[Shokyuu Intensive Class] Kesan dan Pesan Mengikuti Kelas Shokyuu

Setelah tugas terakhir dikumpulkan (walau saya belum selesai), dalam kelas Shokyuu diberikan kuis selama tuga haru berturut-turut. Satu kuis per hari.

Salah satu soal kuis yang ketiga adalah menceritakan kesan dan pesan selama mengikuti kelas Shokyuu ini.

Kesan saya:
Kelas Shokyuu sangat membantu proses berbenah yang saya lakukan. Saya menikmati Tidying Festival, mendapat banyak ilmu baru, dorongan semangat juga inspirasi untuk terus berbenah demi mencapai tujuan dan visualisasi yang telah saya buat di tugas awal dari kelas ini.

Kelas Shokyuu jauh lebih efektif dibandingkan kelas KonMari yang saya ikuti sebelum kelas ini dibuka, baik dalam penyampaian dan isi materi, mauoun tugas-tugas yang diberikan.

Saya bersyukur telah mengikuti kelas ini dan tidak sabar mengikuti materi dari kelas selanjutnya.

Pesan saya:
Saya ibgin mengucapkan terima kasih untuk Marie Kondo yang telah menciptakan metode ini, kepada KonMari Indonesia dan segenap pengurusnya yang telah mengadakan KonMari Intensive Class, fasilitator kelas Shokyuu wilayah Tangerang, Mbak Putri dan Mbak Nikmah, dan teman-teman sekelas.

Semoga kita semua semakin pandai menata diri.

Click to Share

[Shokyuu Intensive Class] Task 10: Berbenah Sentimental Items

Minggu ini (yang adalah seminggu ke belakang), tidying festival memasuki pekan terakhir.

Kategori yang dibenahi kali ini adalah: sentimental items atau barang yang memiliki nilai kenangan.

Kategori ini diletakkan paling akhir karena membutuhkan lebih banyak perenungan mendalam saat memilih yang mana yang hendak dilepaskan. Namanya juga benda kenangan yaa.. Pastinya berkaitan dengan sisi emosional kita sebagai manusia.

Saya pun demikian saat mulai membereskan kategori ini. Baru mulai saja kok malah jadi baca-baca jurnal lama πŸ˜‚ Kapan kelarnya Buu, hahaha…

Pokoknya judulnya “a walk down the memory lane” deh. Rasanya seru-seru gimanaa gitu ya. Jadi inget lagi setiap masa saat barang-barang itu masih digunakan atau baru dibeli/ didapatkan deh πŸ˜†

Sama seperti saat berbenah komono, sentimental items juga dibagi ke dalam sub-sub kategori, bedanya, kali ini, tidak perlu menyimpan semuanya, hanya yang nilai spark joy-nya paling mewakili. Tipsnya: Kerjakan dari yang paling mudah dilepaskan.

Memilah barang kenangan ini katanya bagaikan mencerna masa lalu, menyimpan yang terpenting saja, karena sejatinya masa lalu tidak akan kembali, yang utama adalah kegembiraan yang kita rasakan pada saat ini. Berbenah barang kenangan ini jadi semacam membantu kita fokus pada masa sekarang dan kebahagiaan di dalamnya kali ya. Memberi penutup pada semua unfinished bussiness, menyerap kegembiraannya, mengendapkan kesedihannya, lalu membiarkannya larut berlalu seiring waktu yang terus bergerak maju.

Berikut tugas terakhir dari kelas Shokyuu ini

1. Buatlah review yang berkaitan pengalaman “joy sensor” teman-teman dari semua kategori sebelumnya. Bandingkan dengan kategori terakhir ini.

Dari kategori ke kategori, semakin mudah memilah barang yang spark joy dan bermanfaat. Untuk kategori barang kenangan rasanya juga demikian, hanya saja sedikit lebih sulit karena ada pengaruh enggan melepaskan kenangan. Apalagi, tidak semua barang yang spark joy boleh disimpan.

