu merasa itu tidak sebanding dengan harga jualnya. Kita melupakan ide dan ilmu yang terkandung di dalamnya. Lebih-lebih sesuatu yang begitu besar dan mendasar yang bisa diperoleh dari membacanya.

Jadi kenapa MDS? Boleh berkunjung ke IG @kynarasbookpond untuk ngintip sebagian buku-bukunya yang cakep-cakep itu. Saya juga insya Allah akan nulis tentang buku-buku itu di sini deh.

Ada satu hal sih, sebenernya, yang membuat saya ingin sekali mendekatkan anak-anak saya pada buku, yaitu besarnya manfaat membaca(kan) buku sejak dini.

Ini bukan hanya tentang ilmu yang didapat dari membaca buku ya. Tapi lebih kepada bagaimana kegiatan membaca dan dibacakan buku merangsang otak manusia, terutama anak-anak kita, untuk berkembang, membentuk sambungan-sambungan yang diperlukan sebagai pondasi berpikirnya kelak.

Pendeknya, anak yang terbiasa dibacakan buku sejak dini, otaknya akan memiliki kemampuan berpikir serta fokus yang lebih baik. Dia kemudian juga akan lebih mudah belajar (termasuk membaca buku), menangkap serta mengolah informasi, dan menghasilkan banyak hal dari kemampuannya itu. Lebih lengkap soal pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak pernah saya post di sini.

Saya juga ingin anak-anak saya bisa menikmati kegiatan membaca. Membaca untuk kesenangan, untuk meluaskan imajinasi dan memenuhi rasa ingin tahu yang sejati. Bukan sekadar memenuhi pengetahuan yang diperlukan karena pelajaran di sekolah. Apalagi hanya semata untuk mendapatkan nilai ujian yang baik.

Jadi, ya, saya tidak akan berhenti mengusahakan buku-buku terbaik untuk anak saya. saya ingin mengajak mereka ke berbagai perpustakaan, dan yang terutama, menghabiskan banyak waktu untuk membaca bersama mereka. Dimulai dari kebiasaan membaca(kan) buku untuk mereka sebelum tidur. Seperti yang dilakukan ibu saya dulu, saat saya masih anak-anak.

Tapi semoga, daripada berhenti di gila buku, anak-anak saya kelak bisa jadi gila baca juga. Aamiin YRA.

Click to Share

Keajaiban 7 Indra: Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Melalui Permainan Sensori

Respon pertama waktu lihat buku ini: Covernya lucu! xD

Setelah itu memperhatikan judulnya dan jadi penasaran. Indra itu bukannya ada lima ya? Kalau tujuh, yang dua lagi apa dong? Terus hubungannya sama permainan sensori itu gimana ya?

Hehehe… Saya baru mau belajar lagi soal sensory play ini soalnya. Waktu beli bukunya setahun yang lalu, saya malah belum mulai mengajak Nara dan Kyna beraktivitas secara rutin. Paling pernah sekali dua kali main oobleck misalnya, yang dibuat dari tepung tapioka dicampur air terus diremas-remas. Tapi pemahaman akan pentingnya sensory play ini masih sangat kurang.

Buku ini menjabarkan secara runut, sederhana, dan menarik mengenai ketujuh indra dan fungsinya, serta pentingnya stimulasi indra-indra tersebut bagi tahap perkembangan.

Ternyata, selain indra penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, dan peraba, ada juga yang namanya indra proprioseptif, yang berkaitan dengan kesadaran tubuh (posisi anggota tubuh, posisi seseorang di lingkungan, dan besarnya kekuatan yang perlu dikeluarkan untuk melakukan suatu pergerakan), dan indra vestibular, yang berkaitan dengan gravitasi, pergerakan, dan keseimbangan (membantu menjaga keseimbangan saat bergerak).

Keajaiban 7 Indra

Ketujuh Indra tersebut berfungsi mengumpulkan informasi sensori yang masuk guna memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitar, kemudian menentukan respon yang tepat, atau disebut juga sensori integrasi.

