All posts by acago

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Keenam

Sebagai hadiah telah menjadi kakak, kami membelikan Nara dan Kyna mainan baru. Ini kami lakukan agar mereka makin semangat menyambut kehadiran sang adik, juga peran baru mereka.

Salah satu mainannya berupa perlengkapan dokter-dokteran.

19-06-28-02-45-59-361_deco

Mereka pun berubah menjadi dokter dan suster. Memeriksa semua orang yang ada di rumah, termasuk nenek kakeknya yang datang melihat si bayi.

Sasaran berikutnya adalah para boneka. Satu per satu diperiksa, diberi obat, lalu dibaringkan di tempat tidur agar bisa beristirahat.

Alat favorit mereka sejauh ini adalah stetoskop. Namun karena belum terlalu mengerti kegunaannya, mereka juga menggunakannya untuk mengukur suhu dan semua pasien sakitnya adalah demam 😆

Click to Share

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kelima

Sediakan air, pewarna, wadah, dan sendok, anak-anak pun betah bermain untuk jangka waktu yang lama.

Nara dan Kyna dengan semangat menuang air dari satu wadah ke wadah yang lain, mencampur pewarna makanan ke dalam air, kemudian mengaduknya.

19-06-28-02-25-26-934_deco

Mereka suka bermain seakan-akan membuat adonan kue. Kali ini katanya mereka membuat puding.

Mereka bahkan meminta untuk memasukkan “puding”-nya ke dalam kulkas. Saya mengajak mereka untuk membuat puding sesungguhnya saja lain kali, yang lebih tepat untuk dimasukkan ke dalam kulkas 😅

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Keempat

Kalau sebelumnya masak makanan di box bayi, kali ini Nara jadi penjual es krim. Pinggiran box bayi yang biasanya menjadi tempat menaruh perlengkapan bayi atau mainan dijadikan tempat es krim. Bola warna-warni menjadi es krim berbagai rasa.

19-06-23-16-37-19-810_deco

Nara kemudian menawarkan es krimnya, sasarannya siapa lagi kalau bukan Kyna dan Mama.

Setelah memilih mau rasa apa, Nara akan mengambilkan bola es krim, memasukkannya ke dalam mangkuk, lalu menyerahkannya kepada pembeli.

Es krim yang ini sehat katanya, jadi boleh beli banyak-banyak 😁

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Ketiga

Box bayi baru dipasang, menyambut kehadiran adik Nara dan Kyna yang insya Allah akan tiba bulan ini.

Tentu saja kakak-kakak tidak melewatkan kesempatan ini. Si box pun dijadikan mainan. Saya membolehkan, selama tidak dinaiki dan mainan dibereskan kembali setelahnya.

19-06-18-17-43-51-252_deco

Box pun segera berubah fungsi menjadi tempat mengolah masakan. Nara bilang, mereka sedang membuat banyak jenis makanan. Selesai dimasak, makanan yang sudah jadi dimasukkan ke dalam plastik. Katanya untuk persediaan makanan kami.

“Nanti Mama makan ya, Ma. Kakak udah buat banyak tuh. Sisanya disimpan untuk kita makan besok-besok.”

Alhamdulillah… Andaikan itu beneran ya, Kak, jadi Mama bisa libur masak dulu beberapa hari 😆

Oh, saya tentunya memakan sebagian makanan itu dengan lahap dong 😋

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Kedua

Bermain peran adalah salah satu permainan favorit Nara dan Kyna. Mulai dari dokter-dokteran, jual-jualan, sekolah-sekolahan, sampai yang sekarang sedang sering dimainkan, menjadi ibu dan bayi.

Nara yang biasanya jadi ibunya. Dia berperan merawat Kyna, yang jadi bayinya. Memakaikan baju, membawa ke dokter dan merawat saat sakit, membacakan cerita, bahkan menyusui 😂

Kyna juga memerankan sang bayi dengan maksimal. Menangis saat ingin menyusu, merangkak, berbaring saat dipakaikan baju.

Sulit menahan tawa kalau mendengar mereka bercakap-cakap dalam perannya.