Saya belum selesai mengerjakan kategori ini karena lagi-lagi meninggalkan rumah selama beberapa hari dan baru akan kembali dalam minggu ini. Tapi sejauh yang telah saya kerjakan, itulah yang saya rasakan.

2. Kirimkan foto before dan after saat berbenah barang sentimental. Apabila lupa tidak memotret beforenya tidak apa -apa. Sertakan sebuah narasi untuk foto tersebut. Tidak perlu diceritakan semua, ambil yang paling unik dan mengesankan.
Karena belum selesai berbenah, saya malah baru memotret yang before-nya πŸ˜‚

Before: Barang kenangan itu...
Before: Barang kenangan itu…

Banyak juga ya barang kenangan saya πŸ˜†

Selama ini semua itu tersimpan dalam dua kontainer besar. Kalau menurut materi KonMari yang saya dapat di kelas Shokyuu,terdapat 5 model penyimpanan yang bisa dipilih:
1. Dibuat hiasan
2. Dibuat display (misalnya: kreasi anak)
3. Decoration photos
4. Cover
5. Box

Setelah selesai dipilah dan dipilih nantinya, sebagian (yang tidak dibuang) mungkin tetap saya simpan dalam kontainer, sebagian lagi akan saya coba kreasikan.

Hasilnya insya Allah akan saya update di post selanjutnya ya 😊

[Shokyuu Intensive Class] Task 9: Berbenah Komono Part 2

Task 9 sebenarnya tentang berbenah dapur πŸ˜…

Masih termasuk kategori komono juga sih, tapi khusus sub-kategori dapur. Dipisahkan karena mungkin dapur cukup luas untuk digabung dengan sub-kategori lain ya.

Berbenah dapur sama dengan berbenah komono yang ada di dapur, yang terdiri dari tiga kategori:
1) peralatan makan
2) peralatan memasak
3) makanan

Saya sering membayangkan punya dapur sendiri, yang memiliki peralatan sesuai kebutuhan dan tentunya tertata rapi, sehingga semua orang dengan mudah dapat menemukan apa yang dibutuhkan. Dapur yang bersih tentu juga jadi impian saya.

Sampai saat ini, saya dan keluarga masih menumpang di rumah orangtua saya, sehingga bayangan ideal saya itu tampaknya harus tertunda πŸ˜†

Dapur ibu saya cukup tertata rapi. Ibu saya juga memiliki kebiasaan untuk meletakkan peralatan makan dan memasak dengan rapi di bak cuci piring, sehingga, kalaupun tidak sempat langsung dicuci, tidak terlihat terlalu berantakan sampai malas dicuci. Setiap anggota keluarga mencuci peralatan bekas makannya sendiri. Jika bisa disambil, saat memasak peralatan yang sudah selesau digunakan juga dicicil untuk dicuci. Jadi yang tersisa tidak pernah terlalu banyak.

Walau demikian, itu bukan dapur saya, sama halnya dengan kulkas. Karenanya, saya belum sampai pada tahap membenahinya. Mungkin suatu saat nanti, saya bisa mengajak ibu saya untuk mencoba membenahi dapurnya dengan metode KonMari ini. Tapi belum sekarang πŸ˜…

Karena ituu.. Pada tugas kali ini saya memilih untuk memasukkan hasil berbenah komono yang belum tuntas pada tugas sebelumnya.

Berikut daftar sub-kategori komono yang saya buat sebelumnya:
a. Perlengkapan mandi
b. Obat-obatan
c. Elektronik
d. Aksesoris
e. Mainan anak

Alhamdulillah, akhirnya seluruh sub-kategori di atas berhasil saya benahi πŸ˜†

Perlengkapan Mandi dan Elektronik
Perlengkapan Mandi dan Elektronik

Kalau pada post sebelumnya saya baru memasukkan foto perlengkapan mandi yang menjadi stok, kali ini saya melengkapinya dengan foto perlengkapan mandi yang biasa dipakai sehari-hari.