Sensori integrasi ini merupakan dasar dari perkembangan keterampilan lain dan proses belajar selanjutnya. Jika bermasalah, maka akan terhambat pula tahapan berikutnya.

Di sinilah pentingnya permainan sensori, yaitu permainan yang mendorong anak untuk menggunakan indra-indranya, sehingga terstimulasi maksimal. Selain mengatasi masalah sensori, banyak sekali manfaat permainan sensori, misalnya untuk perkembangan motorik dan kognitifnya.

Buku ini juga dilengkapi kuesioner profil sensori, untuk melihat tingkat kepekaan masing-masing indra kita dan mengamati, sekiranya ada masalah sensori pada diri kita atau anak kita.

Tidak ketinggalan, tentunya, contoh-contoh permainan sensori yang bisa dipraktekkan bersama anak di rumah. Saya senang dengan cara pembagiannya yang sesuai indra yang ingin distimulasi, jadi lebih mudah mencari dan memahami jenis-jenis permainan sesuai fungsinya. Ada batasan usia juga variasi permainan yang bisa dilakukan, bahan dan peralatan yang diperlukan pun begitu sederhana, mudah ditemukan di sekitar kita. Nggak sabar deh, mau coba sama KynaRa!

Bukan cuma covernya, keseluruhan desain buku ini juga menarik banget sih, kalau buat saya. Dengan warna-warna cerah, ilustrasi lucu, juga foto-foto kegiatan bersama anak yang terlihat seru.

Good job Tim Rumah Dandelion! Terima kasih untuk bukunya ya. Ditunggu buku-buku selanjutnya.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Memangnya Penting?

Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk mengisi Sabtu Inspirasi di WAG Sahabat Bunda. Komunitas yang terbagi ke dalam grup Whatsapp per wilayah ini memang memiliki program, di mana tiap hari Sabtu pesertanya bergantian berbagi bermacam hal sesuai ilmu dan pengalaman masing-masing.

Karena saya memperkenalkan diri sebagai seorang Book Advisor dan sempat sedikit mengobrol soal ini di grup, jadilah saya. “ditodong” untuk berbagi tentang minat baca pada anak.

Berbekal sedikit pengetahuan dan buku yang saya miliki, saya pun menyusun artikel singkat yang diminta untuk dibagikan kepada para peserta sebagai bahan diskusi saat itu.

Berikut saya sertakan artikelnya, mana tahu bermanfaat.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak
Oleh: Aca Tadesa

1. Minat Baca VS Kualitas Sumber Daya Manusia
Dalam masyarakat kita, buku mungkin tidak termasuk benda yang populer. Ini dapat dilihat dari rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, hanya 8, 32% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas yang suka membaca berbagai sumber bacaan, seperti surat kabar, buku atau majalah. Sementara 91,68% sisanya lebih suka menonton televisi.

Data dari UNESCO pada tahun yang sama.mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, pada 1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki minat membaca.

Padahal, budaya baca adalah salah satu penentu utama tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, yang berkorelasi langsung demgan kemajuan bangsa tersebut. Bahkan, tingkat korupsi suatu negara ternyata bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.

Terbukti, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2013 Indonesia berada di peringkat ke 108 sari 187 negara di dunia, di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sedangkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada tahun 2014 menempati peringkat 107 dari 175 negara di dunia (dikeluarkan oleh lembaga Transparency International).

Kesimpulannya, minat baca rendah = kualitas SDM/ IPM rendah = tingkat korupsi tinggi. Sebaliknya, minat baca tinggi = terbentuk budaya baca = bangsa maju.

2. Buku VS Televisi atau Gawai
Di atas sudah disebutkan betapa minat baca yang tinggi menentukan kualitas SDM juga kemajuan suatu bangsa. Tapi bagaimana bisa sih?

Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan beberapa manfaat membaca, antara lain: Membantu mengembangkan pemikiran, menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan, memori, dan pemahaman, menambah pembendaharaan kata serta pola kalimat sekaligus meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami kata dan kalimat tersebut secara tersurat maupun tersirat.

Apakah televisi dan gawai memiliki manfaat yang sama? Ternyata tidak.

