Category Archives: Books

P.A.R.E.N.T: Cara Membesarkan Anak yang Tangguh dan Bahagia

Sesuai rencana, saya akan membahas lebih jauh metode pengasuhan yang diterapkan oleh orang Denmark, yang menurut penulis buku “The Danish Way of Parenting” menjadi salah satu faktor utama yang menjadikan Denmark negara paling bahagia di dunia.

Penulis menyingkat metode tersebut ke dalam kata PARENT, kemudian menjabarkan tiap hurufnya dalam sebuah bab. Di sini, saya mencoba merangkumnya dalam satu tulisan singkat. Semoga cukup memberi gambaran filosofi atau metode pengasuhan macam apa sih yang digunakan di Denmark.

1. P untuk Play
Bermain adalah sesuatu yang secara alami senang dilakukan oleh anak-anak, namun orang tua seringkali melihatnya sebagai sesuatu yang dilakukan sekadar sebagai hiburan, selingan dari kegiatan belajar. Bahkan, dianggap membuang-buang waktu jika dirasa dilakukan terlalu banyak. Padahal, dari bermain itulah anak-anak paling banyak belajar. Bermain mengajarkan ketangguhan, cara mengatasi stres, beradaptasi dan berbagai keterampilan lain yang dibutuhkan anak untuk menjadi manusia yang sukses dan bahagia.

Orang Denmark menyadari hal ini. Mereka lebih berfokus pada keterampilan hidup anak daripada menekan mereka secara akademis. Anak-anak dibiarkan bermain dan tidak memulai sekolah hingga usia 7 tahun, itupun masih banyak waktu bermain bebasnya. Mereka juga menganut filosofi “proximal development” yang intinya memberikan ruang dan waktu untuk anak berkembang, tanpa intervensi berlebihan. Mereka percaya setiap anak perlu menumbuhkan dorongan internal untuk meraih sesuatu daripada mengejar faktor eksternal seperti nilai yang baik, penghargaan, atau pujian orang tua. Ini juga akan menumbuhkan kendali internal yang kuat pada anak, yang berdasarkan riset mengurangi depresi dan kecemasan.

2. A untuk Autentisitas
Film-film Denmark tidak selalu menyajikan akhir yang bahagia. Mereka lebih suka memperlihatkan sebuah kisah sebagaimana kehidupan adanya. Ada tragedi, kesedihan, kegagalan, hal-hal yang menyakitkan. Hal ininjuga berlaku pada dongeng anak-anak, seperti misalnya cerita-cerita yang ditulis oleh Hans Christian Andersen.

Jika dalam versi bahasa Inggrisnya cerita-cerita ini diubah dengan akhir yang bahagia dengan anggapan versi asli kurang tepat untuk anak, orang Denmark percaya bahwa tragedi dan kesedihan juga perlu dibahas bersama anak-anak. Hal ini berguna untuk membantu mengenali dan menerima semua emosi dalam diri, bersyukur, dan menumbuhkan empati pada orang lain. Jujur pada diri sendiri membantu kita memahami apa yang kita inginkan serta menyusun strategi menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Orang Denmark juga tidak terbiasa membanjiri anak dengan pujian. Mereka lebih fokus pada usaha daripada hasil. Apresiasi diberikan pada proses dan usaha yang dilakukan. Hal ini mendorong terbangunnya pola pikir yang berkembang (growth mindset), bahwa kecerdasan dan keberhasilan bisa diusahakan daripada pola pikir permanen (fixed mindset), yaitu kecerdasan adalah sesuatu yang berasal dari sananya dan sudah demikian adanya.

Pola pikir permanen membuat anak cepat puas atau melakukan sesuatu hanya untuk mendapat gelar itu dan mudah menyerah atau takut mencoba lalu gagal dan kehilangan gelarnya.

3. R untuk Reframing
Memaknai ulang setiap situasi adalah pembawaan alami yang dimiliki oleh orang Denmark dan diwariskan pada anak-anak mereka. Orang Denmark selalu bisa menemukan sudut pandang yang positif dari situasi yang bisa jadi kurang baik bahkan menekan.

Mereka menerima bahwa ada hal-hal negatif dalam hidup namun memilih untuk berfokus pada sisi positifnya. Daripada satu aspek kurang baik dari suatu hal, mereka melihat gambaran besarnya, menginterpretasikan hal negatif menjadi lebih positif, berprasangka baik, dan menggunakan bahasa yang lebih positif dalam memaknai sesuatu. Ini termasuk ke dalam memisahkan seseorang dari perilakunya dan menghindari pemberian label.

4. E untuk Empati
Keyakinan orang Denmark bahwa peduli kepada kebahagiaan orang lain selalu penting untuk menciptakan kebahagiaan diri sendiri mendorong mereka untuk berusaha memahami orang lain.