Aksesoris dan Obat-obatan.
Aksesoris dan Obat-obatan

Sebelumnya, laci-laci kecil ini isinya benar-benar semrawut πŸ˜‚

Susah sekali mau nyari apapun. Sekarang, mau mengambil ataupun menaruh barang rasanya mudah saja 😍

Mainan Anak
Mainan Anak

Saya nggak sempat foto laci mainan ini sebelum dirapikan. Yang jelas, setiap anak-anak mau main pasti stres (mamanya), karena susah banget nyari mainan yang dimau, pas ketemu pun ada aja yang hilang atau nggak lengkap. Campur baur nggak karu-karuan deh. Udah malas liatnya, jadi mau naruh mainan juga asal aja πŸ˜₯

Sekarang, tiap mainan ada “rumah”-nya. Jadi gampang ngambilnya kalau mau main sesuatu. Peraturannya juga ditegaskan lagi, kalau sudah selesai main yang satu dibereskan dulu, masukin lagi ke “rumah”-nya, baru ambil yang lain. Damai sentosa deh jadinya 😁

Spot Bebas Tumpukan
Spot Bebas Tumpukan

Foto di atas tambahan aja sih. Kalau lihat foto keadaan kacau di post sebelumnya, ini adalah foto setelah berbagai komono itu dikasih “rumah” yang layak. Tumpukan-tumpukan yang mengganggu mata dan pikiran pun hilang sudah ❀

Alhamdulillaah πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ

[Shokyuu Intensive Class] Task 8: Berbenah Komono Part 1

Setelah membereskan kertas, tibalah kami pada kategori yang sedikit lebih rumit: Komono.

Saya sebut lebih rumit karena komono terdiri dari sub-sub kategori yang berbeda-beda, sehingga dalam bayangan saya seperti membereskan lebih dari satu kategori sekaligus.

Komono dalam bahasa kanji secara harfiah berarti “benda kecil / barang”, sementara dalam konmari diartikan sebagai bermacam barang di luar empat kategori lainnya (miscellaneous items).

1. Buat list sub-kategori yang akan teman teman kerjakan pekan ini πŸ“πŸ—‚
Tugas pertama sebelum berbenah komono karenanya adalah membuat daftar sub-kategorinya. Berikut daftar yang saya buat:
a. Perlengkapan mandi
b. Obat-obatan
c. Elektronik
d. Aksesoris
e. Mainan anak

2. Kirimkan foto before dan after saat berbenah komono. Sertakan sedikit narasi untuk foto tersebut yaitu jawaban untuk pertanyaan: apa saja kendala yang teman-teman alami ketika berbenah komono ini? Dan bagaimana cara teman-teman mengatasi kendala tersebut.

Before: The mess in our room πŸ˜…
Before: The mess in our room πŸ˜…
Tumpukan komono sebelum dipilah
Tumpukan komono sebelum dipilah

Karena kami masih menumpang di rumah orangtua, maka komono yang saya benahi adalah milik saya dan keluarga kecil saya saja, yang hampir seluruhnya terletak, atau lebih tepatnya berserakan πŸ˜†, di kamar kami.

Kendala utama seperti biasa adalah waktu. Karena dalam komono ini juga terdapat benda-benda kecil, jadi lebih sulit untuk berbenah di dekat anak-anak, khawatir hilang, melukai atau bahkan tertelan oleh mereka. Minggu ini saya juga kurang disiplin menyisihkan waktu untuk berbenah. Jika sebelumnya saya mengambil waktu saat anak-anak tidur, kali ini saya ikut bablas tertidur 😒

Pada akhirnya, saya baru berhasil membenahi dua sub-kategori dari daftar yang saya buat, yaitu: Elektronik dan peralatan mandi.

After: Peralatan mandi dan elektronik
After: Perlengkapan mandi dan elektronik

Tersimpan dalam lemari ini persediaan perlengkapan mandi seperti sabun, odol, sikat gigi, shampo, dan sebagainya. Karena lemarinya cukup besar, peralatan elektronik juga saya simpan di tempat yang sama.

Ternyata banyak sekali perlengkapan yang sudah mendekati bahkan melewati masa kadaluarsanya πŸ˜….

