[Bunda Sayang] Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif – Hari Kedelapan

  • CevherShare

Ternyata, bukan saja saat mengritik namun saat memuji/ mengapresiasi anak pun kita perlu secara spesifik menyebutkan sikap atau perbuatan mana yang kita hargai atau yang menurut kita perlu mereka perbaiki.

Masuk akal sih. Anak jadi tahu persis apa yang baik atau tidak baik untuk dilakukan, kenapa, dan bagaimana memperbaikinya. Dia juga tahu kita menghargai proses yang dia jalani dan tetap menyayanginya apapun yang terjadi. Perbuatannya yang tidak kita sukai, bukan pribadinya. Usahanya yang kita lihat bukan hanya hasilnya.

Hari ini saya berlatih menerapkan ini pada Nara dan Kyna.

“Mama lihat Kyna sudah mulai bisa bilang kalau mau pipis. Good job, Kyna!” Kata saya saat Kyna berhasil buang air kecil di kamar mandi.

“Mama senang, Nara tadi sikat giginya tidak menangis. Mau sikat gigi sendiri juga disikatin Mama.” Ucap saya pada Nara, yang beberapa malam belakangan suka menangis saat waktunya sikat gigi.

“Kalau Nara kesulitan, bisa minta tolong Mama. Tidak baik melempar barang begitu ya.” Ujar saya kepada Nara yang melempar baju gantinya saat hendak mandi di kamar mandi atas, dengan alasan tidak bisa membawanya.

Nara terlihat lebih senang dan bisa menerima pesannya dengan cara ini. Kyna sih, senyum-senyum aja seperti biasa :))
Mudah-mudahan cara ini memiliki dampak yang baik untuk jangka panjang ya.

Untuk saya pribadi, cara ini juga membantu saya mengenali emosi juga keinginan saya, apa yang saya suka atau tidak suka dari perilaku anak, apa yang saya mau mereka perbaiki dan bagaimana. Saya juga jadi berlatih untuk tidak mudah melabeli anak, lebih banyak mengamati, menghargai usaha mereka sekecil apapun, dan memisahkan antara pribadi mereka dengan perbuatannya.

Click to Share

Leave a Reply