Bahkan saat saya mengajak bicara misalnya, mereka masih menghayati perannya. Contohnya suatu kali saat saya mengajak Nara makan:

“Kak, makan dulu yuk.”
“Saya lagi bacain cerita nih, Bu. Nanti aja saya makannya, nunggu suami saya.” 🤣

Anak-anak sungguh menyerap apa yang dia lihat dan dengar di sekitarnya, kemudian mampu menuangkannya dalam berbagai bentuk permainan, termasuk bermain peran ini.

Saya biasanya membiarkan saja mereka bermain, menggunakan benda-benda yang mereka rasa bisa mewakili alur permainan mereka. Sesekali saya ikut bermain, entah memang dilibatkan atau sekadar iseng ikut nimbrung sendiri. Dari sedikit saja keterlibatan atau perkataan dari saya, mereka bisa meresponnya dengan baik dan mengembangkannya menjadi kisah yang lebih panjang. Luar biasa ya, anak-anak itu.

[Bunda Sayang] Game Level 9: Memicu Kreativitas Anak– Hari Pertama

Seperti kutipan dalam materi level 9 ini, tidak sulit untuk percaya bahwa setiap anak memang terlahir kreatif.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana Nara dan Kyna secara alami menggunakan berbagai benda di sekitar mereka untuk bermacam hal di luar kegunaan “aslinya”.

Dalam satu hari saja, begitu banyak “ulah” mereka, yang seringkali, mungkin karena kesabaran dan sudut pandang saya yang masih kurang luas, memancing emosi.

Contohnya dalam pengamatan saya di hari pertama tantangan ini, Nara memandikan bonekanya di dalam wastafel, sementara Kyna malah mencuci handuk kakaknya 😆

Hal yang jika dipikirkan setelahnya terasa lucu, juga wajar, sesuai tahap perkembangan mereka. Namun pada saat kejadian cukup menggoda saya untuk mengeluarkan reaksi yang tidak terlalu positif 🙈

Dalam sehari itu, Kyna menggunakan tali sepatu sebagai stetoskop, Nara menjual balok sebagai sate, es krim, atau buah-buahan. Nara juga memasukkan sebagian mainan ke dalam plastik, lalu memasukkannya lagi ke dalam tas, katanya bekal makan siang untuk dia pergi bekerja. Sementara, Kyna mengisi gelasnya dengan air lalu mengaduknya dengan sikat sedotan. Sedang membuat kue, katanya.

Barangkali masih banyak lagi hal serupa itu yang mereka lakukan, yang luput dari pengamatan saya. Hal-hal ini bukan baru mereka lakukan pada hari itu, tapi tantangan ini membuat saya lebih menyadari dan mengamati dengan lebih seksama.

Kalimat selanjutnya dalam kutipan yang sama juga secara sadar saya sepakati. Orang tua yang kerapkali mematikan kreativitas anak-anak, saat terlalu mudah berasumsi sehingga tidak memberikan anak kesempatan untuk bereksplorasi dan berkreasi.

Kita, saya, sebagai orang tua, juga cenderung ingin anak mengikuti alur dan cara yang kita tentukan, menganggapnya sebagai satu-satunya cara terbaik yang sudah sepatutnya diikuti oleh anak-anak kita. Padahal, jika kita mau memberi sedikit kelonggaran, bisa jadi banyak alternatif cara yang tidak pernah terbayangkan oleh kita, dengan hasil yang sama bahkan lebih baik.

[Bunda Sayang] Materi 9: Memicu Kreativitas Anak

Sesuai dengan topiknya yang membahas kreativitas, materi level 9 ini diberikan dengan cara yang berbeda dari level-level sebelumnya.

Bukan melalui Google Classroom seperti biasa, tapi langsung dilempar secara interaktif di grup Whatsapp.

Ini tentu seru, karena pemberian materi berjalan beriringan dengan diskusinya.

Peserta kelas Bunda Sayang Batch #4 didorong untuk memahami makna kreativitas sambil berpikir kreatif saat menjelaskan gambar-gambar yang dikirimkan oleh fasilitator. Kami bahkan diminta turut menggambar, mengembangkan pola yang diberikan, sesuai kreativitas masing-masing.

