All posts by acago

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Keenam

Permainan hari ini dilakukan di dalam mobil, saat sedang berhenti sejenak di tengah perjalanan.

Kali ini giliran uang logam yang digunakan untuk bermain. Nara dan Kyna mengenal uang logam sebagai koin. Mereka biasa mendapatkannya untuk dimasukkan ke dalam celengan.

Saya mengenalkan kembali si koin sebagai uang logam. Kalau kemarin uang kertas terbuat dari kertas, maka uang logam terbuat dari logam.

19-05-01-15-54-58-213_deco

Seperti uang kertas, nilainya juga berbeda-beda. Kami menggunakan uang 100, 200, 500, dan 1.000 rupiah.

Nara terlihat senang melihat beragam uang logam. Saya membagi dua uang logam yang ada, kemudian memintanya menyocokkan uang logam yang ada di hadapannya dengan yang dia pegang.

Walau belum mengerti bilangan, Nara bisa menyocokkan berdasarkan tampilannya. Mungkin saya bisa mencoba permainan yang serupa mengunakan uang kertas ya 😁

Click to Share

[Gemari Madya] Task 7 – Menata Masalah

Sejujurnya saya agak bingung saat harus mengerjakan Task 7 ini, karena sepertinya kebanyakan masalah yang saya hadapi berkaitan dengan Task 1-6 😅

Setelah membaca suplemen, saya akhirnya memutuskan untuk memilih masalah nomor satu untuk dibahas pada task kali ini: Tidak/belum berhasil mencapai impian/goal yang kita tuju.

1. Analyze
Gunakan 5W1H untuk mengenali masalah dan mengidentifikasi akar masalah.

>> Apa yang sedang terjadi?
Banyak hal yang ingin dicapai dan dikerjakan, tapi berkali-kali gagal dalam membuat rencana dan/atau menjalankan rencana langkah demi langkah menuju tercapainya tujuan tersebut.

>> Kenapa bisa terjadi?
Karena kurang kuatnya tujuan (perlu mengganti beberapa impian), kurang komitmen, disiplin dan konsistensi dalam melakukan hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

>> Kapan kejadiannya?
Berkali-kali dalam hidup ini 😂

>> Di mana kejadiannya?
Saat di sekolah, di bangku kuliah, dalam pekerjaan di kantor (sebelum resign), dan sebagian besar di rumah dalam ranah peningkatan kualitas pribadi beserta segala perannya.

>> Siapa saja yang terlibat dengan kejadian itu?
Terutama diri sendiri dan mempengaruhi orang-orang terdekat, khususnyansaat ini suami dan anak-anak.

>> Bagaimana kejadian itu bisa sampai terjadi?
Saya mulai lalai dalam melakukan kebiasaan yang sedang dibangun, kembali ke kebiasaan dan cara lama, melupakan tujuan yang ingin dicapai, terbelenggu rutinitas.

2. The Most Trigger
Ya, masalahnya seringkali berulang. Saya pikir masalahnya ada pada diri saya sendiri. Sepeti tertulis pada suplemen solusinya hanya dua: Mengganti impian atau mengganti cara untuk mencapai impian.

Dalam kasus saya, bisa jadi ada beberapa impian yang perlu diganti atau dihilangkan karena sudah tidak relevan atau ternyata kurang memotivasi, sehingga sayanbisa lebih fokus pada impian yang lebih kuat. Namun, saya pikir saya memang lebih banyak belum maksimal dalam mencapi target dan impian saya. Baik dalam mencoba suatu cara maupun menggantinya dengan cara lain. Konsistensi, kesungguhan, saya masih berusaha membangun keduanya. Saya juga berusaha menambah ilmu dan semangat juang, salah satunya dengan bergabung dengan berbagai komunitas dan kelas belajar seperti contohnya Gemar Rapi ini.