Tadinya saya malas kalau harus mencari persediaan yang diperlukan, suka lupa juga apa masih ada persediaan, hingga kadang membeli lagi sabun misalnya, padahal masih ada simpanan. Senang juga melihat lemari itu sekarang. Saya tau persis apa yang masih ada, mengambilnya juga mudah sekali, tidak perlu “menggali” dulu dari timbunan yang ada πŸ˜‚

Lanjutan berbenah komono insya Allah akan saya update di post berikutnya ya.

[Shokyuu Intensive Class] Task 7: Berbenah Kertas

Setelah berbenah buku minggu lalu, minggu ini giliran kertas yang akan dibenahi.

Berbeda dengan dua kategori sebelumnya, di mana kita memilah dengan tujuan menyimpan benda yang spark joy, untuk kertas ini kita disodori petuah berikut: “the basic rule for papers: Discard everything” πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Karena emang sih, ya, kertas kan tipis, kita jadi cenderung simpan-simpan aja semuanya. Padahal nggak selalu berguna juga, malah seringkali bisa dibilang sampah πŸ˜†

Jadi, kecuali dokumen penting, buang semuanya!

Berdasarkan materi yang didapat di kelas Shokyuu, dokumen dibagi menjadi 3:

1) Pending Document
Dokumen yang butuh tindakan dan respon seperti surat yang perlu dijawab atau tagihan yang perlu dibayar.

>> buatkan ‘rumah’ menggunakan kotak atau clear holder (album transparan).

>> Tindaklanjuti dengan segera. Usahakan ‘rumah’ untuk selalu kosong. Bisa dengan membuat jadwal khusus misal hari tertentu untuk mengerjakan pending documents ini.

2) Important Document
Dokumen yang perlu kita simpan baik dalam waktu tertentu atau selamanya, walaupun tidak spark joy πŸ˜†. Contoh: Sertifikat rumah, kartu garansi, ijazah, kontrak.

>> Simpan menggunakan file box atau clear holder. Buat pengingat khusus untuk dokumen yang ada masa berlakunya. Bila sudah kadaluarsa dan sudah tidak berguna, maka segera membuangnya.

3) Other Documents
Dokumen selain 2 kategori di atas seperti materi seminar, resep masakan dan kliping.

>> Simpan menggunakan clear holder sehingga mudah untuk dilihat-lihat kembali bila perlu.

>> Manual elektronik bila tidak perlu sebaiknya dibuang.

>> Kartu nama, kwitansi, dsb bisa disalin/difoto informasinya sehingga kertasnya tidak perlu disimpan.

>> Kertas yang disimpan karena nilai kenangannya bisa dimasukkan dalam kategori sentimental items.

Berdasarkan materi di atas, berikut Task 7 beserta hasil berbenah saya:

1. Kirimkan foto before dan after saat berbenah kertas.

2. Sertakan sedikit narasi untuk foto tersebut yaitu jawaban untuk pertanyaan: apa saja kendala yang teman-teman alami ketika berbenah kertas ala Konmari? Dan bagaimana cara teman-teman mengatasi kendala tersebut.

Tumpukan kertas: Before
Tumpukan kertas: Before

Beruntung bagi saya, hampir seluruh kertas bekas di seluruh rumah sudah “dibersihkan” oleh adik-adik saya, jauh sebelum Tidying Festival ini dimulai. Sebagian ada yang diloak, ada pula yang dialihfungsikan menjadi media gambar dan sebagainya.

Saya pun sudah pernah membuang segunung bon yang tidak terpakai dan nyaris tidak pernah menyimpan kertas sejenis lagi. Beberapa yang masih ada biasanya yang tersimpan karena sisa kebiasaan dan belum sempat dibuang, tapi tidak terlalu banyak.

Sehingga, untuk kategori kertas ini, tugas saya rasanya tidak terlalu berat. Untuk membuang yang perlu dibuang pun mudah saja, malah rasanya senang sekali bisa menyingkirkan kertas-kertas yang tidak diperlukan lagi πŸ˜†

Karena tempat penyimpanannya terpisah-pisah, saya menyatukan semua kertas di dalam satu wadah, seperti bisa terlihat pada gambar. Baru kemudian, saya memilah mana yang hendak dibuang dan mana yang perlu disimpan.