20190614_173235_0000

Dari situ, kami lalu disadarkan bahwa sebagai orang tua, kita perlu banyak berpikir kreatif, mau melihat dari berbagai sudut pandang, membuka pikiran, menghindari asumsi, dan mencari beragam solusi dari sebuah masalah atau tantangan yang dihadapi.

Dengan demikian, baru kita bisa memelihara bahkan menumbuhkan kreativitas anak-anak kita, yang memang secara fitrah sudah dimilikinya, tetapi terkadang justru kita yang menghambat perkembangannya.

Pada akhir materi, kami diminta mengumpulkan ringkasannya. Bentuknya boleh bermacam-macam, sampai ada yang mengirimkan dalam bentuk nyanyian 😍

Saya sendiri sayangnya tidak sempat ikut berpartisipasi dalam diskusi maupun pengumpulan ringkasan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Namun, saya tetap membuat ringkasan tersebut, paling tidak untuk rujukan saya sendiri saat mengerjakan tantangan.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Aliran Rasa

Tantangan level ini sesungguhnya mematangkan lagi konsep rezeki untuk diri sendiri. Bahwa uang hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak rezeki dalam berbagai bentuknya yang telah dan selalu dikaruniakan Allah kepada kita.

Rezeki bukan saja nikmat tapi juga titipan. Mensyukurinya juga bukan hanya dengan ucapan syukur tetapi juga ditunjukkan dengan cara kita memanfaatkan dan mengelolanya sebaik mungkin.

Menjaga kesehatan, berbuat baik dengan tubuh dan ilmu, membagi harta kita untuk berbagi, berinvestasi, kemudian baru kebutuhan yang dipisahkan lagi dari keinginan, merupakan contoh cara kita bersyukur dan bertanggung jawab atas titipan Allah kepada kita.

Mengajarkan konsep tersebut pada anak-anak sekaligus menguatkan pemahaman diri sendiri. Ilmu untuk mengelola rezeki berupa uang, selanjutnya bisa perlahan ditanamkan melalui kebiasaan. Terutama tentunya teladan dari cara kita mengelola keuangan.

Semoga kita dan anak keturunan kita mampu mengelola setiap rezeki sehingga senantiasa diliputi keberkahan. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kelimabelas

Kali ini giliran Ayah yang bercerita tentang rezeki. Bermacam rezeki yang diberikan Allah swt. kepada kita, salah satunya Ayah jemput dengan bekerja.

19-05-10-22-16-49-197_deco

Nara menanggapi dengan celotehan panjangnya. Menulis daun untuk Pohon Syukur membantunya mengerti tentang macam-macam rezeki.

Kyna masih menyimak saja, sesekali menimpali mengikuti kakaknya.

Masya Allah tabarakallah. Semoga selalu syukur yang tertanam dalam hati kita, senantiasa berusaha juga berdoa untuk keberkahan rezeki yang Allah titipkan kepada kita. Aamiin YRA.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Keempatbelas

Jangankan anak-anak, orang tuanya pun suka lapar mata kalau liat makanan enak-enak. Apalagi yang kemasannya menarik. Rasanya pengen beli semuanya. Saya sih paling nggak 😆

Nara dan Kyna juga sama.

Hari ini kami mampir ke minimarket untuk menggunakan ATM dan membeli materai. Nara dan Kyna tentu langsung menjamah apa yang menarik perhatian mereka. Sampai ke depan kasir pun masih begitu.

19-05-09-22-33-44-472_deco

Kembali saya beritahu pada mereka, kalau kami ke situ bukan untuk membeli semua itu. Kita tidak bisa membeli apa saja hanya karena sedang ingin, tapi harus berdasarkan daftar kebutuhan.

Alhamdulillah Nara dan Kyna belum pernah tantrum karena ingin membeli sesuatu. Pernah merengek atau sulit diajak berlalu, tapi setelah diajak bicara, mereka mau menerima.

Semoga dengan tidak selalu dipenuhi keinginannya, mereka bisa belajar membedakan mana kebutuhan dan keinginan serta menahan diri dari membeli hal-hal yang sebenarnya tidak mereka perlukan.