3. Evaluasi
Terlepas dari banyaknya target dan impian yang belum atau tidak berhasil saya capai, saya juga sudah mencapai banyak hal dalam usaha saya mengalahkan diri sendiri.

Saya membuktikan bahwa jika saya ingin, saya bisa menjadi sangat konsisten dan bersungguh-sungguh. Misalnya, saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan diri saya setelah sempat menganggur dan berkutat dalam pekerjaan yang membebani hati dan pikiran saya. Masalah itu sempat membuat saya down dan merasa berada di titik terendah. Tidak berdaya, tidak berguna, egois, manja. Tetapi akhirnya, dengan izin Yang Maha Kuasa, saya bisa bangkit, menumbuhkan keyakinan diri dan tekad untuk mencapai yang lebih baik. Dan saya berhasil.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kelima

Saya kembali menggunakan cerita untuk mengenalkan perbedaan nilai uang kertas berdasarkan warnanya.

Nara senang mendengarkan ceritanya, tapi belum bisa mengingat warna-warnanya. Wajar sih, karena dia belum mengenal bilangan sampai ribuan apalagi puluhan dan ratusan ribu.

Memang sebenarnya lebih cocok melakukan permainan yang konkrit untuk anak seusia Nara dan Kyna. Sayangnya saya belum sempat mengeksekusi ide-ide yang terpikirkan. Membuat toples pun belum jadi dilakukan :(

Besok dan lusa kami akan melakukan perjalanan. Semoga ada celah untuk menstimulasi kecerdasan finansial anak-anak.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Keempat

Melanjutkan kegiatan kemarin, saya kembali menunjukkan uang kertas kepada Nara. Kali ini dalam versi lebih lengkap. Kyna juga turut serta.

19-04-29-21-31-51-833_deco

Saya kemudiam bertanya pada Nara apa dia tahu gunanya uang, Nara menjawab, “Untuk belanja.”

Saya pun menjelaskan kembali bagaimana cara memperoleh dan menggunakan uang. Kemudian, saya menjelaskan bahwa tiap lembar uang yang ada di hadapannya itu memiliki nilai yang berbeda-beda.

Saya kemuudian mengumpamakan, “Kalau satu buah es krim harganya lima ribu rupiah, pakai yang uang 2 ribu tidak cukup, 5 ribu dapat satu, 10 ribu dapat dua, dan seterusnya.

Dari situ, Nara ternyata mengerti mana uang yang nilainya paling besar.

Terakhir saya menutupnya dengan kembali membahas tentang kegunaan uang. Selain untuk belanja, menukar uang dengan barang yang diperlukan, uang juga bisa digunakan untuk menabung, memgumpulkan uang untuk membeli barang atau makanan tertentu. Uang juga bisa diberikan pada orang lain yang membutuhkan, atau bisa kita sebut dengan sedekah.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Ketiga

Dalam mobil, di perjalanan kami hari ini, Nara tiba-tiba bercerita pada tantenya tentang berdoa. Kita bisa berdoa untuk.meminta sesuatu sama Allah. Termasuk uang. Ayah dapat uang dari Allah. Allah hebat bisa ciptakan apa saja, bisa kasih apa saja.

Masya Allah Tabarakallah.

Kami baru sampai di rumah malam harinya. Rencana saya untuk mengenalkan Nara dan Kyna tentang uang kertas dan uang logam pun harus tertunda. Saya akhirnya hanya menunjukkan sebagian uang kertas yang ada, agar Nara bisa melihat dan merasakan tekstur uang yang memang seperti kertas. Sebelumnya Nara sudah pernah melihat dan memegang uang kertas, tapi bukan dalam rangka memperhatikan. Saya juga memberitahu nilai uang-uang yang berbeda. Sementara uang logam, Nara lebih familiar. Dia mengenalnya dengan sebutan koin, dan biasa memintanya untuk dimasukkan ke dalam celengan.