Orang Denmark memiliki kecenderungan untuk menunjukkan kualitas karakter baik orang atau anak lain kepada anak mereka. Daripada menghakimi, mereka akan mencoba menjelaskan alasan di balik perilaku kurang menyenangkan dari orang lain. Sehingga mereka terbiasa melihat kebaikan dalam diri orang lain, percaya bahwa perilaku bukanlah sesuatu yang mendefinisikan seseorang namun sesuatu yang bersifat sementara dan dipengaruhi oleh situasi.

Mereka menerima setiap emosi yang dirasakan orang lain, termasuk anak-anak mereka, berusaha memahami dan menghormatinya.

5. N untuk No Ultimatum
Hubungan antara anak dan orang tua kadang bisa berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan. Orang tua kerap menggunakan ancaman bahkan kemudian kekerasan fisik saat merasa tidak didengar dan diremehkan “kuasa”-nya. Orang Denmark percaya bahwa rasa hormat berlaku dua arah dan karenanya mengasuh anak-anak mereka dengan penuh hormat daripada sekadar menumbuhkan rasa takut.

Orang Denmark percaya setiap anak baik dan menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk memikirkan cara menghindari masalah daripada menghukum anak saat melakukannya. Guru Denmark dilatih untuk melihat kebutuhan spesifik setiap siswa, membuat rencana dan tujuan bersama masing-masingnya, juga membuat kesepakatan bersama seluruh kelas akan peraturan apa yang bisa diterapkan untuk mewujudkan kelas yang baik.

Orang Denmark tidak sekadar melarang tapi menjelaskan alasan dibalik sebuah peraturan, membantu anak menemukan jalan keluar dari suatu masalah atau perilaku yang kurang tepat. Mereka juga lebih santai terhadap penolakan-penolakan kecil anak, tidak menjadikan semuanya sebagai perebutan kekuasaan, memberi kesempatan anak belajar akan konsekuensi dari sebuah pilihan.

6. T untuk Togetherness
Orang Denmark punya budaya “bersantai bersama” teman dan keluarga atau biasa dikenal dengan hygge (baca: huga). Mereka benar-benar menganggap penting hal ini sehingga semua orang bekerja sama untuk menciptakan susana yang nyaman.

Semua saling membantu jadi tidak ada satu atau beberapa orang yang merasa bekerja sendirian, partisipasi dalam permainan atau kegiatan akan dilakukan walau sedang tidak ingin. Masalah pribadi ditinggalkan di belakang, perselisihan dihindari, semua berusaha semaksimal mungkin untuk bersantai dan membawa suasana positif ke dalam waktu bersama ini.

Konsep kebersamaan ini membantu mereka merasa terhubung dengan yang lain, memberikan sebuah arti dan tujuan. Mengesampingkan diri sendiri untuk manfaat keseluruhan, menciptakan suasana menyenangkan yang baik diwariskan kepada anak-anak.

Konsep ini tidak berakhir pada satu atau dua pertemuan saja, tapi meluas dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak Denmark didorong untuk melihat kekuatan dan kelemahan orang lain sebagai celah untuk membantu dan bekerja sama dalam satu tim. Mereka diajarkan untuk rendah hati dan peduli pada kesulitan serta keberhasilan orang lain juga. Ini berlaku dalam setiap aspek, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan pekerjaan, hingga masyarakat pada umumnya. Ikatan sosial dan sistem dukungan di Denmark karenanya sangat kuat.

=====

Seluruh prinsip di atas sudah menyatu dalam budaya Denmark. Tidak heran kalau Denmark terpilih menjadi negara paling bahagia di dunia selama puluhan tahun.

Mungkin diperlukan usaha lebih bagi kita untuk belajar dari prinsip-prinsip tersebut dan menerapkannya dalam hidup kita, namun rasanya patut dicoba untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bahagia, dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

Click to Share

[Book Review] The Danish Way of Parenting

Akhirnya saya mulai membiasakan baca buku lagi mulai Maret lalu, seiring dengan pembentukan kebiasaan berkaitan dengan tugas Kelas Gemari Madya.

Salah satu kebiasaan yang mau dibangun kembali adalah rutin membaca buku minimal 20 halaman per hari. Bukan rencana baru memang. Tapi satu-satunya cara mengubah kegagalan menjadi keberhasilan adalah tidak berhenti mencoba, berusaha lagi dan lagi dengan semangat dan strategi baru. Kali ini cukup terbantu dengan aplikasi Habits dan Read More.

Buku “The Danish Way of Parenting” adalah buku kedua yang selesai dibaca dengan bantuannya.

Isi buku ini sebenarnya membantu dirinya sendiri untuk selesai dibaca dengan cepat sih. Menarik banget soalnya. Paling tidak untuk saya.