Terlepas dari berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari media elektronik tersebut, seperti tambahan informasi, edukasi, juga hiburan, stimulasi perkembangan otak yang didapatkan tidak semaksimal membaca bukubuku. Bahkan, jika dilakukan berlebihan bisa mengganggu fokus anak, memperpendek rentang konsentrasi, menghambat perkembangan kemampuan berbahasa, menimbulkan masalah dan kesulitan belajar, menurunkan minat baca, hingga menimbulkan kecanduan yang memperburuk semua efek yang telah disebutkan.

Media elektronik tersebut memiliki efek negatif yang lebih besar jika digunakan oleh balita. Hasil penelitian Seattle’s Children’s Hospital atas kebiasaan menonton 2.500 anak menyimpulkan bahwa untuk setiap empat jam menonton televisi per hari yang dilakukan oleh anak berusia sebelum tiga tahun, resiko terkena ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) di usia tujuh tahun meningkat 10%.

Otak anak di bawah usia dua tahun belum mampu mengolah informasi yang ditampilkan oleh layar dengan sempurna, sehingga dapat mengganggu perkembangan sel-sel otaknya. Belum lagi pengaruh cahayanya yang dapat merusak mata.

3. Kenapa penting membacakan buku pada anak sejak dini?
Ok, membaca buku memiliki banyak manfaat dan minat baca yang tinggi meningkatkan kualitas diri dan pendidikan seseorang hingga mempengaruhi kemajuan bangsa, tapi apakah harus membacakan buku sejak anak masih bayi? Bukankah dia bahkan belum mengerti?

Membacakan buku pada anak bahkan penting dilakukan sejak anak berada dalam kandungan, untuk menstimulasi indera pendengaran dan otaknya. Seperti halnya mengajak bicara, memperdengarkan musik klasik atau muratal, membacakan buku sangat baik untuk dilakukan.

Pada masa keemasan (golden age) anak, yaitu dari usia 0-5 tahun, otaknya berkembang pesat, hingga mampu menyerap informasi dan merespon stimulasi dua kali lebih cepat dari usia setelahnya. Maka membacakan buku, bahkan saat anak tampak seperti tidak memperhatikan, bisa menambah banyak kosakata baru yang tidak ditemui dalam percakapan sehari-hari, mengajarkan arti kata, melatih daya imajinasi, mengasah rentang konsentrasi, merangsang persambungan antar sel otak, mencegah speech delay, meningkatkan kemampuan berpikir, memahami kalimat, intonasi, memancing pertanyaan, meluaskan pengetahuan, dan sebagainya.

Tentunya, membacakan buku sejak dini juga merupakan salah satu cara mengenalkan anak pada buku yang diharapkan menjadi benih cintanya pada buku, membaca dan belajar.

4. Bagaimana memilih buku yang sesuai untuk anak?
Usia anak dapat menjadi pertimbangan dalam memilihkan buku yang tepat untuknya:
a. 0-2 tahun
>> Board book, buku kain atau buku busa sehingga aman untuknya dan tidak gampang rusak oleh anak yang masih dalam tahap “memakan”, menarik, dan melempar.
>> Berwarna cerah atau kontras untuk merangsang indera penglihatannya.
>> Tulisan sedikit, bahkan hanya satu atau dua kata saja.

b. 2-4 tahun
>> Board book, buku aktivitas, buku main, busy book.
>> Berisi kalimat sederhana yang berima.

c. 4-6 tahun
>> Picture book, pop-up book, layer book, buku aktivitas.
>> Kalimat lebih panjang, kisah bermakna.

d. 7-12 tahun
>> Novel pendek, kumpulan dongeng, ensiklopedi
>> Sudah bisa membaca mandiri dengan pendampingan.

Selain usia, kemampuan berbahasa, kebutuhan dan ketertarikan anak juga perlu diperhatikan.

5. Bagaimana jika anak tidak tertarik?
Anak tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya. Awali dengan membuatnya terbiasa akan buku. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk menarik minat anak:

    a. Konsisten membacakan buku sejak dini.