19-04-28-23-36-13-011_deco

Besok insya Allah kita akan melanjutkan proses mengenal bentuk uang ini ya, Nara juga Kyna.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Kedua

Karena belum sempat membuat toples 3S (Spend, Save, Share), saya kembali menggunakan media cerita untuk mengenalkan konsepnya terlebih dahulu kepada Nara dan Kyna.

Dalam cerita yang saya buat, seorang anak bernama Nina belajar mengelola uang sakunya dengan lebih baik karena kisah seekor burung yang murah hati. Nina tadinya enggan berbagi. Semua uang sakunya dia habiskan untuk membeli banyak jajanan. Tidak ada yang boleh minta. Semua dia habiskan atau disimpan hingga kasang terbuang.

Ibunya kemudian menceritakan tentang burung yang murah hati tadi. Bagaimana burung itu mengerti bahwa apa yang dia punya adalah pemberian dari yang Maha Kuasa, karenanya dia pun ingin memberi.

Ibu menjelaskan bahwa dari apa yang Allah titipkan kepada kita, ada bagian orang lain yang harus kita penuhi. Kita juga bisa menabung sebagian uang kita untuk membeli sesuatu yang kita butuhkan namun belum cukup dengan sekali pemberian uang saku saja.

Ibu kemudian mengajak Nina membuat toples 3S. Menggunakan toples tersebut, Nina belajar menyisihkan uang sakunya untuk sedekah, menabung untuk membeli buku idamannya, dan sisanya baru untuk jajan. Itupun kadang tidak dia belanjakan, karena Nina juga belajar membawa bekal.

Terdengar rumit ya?

Tapi Nara dan Kyna serius mendengarkan, walau tidak tahu juga sejauh apa mereka memahami.

Nara nyatanya mengingat soal toples 3S ini dan tertarik saat saya mengajaknya untuk membuatnya begitu kami kembali ke rumah sepulang menginap dari rumah Atoknya.

[Bunda Sayang] Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini – Hari Pertama

Setelah merenungi apa yang saya tulis berdasarkan materi kemarin, untuk tantangan hari pertama saya memutuskan untuk membukanya dengan bercerita tentang konsep rezeki.

Awalnya saya sedang mengobrol dengan Nara tentang bagaimana nanti dia akan harus tidur di kamarnya sendiri. Nara memang tipe anak yang suka berpikir jauh ke depan, bagaimana nanti kalau begini atau begitu. Dia juga tipe perasa, hingga bisa menangis karena membayangkan harus berganti sepeda yang lebih besar sementara dia menyayangi sepedanya yang sekarang atau merasa sedih karena tidak mau tinggal berpisah dari saya kalau sudah besar nanti 😅

Nara merasa khawatir harus tidur sendiri, tapi kemudian arah pembicaraam berlanjut ke bagaimana serunya punya kamar sendiri. Nara langsung sibuk membayangkan nanti dia mau pintu dan dinding kamar warna apa. Pembicaraan bersambung ke memiliki rumah yang lebih besar, bahkan yang ada kolam renangnya juga 😆 Saya mengaminkan saja, lalu menggunakan kesempatan itu untuk bercerita tentang Allah swt. Yang Maha Kaya.

Apa saja yang kita inginkan, kita bisa minta kepada Allah. Kita berdoa saja, tapi juga disertai dengan usaha untuk mewujudkan impian kita.

Tidak lupa juga bersyukur atas semua yang sudah diberikan Allah swt. kepada kita. Semua rezeki dari Allah. Badan yang sehat, anggota tubuh yang lengkap, makanan yang kita makan, hadiah, dan banyak lagi. Ayah pun bekerja sebagai usaha untuk menjemput sebagian rezeki ini, yang di antaranya berupa uang, bisa untuk belanja macam-macam kebutuhan kita.

Sambil bercerita, Nara (dan Kyna) ikut menambahkan apa saja rezeki Allah untuk kami.

Semoga tertanam konsep awal ini dalam hati mereka. Insya Allah dilanjutkan di hari-hari selanjutnya.