Bikin ngangguk-ngangguk setuju selama bacanya dan jadi pengen bagiin semuanya ke semua orang. Faktanya, beberapa bagian saya foto dan bagikan ke keluarga dekat untuk didiskusikan.

19-04-22-15-38-36-742_deco

Penulisnya, awalnya mencari tahu apa sih yang bikin Denmark dinobatkan jadi negara paling bahagia sedunia oleh World Happiness Report-nya PBB, bukan cuma setahun dua tahun tapi selama 40 tahun!

Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa salah satu faktor terbesar yang mempengaruhinya adalah pola pengasuhan.

Agak ngiri sih, sama orang Denmark. Soalnya, seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, pola asuh turun-temurun itu bukan sesuatu yang mudah untuk diubah. Kebanyakan kita di Indonesia berjuang untuk tidak mengulang pola asuh yang kurang efektif yang sudah tertanam selama puluhan tahun kita hidup sebagai anak. Pola asuh yang sudah ada dari zaman orang tua, kakek nenek, bahkan barangkali nenek moyang kita ūüėÖ

Nah, orang Denmark juga sama. Mereka punya filosofi dan pola asuh warisan. Bedanya, pola asuh yang mereka wariskan itu adalah yang secara teori parenting baru kita usahakan untuk diterapkan. Pola asuh yang terbukti menghasilkan anak-anak yang tangguh, baik dalam pengelolaan emosi, serta bahagia. Anak-anak yang bahagia ini kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, yang kembali melakukan dan mewariskan pola asuh yang sama ke anak-anak mereka. Begitu seterusnya hingga Denmark pun menjadi negara paling bahagia sedunia selama puluhan tahun.

Penulis membagi buku ini ke dalam 7 bab. Bab pertama meminta kita “Mengenali Apa yang Menjadi Pembawaan Alami Kita”. Mengamati setelan bawaan atau kecenderungan alami kita dalam bereaksi, khususnya sebagai orang tua, membantu kita memutuskan mana yang mau kita ubah dan seperti apa. Sehingga kita tidak hanya mengulang apa yang sudah tertanam, yang kebanyakan berasal dari cara kita dibesarkan.

Pada bab-bab selanjutnya, penulis menjabarkan prinsip pengasuhan ala Denmark yang dibagi menggunakan singkatan PARENT (Play; Authenticity; Reframing; Empathy; No Ultimatum; Togetherness). Tentang ini, saya berencana membahasnya lebih lanjut dalam post terpisah.

Seperti buku-buku tentang pengasuhan lainnya, yang terpenting adalah kesediaan kita membuka hati dan pikiran akan cara-cara yang bisa jadi lebih efektif dalam mengasuh anak-anak kita. Kemudian, secara sadar memanfaatkan jeda sebelum bereaksi agar bisa memilih menggunakan cara-cara tersebut daripada cara kita yang biasa, yang kita tahu tidak efektif namun kembali kita lakukan atas dasar kebiasaan.

Perlu kita ingat, cara kita membesarkan anak, tidak hanya berpengaruh pada perkembangan dan masa depan mereka, namun juga bergenerasi-generasi setelahnya. Tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Betapa penting peran dan tanggung jawab kita karenanya.

Penulis buku ini berhasil menunjukkan hal itu dari sisi positif pengasuhan yang diwariskan selama bertahun-tahun oleh orang-orang paling bahagia di dunia.

Sudut pandang Jessica, sebagai seorang Amerika yang bersuamikan orang Denmark beserta pengalaman-pengalaman pribadinya dan pengalaman Iben sebagai psikoterapis naratif di Denmark, memperkaya buku ini. Ini juga memudahkan saya dalam menangkap dan menyerap apa yang ingin disampaikan dalam buku ini.

Books I read in 2018

It’s not new year, but it’s never too late to start a good habit.

After I stopped my annual book list on 2015, I decided to start again right now, along with my new target to read at least 50 pages a day. So, here we go.

Reading Quotes

Books I read in 2018:

>> April:
1. Kartu Anak Nakal – Hwang Sun Mi
2. Sam Di Gi: Bocah yang Tidak Bisa Membaca -Won Yousoon

>> July:
3. Tiga Bapak dari Tiga Dara – Tita, Inas, Imelda
4. Kembali Ke Titik Nol – Saptuari Sugiharto
5. Berani Jadi Taubaters – Saptuari Sugiharto
6. Mencari Jalan Pulang – Saptuari Sugiharto
7. Doa Tak Tertolak – Saptuari Sugiharto

>> August:
8. Islam Itu Ramah, Bukan Marah – Irfan Amalee
9. Keajaiban 7 Indra – Tim Rumah Dandelion

Saya Mau Anak-Anak Saya Gila Baca!

