[Bunda Sayang] Game Level 3: Tantangan 10 Hari Meningkatkan Kecerdasan Anak – Hari Pertama

  • CevherShare

Sempat bingung waktu baca tantangan dari materi kali ini. Mau fokus ke kecerdasan yang mana, kegiatan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan yang dipilih.

Terus inget buku Fitrah Based Education-nya Harry Santosa. Dalam buku itu disebutkan bahwa usia 0-7 tahun merupakan golden age bagi fitrah keimanan.

Pada usia tersebut, secara fitrah perkembangan, imajinasi dan abstraksi anak berada pada puncaknya, alam bawah sadar masih terbuka lebar. Sehingga imaji tentang Allah, Rasulullah, kebajikan, ciptaan-Nya mudah dibangkitkan pada usia ini. Demikian dijelaskan dalam buku tersebut.

Karenanya, di antara empat kecerdasan yang disebutkan dalam materi, saya memutuskan untuk lebih mengasah kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence).

Saya menggunakan buku FBE sebagai panduan kegiatan dan mendasarkan tujuan kegiatan pada indikator kecerdasan dari materi Bunda Sayang.

Prinsip dasar dalam mengasah kecerdasan spiritual berdasarkan fitrah keimanan pada usia ini adalah menumbuhkan kecintaan pada Allah dan agama. Karena memang anak-anak belum bertanggung jawab secara moral hingga usia 7 tahun. Kecintaan pada Allah juga merupakan pondasi yang kuat untuk dapat beribadah dengan motivasi internal dan pemahaman yang baik. Tanpa paksaan apalagi ancaman.

Ini juga seiring dengan indikator dari materi Bunda Sayang untuk kecerdasan spiritual usia 0-7 tahun:
– Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah
– Mengenal ciptaan Allah
– Membangkitkan kesadaran Allah sebagao pengasih dan penyayang, pencipta, pemberi rejeki.

Berangkat dari situ, saya memberi nama proyek keluarga pertama kami ini: “Proyek Aku Sayang Allah”

Saya dan suami bekerjasama menjadi fasilitatornya, sementara Nara dan Kyna menjadi pesertanya.

Metode yang digunakan, berdasarkan buku FBE, berpusat pada dua hal:
– Menciptakan atmosfer keshalihan (kebaikan, kecintaan, keridhaan) di rumah.
– Membangun keteladanan dari hal yang paling sederhana, seperti mimik wajah, penguatan moral dengan sikap, kisah keteladanan melalui dongeng, dukungan penuh pada gairah kebaikan, dan seterusnya.

Kegiatan yang akan kami lakukan dalam proyek ini berpatokan pada metode dan indikator tersebut.

Untuk hari pertama, saya memulainya saat mengajak anak-anak mandi.

Seperti biasa, ada saatnya anak-anak, terutama Nara, enggan mandi. Sore itu, selain menggunakan komunikasi produktif, saya mencoba mengenalkan sifat Allah yang mencintai kebersihan.

Mama: “Ada yang tahu nggak kenapa kita harus mandi?”
Nara: “Kenapa Ma?”
Mama: “Seharian ini, debu-debu kan menempel di badan kita, ada kumannya juga. Jadi kita sabunin deh biar kuman-kumannya mati, debunya hilang.”
Nara: “Biar mati, hilang semua, nggak ada lagi ya, Ma.”
Mama: “Iya, terus kadang kita kan keringetan tuh, lengket, lepek, kalo mandi jadi segar deh. Pakai sabun jadi wangi. Enak ya, kalo habis mandi. Mama senang, Kakak senang, Adek senang. Ada satu lagi yang senang. Tau nggak siapa?”
Nara: “Siapa Ma?”
Mama: “Allah. Allah kan suka kebersihan. Kalo liat kita mandi, Allah pasti senang. Allah juga senang kerapian. Makanya kita kalo abis main diberesin lagi ya, kalo numpahin air atau bikin kotor dibersihin.”

Saya nggak tau sih sejauh apa ini ditangkap oleh Nara dan Kyna. Tapi saya berusaha untuk membuat Allah dekat dengan mereka, mengenalkan sifat-sifat, dan menyertakan-Nya dalam setiap kegiatan yang kami lakukan.

Sore itu Nara dan Kyna mandi dengan semangat. Semoga saya bisa selalu sabar dalam mengajak mereka ke arah kebaikan menggunakan cara yang baik ya.

Click to Share

Leave a Reply