Begini penampakan kumpulan kertas setelah dipilah:

Kumpulan kertas: After
Kumpulan kertas: After

Cukup rapi kan? 😁

Sebenarnya, belum seluruhnya terpilah sih. Karena, lagi-lagi, saya harus keluar rumah sampai deadline pengumpulan tugas terlewati. Tapi, di antara kertas yang belum terpilah itu, 97%-nya, menurut perkiraan saya memang adalah dokumen yang harus disimpan.

Nantinya, folder-folder tersebut akan saya simpan di dalam laci yang berdekatan, tidak terpencar-pencar seperti sebelumnya, agar mudah menemukan dokumen yang diperlukan.

Oh, iya, dalam proses berbenah ini saja, saya beberapa kali menemukan benda-benda yang tadinya saya tidak tahu ada di mana, bahkan tidak ingat kalau saya pernah punya. Benar-benar penemuan berharga deh! πŸ˜‚

Selanjutnya, akan ketemu apalagi ya…

Kategori berikutnya: Komono

[Shokyuu Intensive Class] Task 6: Berbenah Buku

Kategori kedua yang akan dibereskan dalam Tidying Festival adalah BUKU.

Bagi saya ini lebih sulit dari pakaian, karena saya suka buku dan tidak mudah menyingkirkan buku yang, kalau dalam istilah Konmari: Tidak spark joy, termasuk buku-buku yang rencananya akan dibaca tapi pada kenyataannya tidak akan pernah dibaca πŸ˜†

Seperti saat berbenah pakaian, berbenah buku ini bisa dibilang bagai menemukan jati diri. Kita memilih hanya buku yang dirasa paling sesuai dengan kita, paling kita sukai dan membuat kita senang membaca juga menyimpannya.

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya saya membongkar rak buku kami (saya dan adik-adik). Tentunya setelah difoto sebelumnya untuk tugas ini 😁

1. Kirimkan before dan after Konmari rak buku teman-teman.

2. Sertakan sedikit narasi untuk foto tersebut yaitu jawaban untuk pertanyaan : apa saja kesulitan yang teman-teman alami ketika berbenah buku ala Konmari?

Rak buku kami: Before
Rak buku kami: Before

Seperti bisa dilihat pada foto, rak buku kami sudah penuh sesak dengan buku. Buku berbaris depan belakang, sampai ditumpuk di bagian atas karena sudah tidak muat. Selain buku, di dalamnya juga ada beberapa benda lain seperti sticker dan booklet.

Tumpukan buku setelah dikeluarkan dari rak 😱
Tumpukan buku setelah dikeluarkan dari rak 😱

Walau tidak diminta dalam Task 6 ini, saya merasa perlu menyertakan foto di atas agar terlihat banyaknya buku yang dijejalkan dalam rak tersebut πŸ˜…

Mau mengibarkan bendera putih saja rasanya saat itu. Karena tumpukannya banyak sekali, penuh debu, begitupun rak bukunya dengan kertas koran yang sudah kotor dan menguning. Sementara saya alergi debu dan hampir setiap saat ditempel oleh dua orang balita πŸ˜‚ Adik-adik sibuk dengan kegiatan masing-masing, hanya sempat membantu saya menyortir buku mereka (yang persentasenya lebih sedikit dari buku saya πŸ˜†).

Rak buku kami: After Konmari
Rak buku kami: After Konmari

Setelah bergelut dengan debu-debu, memilah dan memilih buku-buku yang masih memberi perasaan senang saat memegangnya, mengelompokkannya sesuai kategori yang dirasa sesuai, dan menyusunnya kembali dalam rak buku, tentunya sambil bolak-balik memenuhi kebutuhan anak di lantai bawah (rak bukunya di lantai dua), akhirnya selesailah acara berbenah kali ini.

Mungkin belum sepenuhnya ter-Konmari ya, karena dalam satu lantai masih terdiri dari 2-3 baris buku. Tapi sudah jauuuh lebih rapi, bersih, dan terpilah.