Sudah cukup lama pengen nulis tentang buku-buku MDS alias Mandira Dian Semesta. Bukan, bukan cuma karena saya jualan buku-bukunya (tapi kalo mau beli atau nanya-nanya tetap boleh hubungi saya ya :D), tapi karena buku-bukunya itu emang keren banget! Semuanya!

Beneran deh. Saya itu awalnya juga tertarik daftar jadi Book Advisor MDS karena naksir sama buku-bukunya. Niatnya paling nggak kan jadi lebih murah kalo mau beli untuk KynaRa kan, kan? Sekalian nambah-nambah tabungan untuk… Ya, beli buku juga sih, hahaha.

Iya, saya emang gila buku. Saya tahan untuk nggak beli baju, sepatu, kosmetik, atau yang lain-lain. Nggak masalah kalo pakenya yang itu-itu aja. Makan pake telor ceplok juga jadi. Tapi, kalo udah yang namanya buku, kayanya seisi toko kalo bisa pengen dibeli semua xD

Itu penyakit saya sih. Saya bilang penyakit karena saya beli buku lebih banyak daripada yang saya baca. Jatohnya jadi penimbun yaa.. Tapi saya sungguh berniat membaca semuanya loh, serius. Makanya saya buat kebiasaan baru ini kan (tolong jangan tanya dulu gimana perkembangannya).

Kalo dulu saya paling sering beli novel, terutama yang bergenre fantasi, sekarang saya lebih tertarik pada buku tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Selain itu, setelah punya anak, saya tentunya juga tertarik untuk membelikan mereka buku sesuai usianya.

Naah… Buku-buku MDS ini jadi salah satu pilihan saya.

Ta.. Tapi, harganya kan mahal. Iya sih, saya juga dulu mikirnya begitu. Eh, sampai sekarang deh, hahah.

Cuma setelah saya hitung-hitung lagi, untuk buku sebanyak itu, harga segitu rasanya pantas deh. Belum liat kontennya, desainnya, manfaatnya untuk anak-anak. Dibandingkan dengan buku anak-anak lain yang kualitasnya setara, harganya juga nggak jauh beda. Boleh di-survey ke berbagai toko buku yang ada. Apalagi kalo liat harga buku-buku impor. Wuih.

Mahal atau nggaknya suatu barang itu juga sebenarnya tergantung penting atau nggaknya barang tersebut buat kita, nggak sih?

Kalo kita nggak suka buku atau nggak mengerti apa gunanya baca buku, mungkin kita melihat buku hanya sebagai kumpulan tulisan dan gambar yang terbuat dari tumpukan kertas. Kita hanya menghitung bahan bakunya, lalu merasa itu tidak sebanding dengan harga jualnya. Kita melupakan ide dan ilmu yang terkandung di dalamnya. Lebih-lebih sesuatu yang begitu besar dan mendasar yang bisa diperoleh dari membacanya.

Jadi kenapa MDS? Boleh berkunjung ke IG @kynarasbookpond untuk ngintip sebagian buku-bukunya yang cakep-cakep itu. Saya juga insya Allah akan nulis tentang buku-buku itu di sini deh.

Ada satu hal sih, sebenernya, yang membuat saya ingin sekali mendekatkan anak-anak saya pada buku, yaitu besarnya manfaat membaca(kan) buku sejak dini.

Ini bukan hanya tentang ilmu yang didapat dari membaca buku ya. Tapi lebih kepada bagaimana kegiatan membaca dan dibacakan buku merangsang otak manusia, terutama anak-anak kita, untuk berkembang, membentuk sambungan-sambungan yang diperlukan sebagai pondasi berpikirnya kelak.

Pendeknya, anak yang terbiasa dibacakan buku sejak dini, otaknya akan memiliki kemampuan berpikir serta fokus yang lebih baik. Dia kemudian juga akan lebih mudah belajar (termasuk membaca buku), menangkap serta mengolah informasi, dan menghasilkan banyak hal dari kemampuannya itu. Lebih lengkap soal pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak pernah saya post di sini.

Saya juga ingin anak-anak saya bisa menikmati kegiatan membaca. Membaca untuk kesenangan, untuk meluaskan imajinasi dan memenuhi rasa ingin tahu yang sejati. Bukan sekadar memenuhi pengetahuan yang diperlukan karena pelajaran di sekolah. Apalagi hanya semata untuk mendapatkan nilai ujian yang baik.

Jadi, ya, saya tidak akan berhenti mengusahakan buku-buku terbaik untuk anak saya. saya ingin mengajak mereka ke berbagai perpustakaan, dan yang terutama, menghabiskan banyak waktu untuk membaca bersama mereka. Dimulai dari kebiasaan membaca(kan) buku untuk mereka sebelum tidur. Seperti yang dilakukan ibu saya dulu, saat saya masih anak-anak.

Tapi semoga, daripada berhenti di gila buku, anak-anak saya kelak bisa jadi gila baca juga. Aamiin YRA.