[Bunda Sayang] Materi 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Ketemu materi tentang finansial lagi 😂

Kali ini memang lebih ke bagaimana agar anak jadi cerdas finansial. Tapi kan tetap aja ya, kalau mau anaknya cerdas, orang tuanya juga harus mau belajar. Kalau mau anaknya belajar, orang tuanya perlu menjadi teladan.

Mengelola keuangan masih PR banget buat saya. Perlahan mulai membenahi sih, seperti juga pernah dibahas di blog ini.

Dalam materi kali ini, mata saya dibuka, bahwa masalah uang hanya sekelumit dari konsep lebih luas yang perlu dikenalkan kepada anak: Tentang rezeki.

Uang adalah bagian kecil dari rezeki. Kemampuan mengelolanya dengan baik merupakan bagian dari syukur dan tanggung jawab terhadap rezeki yang Allah swt. telah amanahkan kepada kita.

Salah satu tujuan utama menstimulasi kecerdasan finansial pada anak adalah membantu mereka memahami konsep rezeki ini: Bagaimana memperolehnya, mengelolanya agar bisa termanfaatkan dengan baik sesuai kebutuhan juga memenuhi hak yang perlu ditunaikan. Bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan. Bagaimana dengan itu menyusun prioritas dan budget atau perencanaan keuangan. Bagaimana anak menjadi kuat dengan gaya hidup yang sesuai nilai yang diyakini keluarga dan tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan.

Untuk anak usia 3-5 tahun, dari diskusi tentang materi ini, saya mendapat beberapa tips menstimulasi kecerdasan finansial mereka:
1. Mengenalkan anak dengan beraneka bentuk uang (uang kertas, uang logam).
2. Bermain peran yang melibatkan transaksi keuangan, misalnya: Jual-beli, menabung di bank, dsb.
3. Jelaskan tentang pentingnya bekerja sebagai salah satu sarana mendapatkan uang.

Berkaitan dengan tugas dalam tantangan, saya juga akan membuat proyek Toples 3S untuk mengenalkan secara sederhana bahwa uang yang kita peroleh bisa dibagi ke dalam uang belanja, tabungan, dan sedekah. Sesuai usia anak, penekanannya tetap pada penguatan konsep bahwa rezeki berasal dari Allah swt.

Bismillah.

P.A.R.E.N.T: Cara Membesarkan Anak yang Tangguh dan Bahagia

Sesuai rencana, saya akan membahas lebih jauh metode pengasuhan yang diterapkan oleh orang Denmark, yang menurut penulis buku “The Danish Way of Parenting” menjadi salah satu faktor utama yang menjadikan Denmark negara paling bahagia di dunia.

Penulis menyingkat metode tersebut ke dalam kata PARENT, kemudian menjabarkan tiap hurufnya dalam sebuah bab. Di sini, saya mencoba merangkumnya dalam satu tulisan singkat. Semoga cukup memberi gambaran filosofi atau metode pengasuhan macam apa sih yang digunakan di Denmark.

1. P untuk Play
Bermain adalah sesuatu yang secara alami senang dilakukan oleh anak-anak, namun orang tua seringkali melihatnya sebagai sesuatu yang dilakukan sekadar sebagai hiburan, selingan dari kegiatan belajar. Bahkan, dianggap membuang-buang waktu jika dirasa dilakukan terlalu banyak. Padahal, dari bermain itulah anak-anak paling banyak belajar. Bermain mengajarkan ketangguhan, cara mengatasi stres, beradaptasi dan berbagai keterampilan lain yang dibutuhkan anak untuk menjadi manusia yang sukses dan bahagia.