>> Walau terkesan diabaikan, terus bacakan dengan pantang menyerah 😆 Jadikan membacakan buku sebagai bagian dari rutinitas anak. Selain menjadi terbiasa, manfaat dibacakan buku juga didapatkan olehnya. Bonding dengan orangtua juga bisa didapatkan dengan membacakan buku. Anak bisa mendapatkan kenangan indah dan kesan manis tentang buku dari kegiatan ini.

    b. Meletakkan buku di tempat yang terjangkau penglihatan dan tangannya.

>> Letakkan buku di berbagai tempat di sekitar anak, sehingga ia tidak menjadi benda yang asing dan jauh melainkan dekat dengan kesehariannya.

    c. Jadikan buku sebagai benda yang terkesan seru dan menyenangkan.

>> Tidak harus selalu tersusun rapi, buku juga bisa disusun membentuk jembatan atau terowongan, ditata bersama mainan, sehingga anak mengesankannya sebagai benda yang menyenangkan.

    d. Berikan contoh

>> Anak meniru orangtuanya. Baca buku di sekitarnya, biarkan ia mengamati dan mengikuti.

Children are made readers on the laps of their parents. —Emilie Buchwald

Books open your mind, broaden your mind, and strengthen you as nothing else can. -William Feather

Sumber bacaan:
Trelease, Jim. 2017. The Read-Aloud Handbook
Mandira Dian Semesta. Panduan Book Advisor.
al-Qarni, Dr. Aidh bin Abdullah. La Tahzan.

Islam itu Ramah, Bukan Marah

Itu adalah judul buku pertama yang saya baca di bulan ini. Membaca judulnya yang bagi saya terasa sungguh relevan dengan keadaan umat muslim saat ini, membuat saya tertarik untuk mengintip isinya.

Buku karya Irfan Amalee ini terlihat sederhana, dengan ukuran tidak terlalu besar dan tebal sekitar 200 halaman. Namun, saya menemukan banyak pencerahan serta sudut pandang baru dari tulisan penulis yang mudah dicerna.

Isi buku dibagi menjadi dua bagian:
>> Bagian 1: All About Peace
Pada bagian ini penulis membahas mengenai sifat manusia, penyebab konflik, peperangan, persatuan, hingga cara kerja otak dan kemampuan merespon dengan bijaksana/ hilm.

>> Bagian 2: Character Building
Di sini penulis menekankan pada nilai-nilai yang perlu dimiliki dan hal yang perlu dilakukan seseorang agar dapat menjadi bagian dari Islam yang maju dan damai, sesuai nilai ajarannya.

Islam Ramah Bukan Marah

Hal-hal yang ditulis dalam buku ini mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru atau sepenuhnya belum pernah saya dengar, tapi entah bagaimana, cara penulis menyampaikannya memunculkan semacam pemahaman baru dalam melihat suatu hal.

Penulis berhasil menunjukkan poin-poin penting dibalik berbagai hal yang dia bahas, dan walaupun tiap bagian tersusun dari bab-bab berisi tulisan pendek yang terasa ringan, semua terasa menyatu dan berkesinambungan.

Beberapa hal yang saya kumpulkan dari buku ini, misalnya:

  • Tentang betapa hati yang sakit akan menyakiti, da pentingnya harga diri sebagai pemicu sekaligus pengakhir konflik.
  • Bahwa untuk mengubah pemahaman seseorang , pengalaman jauh lebih efektif daripada perdebatan.
  • Tentang hilm/ response ability/ kemampuan merespon sesuatu dengan bijak, tidak reaktif. Sifat yang dimiliki oleh Rasulullah dan seperti hilang pada diri banyak orang zaman sekarang, yang terlalu cepat berbagi berita yang belum tentu benar, cepat memberi komentar, cepat marah, menuduh, menghakimi.
  • Tentang bagaimana pendidikan kita cenderung berfokus pada stimulasi otak reptilia manusia dengan menakut-nakuti daripada merangsang neo-cortex agar berpikir aktif dan kritis.
  • Tentang appreciate inquiry dan discovering ability, yaitu fokus pada hal positif juga kelebihan seseorang atau sesuatu.
  • Tentang konsep compassionate school atau sekolah yang beradab. Pentingnya hidden curriculum/ culture sebuah sekolah untuk menjadi pertimbangan saat akan memilih tempat belajar, daripada sekadar melihat prestasi akademik atau berbagai visi, misi dan kurikulum yang dikemukakan.
  • Tentang pentingnya budaya literasi dan bagaimana perintah membaca diulang sebanyak 33 kali, lebih banyak dari perintah memakai jilbab misalnya, yang artinya, kalau menutup aurat itu wajib dan penting, maka membaca atau menuntut ilmu itu lebih penting lagi. Menjalankan syariat harus ditunjang oleh ilmu.
  • Tentang Islamicity Index yang dibuat berdasarkan indikator nilai-nilai Islam yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadis, di mana Indonesia dan negara-negara Islam menempati urutan terendah sementara di urutan teratas ditempati negara-negara non-muslim.

Banyak lah. Dari satu buku itu mungkin bisa dikembangkan jadi banyak artikel.

Kalaupun ada yang kurang dari buku ini, itu adalah hilangnya poin nomor dua dari lima poin yang disebutkan pada halaman 111-116.

Irfan Amalee merupakan CEO Mizan Application Publisher dan tengah membangun Peace Generation, yang dicita-citakan menjadi sebuah social enterprise berskala internasional. Tulisannya dalam buku ini turut berjasa membuat saya memenuhi target membaca sekaligus kembali menulis review buku.

Books I Read in 2015

Yes, you read that right: 2015.

Hahaha.. My reading habit had been de-esclating through the years. From 66 books a year to 57 books to only 12 books on 2015, at least until I stop writing the list, than stop making the post at all xD

Well, I’m about to start again. It’s the middle of the year, so I’m just going to put in the books I can recall from the past months. I’m going to put ini in the page as usual than move it into post when the year ended.

Happy reading, Aca! :)

=======

New year, new book list. You can also check out the list of books I read on 2013 and 2014. Let’s spread the beauty of reading! 😀

“The more you read, the more things you know. The more that you learn, the more places you’ll go.” – Dr. Seuss-

Beautiful books, beautiful mind ;) Beautiful books, beautiful mind 😉

Books I read in 2015:

>> January:
1. Wonder Struck – Brian Selznick

>> February:
2. Mommies Daily Pregnancy Checklist Book – Tim Mommies Daily
3. The Mortal Instruments: City of Heavenly Fire – Cassandra Clare

>> March:
4. Breastfriends: inspirASI 22 – Adenita
5. Terminal – Roderick Gordon & Brian Williams
6. The Giver – Lois Lowry

>> April:
7. Magical Seira #3: Seira and the Destined Farewell
8. Pertarungan Jiwa Billy – Daniel Keyes

>> May:
9. Wanita Dalam Lukisan [Rose Madder] – Stephen King
10. Anak juga Manusia – Angga Setyawan
11. Kenali Anakmu – Angga Setyawan
12. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair – C. S. Lewis

[Chukyuu Intensive Class] Task 2: KonMari Habit (Books)

Setelah membentuk kebiasaan untuk kategori pakaian pada tugas pertama, tugas kedua ini berlanjut pada kategori kedua: Buku.

Saat membereskan buku pada Kelas Shokyuu, saya sempat merasa ragu. Mampukah saya memilah dan menyingkirkan buku-buku yang saya simpan?

Ternyata bisa juga ya. Dan hingga saat ini, saya masih merasa senang saat melewati rak buku kami itu. Semangat membaca buku pun rasanya jadi muncul lagi. Karena sudah dipilah, saya jadi menemukan buku-buku yang ingin saya tuntaskan. Saya memindahkan sebagian darinya ke rak buku di lantai bawah (karena rak buku terletak di lantai dua rumah kami).