Keajaiban 7 Indra: Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Melalui Permainan Sensori

Respon pertama waktu lihat buku ini: Covernya lucu! xD

Setelah itu memperhatikan judulnya dan jadi penasaran. Indra itu bukannya ada lima ya? Kalau tujuh, yang dua lagi apa dong? Terus hubungannya sama permainan sensori itu gimana ya?

Hehehe… Saya baru mau belajar lagi soal sensory play ini soalnya. Waktu beli bukunya setahun yang lalu, saya malah belum mulai mengajak Nara dan Kyna beraktivitas secara rutin. Paling pernah sekali dua kali main oobleck misalnya, yang dibuat dari tepung tapioka dicampur air terus diremas-remas. Tapi pemahaman akan pentingnya sensory play ini masih sangat kurang.

Buku ini menjabarkan secara runut, sederhana, dan menarik mengenai ketujuh indra dan fungsinya, serta pentingnya stimulasi indra-indra tersebut bagi tahap perkembangan.

Ternyata, selain indra penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, dan peraba, ada juga yang namanya indra proprioseptif, yang berkaitan dengan kesadaran tubuh (posisi anggota tubuh, posisi seseorang di lingkungan, dan besarnya kekuatan yang perlu dikeluarkan untuk melakukan suatu pergerakan), dan indra vestibular, yang berkaitan dengan gravitasi, pergerakan, dan keseimbangan (membantu menjaga keseimbangan saat bergerak).

Keajaiban 7 Indra

Ketujuh Indra tersebut berfungsi mengumpulkan informasi sensori yang masuk guna memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitar, kemudian menentukan respon yang tepat, atau disebut juga sensori integrasi.

Sensori integrasi ini merupakan dasar dari perkembangan keterampilan lain dan proses belajar selanjutnya. Jika bermasalah, maka akan terhambat pula tahapan berikutnya.

Di sinilah pentingnya permainan sensori, yaitu permainan yang mendorong anak untuk menggunakan indra-indranya, sehingga terstimulasi maksimal. Selain mengatasi masalah sensori, banyak sekali manfaat permainan sensori, misalnya untuk perkembangan motorik dan kognitifnya.

Buku ini juga dilengkapi kuesioner profil sensori, untuk melihat tingkat kepekaan masing-masing indra kita dan mengamati, sekiranya ada masalah sensori pada diri kita atau anak kita.

Tidak ketinggalan, tentunya, contoh-contoh permainan sensori yang bisa dipraktekkan bersama anak di rumah. Saya senang dengan cara pembagiannya yang sesuai indra yang ingin distimulasi, jadi lebih mudah mencari dan memahami jenis-jenis permainan sesuai fungsinya. Ada batasan usia juga variasi permainan yang bisa dilakukan, bahan dan peralatan yang diperlukan pun begitu sederhana, mudah ditemukan di sekitar kita. Nggak sabar deh, mau coba sama KynaRa!

Bukan cuma covernya, keseluruhan desain buku ini juga menarik banget sih, kalau buat saya. Dengan warna-warna cerah, ilustrasi lucu, juga foto-foto kegiatan bersama anak yang terlihat seru.

Good job Tim Rumah Dandelion! Terima kasih untuk bukunya ya. Ditunggu buku-buku selanjutnya.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Memangnya Penting?

Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk mengisi Sabtu Inspirasi di WAG Sahabat Bunda. Komunitas yang terbagi ke dalam grup Whatsapp per wilayah ini memang memiliki program, di mana tiap hari Sabtu pesertanya bergantian berbagi bermacam hal sesuai ilmu dan pengalaman masing-masing.

Karena saya memperkenalkan diri sebagai seorang Book Advisor dan sempat sedikit mengobrol soal ini di grup, jadilah saya. “ditodong” untuk berbagi tentang minat baca pada anak.

Berbekal sedikit pengetahuan dan buku yang saya miliki, saya pun menyusun artikel singkat yang diminta untuk dibagikan kepada para peserta sebagai bahan diskusi saat itu.

Berikut saya sertakan artikelnya, mana tahu bermanfaat.

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak
Oleh: Aca Tadesa

1. Minat Baca VS Kualitas Sumber Daya Manusia
Dalam masyarakat kita, buku mungkin tidak termasuk benda yang populer. Ini dapat dilihat dari rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, hanya 8, 32% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas yang suka membaca berbagai sumber bacaan, seperti surat kabar, buku atau majalah. Sementara 91,68% sisanya lebih suka menonton televisi.

Data dari UNESCO pada tahun yang sama.mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, pada 1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki minat membaca.

Padahal, budaya baca adalah salah satu penentu utama tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, yang berkorelasi langsung demgan kemajuan bangsa tersebut. Bahkan, tingkat korupsi suatu negara ternyata bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.