Orang Denmark menyadari hal ini. Mereka lebih berfokus pada keterampilan hidup anak daripada menekan mereka secara akademis. Anak-anak dibiarkan bermain dan tidak memulai sekolah hingga usia 7 tahun, itupun masih banyak waktu bermain bebasnya. Mereka juga menganut filosofi “proximal development” yang intinya memberikan ruang dan waktu untuk anak berkembang, tanpa intervensi berlebihan. Mereka percaya setiap anak perlu menumbuhkan dorongan internal untuk meraih sesuatu daripada mengejar faktor eksternal seperti nilai yang baik, penghargaan, atau pujian orang tua. Ini juga akan menumbuhkan kendali internal yang kuat pada anak, yang berdasarkan riset mengurangi depresi dan kecemasan.

2. A untuk Autentisitas
Film-film Denmark tidak selalu menyajikan akhir yang bahagia. Mereka lebih suka memperlihatkan sebuah kisah sebagaimana kehidupan adanya. Ada tragedi, kesedihan, kegagalan, hal-hal yang menyakitkan. Hal ininjuga berlaku pada dongeng anak-anak, seperti misalnya cerita-cerita yang ditulis oleh Hans Christian Andersen.

Jika dalam versi bahasa Inggrisnya cerita-cerita ini diubah dengan akhir yang bahagia dengan anggapan versi asli kurang tepat untuk anak, orang Denmark percaya bahwa tragedi dan kesedihan juga perlu dibahas bersama anak-anak. Hal ini berguna untuk membantu mengenali dan menerima semua emosi dalam diri, bersyukur, dan menumbuhkan empati pada orang lain. Jujur pada diri sendiri membantu kita memahami apa yang kita inginkan serta menyusun strategi menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Orang Denmark juga tidak terbiasa membanjiri anak dengan pujian. Mereka lebih fokus pada usaha daripada hasil. Apresiasi diberikan pada proses dan usaha yang dilakukan. Hal ini mendorong terbangunnya pola pikir yang berkembang (growth mindset), bahwa kecerdasan dan keberhasilan bisa diusahakan daripada pola pikir permanen (fixed mindset), yaitu kecerdasan adalah sesuatu yang berasal dari sananya dan sudah demikian adanya.

Pola pikir permanen membuat anak cepat puas atau melakukan sesuatu hanya untuk mendapat gelar itu dan mudah menyerah atau takut mencoba lalu gagal dan kehilangan gelarnya.

3. R untuk Reframing
Memaknai ulang setiap situasi adalah pembawaan alami yang dimiliki oleh orang Denmark dan diwariskan pada anak-anak mereka. Orang Denmark selalu bisa menemukan sudut pandang yang positif dari situasi yang bisa jadi kurang baik bahkan menekan.

Mereka menerima bahwa ada hal-hal negatif dalam hidup namun memilih untuk berfokus pada sisi positifnya. Daripada satu aspek kurang baik dari suatu hal, mereka melihat gambaran besarnya, menginterpretasikan hal negatif menjadi lebih positif, berprasangka baik, dan menggunakan bahasa yang lebih positif dalam memaknai sesuatu. Ini termasuk ke dalam memisahkan seseorang dari perilakunya dan menghindari pemberian label.

4. E untuk Empati
Keyakinan orang Denmark bahwa peduli kepada kebahagiaan orang lain selalu penting untuk menciptakan kebahagiaan diri sendiri mendorong mereka untuk berusaha memahami orang lain.

Orang Denmark memiliki kecenderungan untuk menunjukkan kualitas karakter baik orang atau anak lain kepada anak mereka. Daripada menghakimi, mereka akan mencoba menjelaskan alasan di balik perilaku kurang menyenangkan dari orang lain. Sehingga mereka terbiasa melihat kebaikan dalam diri orang lain, percaya bahwa perilaku bukanlah sesuatu yang mendefinisikan seseorang namun sesuatu yang bersifat sementara dan dipengaruhi oleh situasi.

Mereka menerima setiap emosi yang dirasakan orang lain, termasuk anak-anak mereka, berusaha memahami dan menghormatinya.