Jadi terlihat lebih jelas yaa, minat saya buku yang seperti apa, bidang dan genre apa saja. Saat memilah, ada buku-buku yang membuat saya sangat bersemangat karena saya suka sekali isinya, ada yang biasa saja, ada juga yang dengan tidak terlalu sulit saya singkirkan saja. Sempat juga ada buku yang ragu mau saya keluarkan dari koleksi. Ada yang baru dibaca sebagian ada juga yang masih dalam plastik alias belum pernah dibaca sama sekali. Tapi pada akhirnya berhasil saya letakkan di tumpukkan yang akan disingkirkan. Rasanya lega juga ya ternyata, haha.. *tepuk pundak sendiri

Terima kasih untuk semua buku yang pernah mengisi hari dan hati ini. Baik yang sudah selesai atau belum dibaca, yang disimpan atau disingkirkan.

Kategori selanjutnya: Kertas.

[Matrikulasi] Nice Homework #9: Ibu sebagai Agen Perubahan

NHW terakhir. Sedih juga ya, rasanya. Setelah terbiasa mengikuti materi matrikulasi tiap minggu, banyak merenung sambil dikejar deadline untuk mengerjakan NHW-nya, menyimak review NHW, mengikuti diskusi, perkenalan, dan obrolan-obrolan hangatnya. Pasti akan kangen semua itu.

Duh, jadi mellow deh πŸ˜’πŸ˜…

Bersyukur banget bisa ikutan Kelas Matrikulasi IIP ini. Bersyukur masuk grup MIIP Batch #5 Tangsel 3 yang penuh semangat dan aura positif.

Kembali ke NHW #9. Sesuai dengan materi sesi #9, setelah kita menemukan passion dan misi spesifik hidup, NHW terakhir ini merumuskan misi tersebut ke dalam kontribusi kita di masyarakat. Karena setelah mengubah diri dan keluarga kita, masyarakat adalah ladang kita untuk bisa bermanfaat seluas-luasnya.

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai:

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.

Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini (terlampir).

Selamat menjadi agen perubahan.
Karena,
Everyone is a Changemaker
(Setiap orang adalah agen perubahan)

Sampai jumpa di perkuliahan Ibu Profesional selanjutnya untuk bisa lebih memahami secara detil matrikulasi IIP ini.

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Berdasarkan NHW #8, berikut bagan yang saya buat:

Social Venture 260318

Dengan ini, selesai sudah rangkaian NHW dalam Kelas Matrikulasi yang saya ikuti.

Insya Allah bisa menjadi awal dalam proses menuju diri yang lebih memahami misi hidupnya, mengenali dan mengelola potensi dirinya, terus belajar dan berkontribusi bagi keluarga juga masyarakat di sekitarnya. Menjadi agen perubahan. Aamiin YRA.

[Matrikulasi] Materi Sesi #9: Ibu sebagai Agen Perubahan

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

β€œmendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impact-nya.

Darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi

β€œMISI SPESIFIK HIDUP KITA”

Kita harus paham JALAN HIDUP kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai CARA MENUJU SUKSES.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGEMAKER FAMILY.

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.

Karena sejatinya amalan-amalan yang dicintai adalah amalan yang langgeng (terus menerus) walaupun sedikit.

Kalau di Jepang mereka mengenal pola kaizen (Kai = perubahan, Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat/ komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.

START FROM THE EMPHATY

Inilah kuncinya.

Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga.

Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION , hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes , maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya.

Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan β€œRasa TENTRAM”.

Salam

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan:
Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012
Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty, 2010
Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari, 2016

[Shokyuu Intensive Class] Task 5: Berbenah Pakaian Part 2

Melanjutkan dari Task 4 minggu lalu, pada Task 5 ini ditugaskan melampirkan hasil akhir dari berbeah pakaian dengan metode Konmari.