Terbukti, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2013 Indonesia berada di peringkat ke 108 sari 187 negara di dunia, di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sedangkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada tahun 2014 menempati peringkat 107 dari 175 negara di dunia (dikeluarkan oleh lembaga Transparency International).

Kesimpulannya, minat baca rendah = kualitas SDM/ IPM rendah = tingkat korupsi tinggi. Sebaliknya, minat baca tinggi = terbentuk budaya baca = bangsa maju.

2. Buku VS Televisi atau Gawai
Di atas sudah disebutkan betapa minat baca yang tinggi menentukan kualitas SDM juga kemajuan suatu bangsa. Tapi bagaimana bisa sih?

Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La¬†Tahzan”¬†mengungkapkan beberapa manfaat membaca, antara lain: Membantu mengembangkan pemikiran, menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan, memori, dan pemahaman, menambah pembendaharaan kata serta pola kalimat sekaligus meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami kata dan kalimat tersebut secara tersurat maupun tersirat.

Apakah televisi dan gawai memiliki manfaat yang sama? Ternyata tidak.

Terlepas dari berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari media elektronik tersebut, seperti tambahan informasi, edukasi, juga hiburan, stimulasi perkembangan otak yang didapatkan tidak semaksimal membaca bukubuku. Bahkan, jika dilakukan berlebihan bisa mengganggu fokus anak, memperpendek rentang konsentrasi, menghambat perkembangan kemampuan berbahasa, menimbulkan masalah dan kesulitan belajar, menurunkan minat baca, hingga menimbulkan kecanduan yang memperburuk semua efek yang telah disebutkan.

Media elektronik tersebut¬†memiliki efek negatif yang lebih besar jika digunakan oleh balita.¬†Hasil penelitian Seattle’s Children’s Hospital atas kebiasaan menonton 2.500 anak menyimpulkan bahwa untuk setiap empat jam¬†menonton televisi per hari yang dilakukan oleh anak berusia sebelum tiga tahun, resiko terkena ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) di usia tujuh tahun meningkat 10%.

Otak anak di bawah usia dua tahun belum mampu mengolah informasi yang ditampilkan oleh layar dengan sempurna, sehingga dapat mengganggu perkembangan sel-sel otaknya. Belum lagi pengaruh cahayanya yang dapat merusak mata.

3. Kenapa penting membacakan buku pada anak sejak dini?
Ok, membaca buku memiliki banyak manfaat dan minat baca yang tinggi meningkatkan kualitas diri dan pendidikan seseorang hingga mempengaruhi kemajuan bangsa, tapi apakah harus membacakan buku sejak anak masih bayi? Bukankah dia bahkan belum mengerti?

Membacakan buku pada anak bahkan penting dilakukan sejak anak berada dalam kandungan, untuk menstimulasi indera pendengaran dan otaknya. Seperti halnya mengajak bicara, memperdengarkan musik klasik atau muratal, membacakan buku sangat baik untuk dilakukan.

Pada masa keemasan (golden age) anak, yaitu dari usia 0-5 tahun, otaknya berkembang pesat, hingga mampu menyerap informasi dan merespon stimulasi dua kali lebih cepat dari usia setelahnya. Maka membacakan buku, bahkan saat anak tampak seperti tidak memperhatikan, bisa menambah banyak kosakata baru yang tidak ditemui dalam percakapan sehari-hari, mengajarkan arti kata, melatih daya imajinasi, mengasah rentang konsentrasi, merangsang persambungan antar sel otak, mencegah speech delay, meningkatkan kemampuan berpikir, memahami kalimat, intonasi, memancing pertanyaan, meluaskan pengetahuan, dan sebagainya.

Tentunya, membacakan buku sejak dini juga merupakan salah satu cara mengenalkan anak pada buku yang diharapkan menjadi benih cintanya pada buku, membaca dan belajar.

4. Bagaimana memilih buku yang sesuai untuk anak?
Usia anak dapat menjadi pertimbangan dalam memilihkan buku yang tepat untuknya:
a. 0-2 tahun
>> Board book, buku kain atau buku busa sehingga aman untuknya dan¬†tidak gampang rusak oleh anak yang masih dalam tahap “memakan”, menarik, dan melempar.
>> Berwarna cerah atau kontras untuk merangsang indera penglihatannya.
>> Tulisan sedikit, bahkan hanya satu atau dua kata saja.

b. 2-4 tahun
>> Board book, buku aktivitas, buku main, busy book.
>> Berisi kalimat sederhana yang berima.

c. 4-6 tahun
>> Picture book, pop-up book, layer book, buku aktivitas.
>> Kalimat lebih panjang, kisah bermakna.

d. 7-12 tahun
>> Novel pendek, kumpulan dongeng, ensiklopedi
>> Sudah bisa membaca mandiri dengan pendampingan.