5. N untuk No Ultimatum
Hubungan antara anak dan orang tua kadang bisa berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan. Orang tua kerap menggunakan ancaman bahkan kemudian kekerasan fisik saat merasa tidak didengar dan diremehkan “kuasa”-nya. Orang Denmark percaya bahwa rasa hormat berlaku dua arah dan karenanya mengasuh anak-anak mereka dengan penuh hormat daripada sekadar menumbuhkan rasa takut.

Orang Denmark percaya setiap anak baik dan menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk memikirkan cara menghindari masalah daripada menghukum anak saat melakukannya. Guru Denmark dilatih untuk melihat kebutuhan spesifik setiap siswa, membuat rencana dan tujuan bersama masing-masingnya, juga membuat kesepakatan bersama seluruh kelas akan peraturan apa yang bisa diterapkan untuk mewujudkan kelas yang baik.

Orang Denmark tidak sekadar melarang tapi menjelaskan alasan dibalik sebuah peraturan, membantu anak menemukan jalan keluar dari suatu masalah atau perilaku yang kurang tepat. Mereka juga lebih santai terhadap penolakan-penolakan kecil anak, tidak menjadikan semuanya sebagai perebutan kekuasaan, memberi kesempatan anak belajar akan konsekuensi dari sebuah pilihan.

6. T untuk Togetherness
Orang Denmark punya budaya “bersantai bersama” teman dan keluarga atau biasa dikenal dengan hygge (baca: huga). Mereka benar-benar menganggap penting hal ini sehingga semua orang bekerja sama untuk menciptakan susana yang nyaman.

Semua saling membantu jadi tidak ada satu atau beberapa orang yang merasa bekerja sendirian, partisipasi dalam permainan atau kegiatan akan dilakukan walau sedang tidak ingin. Masalah pribadi ditinggalkan di belakang, perselisihan dihindari, semua berusaha semaksimal mungkin untuk bersantai dan membawa suasana positif ke dalam waktu bersama ini.

Konsep kebersamaan ini membantu mereka merasa terhubung dengan yang lain, memberikan sebuah arti dan tujuan. Mengesampingkan diri sendiri untuk manfaat keseluruhan, menciptakan suasana menyenangkan yang baik diwariskan kepada anak-anak.

Konsep ini tidak berakhir pada satu atau dua pertemuan saja, tapi meluas dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak Denmark didorong untuk melihat kekuatan dan kelemahan orang lain sebagai celah untuk membantu dan bekerja sama dalam satu tim. Mereka diajarkan untuk rendah hati dan peduli pada kesulitan serta keberhasilan orang lain juga. Ini berlaku dalam setiap aspek, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan pekerjaan, hingga masyarakat pada umumnya. Ikatan sosial dan sistem dukungan di Denmark karenanya sangat kuat.

=====

Seluruh prinsip di atas sudah menyatu dalam budaya Denmark. Tidak heran kalau Denmark terpilih menjadi negara paling bahagia di dunia selama puluhan tahun.

Mungkin diperlukan usaha lebih bagi kita untuk belajar dari prinsip-prinsip tersebut dan menerapkannya dalam hidup kita, namun rasanya patut dicoba untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bahagia, dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

[Book Review] The Danish Way of Parenting

Akhirnya saya mulai membiasakan baca buku lagi mulai Maret lalu, seiring dengan pembentukan kebiasaan berkaitan dengan tugas Kelas Gemari Madya.

Salah satu kebiasaan yang mau dibangun kembali adalah rutin membaca buku minimal 20 halaman per hari. Bukan rencana baru memang. Tapi satu-satunya cara mengubah kegagalan menjadi keberhasilan adalah tidak berhenti mencoba, berusaha lagi dan lagi dengan semangat dan strategi baru. Kali ini cukup terbantu dengan aplikasi Habits dan Read More.

Buku “The Danish Way of Parenting” adalah buku kedua yang selesai dibaca dengan bantuannya.