Terkait dengan pembentukan kebiasaan ini, saya ingin mengembalikan buku kepada fungsinya, yaitu: Dibaca xD

Selama ini, ada saja distraksi yang membuat kegiatan ini menjadi bukan prioritas. Kali ini, saya akan kembali membuat target berapa banyak saya membaca buku dalam satu hari. Ini seiring juga dengan target menulis yang saya buat. Semoga dengan lebih banyak membaca, lebih produktif dan berkualitas pula tulisan saya.

Agar mudah dilihat, checklist-nya saya gabungkan dengan kategori sebelumnya. Baru hari keempat sudah ada yang lewat dari target -_-. Tapi tidak apa. Rencananya, seperti juga target menulis, halaman yang kurang saya jadikan utang untuk hari selanjutnya.

Chukyuu Task 2

Reading Update 2: Fantasy Novel is the Best!

I’m on page 299 of Clockwork Angel. Just finished chapter 9 and going to start chapter 10.

My feeling so far: excited. It feels like going home 😀

I’m glad I get to travel the fantasy world again. Where everything is strange yet familiar at the same time. Where you get to understand things while enjoying the world some people found unacceptable.

I love stories and fantasy tells stories in the best way that’s impossible for some other genres to enter. It opens all possibilities. Limitless. Just the way I like it.

Reading Update

So I start reading the fantasy novel today. My choice fell on The Infernal Devices Series: Clockwork Angel by Cassandra Clare, which is the prequel of The Mortal Instrument Series.

Like what I’ve mention here, hopefully this would be the door to go back to the reading like crazy world. I will start with 50 pages a day.

What are you reading right now? Feel free to share on the comment section 😀 (please).

 

Liven Up My Reading spirit

I miss reading like crazy, read up to 13 books in a month, enjoying every moment of it.

The 2015 book list stop on May. That means three months without reading any book. The truth is, I actually read some books, I just never finish any of them.

I think I will go to fantasy novel to liven up my reading spirit. It usually makes me ready to read everything else.

What kind of books that you like the most?

How Do You Write a Review?

After more than four years, I found that I mostly post about book reviews in this blog.

The reason to that, I think, is because I love to read and I like to share what I’ve read.

I use to discuss the book that I read with my sisters. Especially if we all have read the book and found it interesting, or when I read a book and I want them to read it, either for the knowledge or nice stories in it I thought they should know.

We could spent hours to discuss a book. About how the story goes (how surprising, or how we disagree), about the characters in the book (how we love or hate them), about how true some of the wisdom that lies in it, how we learn from the book, how we amaze of how the writer comes up with such ideas and put them into words.

One thing that I know would make me like a book and wanting to discuss about it is how it make me feel. That is what my review is mostly about too.

I’m not an expert of how to write a good review. What should or should not be in it. I don’t know that much about technicality as some other people do. What a good book should, technically, consist of. I might not even read as many books as some avid readers do, to have a masive insight and comparison or knowledge about genres and stuff (see, I don’t even know what to name it).

I just write a review based on how I feel about the book (or film, or place, or event). Any detailed that follows is to describe the feeling.

There are books that open my eyes, shaking my minds with some new point of views that I never thought before. There are books telling me some stuff I’ve heard before with some different kind of ways. There are books that make me understand things better or completed my previous knowledge; connecting the dots. There are books that open up my imagination, bring me to places I’ve never been. Books that make me laugh and cry, inspired and motivated.

BR 2

I’m pretty easy to please. I might dislike a book, but, so far, never hate it. I always try to finish what I started to read, no matter how boring it may be. In most of the cases I eventually enjoy the book or got something from it. So, yes, I believe that we should give books a chance like we should give people chances to show the good side of them.

It is more challenging, however, to write a review than simply discuss it with my sisters. The review is in english, first of all. Then, I need to find the right words to describe some of the many things I want to share, in one single post (instead of bubbling every now and then about random pieces of the book). And the hardest part is: I should watch out for spoilers! ;D

That is why, I didn’t write reviews as much as I read. But I’m planning to write more.

I think sharing what you’ve read is helping you to have a better memory and understanding about it. It’s also a good practice to express your thought.

How about you? How do you review a book? What do you think should or should not be in it?

I would also like to hear your opinion about the reviews I’ve wrote so far. The comment box is open for you. Thanks! :)