Selain usia, kemampuan berbahasa, kebutuhan dan ketertarikan anak juga perlu diperhatikan.

5. Bagaimana jika anak tidak tertarik?
Anak tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya. Awali dengan membuatnya terbiasa akan buku. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk menarik minat anak:

    a. Konsisten membacakan buku sejak dini.

>>¬†Walau terkesan diabaikan, terus bacakan dengan pantang menyerah ūüėÜ Jadikan membacakan buku sebagai bagian dari rutinitas anak. Selain menjadi terbiasa, manfaat¬†dibacakan buku juga didapatkan olehnya. Bonding dengan orangtua juga bisa didapatkan dengan membacakan buku. Anak bisa mendapatkan kenangan indah dan kesan manis tentang buku dari kegiatan ini.

    b. Meletakkan buku di tempat yang terjangkau penglihatan dan tangannya.

>> Letakkan buku di berbagai tempat di sekitar anak, sehingga ia tidak menjadi benda yang asing dan jauh melainkan dekat dengan kesehariannya.

    c. Jadikan buku sebagai benda yang terkesan seru dan menyenangkan.

>> Tidak harus selalu tersusun rapi, buku juga bisa disusun membentuk jembatan atau terowongan, ditata bersama mainan, sehingga anak mengesankannya sebagai benda yang menyenangkan.

    d. Berikan contoh

>> Anak meniru orangtuanya. Baca buku di sekitarnya, biarkan ia mengamati dan mengikuti.

Children are made readers on the laps of their parents.¬†‚ÄĒEmilie Buchwald

Books open your mind, broaden your mind, and strengthen you as nothing else can. -William Feather

Sumber bacaan:
Trelease, Jim. 2017. The Read-Aloud Handbook
Mandira Dian Semesta. Panduan Book Advisor.
al-Qarni, Dr. Aidh bin Abdullah. La Tahzan.

Islam itu Ramah, Bukan Marah

Itu adalah judul buku pertama yang saya baca di bulan ini. Membaca judulnya yang bagi saya terasa sungguh relevan dengan keadaan umat muslim saat ini, membuat saya tertarik untuk mengintip isinya.

Buku karya Irfan Amalee ini terlihat sederhana, dengan ukuran tidak terlalu besar dan tebal sekitar 200 halaman. Namun, saya menemukan banyak pencerahan serta sudut pandang baru dari tulisan penulis yang mudah dicerna.

Isi buku dibagi menjadi dua bagian:
>> Bagian 1: All About Peace
Pada bagian ini penulis membahas mengenai sifat manusia, penyebab konflik, peperangan, persatuan, hingga cara kerja otak dan kemampuan merespon dengan bijaksana/ hilm.

>> Bagian 2: Character Building
Di sini penulis menekankan pada nilai-nilai yang perlu dimiliki dan hal yang perlu dilakukan seseorang agar dapat menjadi bagian dari Islam yang maju dan damai, sesuai nilai ajarannya.

Islam Ramah Bukan Marah

Hal-hal yang ditulis dalam buku ini mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru atau sepenuhnya belum pernah saya dengar, tapi entah bagaimana, cara penulis menyampaikannya memunculkan semacam pemahaman baru dalam melihat suatu hal.

Penulis berhasil menunjukkan poin-poin penting dibalik berbagai hal yang dia bahas, dan walaupun tiap bagian tersusun dari bab-bab berisi tulisan pendek yang terasa ringan, semua terasa menyatu dan berkesinambungan.

Beberapa hal yang saya kumpulkan dari buku ini, misalnya:

  • Tentang betapa hati yang sakit akan menyakiti, da pentingnya harga diri sebagai pemicu sekaligus pengakhir konflik.
  • Bahwa untuk mengubah pemahaman seseorang , pengalaman jauh lebih efektif daripada perdebatan.
  • Tentang hilm/ response ability/ kemampuan merespon sesuatu dengan bijak, tidak reaktif. Sifat yang dimiliki oleh Rasulullah dan seperti hilang pada diri banyak orang zaman sekarang, yang terlalu cepat berbagi berita yang belum tentu benar, cepat memberi komentar, cepat marah, menuduh, menghakimi.
  • Tentang bagaimana pendidikan kita cenderung berfokus pada stimulasi otak reptilia manusia dengan menakut-nakuti daripada merangsang neo-cortex agar berpikir aktif dan kritis.
  • Tentang appreciate inquiry dan discovering ability, yaitu fokus pada hal positif juga kelebihan seseorang atau sesuatu.
  • Tentang konsep compassionate school atau sekolah yang beradab. Pentingnya hidden curriculum/ culture sebuah sekolah untuk menjadi pertimbangan saat akan memilih tempat belajar, daripada sekadar melihat prestasi akademik atau berbagai visi, misi dan kurikulum yang dikemukakan.
  • Tentang pentingnya budaya literasi dan bagaimana perintah membaca diulang sebanyak 33 kali, lebih banyak dari perintah memakai jilbab misalnya, yang artinya, kalau menutup aurat itu wajib dan penting, maka membaca atau menuntut ilmu itu lebih penting lagi. Menjalankan syariat harus ditunjang oleh ilmu.
  • Tentang Islamicity Index yang dibuat berdasarkan indikator nilai-nilai Islam yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadis, di mana Indonesia dan negara-negara Islam menempati urutan terendah sementara di urutan teratas ditempati negara-negara non-muslim.