1. Kirimkan foto lemari teman-teman yang menurut teman-teman sudah spark joy ✨✨✨

Pakaian dibagi menjadi sepuluh kategori sebagai berikut:
1. Atasan (kaos, kemaja, sweater, gamis)
2. Bawahan (celana, rok)
3. Pakaian yang digantung (jaket, coats, jas)
4. Kaus kaki
5. Pakaian dalam
6. Tas
7. Aksesoris (kerudung, syal, topi, ikat pinggang)
8. Pakaian untuk tujuan khusus (baju renang, seragam)
9. Sepatu
10. Seprei, sarung bantal, handuk, lap dan keset (dapat dimasukkan kategori ini karena berbahan dasar sama)

Berikut saya lampirkan beberapa foto yang saya anggap mewakili:

Lemari pakaian saya dan suami
Lemari pakaian saya dan suami
Lemari pakaian anak dan tempat kerudung
Lemari pakaian anak dan tempat kerudung
Rak sepatu
Rak sepatu

2. Sertakan sedikit narasi untuk foto tersebut yaitu jawaban untuk pertanyaan: apakah perbedaan yang teman-teman rasakan setelah membereskan pakaian dengan metode Konmari?

Seperti yang saya tulis di Task 4, baru sampai tahap melipat sebagian kategori pakaian saja, sudah terasa kegembiraan yang ditimbulkannya. Apalagi setelah dimasukkan ke dalam lemari. Rasanya senang melihat susunan pakaian ala KonMari yang berjejer rapi.

Kalau pada metode konvensional pakaian ditumpuk ke atas, pada metode KonMari, pakaian dijejerkan sehingga hanya memenuhi satu baris saja. Hasilnya, seperti bisa dilihat juga pada foto-foto di atas, seluruh pakaian jadi terlihat jelas, lebih mudah juga mengambil dan meletakkannya kembali tanpa membuatnya berantakan, seperti pada metode konvensional. Terlebih bila lemarinya berbentuk laci, sulit sekali mengambil pakaian yang berada di bagian bawah. Alhasil yang digunakan seringnya yang di bagian atas saja.

Memang, menyimpan dengan metode ini menyita lebih banyak tempat. Karena ruang yang biasanya bisa dipenuhi pakaian sampai ke atas sekarang hanya bisa diisi satu tingkat saja. Namun, itu juga yang menjadi salah satu tujuan metode ini: “Menyimpan hanya barang-barang yang membawa kebahagiaan bagi pemiliknya.”. Sehingga, setelah dipilah berdasarkan apakah barang tersebut membawa kegembiraan atau “spark joy“, seringkali ruang yang ada menjadi cukup. Bahkan, secara keseluruhan malah terasa lapang larena hanya diisi oleh barang-barang yang disukai saja.

Ini baru kategori pertama. Selanjutnya giliran buku. Rasanya akan lebih sulit nih, mengingat saya termasuk pecinta buku :))

Kita lihat saja bagaimana jadinya pada tugas selanjutnya ya πŸ˜‰

[Matrikulasi] Nice Homework #8: Misi Hidup dan Produktivitas

Tidak terasa, Kelas Matrikuasi IIP ini sudah sampai pada materi #8, yag tentunya diikuti oleh NHW #8. Menarik sekali bagaimana antara NHW ke NHW saling berkaitan dan berkesinambungan membentuk suatu proses penemuan jati diri hingga menjadi manusia yang memahami misi hidupnya, profesional dalam perannya, serta produktif dalam memberi manfaat di kehidupannya. NHW #8 ini pun didasarkan pada NHW-NHW sebelumnya.

Bunda, setelah di materi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb:

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW #7)
Memperhatikan kembali NHW #7 yang saya kerjakan, sepertinya ada beberapa kemiripan dalam aktivitas SUKA dan BISA yang saya tulis. Akhirnya, saya memtuskan untuk mengambil aktivitas: Menulis cerita.

b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan β€œBE DO HAVE” di bawah ini:

1. Mental seperti apa yang harus anda miliki untuk menjadi seperti yang anda inginkan? (BE)
Saya ingin berbagi banyak hal melalui cerita. Sesuai dengan Misi Hidup yang saya tulis di NHW #4, semoga cerita bisa menjadi salah satu media saya untuk mengedukasi dan menginspirasi. Fokus utamanya pun masih seputar pengasuhan dan pendidikan anak. Jadi dalam bayangan saya cerita yang saya buat ditujukan untuk dua kalangan: orangtua dan anak-anak.