Isi buku ini sebenarnya membantu dirinya sendiri untuk selesai dibaca dengan cepat sih. Menarik banget soalnya. Paling tidak untuk saya.

Bikin ngangguk-ngangguk setuju selama bacanya dan jadi pengen bagiin semuanya ke semua orang. Faktanya, beberapa bagian saya foto dan bagikan ke keluarga dekat untuk didiskusikan.

19-04-22-15-38-36-742_deco

Penulisnya, awalnya mencari tahu apa sih yang bikin Denmark dinobatkan jadi negara paling bahagia sedunia oleh World Happiness Report-nya PBB, bukan cuma setahun dua tahun tapi selama 40 tahun!

Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa salah satu faktor terbesar yang mempengaruhinya adalah pola pengasuhan.

Agak ngiri sih, sama orang Denmark. Soalnya, seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, pola asuh turun-temurun itu bukan sesuatu yang mudah untuk diubah. Kebanyakan kita di Indonesia berjuang untuk tidak mengulang pola asuh yang kurang efektif yang sudah tertanam selama puluhan tahun kita hidup sebagai anak. Pola asuh yang sudah ada dari zaman orang tua, kakek nenek, bahkan barangkali nenek moyang kita 😅

Nah, orang Denmark juga sama. Mereka punya filosofi dan pola asuh warisan. Bedanya, pola asuh yang mereka wariskan itu adalah yang secara teori parenting baru kita usahakan untuk diterapkan. Pola asuh yang terbukti menghasilkan anak-anak yang tangguh, baik dalam pengelolaan emosi, serta bahagia. Anak-anak yang bahagia ini kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, yang kembali melakukan dan mewariskan pola asuh yang sama ke anak-anak mereka. Begitu seterusnya hingga Denmark pun menjadi negara paling bahagia sedunia selama puluhan tahun.

Penulis membagi buku ini ke dalam 7 bab. Bab pertama meminta kita “Mengenali Apa yang Menjadi Pembawaan Alami Kita”. Mengamati setelan bawaan atau kecenderungan alami kita dalam bereaksi, khususnya sebagai orang tua, membantu kita memutuskan mana yang mau kita ubah dan seperti apa. Sehingga kita tidak hanya mengulang apa yang sudah tertanam, yang kebanyakan berasal dari cara kita dibesarkan.

Pada bab-bab selanjutnya, penulis menjabarkan prinsip pengasuhan ala Denmark yang dibagi menggunakan singkatan PARENT (Play; Authenticity; Reframing; Empathy; No Ultimatum; Togetherness). Tentang ini, saya berencana membahasnya lebih lanjut dalam post terpisah.

Seperti buku-buku tentang pengasuhan lainnya, yang terpenting adalah kesediaan kita membuka hati dan pikiran akan cara-cara yang bisa jadi lebih efektif dalam mengasuh anak-anak kita. Kemudian, secara sadar memanfaatkan jeda sebelum bereaksi agar bisa memilih menggunakan cara-cara tersebut daripada cara kita yang biasa, yang kita tahu tidak efektif namun kembali kita lakukan atas dasar kebiasaan.

Perlu kita ingat, cara kita membesarkan anak, tidak hanya berpengaruh pada perkembangan dan masa depan mereka, namun juga bergenerasi-generasi setelahnya. Tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Betapa penting peran dan tanggung jawab kita karenanya.

Penulis buku ini berhasil menunjukkan hal itu dari sisi positif pengasuhan yang diwariskan selama bertahun-tahun oleh orang-orang paling bahagia di dunia.

Sudut pandang Jessica, sebagai seorang Amerika yang bersuamikan orang Denmark beserta pengalaman-pengalaman pribadinya dan pengalaman Iben sebagai psikoterapis naratif di Denmark, memperkaya buku ini. Ini juga memudahkan saya dalam menangkap dan menyerap apa yang ingin disampaikan dalam buku ini.