Banyak lah. Dari satu buku itu mungkin bisa dikembangkan jadi banyak artikel.

Kalaupun ada yang kurang dari buku ini, itu adalah hilangnya poin nomor dua dari lima poin yang disebutkan pada halaman 111-116.

Irfan Amalee merupakan CEO Mizan Application Publisher dan tengah membangun Peace Generation, yang dicita-citakan menjadi sebuah social enterprise berskala internasional. Tulisannya dalam buku ini turut berjasa membuat saya memenuhi target membaca sekaligus kembali menulis review buku.

Books I Read in 2015

Yes, you read that right: 2015.

Hahaha.. My reading habit had been de-esclating through the years. From 66 books a year to 57 books to only 12 books on 2015, at least until I stop writing the list, than stop making the post at all xD

Well, I’m about to start again. It’s the middle of the year, so I’m just going to put in the books I can recall from the past months. I’m going to put ini in the page as usual than move it into post when the year ended.

Happy reading, Aca! :)

=======

New year, new book list. You can also check out the list of books I read on 2013 and 2014. Let’s spread the beauty of reading! ūüėÄ

“The more you read, the more things you know. The more that you learn, the more places you’ll go.” – Dr. Seuss-

Beautiful books, beautiful mind ;) Beautiful books, beautiful mind ūüėČ

Books I read in 2015:

>> January:
1. Wonder Struck – Brian Selznick

>> February:
2. Mommies Daily Pregnancy Checklist Book – Tim Mommies Daily
3. The Mortal Instruments: City of Heavenly Fire – Cassandra Clare

>> March:
4. Breastfriends: inspirASI 22 – Adenita
5. Terminal – Roderick Gordon & Brian Williams
6. The Giver – Lois Lowry

>> April:
7. Magical Seira #3: Seira and the Destined Farewell
8. Pertarungan Jiwa Billy – Daniel Keyes

>> May:
9. Wanita Dalam Lukisan [Rose Madder] – Stephen King
10. Anak juga Manusia – Angga Setyawan
11. Kenali Anakmu – Angga Setyawan
12. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair – C. S. Lewis

[Chukyuu Intensive Class] Task 2: KonMari Habit (Books)

Setelah membentuk kebiasaan untuk kategori pakaian pada tugas pertama, tugas kedua ini berlanjut pada kategori kedua: Buku.

Saat membereskan buku pada Kelas Shokyuu, saya sempat merasa ragu. Mampukah saya memilah dan menyingkirkan buku-buku yang saya simpan?

Ternyata bisa juga ya. Dan hingga saat ini, saya masih merasa senang saat melewati rak buku kami itu. Semangat membaca buku pun rasanya jadi muncul lagi. Karena sudah dipilah, saya jadi menemukan buku-buku yang ingin saya tuntaskan. Saya memindahkan sebagian darinya ke rak buku di lantai bawah (karena rak buku terletak di lantai dua rumah kami).

Terkait dengan pembentukan kebiasaan ini, saya ingin mengembalikan buku kepada fungsinya, yaitu: Dibaca xD

Selama ini, ada saja distraksi yang membuat kegiatan ini menjadi bukan prioritas. Kali ini, saya akan kembali membuat target berapa banyak saya membaca buku dalam satu hari. Ini seiring juga dengan target menulis yang saya buat. Semoga dengan lebih banyak membaca, lebih produktif dan berkualitas pula tulisan saya.

Agar mudah dilihat, checklist-nya saya gabungkan dengan kategori sebelumnya. Baru hari keempat sudah ada yang lewat dari target -_-. Tapi tidak apa. Rencananya, seperti juga target menulis, halaman yang kurang saya jadikan utang untuk hari selanjutnya.

Chukyuu Task 2

Reading Update 2: Fantasy Novel is the Best!

I’m on page 299 of Clockwork Angel. Just finished chapter 9 and going to start chapter 10.

My feeling so far: excited. It feels like going home ūüėÄ

I’m glad I get to travel the fantasy world again. Where everything is strange yet familiar at the same time. Where you get to understand things while enjoying the world some people found unacceptable.

I love stories and fantasy tells stories in the best way that’s impossible for some other genres to enter. It opens all possibilities. Limitless. Just the way I like it.