Untuk dapat menjadi seorang penulis cerita yang produktif, tentu saya harus sangat disiplin dengan manajemen waktu saya. Jadwal harian yang mencakup waktu belajar berbagai ilmu yang menunjang, serta latihan yang penting saya lakukan guna menambah jam terbang, perlu sungguh-sungguh saya taati. Penuh kesabaran, keikhlasan, pantang menyerah, berkomitmen tinggi pada tujuan.

2. Apa yang harus anda lakukan untuk menjadi seperti yang anda harapkan? (DO)
Selain sikap mental yang telah saya tulis di atas, saya harus:
– Belajar, antara lain: Ilmu tentang kepenulisan, story telling, pendidikan dan pengasuhan anak; baik melalui workshop online dan offline, komunitas, penulis lain, artikel, maupun buku-buku yang terkait.

– Membaca berbagai buku yang genrenya sejenis, misalnya buku anak-anak, buku drama keluarga.

– Berlatih menulis dan membuat cerita setiap hari.

3. Apa yang akan anda lakukan apabila anda sudah memiliki yang anda harapkan? (HAVE)
Karena saya ingin menjadi penulis cerita, yang saya harapkan untuk saya miliki adalah buku cerita karya saya sendiri. Fokus pertama saya adalah buku anak.

Apabila sudah berhasil menerbitkan buku anak pertama saya, saya akan menggunakannya sebagai sarana untuk mengedukasi dan menginspirasi orang lain. Selain membacakannya untuk anak-anak saya sendiri, saya juga akan menyumbangkan sebagiannya ke sekolah-sekolah atau panti asuhan dan membacakannya di sana. Agar semakin banyak anak yang tertarik dengan buku, senang membaca dan belajar, bahkan mungkin juga menulis buku mereka sendiri suatu saat nanti. Saya juga akan terus menulis cerita-cerita lain dan berbagi dengan lebih banyak orang.

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
Kembali pada misi hidup yang saya tulis dalam NHW #4: “Menumbuhkan kesadaran hingga pemahaman melalui edukasi dan menyebarkan inspirasi melalui praktik baik yang dilakukan.” dalam bidang pengasuhan dan pendidikan anak (khususnya pentingnya anak cinta belajar dan membaca buku).

Saya ingin semakin banyak orang, khususnya orangtua, pengasuh, dan pendidik, belajar mencintai dengan lebih baik, menyadari besarnya peran mereka bagi perkembangan dan masa depan generasi selanjutnya. Karenanya, penting untuk terus belajar dan mewariskan kesenangan belajar pada anak-anak, sehingga menjadi pembelajar sepanjang hayat (life long learner). Menumbuhkan kecintaan pada buku merupakan salah satunya. Saya pun ingin menjadi bagian dari orangtua itu dan menginspirasi orang lain melalui proses yang saya lakukan sebagai orangtua pembelajar. Selain melalui cerita-cerita yang saya tulis dan bagikan.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
Sesuai dengan milestone yang saya tulis pada NHW #4, dalam kurun waktu 6 tahun, saya ingin sudah menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup saya, lebih spesifiknya sebagai penulis cerita.

Saya ingin sudah menerbitkan beberapa buku anak dan buku cerita tentang pengasuhan dan mengisi berbagai perpustakaan sekolah atau panti asuhan dengan buku-buku berkualitas, termasuk buku yang saya tulis sendiri. Bahkan juga membuka rumah baca saya sendiri.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)
Dalam waktu satu tahun, saya ingin sudah berhasil mengikuti jadwal harian dan checklist indikator dengan disiplin, sehingga waktu saya terkelola dengan efektif. Saya ingin menguasai ilmu sesuai milestone tahun pertama dan sudah menerbitkan paling tidak satu buku cerita anak.

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulsi IIP/